Rahasia di Balik Tangisan LeAnn Rimes: Deep Jaw Release Therapy, Benarkah Bisa Melepaskan Emosi Terpendam Melalui Rahang?

Siti Maemunah | ZonaKabar
12 Jun 2026, 05:45 WIB
Rahasia di Balik Tangisan LeAnn Rimes: Deep Jaw Release Therapy, Benarkah Bisa Melepaskan Emosi Terpendam Melalui Rahang

ZonaKabar — Dunia maya baru-baru ini digemparkan oleh sebuah video pendek yang memperlihatkan penyanyi country kenamaan, LeAnn Rimes, mengalami luapan emosi yang luar biasa. Bukan karena lagu sedih atau drama panggung, melainkan akibat sebuah prosedur klinis yang dikenal dengan sebutan deep jaw release therapy. Dalam rekaman yang diunggah oleh akun Human Garage di Instagram, Rimes terlihat menjalani perawatan intensif selama 60 detik yang berakhir dengan tangisan histeris, sebuah fenomena yang memicu diskusi luas mengenai kaitan antara ketegangan fisik dan kesehatan mental.

Fenomena ini membawa kita pada sebuah pertanyaan besar: mungkinkah tubuh kita menyimpan memori emosional di tempat-tempat yang tidak terduga, seperti rahang? Bagi banyak orang, rahang hanyalah bagian tubuh untuk mengunyah dan berbicara. Namun, bagi para ahli fisioterapi dan praktisi kesehatan holistik, rahang adalah gudang penyimpanan stres yang sangat kuat. Melalui artikel ini, ZonaKabar akan mengulas tuntas apa itu terapi pelepasan rahang dalam, mengapa hal itu bisa memicu reaksi emosional yang hebat, dan bagaimana prosedur ini bekerja secara medis.

Baca Juga Tangis Haru di Cannes 2026: Sutradara July Jung Beri Penghormatan Abadi untuk Mendiang Kim Sae Ron
Tangis Haru di Cannes 2026: Sutradara July Jung Beri Penghormatan Abadi untuk Mendiang Kim Sae Ron

Mengenal Prosedur yang Menjadi Viral

Prosedur yang dijalani oleh LeAnn Rimes bukanlah pijat wajah biasa yang sering kita temukan di spa kecantikan. Ini adalah teknik fisioterapi manual internal yang menargetkan otot-otot di dalam rongga mulut. Dalam video tersebut, terlihat seorang terapis memasukkan tangan (dengan sarung tangan medis) ke dalam mulut pasien untuk memberikan tekanan langsung pada otot-otot pengunyah bagian dalam. Sementara itu, seorang asisten membantu menahan posisi kepala agar tetap stabil selama tekanan diberikan.

Selama 60 detik yang krusial itu, wajah Rimes menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan yang mendalam. Namun, begitu tekanan dilepaskan, ketegangan itu seolah pecah dan berubah menjadi tangisan yang melegakan. Momen emosional ini bukanlah hal yang aneh dalam praktik klinis tertentu, terutama yang melibatkan area dengan kepadatan saraf tinggi dan keterkaitan erat dengan sistem saraf otonom kita.

Perspektif Medis: Otot Masseter dan Sendi TMJ

Untuk membedah fenomena ini dari sisi ilmiah, Jeanne Marie Ubalde, PT, DPT, seorang fisioterapis profesional, menjelaskan bahwa prosedur ini sebenarnya sangat klinis dan terukur. Fokus utamanya adalah pada otot-otot tertentu yang sering mengalami ketegangan akibat stres kronis atau kebiasaan buruk yang tidak disadari. Sebelum terapi dimulai, seorang ahli biasanya akan melakukan pemeriksaan komprehensif terhadap Temporomandibular Joint (TMJ), leher, hingga postur tubuh secara keseluruhan.

Baca Juga Ramalan Zodiak 12 Mei: Strategi Cancer Menghadapi Trauma, Leo Menjaga Ketenangan, dan Virgo Mengelola Kekecewaan
Ramalan Zodiak 12 Mei: Strategi Cancer Menghadapi Trauma, Leo Menjaga Ketenangan, dan Virgo Mengelola Kekecewaan

“Setelah pemeriksaan dilakukan, pasien akan diminta berbaring telentang. Saya kemudian melakukan terapi manual internal pada otot rahang yang berkontribusi terhadap kebiasaan mengatupkan rahang,” ungkap Ubalde. Area yang paling sering menjadi sasaran adalah otot masseter—otot terkuat di tubuh manusia berdasarkan ukurannya—dan otot pterygoid internal. Terapis mencari apa yang disebut sebagai trigger point atau titik picu ketegangan, lalu memberikan tekanan atau teknik peregangan khusus untuk ‘memaksa’ otot tersebut kembali ke kondisi rileks.

Otot-otot ini terhubung langsung dengan sendi TMJ, yang merupakan engsel yang menghubungkan rahang bawah dengan tengkorak. Sendi inilah yang memungkinkan kita melakukan aktivitas harian seperti berbicara, mengunyah, dan menguap. Ketika otot di sekitar TMJ mengalami ketegangan berlebih, hal itu tidak hanya menyebabkan nyeri fisik, tetapi juga bisa memicu sakit kepala migrain dan nyeri leher yang berkepanjangan.

Mengapa Pelepasan Otot Bisa Memicu Tangisan?

Salah satu aspek paling menarik dari deep jaw release therapy adalah respons emosionalnya. Mengapa menekan otot di dalam mulut bisa membuat seseorang menangis tersedu-sedu? Jawabannya terletak pada cara tubuh kita merespons stres. Secara biologis, saat kita merasa terancam, cemas, atau marah, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons fight or flight. Salah satu reaksi fisik yang paling umum adalah mengatupkan gigi atau mengencangkan rahang.

Baca Juga Ramalan Zodiak 25 Mei: Strategi Sagitarius Menjaga Dompet dan Ujian Kesabaran bagi Scorpio serta Libra
Ramalan Zodiak 25 Mei: Strategi Sagitarius Menjaga Dompet dan Ujian Kesabaran bagi Scorpio serta Libra

Banyak orang melakukan kebiasaan ini selama bertahun-tahun tanpa sadar, terutama saat tidur (bruxism). Akibatnya, rahang menjadi tempat penyimpanan “energi stres” yang terpendam. Ketika seorang terapis melakukan terapi rahang dan melepaskan ketegangan fisik tersebut secara mendadak, sistem saraf pusat seringkali ikut bereaksi. Pelepasan fisik ini sering kali diikuti oleh pelepasan emosional atau somatic release.

“Terapi manual ini membantu melepaskan ketegangan otot, memperbaiki pergerakan, serta mengurangi kebiasaan mengatupkan rahang. Namun, efek samping yang sering muncul adalah tangisan kelegaan. Ini adalah cara tubuh memproses stres yang selama ini terperangkap,” tambah Ubalde. Bagi pasien seperti LeAnn Rimes, tangisan tersebut bukanlah tanda kesakitan yang membahayakan, melainkan tanda bahwa beban emosional yang tersimpan di otot rahangnya akhirnya terlepas.

Manfaat Luas untuk Kesehatan Tubuh dan Mental

Meskipun terlihat dramatis, manfaat dari terapi ini jauh melampaui sekadar pelepasan emosi sesaat. Chiropractor Dr. David Lask menjelaskan bahwa rahang memiliki peran vital terhadap kenyamanan tubuh secara menyeluruh. Ketika otot masseter mengalami kejang atau terlalu tegang, gerakan rahang menjadi terbatas, yang kemudian menciptakan efek domino ke bagian tubuh lainnya.

Baca Juga Mitos SPF Tinggi: Benarkah Jaminan Mutlak Perlindungan Kulit? Simak Penjelasan Pakar
Mitos SPF Tinggi: Benarkah Jaminan Mutlak Perlindungan Kulit? Simak Penjelasan Pakar

Beberapa manfaat yang dilaporkan oleh pasien setelah menjalani sesi deep jaw release antara lain:

  • Berkurangnya frekuensi dan intensitas sakit kepala serta migrain.
  • Hilangnya nyeri pada area wajah dan leher.
  • Peningkatan kualitas tidur karena berkurangnya kebiasaan menggertakkan gigi di malam hari.
  • Rasa rileks yang mendalam pada sistem saraf, yang membantu mengurangi kecemasan.
  • Peningkatan rentang gerak mulut (kemampuan membuka mulut lebih lebar tanpa nyeri).

Dr. Lask menambahkan bahwa untuk hasil yang optimal, terapi ini biasanya disarankan dilakukan dalam sebuah rangkaian program, misalnya 12 sesi selama enam minggu. Tujuannya adalah untuk melatih kembali otot-otot rahang agar tidak kembali ke pola tegang yang lama. Setelah sesi berakhir, pasien seringkali merasa lebih jernih secara mental, lebih bertenaga, dan merasa seolah-olah beban berat telah diangkat dari pundak mereka.

Apakah Terapi Ini Cocok untuk Semua Orang?

Penting untuk diingat bahwa meskipun viral, deep jaw release therapy adalah prosedur medis yang harus dilakukan oleh profesional berlisensi. Mengingat teknik ini melibatkan manipulasi internal di area yang sensitif, melakukannya sendiri atau dengan orang yang tidak berpengalaman bisa berisiko menyebabkan cedera pada sendi TMJ atau jaringan lunak di dalam mulut.

Baca Juga Sinopsis Shark Bait: Teror Hiu Ganas Menanti di Bioskop Trans TV Malam Ini
Sinopsis Shark Bait: Teror Hiu Ganas Menanti di Bioskop Trans TV Malam Ini

Bagi Anda yang sering merasa stres, sering mengalami stres yang memicu nyeri di area wajah, atau memiliki kebiasaan mengatupkan rahang saat bekerja, terapi ini mungkin bisa menjadi solusi yang patut dipertimbangkan. Namun, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau fisioterapis untuk memastikan tidak ada kondisi medis mendasar lainnya yang menghalangi prosedur ini.

Pada akhirnya, apa yang dialami oleh LeAnn Rimes memberikan kita pelajaran berharga bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kesehatan fisik kita seringkali mencerminkan kondisi kesehatan mental kita, dan terkadang, jalan menuju ketenangan jiwa bisa dimulai dari langkah sederhana seperti melepaskan ketegangan di rahang kita. Tetaplah terhubung dengan ZonaKabar untuk mendapatkan informasi kesehatan dan gaya hidup terkini yang mendalam dan terpercaya.

Siti Maemunah

Siti Maemunah

Kreator konten gaya hidup yang berdedikasi mengulas tren fashion dan tips keseharian di kategori Zona Wolipop.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *