Skandal Kelam Dunia ‘Looksmaxxing’: Braden Peters ‘Clavicular’ Terjerat Tuduhan Pelecehan dan Prosedur Medis Ilegal
ZonaKabar — Jagat maya kembali diguncang oleh skandal besar yang melibatkan figur publik populer. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada Braden Peters, seorang influencer dan live streamer yang lebih dikenal dengan persona online ‘Clavicular’. Peters kini tengah menghadapi badai hukum setelah munculnya serangkaian tuduhan serius yang mencakup pelecehan seksual, kekerasan, hingga tindakan medis berbahaya yang dilakukan tanpa izin di hadapan ribuan penonton setia di platform live streaming.
Gugatan hukum yang mengejutkan ini diajukan oleh Aleksandra Vasilevna Mendoza, atau yang akrab disapa Alorah Ziva di media sosial. Melalui dokumen yang didaftarkan pada akhir April 2026, Mendoza menuntut keadilan serta ganti rugi materil dan imateril minimal sebesar US$ 50 ribu, atau setara dengan Rp 800 juta. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan narasi kelam tentang eksploitasi di balik gemerlap tren kecantikan ekstrem yang sedang mewabah di kalangan anak muda.
Awal Mula Hubungan dan Janji Manis ‘Looksmaxxing’
Kisah ini bermula pada tahun 2025, ketika Mendoza yang saat itu masih berusia 17 tahun, pertama kali bersinggungan dengan Peters. Di dunia media sosial yang kompetitif, Peters dikenal sebagai salah satu pionir tren looksmaxxing. Istilah ini merujuk pada upaya obsesif untuk memaksimalkan penampilan fisik melalui berbagai cara, mulai dari olahraga keras, diet ketat, hingga prosedur kosmetik invasif.
Dalam gugatannya, Mendoza mengaku dijanjikan oleh Peters untuk menjadi ‘ikon looksmaxxing versi wanita’. Peters meyakinkannya bahwa ia bisa mengubah penampilan Mendoza menjadi standar kecantikan ideal dalam komunitas tersebut: wajah tirus, alis tinggi yang dramatis, serta struktur tulang wajah yang menonjol. Bagi seorang remaja yang mencari jati diri di dunia digital, tawaran untuk menjadi bintang dalam ekosistem influencer tersebut tentu sulit untuk ditolak.
Tragedi di Cape Cod: Alkohol dan Pelanggaran Privasi
Detail yang tertuang dalam dokumen pengadilan menggambarkan sisi gelap dari pertemuan fisik mereka. Mendoza menceritakan pengalamannya saat mengunjungi sebuah properti di Cape Cod untuk bertemu dengan Peters guna keperluan konten. Namun, alih-alih sesi kreatif yang profesional, ia justru mengaku dihadapkan pada situasi yang intimidatif. Mendoza mengklaim bahwa Peters menyediakan alkohol secara berlebihan hingga ia berada dalam kondisi mabuk berat.
Dalam kondisi tidak berdaya tersebut, Mendoza menuduh Peters melakukan aktivitas seksual tanpa persetujuan. Tidak hanya sekali, ia menyebutkan bahwa insiden serupa terjadi berulang kali selama masa kunjungannya. Kejadian ini meninggalkan trauma mendalam dan menjadi titik balik hubungan mereka yang semula dianggap sebagai kolaborasi profesional menjadi sebuah mimpi buruk pelecehan seksual yang sistematis.
Prosedur Medis Ilegal di Depan Kamera
Salah satu poin paling mengerikan dalam gugatan ini adalah klaim mengenai penyuntikan zat kimia ke wajah Mendoza. Dalam sebuah sesi live streaming yang seharusnya menjadi hiburan bagi pengikut mereka, Peters diduga menyuntikkan Aqualyx ke wajah Mendoza. Aqualyx sendiri merupakan zat penghancur lemak yang seharusnya hanya boleh digunakan oleh tenaga medis profesional dengan prosedur yang steril dan terukur.
Mendoza menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan tanpa persetujuan yang jelas dan tanpa protokol medis yang memadai. Lebih mengejutkan lagi, dalam dokumen tersebut, Mendoza menyebutkan bahwa Peters sempat melontarkan pernyataan intimidatif bahwa zat yang disuntikkan mungkin mengandung methamphetamine. Tindakan nekat ini tidak hanya membahayakan kesehatan fisik Mendoza, tetapi juga menunjukkan bagaimana batas-batas etika sering kali diterjang demi mendapatkan penayangan dan konten viral.
Dampak Karier dan Kerugian Finansial
Dampak dari hubungannya dengan Peters ternyata tidak hanya melukai mental dan fisiknya, tetapi juga menghancurkan karier yang sedang ia bangun. Mendoza menyatakan bahwa keterkaitannya dengan skandal ini membuatnya kehilangan berbagai kontrak sponsor besar. Perusahaan-perusahaan yang semula ingin bekerja sama dengannya mulai menarik diri karena reputasi yang tercemar akibat drama yang diciptakan oleh Peters.
Selain itu, Peters juga dituduh menggunakan citra, foto, dan identitas pribadi Mendoza untuk konten-konten online miliknya tanpa izin atau pembagian keuntungan yang adil. Ini adalah bentuk eksploitasi digital di mana identitas seseorang digunakan sebagai komoditas untuk memperkaya orang lain. Mendoza merasa dirinya hanya dijadikan alat untuk menaikkan popularitas akun ‘Clavicular’ tanpa memedulikan hak-haknya sebagai individu.
Tanggapan Pihak Braden Peters
Menanggapi serangan hukum yang masif ini, pihak Braden Peters melalui kuasa hukumnya tidak tinggal diam. Mereka membantah keras seluruh tuduhan yang dilayangkan oleh Mendoza. Pengacara Peters menyatakan bahwa gugatan tersebut sama sekali tidak berdasar dan hanya merupakan upaya untuk menjatuhkan reputasi kliennya di tengah persaingan dunia media sosial.
“Tuduhan ini belum terbukti secara hukum. Kami akan menghadapi proses ini di pengadilan dengan bukti-bukti yang kami miliki untuk membersihkan nama klien kami,” ujar perwakilan hukum Peters. Meskipun bantahan telah dikeluarkan, sentimen publik di berbagai platform diskusi seperti Reddit dan Twitter tampaknya mulai terbelah, dengan banyak orang mulai mempertanyakan keamanan dan etika di balik tren kecantikan yang dipromosikan oleh para influencer ‘looksmaxxing’.
Pelajaran Berharga dari Fenomena Looksmaxxing
Kasus yang menimpa Mendoza dan Peters ini menjadi pengingat keras bagi para pengguna internet, terutama generasi muda, tentang bahaya laten di balik layar gaya hidup digital. Fenomena looksmaxxing sering kali mendorong individu melampaui batas kewajaran hanya demi pengakuan visual. Prosedur medis DIY (Do It Yourself) atau yang dilakukan oleh pihak non-medis adalah risiko besar yang bisa berujung pada cacat permanen bahkan kematian.
ZonaKabar memandang bahwa regulasi terhadap konten-konten yang mempromosikan tindakan medis ilegal harus diperketat oleh platform penyedia layanan. Kebebasan berekspresi tidak seharusnya menjadi tameng untuk melakukan tindakan kriminal atau membahayakan nyawa orang lain. Kini, publik hanya bisa menunggu bagaimana pengadilan akan memproses kasus ini dan apakah keadilan benar-benar akan berpihak pada korban.
Seiring dengan berjalannya proses hukum, kasus ini diharapkan menjadi momentum bagi para influencer lainnya untuk lebih bertanggung jawab dalam menciptakan konten. Ketenaran dan uang yang didapat dari jutaan pengikut membawa tanggung jawab moral yang besar, bukan lisensi untuk bertindak sesuka hati tanpa memedulikan hukum dan kemanusiaan.