Si Jago Merah Hanguskan Bedeng Pekerja Proyek Lapas Semarang: Diduga Akibat Obat Nyamuk dan Korsleting Listrik
ZonaKabar — Suasana tenang di hari Minggu pagi di kawasan Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa. Kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dari area proyek pembangunan lembaga pemasyarakatan, menandai amuk si jago merah yang melahap bangunan tempat tinggal sementara para pekerja.
Insiden kebakaran hebat ini menghanguskan sedikitnya tiga unit rumah bedeng yang menjadi tempat bernaung para buruh proyek pembangunan lapas tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 10 Mei 2026, sekitar pukul 09.40 WIB ini, sempat menarik perhatian warga sekitar yang terkejut melihat kobaran api yang begitu cepat membesar di Jalan dr. Cipto, tepat di samping Lapas Kelas 1 Semarang.
Kronologi Awal: Teriakan yang Memecah Keheningan
Peristiwa mencekam ini pertama kali disadari oleh warga sekitar dan pekerja yang sedang tidak bertugas. Menurut laporan tim lapangan, saksi pertama yang mengetahui kejadian tersebut adalah Bapak Pandu. Saat itu, ia sedang berada tidak jauh dari lokasi kejadian ketika tiba-tiba mendengar teriakan histeris dari warga yang melintas.
“Awalnya saksi mendengar orang teriak-teriak ada kebakaran. Begitu menoleh ke arah bedeng, api sudah terlihat menyambar bagian atap salah satu unit,” ujar Tantri Pradono, Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, saat memberikan keterangan resmi kepada tim redaksi.
Mendengar kegaduhan tersebut, Pandu segera berlari menuju sumber api. Dengan keberanian yang tersisa, ia mencoba memadamkan api menggunakan peralatan seadanya. Namun, material bedeng yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bahan mudah terbakar lainnya membuat api menjalar dengan kecepatan yang sulit dibayangkan. Upaya manual yang dilakukan saksi pun tidak membuahkan hasil karena suhu panas yang kian menyengat.
Upaya Pemadaman Mandiri Menggunakan APAR yang Gagal
Melihat api yang terus merembet ke unit bedeng lainnya, saksi kedua yakni Bapak Yeremia, mencoba memberikan bantuan dengan membawa Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Ia berupaya menyemprotkan cairan pemadam ke titik pusat api. Sayangnya, skala kebakaran di Semarang tersebut sudah melampaui kapasitas alat pemadam portable yang ia miliki.
“Bapak Yeremia berusaha membantu menggunakan APAR, namun api sudah jauh lebih besar dan sulit dikendalikan. Menyadari situasi yang kian genting, mereka segera menghubungi hotline Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang melalui pesan WhatsApp,” tambah Tantri Pradono menjelaskan kronologi penyelamatan awal.
Kegagalan pemadaman tahap awal ini menjadi pengingat betapa krusialnya kecepatan respons dalam menghadapi api di area padat bangunan semi permanen. Bedeng pekerja seringkali menjadi titik rawan karena penataan material yang tidak tahan api serta jarak antar bangunan yang sangat rapat.
Respons Cepat Petugas Damkar Kota Semarang
Tidak butuh waktu lama setelah laporan diterima, petugas damkar segera meluncur ke lokasi kejadian. Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mengerahkan sedikitnya tiga unit armada tempur lengkap dengan 15 personel terlatih untuk menjinakkan api di kawasan Bugangan tersebut.
Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan strategi penyekatan area. Langkah ini diambil guna memastikan lidah api tidak menjilat bangunan utama Lapas maupun pemukiman warga yang berada di sekitarnya. Strategi ini terbukti efektif dalam melokalisir amukan api agar tidak semakin meluas.
“Petugas segera melakukan upaya pemadaman dan penyekatan area untuk mencegah penyebaran api lebih luas. Pukul 10.20 WIB api mulai dapat dikendalikan dan dilakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api tersisa,” papar Tantri. Proses pendinginan ini sangat penting untuk mencegah fenomena api dalam sekam, di mana bara api yang tersembunyi di bawah puing bisa kembali menyala jika terkena embusan angin.
Dugaan Penyebab: Dari Obat Nyamuk Hingga Korsleting Listrik
Setelah api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 10.30 WIB, tim investigasi internal mulai menyisir puing-puing bangunan untuk mencari tahu penyebab pasti bencana ini. Berdasarkan temuan awal di lapangan, kuat dugaan bahwa api dipicu oleh kelalaian penggunaan obat nyamuk bakar yang bersinggungan dengan masalah instalasi listrik.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa percikan api berasal dari kabel rol yang mengalami hubungan arus pendek (korsleting). Penggunaan kabel rol yang berlebihan atau melebihi beban kapasitas seringkali menjadi pemicu panas berlebih pada kabel. Kondisi ini kemudian diperparah dengan keberadaan obat nyamuk bakar yang masih menyala di dalam bedeng.
“Diduga api berasal dari obat nyamuk dan korsleting dari kabel rol. Hal ini sangat sering terjadi di lingkungan bedeng pekerja karena pengaturan instalasi listrik yang terkadang kurang terstandarisasi,” ungkap pihak Damkar. Hal ini menjadi catatan serius bagi kontraktor pelaksana proyek agar lebih memperhatikan keamanan proyek dan fasilitas tempat tinggal pekerja.
Kerugian Materiil dan Dampak Bagi Pekerja
Meskipun si jago merah melahap habis tiga bangunan bedeng beserta isinya, beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini. Para pekerja yang menempati bedeng tersebut berhasil menyelamatkan diri sebelum api mengepung seluruh area bangunan.
Namun, kerugian materiil tidak dapat dihindari. Berdasarkan taksiran sementara, kerugian akibat peristiwa ini mencapai angka Rp 50 juta. Kerugian tersebut mencakup struktur bangunan bedeng, peralatan tukang, serta barang-barang pribadi milik para pekerja yang tidak sempat diselamatkan saat api mulai berkobar hebat.
Kini, area bekas kebakaran telah dipasangi garis pengaman untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut. Aktivitas pembangunan di lembaga pemasyarakatan tersebut diperkirakan akan sedikit terhambat karena para pekerja harus mencari tempat bernaung baru sebelum melanjutkan tanggung jawab mereka.
Pentingnya Kewaspadaan di Lingkungan Proyek
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak, terutama pengelola proyek konstruksi di Kota Semarang. Penggunaan alat elektronik dan sarana pemanas di dalam bedeng pekerja harus diawasi secara ketat. Seringkali, demi kenyamanan sesaat, faktor keselamatan justru dikesampingkan.
Pihak Dinas Pemadam Kebakaran mengimbau agar setiap bedeng pekerja atau bangunan semi permanen dilengkapi dengan APAR yang memadai dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau. Selain itu, pengecekan rutin terhadap instalasi listrik sementara harus dilakukan untuk menghindari risiko beban berlebih yang memicu korsleting.
Kebakaran di Kelurahan Bugangan ini menambah daftar panjang insiden kebakaran akibat kelalaian kecil yang berdampak besar. Masyarakat diharapkan selalu waspada, terutama saat meninggalkan ruangan dalam kondisi alat pemanas atau obat nyamuk masih menyala. Kewaspadaan kolektif adalah kunci utama dalam mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa depan.
Dengan padamnya api di Jalan dr. Cipto, kini pihak berwenang terus mengimbau warga Semarang untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan standar keamanan di lingkungan masing-masing. Terlebih lagi saat cuaca sedang terik, di mana benda-benda kering menjadi sangat mudah terbakar hanya dengan satu percikan kecil.