Menelusuri Jejak Rasa di Lereng Merbabu: Saat Ombus-ombus Khas Batak Bersalin Rupa Menjadi Kreasi Singkong Boyolali

Aris Munandar | ZonaKabar
15 Jun 2026, 07:42 WIB
Menelusuri Jejak Rasa di Lereng Merbabu: Saat Ombus-ombus Khas Batak Bersalin Rupa Menjadi Kreasi Singkong Boyolali

ZonaKabar — Di bawah naungan langit biru yang menyelimuti lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dukuh Dungus, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, sebuah harmoni rasa tercipta dari tangan-tangan kreatif warga setempat. Aroma tanah yang segar bersatu dengan kepulan uap hangat dari dapur-dapur tradisional yang tengah berpesta. Bukan sekadar masak-memasak biasa, momen ini adalah perayaan terhadap kekayaan bumi pertiwi yang dibalut dalam tajuk Festival Mustikarasa 2026. Ada yang unik di sini; sebuah jembatan kuliner yang menghubungkan budaya Batak dan Jawa melalui sepotong kue bernama ombus-ombus.

Simfoni Kuliner di Kaki Gunung Merbabu

Festival Mustikarasa bukan sekadar ajang unjuk kebolehan memasak, melainkan sebuah ruang refleksi untuk kembali mengenali potensi pangan lokal yang sering kali terlupakan. Desa Seboto yang dikenal dengan kesuburan tanahnya, memamerkan bagaimana singkong—bahan pangan yang kerap dianggap remeh—bisa naik kelas menjadi sajian yang menggugah selera jurnalis kuliner sekalipun. Di tangan para peserta, umbi-umbian ini bertransformasi menjadi kuliner tradisional yang sarat akan nilai inovasi.

Baca Juga Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik
Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik

Kegiatan ini diikuti oleh belasan kelompok peserta yang berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari ibu rumah tangga yang telah puluhan tahun bergelut di dapur, kader PKK yang visioner, hingga para pemuda dari generasi Z yang membawa semangat kekinian. Kehadiran lintas generasi ini membuktikan bahwa kecintaan terhadap pangan lokal tidak mengenal batas usia. Mereka berlomba-lomba memberikan nyawa baru pada singkong, menjadikannya sajian yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga estetik secara visual.

Transformasi Ombus-ombus: Dari Tepung Beras ke Singkong

Salah satu sorotan utama dalam festival ini adalah keberanian peserta mengadopsi resep dari wilayah yang jauh di seberang pulau. Ombus-ombus, kue legendaris khas masyarakat Batak yang biasanya terbuat dari tepung beras atau ketan, diproduksi dengan bahan dasar singkong. Inisiatif ini datang dari salah satu peserta muda, Angelica Reza Zaifana. Baginya, singkong Boyolali memiliki tekstur yang sangat fleksibel untuk diolah menjadi apa saja, termasuk kue tradisional asal Sumatera Utara tersebut.

“Saya berpikir bahwa ombus-ombus ini adalah kekayaan nusantara yang perlu dikenal lebih luas. Tidak harus masyarakat Batak saja yang menikmatinya, tetapi warga di Jawa pun bisa merasakannya dengan kearifan lokal kita sendiri, yaitu menggunakan singkong,” ungkap Angelica dengan penuh semangat. Di tangannya, parutan singkong yang diperas lembut dipadukan dengan kelapa parut dan isian gula merah yang meleleh saat digigit. Teksturnya yang kenyal namun lembut memberikan sensasi baru yang berbeda dari versi aslinya yang menggunakan tepung beras.

Baca Juga Amukan Si Jago Merah di Kedungtuban: Rumah Kayu Jati Warga Kemantren Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 250 Juta
Amukan Si Jago Merah di Kedungtuban: Rumah Kayu Jati Warga Kemantren Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp 250 Juta

Inovasi Tanpa Batas: Cassava Choco Truffle dan Kreasi Modern

Tidak berhenti pada ombus-ombus, Angelica juga menampilkan sisi modern dari singkong melalui menu Cassava Choco Truffle. Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi pangan lokal bisa bersaing dengan camilan kelas dunia. Singkong dihaluskan hingga lembut, dicampur dengan cokelat premium, dan dibentuk menjadi bola-bola truffle yang elegan. Siapa sangka bahwa makanan yang berasal dari dalam tanah ini bisa memiliki cita rasa mewah yang sanggup memanjakan lidah kaum urban.

Peserta lain, Ratna Widuri, juga tak mau kalah dalam memamerkan kreativitasnya. Ia menyajikan combro dengan isian tempe yang gurih, sebuah variasi dari isi oncom yang lebih umum. Namun, yang paling menarik perhatian adalah Pai Singkong yang dipadukan dengan fla lembut menyerupai bubur sumsum dan taburan sagu. Ratna menekankan bahwa mengolah singkong menjadi makanan modern sebenarnya tidaklah sulit, asalkan ada kemauan untuk bereksperimen dengan resep-resep baru.

Menghidupkan Kembali Semangat Mustikarasa

Nama “Mustikarasa” yang disematkan dalam festival ini tentu bukan tanpa alasan. Mustikarasa merujuk pada buku kumpulan resep masakan Nusantara yang digagas oleh Presiden Soekarno untuk mendokumentasikan kekayaan gastronomi Indonesia. Dengan semangat yang sama, warga Desa Seboto ingin menegaskan kembali bahwa Indonesia memiliki kedaulatan pangan yang luar biasa. Melalui olahan singkong, mereka menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri.

Baca Juga Skandal Memilukan di Kendal: Tangis Bayi di Kebun Warga Ungkap Tabir Kelam Ayah Perkosa Anak Kandung
Skandal Memilukan di Kendal: Tangis Bayi di Kebun Warga Ungkap Tabir Kelam Ayah Perkosa Anak Kandung

Dwi Adi Agung Nugroho, selaku Ketua Panitia Festival Mustikarasa 2026, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan untuk mengajak masyarakat kembali mencintai produk lokal, terutama tanaman polo gantung (buah yang menggantung) dan polo pendem (umbi-umbian). “Kita memiliki kekayaan luar biasa di bawah tanah kita sendiri yang selama ini jarang dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, potensi singkong sebagai bagian dari ketahanan pangan sangatlah krusial,” tutur Dwi di sela-sela acara.

Ketahanan Pangan di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah situasi ekonomi dan politik global yang sering kali tidak menentu, ketergantungan pada bahan baku impor seperti gandum menjadi risiko besar bagi stabilitas pangan nasional. Oleh karena itu, festival seperti ini menjadi krusial sebagai langkah edukatif bagi masyarakat. Dengan menguasai berbagai teknik pengolahan singkong, masyarakat tidak perlu merasa cemas jika harga bahan pangan pokok lainnya melonjak. Singkong adalah pahlawan yang siap sedia di setiap musim.

Selain itu, diversifikasi menu dari singkong seperti papeda singkong, dawet singkong, hingga beragam kue basah lainnya, diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut. Jika singkong hanya dijual dalam bentuk mentah, harganya relatif rendah. Namun, ketika sudah diolah menjadi ombus-ombus yang cantik atau truffle cokelat yang modern, nilai jualnya akan berlipat ganda. Ini adalah peluang usaha yang sangat menjanjikan bagi pelaku UMKM di desa.

Baca Juga Pelarian Berkedok Ritual: Kisah Penangkapan Predator Santriwati Pati di Pelosok Wonogiri
Pelarian Berkedok Ritual: Kisah Penangkapan Predator Santriwati Pati di Pelosok Wonogiri

Membangun Kebanggaan Lokal Melalui Kuliner

Festival Mustikarasa di Boyolali ini diakhiri dengan harapan besar. Para peserta diharapkan tidak hanya berhenti memasak setelah lomba usai, tetapi terus mengembangkan kreasi mereka dan menularkannya kepada tetangga serta kerabat. Keberhasilan mengubah singkong menjadi sajian sekelas restoran atau kue tradisional dari daerah lain adalah bukti bahwa kreativitas tidak memiliki batas geografis.

Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat Merbabu, para warga pulang dengan membawa ide-ide baru di kepala mereka. Mereka kini memandang pohon singkong di ladang bukan lagi sekadar tanaman biasa, melainkan harta karun yang siap diolah menjadi mahakarya kuliner. Dari Boyolali, pesan tentang ketahanan pangan dan cinta tanah air tersampaikan melalui sepiring hidangan yang hangat dan jujur. Sebuah bukti bahwa di balik kesederhanaan singkong, tersimpan kekayaan rasa yang tak terhingga.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda semakin tertarik untuk terjun ke dunia pertanian dan pengolahan pangan lokal. Bukan sebagai petani tradisional yang terpinggirkan, melainkan sebagai inovator pangan yang mampu membawa produk desa ke kancah global. Singkong dari lereng Merbabu kini telah memulai perjalanannya, bersalin rupa menjadi ombus-ombus, dan siap menyapa dunia dengan rasa yang autentik.

Baca Juga Waspada Perubahan Cuaca: Prakiraan Terbaru Jawa Tengah Hari Ini, Cilacap hingga Ungaran Siaga Hujan
Waspada Perubahan Cuaca: Prakiraan Terbaru Jawa Tengah Hari Ini, Cilacap hingga Ungaran Siaga Hujan
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *