Kisah Inspiratif Muqorobbin: 22 Tahun Menabung dari Jualan Pentol Keliling, Kini Resmi Berangkat ke Tanah Suci

Aris Munandar | ZonaKabar
28 Apr 2026, 17:43 WIB
Kisah Inspiratif Muqorobbin: 22 Tahun Menabung dari Jualan Pentol Keliling, Kini Resmi Berangkat ke Tanah Suci

ZonaKabar — Suasana haru menyelimuti Asrama Haji Donohudan (AHD) di Ngemplak, Boyolali. Di antara ribuan wajah yang memancarkan rona bahagia, terselip sosok bersahaja dengan senyum yang tak kunjung pudar. Ia adalah Muqorobbin Ngadiman, seorang pedagang pentol keliling asal Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Perjalanannya menuju Baitullah bukanlah hasil dari kekayaan yang datang tiba-tiba, melainkan buah dari kesabaran luar biasa selama 22 tahun menabung recehan demi recehan.

Selasa, 28 April 2026, menjadi hari bersejarah yang akan selalu dipahat dalam ingatan Muqorobbin. Setelah lebih dari dua dekade berjibaku dengan asap jalanan dan peluh saat menjajakan dagangannya, pria ini akhirnya menapakkan kaki di asrama haji, selangkah lagi menuju impian terbesarnya. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa niat yang tulus dan ikhtiar yang konsisten akan selalu menemukan jalan menuju panggilan Sang Khalik.

Tekad Membaja Sejak Masa Lajang

Keinginan Muqorobbin untuk menunaikan rukun Islam kelima sebenarnya sudah muncul jauh sebelum ia berkeluarga. Pada tahun 2004, saat ia masih berstatus bujang, sebuah tekad kuat tertanam di lubuk hatinya. Ia ingin melihat Ka’bah secara langsung. Namun, sebagai pria dengan latar belakang ekonomi yang sederhana, ia sadar bahwa biaya ibadah haji bukanlah nominal yang kecil.

Baca Juga Jerit Keadilan dari Aspal Purwokerto: Massa Ojol Banyumas Tuntut Reformasi Regulasi dan Penghapusan Potongan Mencekik
Jerit Keadilan dari Aspal Purwokerto: Massa Ojol Banyumas Tuntut Reformasi Regulasi dan Penghapusan Potongan Mencekik

“Kula ki kawit dereng duwe bojo, pun kepengin teng Mekkah, 2004. Akhire kula niku bakul pentol (Saya itu sejak belum punya istri, sudah punya keinginan ke Mekkah, tahun 2004. Akhirnya saya jualan pentol),” kenang Muqorobbin dengan dialek Jawa yang kental saat berbincang dengan tim di lokasi.

Keputusannya untuk menjadi penjual pentol keliling bukanlah tanpa alasan. Ia melihat peluang usaha tersebut sebagai jalan yang paling mungkin ia tempuh untuk menyisihkan uang setiap harinya. Dengan gerobak yang setia menemaninya menyusuri jalanan di Kabupaten Semarang, Muqorobbin mulai mengumpulkan modal spiritual dan materialnya.

Filosofi Menabung Recehan: Rp 5.000 yang Bermakna

Bagi banyak orang, uang Rp 5.000 atau Rp 10.000 mungkin hanya dianggap sebagai uang kembalian atau biaya parkir. Namun bagi Muqorobbin, lembaran-lembaran kecil itu adalah batu bata yang ia susun perlahan untuk membangun mimpinya. Setiap kali pulang dari berjualan, setelah menyisihkan modal untuk dagangan esok hari dan keperluan hidup, ia dengan disiplin memasukkan sisa keuntungannya ke dalam tabungan khusus.

Baca Juga Duel Hidup Mati di Manahan: Persis Solo Berjuang Lepas dari Jeratan Degradasi Saat Jamu Dewa United
Duel Hidup Mati di Manahan: Persis Solo Berjuang Lepas dari Jeratan Degradasi Saat Jamu Dewa United

“Walaupun cuma Rp 10 ribu, Rp 5.000, dikumpulkan, ya alhamdulillah sampai sini, dapat panggilan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah memaksakan nominal besar jika keadaan memang sedang sulit. Baginya, yang paling penting adalah konsistensi. Ada kalanya dagangannya laris manis, namun tak jarang pula ia harus pulang dengan hasil yang pas-pasan. Namun, kotak tabungan haji itu tetap menjadi prioritas utamanya.

Perjuangan ini tidaklah mudah. Selama 22 tahun, ia harus menekan ego dan keinginan konsumtif lainnya. Di saat orang lain mungkin memilih untuk mengganti kendaraan atau merenovasi rumah secara mewah, Muqorobbin tetap fokus pada tujuannya. Hingga akhirnya, pada titik tertentu, akumulasi dari kesabarannya itu mencapai angka Rp 25 juta, jumlah minimal yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri mendapatkan porsi haji.

Menanti Panggilan dari Tanah Suci

Setelah mendapatkan nomor porsi, perjuangan Muqorobbin belum usai. Ia harus masuk ke dalam daftar tunggu yang panjang, sebuah realita yang dialami oleh hampir seluruh calon haji di Indonesia. Selama masa tunggu tersebut, ia tidak lantas berleha-leha. Aktivitas berjualan pentol tetap ia jalani dengan semangat yang sama, bahkan lebih giat lagi. Uang yang ia kumpulkan selanjutnya digunakan untuk biaya pelunasan serta uang saku selama di Tanah Suci.

Baca Juga Drama di Jantung Kota Solo: Saat KA Batara Kresna ‘Menyerah’ pada Parkir Sembarangan di Jalan Slamet Riyadi
Drama di Jantung Kota Solo: Saat KA Batara Kresna ‘Menyerah’ pada Parkir Sembarangan di Jalan Slamet Riyadi

Menabung selama dua dekade lebih tentu memberikan banyak pelajaran hidup bagi Muqorobbin. Ia belajar tentang arti syukur yang mendalam. Baginya, setiap tusuk pentol yang terjual adalah jembatan menuju Mekkah. Keistiqomahannya inilah yang akhirnya membawanya masuk dalam daftar jemaah yang berangkat pada tahun 2026 ini.

Momen Haru di Embarkasi Solo

Kehadiran Muqorobbin di Asrama Haji Donohudan menjadi inspirasi bagi jemaah lainnya. Ia mengaku sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh petugas di Embarkasi Solo. Meskipun harus mengantre di tengah ribuan orang, ia menjalaninya dengan penuh kesabaran. “Untuk keseluruhan saya rasa ya bagus. Cuma memang orangnya banyak, jadi ya butuh kesabaran untuk antre,” katanya sambil tersenyum.

Harapannya sangat sederhana namun mendalam. Ia hanya ingin ibadahnya diterima dan menjadi haji yang mabrur. “Harapane kulo nggih muga-muga ngibadah kulo ditampa Gusti Allah,” ucapnya penuh harap. Baginya, bisa melaksanakan seluruh rukun Islam adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya sebagai seorang muslim.

Detail Keberangkatan dan Informasi Teknis

Humas PPIH Embarkasi Solo, Nabiila Azka Amalia, memberikan konfirmasi bahwa Muqorobbin Ngadiman tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 21. Kloter ini merupakan rombongan yang cukup dinantikan keberangkatannya karena diisi oleh banyak jemaah dengan kisah hidup yang inspiratif seperti Muqorobbin.

Baca Juga Kabar Duka: Aisyah Istri Abu Bakar Ba’asyir Wafat, Ponpes Ngruki Sukoharjo Kehilangan Sosok Ibu Teladan
Kabar Duka: Aisyah Istri Abu Bakar Ba’asyir Wafat, Ponpes Ngruki Sukoharjo Kehilangan Sosok Ibu Teladan

Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, Kloter 21 telah diberangkatkan dari asrama pada pukul 09.00 WIB. Pesawat yang membawa rombongan ini dijadwalkan lepas landas dari Bandara Adi Soemarmo menuju Jeddah pada pukul 13.00 WIB. Segala persiapan teknis mulai dari kesehatan hingga dokumen imigrasi telah diselesaikan dengan lancar oleh tim PPIH untuk memastikan kenyamanan para tamu Allah.

Pesan Bagi Mereka yang Masih Berjuang

Kisah Muqorobbin ini memberikan pesan kuat kepada kita semua bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang absolut untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Melalui manajemen keuangan yang disiplin dan niat yang lurus, impian yang mustahil sekalipun dapat terwujud. Di tengah kenaikan biaya haji yang fluktuatif, semangat “menabung recehan” seperti yang dilakukan bakul pentol asal Semarang ini patut dicontoh.

Dunia jurnalisme seringkali mengangkat kisah sukses orang-orang besar, namun kisah Muqorobbin adalah bukti bahwa pahlawan sejati seringkali ditemukan di jalanan, di balik gerobak dagangan sederhana. Kesuksesan bukan hanya milik mereka yang bergelimang harta, tapi milik mereka yang memiliki tekad kuat dan tak pernah berhenti mengetuk pintu langit melalui usaha dan doa.

Baca Juga Misteri Penusukan di Cabean: Jejak Darah Rio dari Pasar Bulu hingga Tergeletak di Puspanjolo Semarang
Misteri Penusukan di Cabean: Jejak Darah Rio dari Pasar Bulu hingga Tergeletak di Puspanjolo Semarang

Kini, gerobak pentolnya mungkin sedang beristirahat sejenak di rumahnya di Susukan, namun sang pemiliknya tengah terbang melintasi benua menuju rumah Allah. Sebuah akhir manis dari sebuah penantian panjang selama 22 tahun yang penuh dengan pengorbanan dan air mata kebahagiaan.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *