Jeritan Brand Hijab Lokal: Kala Cuan Terkikis ‘Pajak’ Marketplace yang Kian Mencekik

Siti Maemunah | ZonaKabar
07 Mei 2026, 18:02 WIB
Jeritan Brand Hijab Lokal: Kala Cuan Terkikis 'Pajak' Marketplace yang Kian Mencekik

ZonaKabar — Di balik gemerlap promo tanggal kembar dan kemudahan transaksi satu klik, tersimpan sebuah realita pahit yang jarang tersorot kamera: jeritan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fenomena tren belanja online yang kian mendominasi gaya hidup masyarakat modern saat ini ternyata menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka pintu akses pasar yang sangat luas, namun di sisi lain, ia perlahan-lahan menggerus napas para pengusaha kecil melalui biaya administrasi dan potongan komisi yang melambung tinggi.

Kisah ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan perjuangan nyata para pemilik brand hijab lokal yang kini harus memutar otak lebih keras. Alih-alih merayakan tingginya volume penjualan, mereka justru harus menelan fakta bahwa margin keuntungan mereka kian menipis, nyaris habis dimakan oleh “jatah” platform e-commerce yang mereka tempati.

Fenomena ‘Pajak Digital’ yang Menggerus Laba UMKM

Panggung perdagangan digital kini tak lagi semurah dulu. Jika beberapa tahun lalu marketplace dianggap sebagai penyelamat bisnis hijab karena minimnya biaya operasional dibandingkan toko fisik, kini situasinya berbalik 180 derajat. Biaya administrasi yang terus merangkak naik menjadi momok menakutkan bagi para penjual. Tidak tanggung-tanggung, beberapa platform kini menetapkan potongan yang menyentuh angka fantastis, membuat para penjual merasa seperti sedang bekerja hanya untuk menghidupi platform tersebut.

Baca Juga Kisah Haru Eks Penghuni Panti Asuhan Beri Hadiah MacBook untuk Junior Berprestasi: Sebuah Lingkaran Kebaikan yang Tak Terputus
Kisah Haru Eks Penghuni Panti Asuhan Beri Hadiah MacBook untuk Junior Berprestasi: Sebuah Lingkaran Kebaikan yang Tak Terputus

Nena Herdiani, Manager Sales dari jenama hijab lokal ternama, Kalisha, membagikan keresahannya saat ditemui tim ZonaKabar di sela-sela kesibukan bazar Last Stock Sale yang digelar di Chillax Sudirman, Jakarta Selatan. Nena mengungkapkan bahwa status premium atau bergabung dalam kategori ‘Mall’ di platform seperti Shopee, yang seharusnya menjadi kebanggaan karena reputasi, justru membawa beban finansial yang jauh lebih berat.

Realita Pahit di Balik Status Shopee Mall

“Kalau berbicara soal potongan biaya, jujur saja sekarang sangat mencekik. Kami sudah berstatus Mall, dan ternyata potongannya jauh lebih besar dibandingkan jika kami hanya berstatus star seller. Saat ini, potongan per order mencapai 26%,” ungkap Nena dengan nada prihatin. Bayangkan saja, dari setiap satu lembar hijab yang terjual, lebih dari seperempat harganya langsung masuk ke kantong platform, bahkan sebelum dihitung biaya produksi, gaji karyawan, dan operasional lainnya.

Namun, penderitaan tidak berhenti di angka 26% itu saja. Nena menambahkan bahwa ada biaya-biaya ‘siluman’ lainnya yang wajib atau hampir wajib diikuti agar produk tetap terlihat oleh calon pembeli. “Itu belum termasuk biaya jika kami ikut serta dalam campaign besar marketplace. Ada lagi biaya tambahan untuk program afiliasi dan anggaran iklan (ads) agar traffic tetap stabil. Jika ditotal secara jujur, biaya-biaya tersebut seringkali lebih besar daripada profit bersih yang kami terima per produk,” jelasnya lebih lanjut.

Baca Juga 60 Kata-kata Romantis Bahasa Inggris Singkat yang Ampuh Bikin Pasangan Meleleh dan Tersenyum Sepanjang Hari
60 Kata-kata Romantis Bahasa Inggris Singkat yang Ampuh Bikin Pasangan Meleleh dan Tersenyum Sepanjang Hari

Kondisi ini menciptakan dilema yang sangat sulit. Jika tidak mengikuti program promosi, produk mereka akan tenggelam di lautan kompetisi marketplace. Namun, jika mengikutinya, margin keuntungan yang sudah tipis pun akan berubah menjadi kerugian atau yang populer disebut dengan istilah ‘boncos’.

Langkah Darurat: Menaikkan Harga demi Bertahan Hidup

Demi menjaga agar roda bisnis tetap berputar, brand Kalisha dan banyak brand lainnya terpaksa mengambil kebijakan yang tidak populer: menaikkan harga jual di platform online. Nena mengaku pihaknya harus mengerek harga sekitar 10% hingga 20% lebih tinggi dari harga normal. Langkah ini diambil semata-mata sebagai strategi pertahanan agar perusahaan tidak terus-menerus merugi akibat sistem bagi hasil yang dianggap timpang.

Tak hanya soal biaya, kebijakan operasional platform terkait retur (pengembalian barang) dan pengembalian dana (refund) juga seringkali dirasa tidak adil bagi sisi penjual. Seringkali, kerugian akibat kerusakan barang saat pengiriman atau pengembalian yang tidak valid tetap harus ditanggung oleh pelaku UMKM. “Harapan kami sederhana, yaitu adanya pembagian yang lebih adil dan proporsional. Jangan sampai biayanya jauh lebih besar ke platform dibandingkan ke keuntungan kami sebagai pencipta produk,” tutur Nena kepada ZonaKabar.

Baca Juga Duka Mendalam Istana Thailand: Kondisi Putri Bajrakitiyabha Kritis Setelah Tiga Tahun Berjuang dalam Koma
Duka Mendalam Istana Thailand: Kondisi Putri Bajrakitiyabha Kritis Setelah Tiga Tahun Berjuang dalam Koma

Eksodus Kembali ke Jalur Offline dan Penjualan Langsung

Menghadapi tekanan yang tak kunjung reda di ranah e-commerce, para pelaku usaha mulai mencari jalan keluar kreatif. Strategi strategi penjualan kini mulai bergeser kembali ke akar: interaksi langsung melalui bazar offline dan kanal pribadi seperti WhatsApp dan website mandiri. Gasha, Brand Manager dari lini busana muslim milik Tantri Namirah, mengamini hal ini.

Gasha menjelaskan bahwa ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu platform besar sangat berisiko bagi kesehatan finansial brand. “Potongan besar otomatis membuat margin kami menyusut drastis, padahal volume pesanan terbanyak memang berasal dari online. Untuk menyiasatinya, kami kini memperbanyak saluran penjualan (channel) lain. Kami lebih aktif mengikuti bazar personal, menitipkan barang di consignment store, hingga mengarahkan pelanggan setia untuk memesan langsung via WhatsApp atau website resmi kami sendiri,” paparnya.

Strategi ini dianggap lebih sehat karena kontrol harga dan margin sepenuhnya berada di tangan pemilik brand tanpa ada potongan pihak ketiga yang tidak masuk akal. Bazar offline seperti yang diadakan di Chillax Sudirman menjadi oase bagi para pengusaha untuk menjaring pelanggan baru sekaligus memberikan pengalaman belanja yang lebih personal tanpa terpotong biaya admin digital.

Baca Juga Menilik Kehidupan “Sultan” Vicky Zhao Usai 5 Tahun Kena Blacklist: Antara Skandal Saham dan Strategi Penyelamatan Aset
Menilik Kehidupan “Sultan” Vicky Zhao Usai 5 Tahun Kena Blacklist: Antara Skandal Saham dan Strategi Penyelamatan Aset

Paradoks Konsumen: Antara Kenyamanan dan Harga

Meskipun harga di marketplace terkadang menjadi lebih mahal akibat penyesuaian biaya admin, ada fenomena unik yang diamati oleh Rani dari brand Zerina Banu. Ia melihat adanya paradoks dalam perilaku belanja masyarakat Indonesia. Meskipun para penjual mengarahkan pelanggan ke kanal yang lebih murah, kenyamanan belanja di platform digital tampaknya masih menjadi daya tarik utama yang sulit dipatahkan.

“Di bazar offline, kami biasanya memberikan diskon besar-besaran dan harga jauh lebih murah daripada online. Namun, anehnya, masih banyak juga pelanggan yang tetap memilih belanja di Shopee meskipun harganya normal atau lebih mahal. Alasan mereka sederhana: lebih mudah, terbiasa dengan antarmukanya, dan mungkin mengejar gratis ongkir yang sebenarnya biaya subsidinya pun seringkali diambil dari potongan ke seller,” ungkap Rani.

Hal ini menunjukkan bahwa marketplace telah berhasil membangun ekosistem yang membuat konsumen “kecanduan”, meskipun ekosistem tersebut perlahan mulai terasa beracun bagi para penyedia produknya, terutama UMKM lokal yang tidak memiliki modal sebesar brand global.

Baca Juga Kisah Brittany Desborough: Pesona Nenek Terseksi di Dunia yang Sering Dikira Kembaran Anaknya
Kisah Brittany Desborough: Pesona Nenek Terseksi di Dunia yang Sering Dikira Kembaran Anaknya

Menuju Ekosistem Ekonomi Digital yang Sehat

Kenaikan biaya variabel yang terus bertambah di hampir semua platform e-commerce di Indonesia saat ini bukan lagi masalah satu atau dua brand saja, melainkan tantangan kolektif industri kreatif nasional. Jika tren ini terus berlanjut tanpa ada regulasi yang memayungi, dikhawatirkan brand-brand lokal akan berguguran satu per satu, menyisakan pasar yang hanya dikuasai oleh pemain besar bermodal kuat atau produk-produk impor murah yang mampu menekan harga seminimal mungkin.

ZonaKabar memandang perlunya ada dialog yang lebih terbuka antara pihak penyedia platform, asosiasi UMKM, dan pemerintah selaku regulator. Perlu ada standarisasi atau batasan atas biaya administrasi agar tetap kompetitif namun tidak mematikan usaha kecil. Tanpa keseimbangan antara keuntungan platform dan keberlangsungan bisnis penjual, impian Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara mungkin hanya akan menguntungkan segelintir korporasi teknologi, sementara pahlawan ekonomi kita, para pelaku UMKM, harus tertatih-tatih di garis belakang.

Untuk saat ini, para pemilik brand hijab dan busana muslim tanah air hanya bisa berharap pada loyalitas pelanggan. Dukungan nyata dari konsumen dengan membeli langsung melalui kanal resmi brand atau datang ke bazar-bazar offline akan sangat berarti dalam membantu mereka bertahan hidup di tengah kepungan algoritma dan biaya admin yang kian mencekik leher.

Siti Maemunah

Siti Maemunah

Kreator konten gaya hidup yang berdedikasi mengulas tren fashion dan tips keseharian di kategori Zona Wolipop.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *