Mistik dan Tradisi: Keraton Solo Gelar Gladi Mahesa, Lepas Lima Kebo Bule Kyai Slamet Jelang Malam 1 Suro

Aris Munandar | ZonaKabar
13 Jun 2026, 19:40 WIB
Mistik dan Tradisi: Keraton Solo Gelar Gladi Mahesa, Lepas Lima Kebo Bule Kyai Slamet Jelang Malam 1 Suro

ZonaKabar — Suasana magis mulai menyelimuti Kota Surakarta saat kalender Jawa mendekati pergantian tahun. Di bawah langit Solo yang teduh, sebuah tradisi turun-temurun kembali dihidupkan. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat baru saja melaksanakan prosesi penting sebagai pembuka rangkaian peringatan tahun baru Jawa. Sebanyak lima ekor kebo bule, hewan pusaka yang dianggap sebagai keturunan legendaris Kyai Slamet, dilepaskan dari kandangnya dalam sebuah ritual persiapan yang dikenal dengan istilah Gladi Mahesa.

Persiapan Fisik Sang Pusaka Hidup

Pelepasan lima ekor kebo bule ini bukan sekadar rutinitas biasa, melainkan bagian integral dari persiapan menyambut Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro Tahun Be 1960. Acara puncak yang dinanti-nantikan masyarakat luas tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada Selasa (16/6) malam mendatang. Namun, sebelum melintasi rute kirab yang panjang, para “punggawa” berkulit putih ini memerlukan penyesuaian fisik agar tetap prima selama prosesi adat berlangsung.

Heri, yang menjabat sebagai Serati Mahesa atau pawang kerbau keraton, menjelaskan bahwa prosesi pelepasan ini dilakukan selama dua hari berturut-turut. Tujuannya sangat teknis namun krusial: memastikan otot-otot kaki sang kerbau tidak kaku setelah sekian lama berada di dalam kandang kawasan Alun-alun Kidul. Anda bisa memantau perkembangan persiapan ini melalui pencarian keraton solo di laman kami.

Baca Juga Kisah Haru Mbah Suyati: Menjemput Asa yang Hilang Setelah 31 Tahun Terpisah di Malaysia
Kisah Haru Mbah Suyati: Menjemput Asa yang Hilang Setelah 31 Tahun Terpisah di Malaysia

“Selama dua hari ini mereka kita keluarkan, hari ini dan besok. Ini semacam latihan jalan atau peregangan (stretching). Karena sudah cukup lama tidak keluar kandang, kaki-kakinya tampak agak kaku. Biasanya kalau baru keluar mereka langsung lari, tapi kali ini terlihat lebih tenang karena proses adaptasi,” ungkap Heri saat ditemui di sela-sela kegiatannya, Sabtu (13/6).

Mengenal Lima Mahesa Keturunan Kyai Slamet

Dalam Gladi Mahesa kali ini, sebanyak lima ekor kerbau terpilih menjadi representasi pusaka hidup Keraton Solo. Komposisinya terdiri dari tiga ekor betina dan dua ekor jantan. Masing-masing memiliki karakteristik dan nama yang sudah akrab di telinga para abdi dalem. Mereka adalah Nyai Paing yang merupakan sosok tertua dengan usia 13 tahun, diikuti oleh Ponco, Watin, Mugi, dan si bungsu yang diberi nama Suro, yang baru menginjak usia 3 tahun.

Menariknya, dalam prosesi gladi kali ini, ada dinamika unik yang terjadi di antara kawanan tersebut. Heri menceritakan bahwa salah satu kerbau tampak sedikit rewel dan lebih emosional dari biasanya. “Sepertinya ada yang sedang masa birahi, jadi agak sedikit rewel saat diajak berkeliling. Tapi itu hal yang lumrah dalam perilaku hewan. Kami prediksi besok kondisinya sudah lebih stabil dan tenang,” tambahnya dengan nada optimis.

Baca Juga Baru 4 Hari Menetap, Pengedar Ribuan Obat Terlarang Asal Aceh Diringkus Satresnarkoba Polres Purbalingga
Baru 4 Hari Menetap, Pengedar Ribuan Obat Terlarang Asal Aceh Diringkus Satresnarkoba Polres Purbalingga

Selama prosesi gladi, kelima kerbau ini diajak mengitari area luar Keraton untuk membiasakan diri dengan atmosfer lingkungan luar. Setelah latihan selama dua hari, pada hari Senin mereka akan diberikan waktu istirahat total untuk memulihkan energi sebelum akhirnya menjalankan tugas suci pada Selasa malam dalam kirab malam 1 suro.

Ritual Jamasan dan Perawatan Khusus

Sebagai hewan yang sangat dihormati dalam kosmologi budaya Jawa, perawatan terhadap kebo bule ini tidak sembarangan. Sebelum Kirab Pusaka dimulai, akan dilakukan prosesi Jamasan atau pemandian suci bagi para kerbau. Ritual ini biasanya dilaksanakan pada sore hari menjelang malam satu Suro. Jamasan bukan sekadar membersihkan fisik, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap simbol keberkahan yang dibawa oleh keturunan Kyai Slamet.

Terkait pola makan, Heri menyebutkan tidak ada menu mistis atau khusus yang diberikan. Mahesa-mahesa ini tetap mengonsumsi pakan alami berkualitas tinggi. “Pakan tetap normal, biasanya kami berikan ketela, jagung, dan rumput segar. Yang terpenting adalah kecukupan nutrisi agar mereka kuat berjalan berkilo-kilometer saat kirab nanti,” jelasnya. Informasi mengenai kuliner khas saat perayaan Suro juga bisa ditemukan dengan mencari berita jateng di portal kami.

Baca Juga Tragedi di Jalan Slamet Riyadi: Pelajar SMP Tewas dalam Kecelakaan Maut di Kartasura Sukoharjo
Tragedi di Jalan Slamet Riyadi: Pelajar SMP Tewas dalam Kecelakaan Maut di Kartasura Sukoharjo

Pesan Tradisi dari Juru Bicara Keraton

KPA Singonagoro, Juru Bicara Paku Buwono (PB) XIV Purbaya, menegaskan bahwa Kebo Bule Kyai Slamet bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah dan adat istiadat Keraton. Gladi Mahesa adalah instruksi langsung atau “Dawuh Dalem” dari Sri Susuhunan Paku Buwono XIV untuk memastikan segala sesuatunya berjalan tanpa cela.

“Gladi Mahesa merupakan rangkaian penting untuk memastikan seluruh tahapan teknis dan ritual dapat berjalan tertib, aman, dan sesuai jadwal. Kami ingin memastikan bahwa Mahesa dalam kondisi kesehatan dan mental yang siap untuk memimpin barisan kirab,” ujar KPA Singonagoro dengan penuh wibawa.

Beliau juga menyampaikan pesan kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk abdi dalem dan sentana dalem, untuk bersama-sama menjaga kesucian dan ketertiban selama rangkaian acara berlangsung. Keraton Solo berharap masyarakat yang datang menonton tidak hanya melihatnya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Antusiasme Masyarakat dan Makna Spiritual

Kehadiran kebo bule di jalanan sekitar Keraton selalu menarik perhatian warga dan wisatawan. Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Solo, melihat kebo bule adalah momen yang membawa kedamaian tersendiri. Banyak yang meyakini bahwa prosesi ini membawa berkah atau yang sering disebut sebagai ritual “ngalap berkah”.

Baca Juga Misteri Teror Pocong di Sawangan Depok Terungkap, Benarkah Ada Penampakan Gaib atau Sekadar Hoax?
Misteri Teror Pocong di Sawangan Depok Terungkap, Benarkah Ada Penampakan Gaib atau Sekadar Hoax?

Tradisi Kirab Malam 1 Suro sendiri merupakan perpaduan antara nilai religius Islam dan kearifan lokal Jawa yang sudah eksis sejak berabad-abad silam. Kebo bule bertindak sebagai cucuk lampah atau pembuka jalan bagi pusaka-pusaka keraton lainnya. Perilaku kerbau saat kirab—apakah mereka berjalan tenang atau berhenti di titik tertentu—sering kali diartikan secara simbolis oleh para tetua adat sebagai perlambang situasi setahun ke depan.

Dengan dilaksanakannya Gladi Mahesa ini, maka secara resmi hitung mundur menuju perayaan kebo bule 1 Suro telah dimulai. Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi protokol keamanan dan menjaga jarak aman saat prosesi berlangsung, demi kelancaran jalannya upacara adat yang agung ini. Solo kembali membuktikan diri sebagai kota yang teguh menjaga akar budayanya di tengah arus modernisasi yang kencang.

Bagi Anda yang berencana menyaksikan langsung kemegahan kirab ini, pastikan untuk datang lebih awal dan menjaga ketenangan selama prosesi berlangsung, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi luhur Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *