Momen Terakhir Bilqis Sebelum Tragedi: Kisah Pilu di Balik Mie Ayam Rp5 Ribu dan Misteri Perampokan Berdarah di Sragen

Aris Munandar | ZonaKabar
07 Jun 2026, 05:40 WIB
Momen Terakhir Bilqis Sebelum Tragedi: Kisah Pilu di Balik Mie Ayam Rp5 Ribu dan Misteri Perampokan Berdarah di Sragen

ZonaKabar — Di balik heningnya suasana pemukiman yang biasanya tenang, sebuah tragedi memilukan merobek kedamaian sebuah keluarga kecil di Sragen. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa semangkuk mie ayam sederhana seharga lima ribu rupiah akan menjadi saksi bisu dari perjamuan terakhir seorang ibu dengan buah hati tercintanya. Kepergian Bilqis Rajiansyah Lestari, bocah berusia 11 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar, meninggalkan luka yang teramat dalam sekaligus tanda tanya besar mengenai siapa sosok kejam yang tega menghabisi nyawanya demi harta yang tak seberapa.

Sajian Terakhir yang Tak Terlupakan

Kamis sore itu (6/6/2024), suasana rumah Dewi Sri Lestari (34) tampak seperti hari-hari biasanya. Tidak ada awan mendung yang mengisyaratkan akan datangnya badai besar. Bilqis, putri kesayangannya, dengan riang menawarkan diri untuk membeli santap malam. Tiga porsi mie ayam murah meriah dibelinya untuk dinikmati bersama sang ibu dan ayah sambungnya, Sukardi.

Dewi mengenang momen tersebut dengan mata berkaca-kaca. Ia menceritakan betapa normalnya percakapan mereka saat itu. Bilqis makan dengan lahap, menikmati kebersamaan singkat sebelum malam menjemput. “Sore itu dia yang beli mie ayam, tiga porsi, harganya lima ribuan satu bungkus. Semuanya berjalan biasa saja, tidak ada firasat apa-apa saat kami makan bersama,” ungkap Dewi saat ditemui tim jurnalis di kediamannya.

Baca Juga Jejak Gelap Fabiola Elizabeth Agnes: Dari Gemerlap Panggung Artis hingga Jeruji Besi Markas Scammer Solo Baru
Jejak Gelap Fabiola Elizabeth Agnes: Dari Gemerlap Panggung Artis hingga Jeruji Besi Markas Scammer Solo Baru

Namun, kedamaian itu perlahan terkikis saat malam merambat semakin larut. Dewi mulai merasakan kegelisahan yang tidak masuk akal. Hatinya mencelos, dan tubuhnya merasa tidak nyaman tanpa alasan yang jelas. Sebuah gejala psikologis yang seringkali dianggap sebagai firasat kuat oleh masyarakat lokal ketika sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kegelisahan Malam yang Menjadi Kenyataan

Dewi mengaku sempat mengungkapkan rasa tidak enaknya itu kepada Bilqis sebelum mereka tidur. Ketidaknyamanan itu membuatnya berpindah-pindah posisi tidur. Awalnya ia mencoba memejamkan mata di lantai bawah yang terasa dingin, lalu pindah ke atas, namun tetap saja matanya enggan terpejam. Kegelisahan itu seolah menjadi alarm alami yang mencoba memperingatkannya tentang bahaya yang tengah mengintai.

“Malam itu benar-benar aneh. Saya bilang ke Bilqis kalau badan saya tidak enak, hati gelisah sekali. Tidur di mana pun tidak terasa nyaman,” kenangnya. Rasa cemas itu terus terbawa hingga keesokan paginya, Jumat (7/6). Dewi yang biasanya sudah berangkat bekerja tepat setelah kumandang Subuh, tiba-tiba merasa sangat malas untuk meninggalkan rumah. Ada berat hati yang menyelimuti langkah kakinya.

Baca Juga Nasib Apes Preman di Kudus: Peras PKL Puluhan Juta Berakhir di Balik Jeruji Besi
Nasib Apes Preman di Kudus: Peras PKL Puluhan Juta Berakhir di Balik Jeruji Besi

Meski dihantui perasaan was-was, tuntutan ekonomi membuatnya tetap harus berangkat bekerja, walaupun dengan waktu yang agak siang dari biasanya. Ia tidak pernah menduga bahwa keputusan untuk meninggalkan rumah hari itu akan membawanya pada penemuan paling mengerikan dalam hidupnya sebagai seorang ibu.

Detik-Detik Penemuan Jasad Bilqis

Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, Dewi kembali ke rumah dengan harapan bisa segera beristirahat dan bertemu kembali dengan putrinya. Namun, ia mendapati rumahnya tertutup rapat dengan kondisi gembok yang tidak terkunci sebagaimana mestinya. Kecurigaannya mulai memuncak. Saat memasuki rumah, ia memanggil nama Bilqis berulang kali, namun hanya kesunyian yang menjawab.

Langkahnya terhenti di ruang tengah. Ia melihat sesosok tubuh kecil terbaring tengkurap di atas kasur, tertutup selimut hingga setengah badan. Awalnya, ia mengira putrinya itu sedang tertidur pulas atau mungkin sedang sakit karena tidak merespons panggilannya.

“Saya panggil namanya, Bilqis, Bilqis… tapi diam saja. Saya dekati untuk membangunkan, saat saya buka selimutnya sedikit demi sedikit, saya melihat banyak darah di bagian kakinya. Sprei juga sudah merah bersimbah darah,” ujar Dewi dengan nada gemetar. Dengan tangan gemetar, ia membalikkan tubuh anaknya dan seketika dunianya runtuh. Wajah Bilqis mengalami luka bacok yang cukup parah, begitu pula dengan tangannya.

Baca Juga Ancaman Luapan Sungai Dengkeng Klaten: Rehabilitasi Tanggul Terkendala Cuaca Ekstrem dan Debit Air Tinggi
Ancaman Luapan Sungai Dengkeng Klaten: Rehabilitasi Tanggul Terkendala Cuaca Ekstrem dan Debit Air Tinggi

Dalam keadaan panik dan histeris, Dewi berlari keluar rumah sembari berteriak meminta pertolongan. Warga sekitar yang mendengar jeritan memilukan itu segera berdatangan dan menemukan pemandangan mengerikan di dalam rumah tersebut. Tak lama kemudian, pihak kepolisian pun tiba di lokasi kejadian untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP).

Dugaan Perampokan: Motor dan Ponsel Raib

Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, motif perampokan mulai menguat. Selain kehilangan nyawa Bilqis, beberapa barang berharga milik keluarga tersebut juga menghilang. Dewi menyebutkan bahwa telepon seluler milik anaknya dan satu unit sepeda motor yang biasa digunakan untuk sekolah dan bermain telah raib dari tempatnya.

Mirisnya, sepeda motor yang dibawa lari oleh pelaku bukanlah kendaraan mewah. “Itu motor lama, beli bekas untuk keperluan sekolah Bilqis. Ponselnya pun juga ponsel biasa,” kata Dewi. Hal ini menambah kesan keji dari pelaku yang tega menghilangkan nyawa seorang anak kecil hanya demi barang-barang yang nilainya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan nyawa manusia.

Baca Juga Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP
Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP

Polisi Lakukan Olah TKP Lanjutan

Menanggapi kasus yang menggegerkan publik Sragen ini, Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu bergerak cepat. Polisi bahkan melakukan olah TKP sebanyak dua kali untuk memastikan tidak ada satu pun bukti atau petunjuk yang terlewatkan. Penyelidikan mendalam sedang dilakukan untuk mengidentifikasi siapa saja orang-orang yang sempat berinteraksi dengan korban atau berada di sekitar lokasi sebelum kejadian.

“Olah TKP kedua ini bertujuan untuk mencari alat bukti tambahan yang bisa mempercepat kami dalam mengungkap kasus pembunuhan ini. Kami sudah mengantongi beberapa poin penting dari lokasi,” jelas AKBP Dewiana kepada awak media. Hingga saat ini, pihak kepolisian telah memeriksa setidaknya empat orang saksi yang dianggap mengetahui situasi di sekitar rumah korban.

Selain keterangan saksi, polisi juga tengah menyisir rekaman CCTV dari rumah warga maupun area publik di sekitar lokasi kejadian. Harapannya, kamera pengawas tersebut sempat menangkap pergerakan mencurigakan atau kendaraan yang keluar masuk dari area pemukiman tersebut pada rentang waktu kejadian.

Baca Juga Skandal Foto AI di Pemalang: Ketua OSIS SMK Mundur Setelah Edit Foto Belasan Siswi Jadi Tak Senonoh
Skandal Foto AI di Pemalang: Ketua OSIS SMK Mundur Setelah Edit Foto Belasan Siswi Jadi Tak Senonoh

Seruan Keadilan untuk Bilqis

Tragedi ini memicu kemarahan publik di media sosial dan lingkungan sekitar. Masyarakat menuntut agar pelaku segera ditangkap dan dijatuhi hukuman yang setimpal. Bilqis dikenal sebagai anak yang baik dan penurut di lingkungannya, sehingga kepergiannya yang tragis meninggalkan lubang besar di hati orang-orang yang mengenalnya.

Kini, Dewi hanya bisa menatap kamar kosong putrinya dengan sisa-sisa kenangan malam terakhir mereka saat menyantap mie ayam bersama. Ia berharap pihak berwajib dapat segera menuntaskan kasus ini agar arwah putrinya bisa beristirahat dengan tenang. “Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Kenapa mereka begitu tega?” pungkasnya dengan isak tangis.

Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, bahkan di lingkungan yang kita anggap paling aman sekalipun. Pihak kepolisian juga menghimbau kepada warga yang merasa memiliki informasi sekecil apa pun terkait peristiwa ini agar segera melapor demi mempercepat proses hukum.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *