Kisah Getir Ashley St. Clair: Antara Harapan Stabilitas dan Tekanan Menjadi Ibu dari Anak Elon Musk

Siti Maemunah | ZonaKabar
22 Mei 2026, 13:40 WIB
Kisah Getir Ashley St. Clair: Antara Harapan Stabilitas dan Tekanan Menjadi Ibu dari Anak Elon Musk

ZonaKabar — Kehidupan di pusaran kekuasaan dan kekayaan sering kali tampak berkilau dari kejauhan, namun bagi Ashley St. Clair, realitas yang ia hadapi justru jauh dari kata indah. Influencer konservatif berusia 27 tahun ini belakangan menjadi pusat perhatian publik setelah membuka tabir gelap hubungannya dengan orang terkaya di dunia, Elon Musk. Melalui serangkaian video emosional di platform TikTok, Ashley berbagi narasi tentang bagaimana harapannya untuk membangun masa depan yang stabil bagi anak-anaknya justru berujung pada tekanan mental dan sengketa hukum yang melelahkan.

Kisah ini bermula dari perkenalan Ashley dengan sang bos Tesla di lingkaran politik sayap kanan Amerika Serikat. Sebagai seorang influencer yang aktif menyuarakan pandangan-pandangan tradisional dan konservatif, Ashley menemukan titik temu ideologis dengan Musk. Salah satunya adalah pandangan mengenai pentingnya meningkatkan angka kelahiran untuk menyelamatkan peradaban manusia, sebuah visi yang sering digaungkan Musk lewat akun X miliknya.

Visi Bersama yang Berujung Prahara

Pada awalnya, Ashley merasa bahwa visi Musk untuk memiliki banyak keturunan sejalan dengan keinginannya untuk memperbesar keluarga. Sebagai seorang ibu tunggal yang telah memiliki satu anak dari hubungan sebelumnya, Ashley mengakui bahwa ia sempat merasa putus asa untuk bisa mencapai konsep “keluarga ideal” di tengah kerasnya tuntutan hidup. Namun, tawaran dari Musk untuk memiliki anak bersama muncul sebagai sebuah peluang yang sulit ditolak.

Baca Juga Keajaiban Aroma di Negeri Dongeng: Mengulas Koleksi Teranyar Bath & Body Works x Disney Princess
Keajaiban Aroma di Negeri Dongeng: Mengulas Koleksi Teranyar Bath & Body Works x Disney Princess

“Aku hanya ingin menjadi seorang ibu tanpa harus terus-menerus dihantui kekhawatiran tentang kondisi ekonomi,” ungkap Ashley dalam salah satu videonya yang viral. Bagi Ashley, jaminan finansial yang ditawarkan oleh Musk bukan dipandang sebagai tiket menuju gaya hidup jetset atau kemewahan tanpa batas, melainkan sebagai sebuah bentuk proteksi bagi masa depan anak-anaknya agar tetap terurus dengan layak.

Namun, harapan itu mulai retak seiring berjalannya waktu. Pada September 2024, Ashley melahirkan seorang putra yang diberi nama Romulus. Kehadiran Romulus, yang disebut-sebut sebagai anak ke-13 dari Elon Musk, seharusnya menjadi momen bahagia. Namun, alih-alih mendapatkan stabilitas yang diimpikan, Ashley justru merasa terjebak dalam dinamika hubungan yang tidak jujur dan penuh tekanan.

Dinamika Hubungan yang Berubah Drastis

Ashley menuturkan bahwa perubahan drastis pada sikap Musk mulai terasa sejak ia mengandung Romulus. Ia merasa tidak mendapatkan gambaran yang transparan mengenai hubungan Musk dengan perempuan-perempuan lain yang juga memiliki anak dari sang miliarder. Sebagaimana diketahui, Musk memang memiliki beberapa anak dari pasangan yang berbeda, termasuk Grimes dan Shivon Zilis, dalam waktu yang berdekatan.

Baca Juga Menakar Kemegahan ‘Wedding of the Century’: Bocoran Eksklusif Daftar Tamu Undangan Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce
Menakar Kemegahan ‘Wedding of the Century’: Bocoran Eksklusif Daftar Tamu Undangan Pernikahan Taylor Swift dan Travis Kelce

“Mungkin tidak akan ada orang yang percaya, tapi aku bersumpah dia bersikap jauh lebih normal sebelum aku hamil,” kata Ashley. Pernyataan ini menyiratkan adanya perubahan perilaku yang signifikan dari sang miliarder setelah mengetahui bahwa ia akan memiliki anak lagi. Ashley merasa bahwa ia hanya menjadi bagian dari eksperimen kependudukan Musk tanpa benar-benar mendapatkan tempat yang berarti dalam kehidupan pribadinya.

Perselisihan Hak Asuh dan Pemotongan Tunjangan

Situasi semakin memburuk ketika Ashley memutuskan untuk mempublikasikan identitas ayah dari anaknya pada Februari 2025. Sejak saat itu, hubungan keduanya sepenuhnya beralih ke ranah hukum. Masalah utama yang mencuat adalah hak asuh anak dan kewajiban finansial. Ashley mengungkapkan bahwa Musk secara sepihak memangkas tunjangan anak hingga mencapai 60 persen, sebuah tindakan yang dirasakannya sebagai bentuk intimidasi finansial.

Di sisi lain, Elon Musk memberikan tanggapan yang cukup dingin melalui media sosial X. Ia menyatakan bahwa dirinya belum yakin sepenuhnya apakah Romulus adalah anak biologisnya, meski ia menyatakan tidak keberatan untuk melakukan tes DNA guna membuktikannya. Ketidakpastian ini menambah beban psikologis bagi Ashley yang harus berjuang membesarkan anaknya di tengah sorotan kamera dan skeptisisme publik.

Baca Juga Menjelajahi Estetika Jepang Modern di Zuzu Ramen & Izakaya, Permata Kuliner Terbaru di Jantung SCBD Park
Menjelajahi Estetika Jepang Modern di Zuzu Ramen & Izakaya, Permata Kuliner Terbaru di Jantung SCBD Park

Konflik Ideologi: Pemicu Baru di Meja Hijau

Ketegangan antara keduanya mencapai titik didih ketika isu ideologi ikut campur dalam urusan domestik mereka. Musk dilaporkan sangat tidak senang setelah Ashley mengunggah pernyataan yang menunjukkan dukungan terhadap komunitas transgender di media sosialnya. Bagi Musk, yang belakangan vokal mengkritik apa yang ia sebut sebagai “woke culture”, tindakan Ashley dianggap sebagai pembangkangan ideologis.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Musk kini berniat mengajukan hak asuh penuh atas Romulus. Langkah ini dianggap banyak pihak sebagai upaya Musk untuk memastikan bahwa anaknya dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai yang ia anut, tanpa pengaruh dari pandangan Ashley yang kini dianggapnya menyimpang. Perseteruan ini pun kini meluas ke tiga pengadilan berbeda, memaksa Ashley untuk berhadapan dengan barisan pengacara papan atas yang disewa oleh sang mantan pasangan.

Hidup di Bawah Pengawasan Ketat

Kini, Ashley St. Clair mengaku hidupnya tidak lagi tenang. Ia merasa setiap gerak-geriknya diawasi secara ketat oleh tim hukum Musk. Tekanan sebagai seorang ibu tunggal yang harus melawan salah satu orang paling berpengaruh di dunia bukanlah perkara mudah. Ia merasa lelah dengan proses hukum yang berlarut-larut dan merasa suaranya sering kali tenggelam oleh dominasi kekuasaan Musk.

Baca Juga Teror Menghantui Istana: Upaya Pembunuhan Putri Mahkota Belanda Terungkap dengan Barang Bukti Mengerikan
Teror Menghantui Istana: Upaya Pembunuhan Putri Mahkota Belanda Terungkap dengan Barang Bukti Mengerikan

“Aku merasa setiap tindakanku dipantau oleh banyak pengacara. Sangat melelahkan harus berurusan dengan proses hukum di berbagai pengadilan sekaligus,” keluhnya. Kisah Ashley ini pun menjadi pengingat bagi banyak orang tentang kompleksitas hubungan yang melibatkan ketimpangan kekuasaan yang ekstrem, di mana kasih sayang dan janji masa depan sering kali terkalahkan oleh ego dan pertarungan legalitas yang dingin.

Hingga saat ini, proses hukum masih terus berjalan, dan publik pun masih menanti bagaimana akhir dari drama keluarga miliarder ini. Bagi Ashley, tujuannya tetap satu: memastikan Romulus mendapatkan haknya dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat, meskipun ia harus menempuh jalan yang penuh duri untuk mencapainya.

Siti Maemunah

Siti Maemunah

Kreator konten gaya hidup yang berdedikasi mengulas tren fashion dan tips keseharian di kategori Zona Wolipop.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *