Misteri ‘Polisi Tidur’ Bernyawa: Ular Piton 2 Meter Teror Warung Ayam Goreng di Semarang
ZonaKabar — Suasana sunyi di kawasan Barusari, Kecamatan Semarang Selatan, mendadak berubah menjadi ketegangan luar biasa pada Minggu dini hari, 14 Juni 2026. Keheningan malam pecah saat warga dikejutkan oleh kehadiran sesosok tamu tak diundang yang muncul dari kegelapan. Seekor ular piton dengan panjang mencapai dua meter dilaporkan sempat menghebohkan pengguna jalan sebelum akhirnya memutuskan untuk ‘mampir’ ke sebuah warung ayam goreng setempat.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 02.00 WIB ini menyisakan cerita unik sekaligus mendebarkan bagi warga Barusari Baru IV. Bagaimana tidak, predator melata tersebut sempat dikira sebagai gundukan jalan atau yang lazim disebut masyarakat sebagai polisi tidur. Ketidaktahuan warga akan keberadaan mahluk tersebut nyaris berujung fatal, mengingat posisinya yang melintang tepat di tengah jalur perlintasan kendaraan di Kota Semarang.
Ilusi ‘Polisi Tidur’ yang Menggegerkan Pengguna Jalan
Kronologi bermula ketika seorang warga yang tengah melintas di jalanan Barusari Baru IV melihat sebuah benda memanjang yang melintang di aspal. Dalam kondisi cahaya yang minim, mata manusia seringkali tertipu oleh bayangan dan bentuk-bentuk yang menyerupai objek familiar. Saksi mata tersebut mengira bahwa benda itu hanyalah polisi tidur baru yang dipasang di kawasan tersebut.
Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Damkar Kota Semarang, Tantri Pradono, mengonfirmasi fenomena salah lihat tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, ular tersebut memang berada dalam posisi diam yang sangat meyakinkan layaknya material semen pelambat kecepatan. “Awalnya ada orang lewat, dikira polisi tidur. Ternyata ular. Sempat terlindas kendaraan juga,” ungkap Tantri saat memberikan keterangan kepada media.
Benturan dengan roda kendaraan nampaknya menjadi pemicu bagi reptil tersebut untuk segera bereaksi. Merasa terancam dan mungkin sedikit cidera akibat terlindas, ular piton itu tidak lantas menyerang, melainkan memilih untuk melarikan diri ke tempat yang dianggapnya aman. Sayangnya, tempat persembunyian yang dipilih justru memicu kepanikan baru bagi penghuni bangunan di sekitarnya.
Drama Pelarian ke Warung Ayam Goreng
Setelah mendapatkan ‘kejutan’ di jalan raya, ular piton sepanjang dua meter itu bergerak lincah menuju sebuah rumah yang difungsikan sebagai tempat usaha kuliner. Lokasi tersebut merupakan warung ayam goreng dan penyetan yang cukup dikenal di daerah tersebut. Dengan insting alaminya, ular tersebut menyusup masuk ke dalam area warung yang saat itu sudah mulai sepi dari aktivitas pembeli.
Pemilik warung yang menyadari adanya pergerakan asing di dalam tempat usahanya langsung diselimuti rasa was-was. Setelah dilakukan pengecekan singkat, terlihat ekor ular yang menghilang di balik perangkat elektronik. Ternyata, predator berdarah dingin tersebut memilih kolong kulkas sebagai tempat persembunyiannya. Suhu dingin dan celah yang sempit di bawah mesin pendingin tersebut nampaknya dianggap sebagai perlindungan yang ideal bagi sang ular.
“Ularnya lari ke warung, terus masuk ke belakang kulkas. Pemilik warung tahu ada ular di situ, terus menghubungi Damkar Semarang untuk meminta bantuan evakuasi segera,” jelas Tantri menambahkan narasi kejadian mencekam tersebut. Ketakutan pemilik warung sangat beralasan, mengingat keberadaan ular di area pengolahan makanan bisa menimbulkan risiko sanitasi maupun risiko fisik bagi siapa saja yang mendekat.
Aksi Cepat Tim Rescue Damkar Semarang
Merespons laporan darurat tersebut, Tim Rescue Damkar Kota Semarang tidak membuang waktu lama. Sebanyak lima personel ahli dikerahkan menuju lokasi kejadian dengan membawa peralatan standar evakuasi reptil. Kehadiran petugas berseragam lengkap ini sedikit memberikan ketenangan bagi warga sekitar yang mulai berkerumun karena penasaran.
Proses evakuasi ular kali ini tergolong cukup taktis. Petugas tidak menemukan kendala berarti karena posisi target sudah terlokalisasi dengan jelas di bawah kulkas. Dengan menggunakan alat penjepit khusus (snake tong), petugas secara perlahan membujuk ular tersebut keluar dari celah sempit tersebut. Tidak ada perlawanan agresif yang dilaporkan, meski ular tersebut nampak stres akibat interaksi dengan manusia dan kendaraan sebelumnya.
Operasi penyelamatan yang dimulai sesaat setelah laporan masuk akhirnya dinyatakan selesai pada pukul 03.10 WIB. Petugas memastikan bahwa ular piton tersebut belum sempat memangsa apapun di dalam warung, termasuk stok ayam mentah yang mungkin tersimpan di sana. “Ularnya jenis piton, panjangnya 2 meter, tapi nggak berbisa. Nggak makan ayamnya juga,” tutur Tantri dengan nada sedikit berkelakar untuk mencairkan suasana yang sempat tegang.
Analisis Ahli: Mengapa Ular Masuk ke Pemukiman?
Fenomena munculnya ular piton di wilayah perkotaan seperti Semarang sebenarnya bukanlah hal yang baru, namun tetap perlu diwaspadai. Secara ekologis, menyusutnya lahan terbuka hijau dan habitat asli reptil memaksa mahluk-mahluk ini mencari ruang baru untuk bertahan hidup. Drainase perkotaan yang seringkali terhubung dengan sisa-sisa hutan kota atau sungai menjadi jalur utama bagi mereka untuk berpindah tempat.
Selain itu, ketersediaan sumber makanan seperti tikus yang melimpah di area pemukiman dan pasar menjadi daya tarik tersendiri bagi ular. Dalam kasus di Barusari, keberadaan warung makan mungkin saja mengundang hewan pengerat, yang secara tidak langsung menarik predator seperti piton untuk mendekat. Faktor cuaca juga memegang peranan penting; saat suhu terlalu panas atau saat hujan deras mengguyur, ular cenderung mencari tempat yang lebih stabil suhunya, termasuk bangunan rumah manusia.
Pihak Damkar Semarang senantiasa mengingatkan bahwa meskipun piton tidak memiliki bisa seperti ular kobra, lilitan mereka pada ukuran tertentu bisa sangat berbahaya bagi manusia, terutama anak-anak. Kekuatan otot piton dirancang untuk melumpuhkan mangsa dengan cara menghentikan aliran darah dan napas dalam hitungan menit.
Edukasi Keamanan bagi Masyarakat Urban
Pasca kejadian ini, Tantri Pradono mengimbau agar masyarakat tetap tenang namun waspada jika menghadapi situasi serupa. Langkah pertama yang paling tepat adalah tidak melakukan tindakan provokatif jika tidak memiliki keahlian khusus. Mengusir ular dengan kayu atau benda tajam justru bisa membuat hewan tersebut merasa terdesak dan bertindak agresif demi pertahanan diri.
“Kami mengimbau agar masyarakat selalu berhati-hati, terutama di area-area yang lembap atau gelap. Jika menemukan ular atau hewan liar lainnya yang berpotensi membahayakan, segera lapor agar dibantu evakuasi oleh Damkar Kota Semarang. Kami siap melayani 24 jam tanpa dipungut biaya,” tegasnya.
Warga juga disarankan untuk rutin membersihkan tumpukan barang bekas di sekitar rumah dan menggunakan wewangian yang tajam seperti karbol atau pembersih lantai, karena ular sangat sensitif terhadap bau-bauan menyengat yang mengganggu indra penciuman mereka. Dengan berakhirnya evakuasi ini, warga Barusari kini bisa kembali beristirahat dengan tenang, sementara ular tersebut telah diamankan ke markas Damkar sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari jangkauan manusia.