Jeritan di Balik Dapur: Harga Sayur di Pasar Peterongan Semarang Terus Meroket, Pedagang Keluhkan ‘Mahal yang Stabil’
ZonaKabar — Keriuhan di Pasar Peterongan, Kota Semarang, belakangan ini menyisakan guratan kecemasan di wajah para pedagang maupun pembeli. Bukan tanpa alasan, harga sayur di salah satu pusat niaga tradisional kebanggaan warga Semarang ini terus merangkak naik tanpa tanda-tanda akan melandai dalam waktu dekat. Fenomena ini menciptakan sebuah ironi baru di kalangan pedagang: sebuah kondisi yang mereka sebut sebagai ‘mahal yang stabil’.
Sudah sebulan lamanya, fluktuasi harga kebutuhan pokok, khususnya komoditas sayuran, seolah kehilangan arah turunnya. Kenaikan ini pun bukan lagi terjadi secara perlahan, melainkan melonjak tajam yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca yang tidak menentu hingga melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada biaya logistik pertanian.
Daftar Harga yang Menguras Kantong
Menelusuri lorong-lorong Pasar Peterongan pada Kamis pagi, tim ZonaKabar menemui Pipit (23), salah satu pedagang sayuran yang setia melayani pelanggannya meski dengan raut wajah yang sedikit lesu. Pipit membeberkan fakta lapangan mengenai lonjakan harga yang menurutnya ‘sudah tidak masuk akal’.
“Di lapak saya, kenaikan yang paling terasa itu ada pada bawang merah, wortel, dan tomat. Naiknya benar-benar signifikan, sudah mulai terasa sejak sebelum Hari Raya Iduladha kemarin,” ungkap Pipit saat berbincang dengan tim ZonaKabar. Berikut adalah rincian kenaikan harga yang terjadi di lapaknya:
- Bawang Merah: Meroket dari harga normal Rp 40.000 menjadi Rp 60.000 hingga Rp 65.000 per kilogram.
- Cabai Rawit: Kini bertengger di angka Rp 80.000 per kilogram, melonjak dari sebelumnya yang hanya Rp 60.000.
- Cabai Merah Besar: Mengalami kenaikan dari Rp 40.000 menjadi Rp 60.000 per kilogram.
- Wortel: Naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 18.000 per kilogram.
- Tomat: Biasanya hanya Rp 15.000, kini menyentuh angka Rp 20.000 per kilogram.
- Bawang Putih: Mengalami kenaikan tipis namun pasti, dari Rp 30.000 menjadi Rp 35.000 per kilogram.
Kenaikan rata-rata sebesar Rp 5.000 hingga Rp 20.000 per kilogram ini tentu bukan angka yang kecil bagi para ibu rumah tangga maupun pengusaha warung makan yang mengandalkan bahan pokok murah untuk menjaga kelangsungan bisnis mereka.
Fenomena ‘Mahal yang Stabil’ dan Keluhan Pedagang
Apa yang membuat para pedagang di Pasar Peterongan merasa heran adalah konsistensi harga tinggi ini. Biasanya, dalam siklus perdagangan sayur-mayur, harga akan naik selama beberapa hari atau satu minggu, kemudian perlahan akan turun kembali ke titik normal. Namun, kali ini polanya berbeda.
“Biasanya kalau naik itu sebulan, terus ada turunnya sedikit. Kalau sekarang ini aneh, mahalnya ‘ajeg’ atau konsisten. Belum pernah turun lagi sejak sebelum Iduladha. Mahalnya stabil, tidak ada satu pun komoditas yang harganya melandai,” tutur Pipit dengan nada getir. Kondisi ini memaksa pedagang untuk lebih berhati-hati dalam menyetok barang agar tidak merugi jika sayuran tersebut membusuk karena tidak laku.
Senada dengan Pipit, Suprihati (53), pedagang lain di pasar yang sama, juga mengeluhkan kondisi serupa. Menurut pengamatannya, kenaikan harga ini sudah bertahan selama dua minggu terakhir di lapaknya. Ia menduga bahwa faktor cuaca yang menyebabkan gagal panen di tingkat petani menjadi biang keladi utama.
“Mungkin karena banyak petani yang gagal panen, jadi pasokan ke pasar berkurang drastis. Kalau barang sedikit tapi yang cari banyak, ya otomatis harga jadi mahal. Pembeli juga banyak yang protes, mereka tanya ‘kok mahal sekali?’, ya saya jawab apa adanya kalau dari pengepulnya memang sudah naik,” ujar Suprihati.
Daya Beli Menurun: Dari Kilogram ke Ons
Imbas dari melambungnya harga sayuran ini paling nyata terlihat pada perubahan pola belanja masyarakat. Ekonomi Semarang yang sedang berupaya stabil kini harus menghadapi tantangan daya beli yang tergerus di sektor pangan. Pipit menceritakan bagaimana pelanggannya kini sangat perhitungan dalam berbelanja.
“Sekarang orang beli itu jarang yang kiloan. Kebanyakan belinya eceran Rp 5.000 sampai Rp 10.000 saja. Paling banyak ya beli seperempat kilogram. Bahkan sekarang ada yang beli cuma satu ons. Saat mereka beli Rp 5.000 dan dapatnya cuma sedikit, mereka tanya kenapa sedikit sekali. Saya hanya bisa menjelaskan kalau harganya memang lagi naik tinggi,” kata Pipit.
Perubahan perilaku konsumen ini tentu berdampak langsung pada omzet pedagang. Meskipun harga barang tinggi, keuntungan yang didapat pedagang justru seringkali menipis karena volume penjualan yang menurun drastis. Risiko kerugian akibat sayuran yang layu juga menghantui para pedagang di Kota Semarang.
Analisis Penyebab: Lemahnya Rupiah hingga Faktor Musim
Meskipun pedagang di pasar tradisional tidak bersentuhan langsung dengan pasar valuta asing, dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah ternyata merembet hingga ke lapak sayur. Pipit sempat menyinggung soal pelemahan rupiah yang mungkin memicu kenaikan harga pupuk dan biaya transportasi pengangkut sayuran dari daerah penghasil seperti Bandungan atau daerah Jawa Timur.
Selain itu, anomali cuaca yang sulit diprediksi membuat kalender tanam petani berantakan. Serangan hama yang meningkat di musim tertentu atau curah hujan yang tidak stabil menyebabkan kualitas sayuran menurun sementara biaya perawatan meningkat. Hal inilah yang menyebabkan pasokan komoditas pangan di pasar-pasar besar Semarang menjadi terbatas.
Harapan untuk Stabilitas Harga
Situasi di Pasar Peterongan ini menjadi potret kecil dari tantangan ketahanan pangan di tingkat daerah. Masyarakat sangat berharap adanya intervensi dari pemerintah setempat, mungkin dalam bentuk operasi pasar atau pemantauan rantai distribusi agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan berlebih di tengah kesulitan warga.
Hingga berita ini diturunkan, para pedagang hanya bisa berharap agar harga-harga segera kembali normal. Bagaimanapun, sayur-mayur adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat. Jika ‘mahal yang stabil’ ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memicu inflasi yang lebih luas dan menekan kesejahteraan warga Semarang secara keseluruhan.
Kisah dari Pipit dan Suprihati hanyalah segelintir narasi dari perjuangan para pelaku ekonomi mikro di pasar tradisional. Di tengah ketidakpastian harga, mereka tetap bertahan, melayani setiap butir bawang dan setiap batang wortel demi menyambung hidup dan memastikan dapur warga Semarang tetap bisa mengepul.