Geger Baliho SISKS Paku Buwono XIV Mangkubumi di Delanggu: Babak Baru Dinamika Takhta Keraton Solo?

Aris Munandar | ZonaKabar
08 Jun 2026, 17:42 WIB
Geger Baliho SISKS Paku Buwono XIV Mangkubumi di Delanggu: Babak Baru Dinamika Takhta Keraton Solo?

ZonaKabar — Suasana pagi di kawasan Delanggu, Klaten, yang biasanya hanya diwarnai dengan hiruk-pikuk aktivitas perdagangan dan lalu lalang kendaraan di jalur utama Solo-Jogja, mendadak menjadi perbincangan hangat warga. Bukan karena komoditas berasnya yang legendaris, melainkan karena kemunculan sejumlah baliho besar yang menampilkan sosok bersahaja namun berwibawa dalam balutan busana kebesaran raja. Baliho tersebut mengusung nama SISKS Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi, sebuah nama yang langsung memantik diskusi tajam mengenai suksesi kepemimpinan di Keraton Solo.

Pantauan langsung di lapangan menunjukkan bahwa alat peraga komunikasi visual ini tidak dipasang di sembarang tempat. Titik-titik strategis yang menjadi pusat perhatian publik dipilih secara cermat. Salah satunya tegak berdiri di dekat palang pintu perlintasan sebidang Stasiun Delanggu. Dengan kerangka bambu yang sederhana namun kokoh, baliho tersebut seolah menyapa setiap penumpang kereta api dan pengguna jalan yang melintas, memberikan sinyal kuat bahwa ada dinamika besar yang tengah terjadi di jantung budaya Jawa.

Filosofi di Balik Sura Dira Jayaningrat

Tidak hanya sekadar foto, baliho berukuran sekitar 1×2 meter tersebut memuat pesan mendalam yang tertulis di bagian atas: “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”. Kalimat sakti dalam khazanah filosofi Jawa ini memiliki makna bahwa segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan kebijaksanaan, kasih sayang, dan kesabaran. Penggunaan kutipan ini seolah ingin mengirimkan pesan damai di tengah isu dualisme yang menyelimuti takhta Mataram Islam di Surakarta.

Baca Juga Aksi Heroik Damkar Klaten: Evakuasi Dramatis Kepala Kucing yang Terjebak di Dalam Knalpot Mobil
Aksi Heroik Damkar Klaten: Evakuasi Dramatis Kepala Kucing yang Terjebak di Dalam Knalpot Mobil

Di lokasi lain, tepatnya di simpang empat Pasar Delanggu, baliho serupa juga tampak terpasang di tembok tepi jalan. Kehadirannya di area pasar tradisional ini tentu saja menarik perhatian para pedagang dan pengunjung pasar. Penampilan sosok Mangkubumi yang mengenakan busana Ageman Keprabon lengkap dengan atribut kebesaran raja, memberikan kesan mendalam bagi siapa pun yang memandangnya, seolah menegaskan eksistensi dan legitimasi yang tengah diperjuangkan.

Respon Warga: Antara Tahu dan Bertanya-tanya

Kehadiran baliho-baliho ini memunculkan beragam reaksi dari masyarakat akar rumput. Sarwono (60), seorang penarik becak yang saban hari mangkal di simpang empat Pasar Delanggu, menuturkan bahwa baliho tersebut muncul secara tiba-tiba. Menurut ingatannya, pemasangan dilakukan pada Minggu malam oleh sekelompok orang yang menggunakan mobil. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti siapa pihak di balik aksi tersebut.

“Yang masang pakai mobil, siapa mereka tidak ada yang tahu. Tiba-tiba sudah ada di situ,” ujar Sarwono saat berbincang dengan tim ZonaKabar. Menariknya, meski Sarwono menyadari bahwa sosok dalam baliho itu disebut sebagai Raja Solo, ia mengaku bingung dengan silsilah dan proses pergantian takhta yang sedang berjalan. Baginya, berita tentang wafatnya Sinuhun sebelumnya masih sangat membekas, mengingat iring-iringan pemakaman raja biasanya melintasi jalur utama Delanggu tersebut.

Baca Juga Jejak Akulturasi dalam Gurihnya Bakwan: Sejarah Panjang dan Kumpulan Resep Gorengan Favorit Nusantara
Jejak Akulturasi dalam Gurihnya Bakwan: Sejarah Panjang dan Kumpulan Resep Gorengan Favorit Nusantara

Hal senada diungkapkan oleh Sriyanto, warga Juwiring yang sering melintas di area Stasiun Delanggu. Ia sudah melihat baliho tersebut sejak beberapa hari lalu. “Tahunya Raja Solo sudah meninggal, ini mungkin gantinya atau bagaimana, masyarakat bawah seperti saya kurang paham detailnya. Tapi memang fotonya terlihat sangat berwibawa seperti raja-raja zaman dahulu,” ungkapnya.

Ekspansi Baliho ke Berbagai Penjuru Daerah

Fenomena munculnya baliho SISKS Paku Buwono XIV Mangkubumi ternyata tidak hanya terbatas di Kabupaten Klaten. Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Edy Wirabhumi, memberikan penjelasan bahwa pemasangan baliho ini merupakan bentuk aspirasi dari berbagai daerah yang merindukan kepastian kepemimpinan di Keraton. Menurutnya, permintaan pemasangan serupa datang dari banyak wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Ada permintaan dari daerah-daerah, sehingga diizinkan untuk memasang. Saat ini sudah terpasang di beberapa titik di luar Solo, seperti di Demak dan Kudus,” kata Edy saat dikonfirmasi di lingkungan Keraton. Ia juga membeberkan daftar panjang daerah yang akan segera menyusul, mulai dari Boyolali, Sragen, Grobogan, hingga wilayah Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, hingga Malang Raya.

Baca Juga Gairah Voli Tanah Air: Mengulas Kebanggaan KONI Magelang Atas Terselenggaranya SBY Cup 2026
Gairah Voli Tanah Air: Mengulas Kebanggaan KONI Magelang Atas Terselenggaranya SBY Cup 2026

Edy menekankan bahwa gerakan ini murni inisiatif dari komunitas-komunitas di daerah yang merasa memiliki ikatan emosional dan kultural dengan sosok Mangkubumi. Hal ini mengindikasikan adanya dukungan yang cukup luas di luar tembok keraton terhadap sosok yang ditampilkan dalam baliho tersebut.

Klaim Takhta dan Sengketa Legalitas

Namun, jalan menuju singgasana tidaklah tanpa hambatan. Di sisi lain, pihak yang mewakili SISKS Paku Buwono XIV Purbaya menyatakan keberatan yang sangat keras terhadap munculnya baliho-baliho tersebut. Juru bicara PB XIV Purbaya, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa tidak ada kekosongan takhta di Surakarta sejak wafatnya PB XIII pada November 2025 lalu.

Menurut Singonagoro, suksesi kepemimpinan di Keraton Solo sudah memiliki landasan hukum adat dan legalitas yang jelas. Ia merujuk pada penetapan KGPH Purboyo (sekarang PB XIV Purbaya) sebagai Putra Mahkota yang dilakukan secara terbuka oleh mendiang PB XIII semasa hidupnya. “Raja yang sah adalah yang telah ditunjuk secara transparan menjadi putra mahkota oleh almarhum Sinuhun sebelumnya,” tegasnya.

Baca Juga Strategi Jangka Panjang Laskar Kalinyamat: Persijap Jepara Resmi Pertahankan Mario Lemos untuk Musim 2026/2027
Strategi Jangka Panjang Laskar Kalinyamat: Persijap Jepara Resmi Pertahankan Mario Lemos untuk Musim 2026/2027

Pihak Purbaya sangat menyayangkan adanya klaim lain yang muncul di ruang publik melalui baliho. Mereka menilai tindakan tersebut dapat menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat dan mengganggu tatanan adat yang sudah baku. Bahkan, langkah hukum sedang dipersiapkan untuk menyikapi fenomena ini secara serius. “Tim hukum kami sedang mengkaji langkah-langkah yang diperlukan. Tunggu saja perkembangannya,” tambah Singonagoro.

Menanti Akhir dari Dualisme Kebudayaan

Persoalan suksesi di Keraton Solo memang selalu menarik perhatian nasional. Sebagai institusi budaya yang menjadi penjaga martabat peradaban Jawa, stabilitas di dalam keraton sangatlah krusial. Munculnya baliho Mangkubumi di Delanggu dan daerah lainnya seolah menjadi babak baru dalam sinetron panjang perebutan legitimasi di Mataram Islam.

Bagi warga Klaten dan sekitarnya, yang terpenting adalah kedamaian dan kelestarian budaya. Keraton Solo bukan hanya milik keluarga bangsawan, melainkan simbol identitas bagi masyarakat luas. Masyarakat berharap agar segala perbedaan pendapat dan klaim ini dapat diselesaikan dengan semangat musyawarah mufakat, sesuai dengan nilai-nilai luhur yang selalu diajarkan oleh para leluhur melalui semboyan Lebur Dening Pangastuti.

Baca Juga Amukan Si Jago Merah di Kedungtuban: Rumah Kayu Jati Warga Kemantren Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 250 Juta
Amukan Si Jago Merah di Kedungtuban: Rumah Kayu Jati Warga Kemantren Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 250 Juta

Kini, publik tinggal menunggu bagaimana kelanjutan dari perang baliho dan klaim legalitas ini. Apakah proses hukum akan benar-benar berjalan, ataukah akan ada rekonsiliasi yang mampu menyatukan kembali keluarga besar Keraton Surakarta Hadiningrat? Yang pasti, setiap lembar baliho yang terpasang di pinggir jalan Delanggu tersebut membawa beban sejarah dan harapan besar akan masa depan kebudayaan Jawa yang lebih cerah.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *