Tragedi Tanah Longsor di Manyaran Semarang: Antara Kehilangan Tempat Tinggal dan Keteguhan Hati Sang Pemilik

Aris Munandar | ZonaKabar
10 Mei 2026, 11:57 WIB
Tragedi Tanah Longsor di Manyaran Semarang: Antara Kehilangan Tempat Tinggal dan Keteguhan Hati Sang Pemilik

ZonaKabar — Gemuruh hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Semarang pada Sabtu malam (9/5) menyisakan duka mendalam bagi warga di Kelurahan Manyaran. Di balik rintik hujan yang tak kunjung reda, sebuah dentuman keras menjadi pertanda awal terjadinya bencana yang menghancurkan impian satu keluarga. Tanah yang jenuh akan air tak lagi mampu menopang beban, mengakibatkan longsor yang merusak hunian warga secara signifikan.

Peristiwa memilukan ini menimpa kediaman Haris (41), seorang warga yang telah menetap di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, selama hampir sewindu. Dalam sekejap, struktur bangunan yang ia bangun dengan peluh keringat selama bertahun-tahun kini hanya menyisakan puing-puing bata ringan yang berserakan. Meski kondisi bangunan sudah tidak lagi utuh dan membahayakan, sebuah keputusan mengejutkan diambil oleh Haris dan keluarganya: mereka memilih untuk tidak meninggalkan rumah tersebut.

Detik-Detik Mencekam di Tengah Guyuran Hujan

Bencana tanah longsor tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, saat sebagian besar warga tengah beristirahat di dalam rumah untuk menghindari cuaca buruk. Haris menceritakan bahwa sebelum bangunan utama ambles, sempat terdengar suara retakan yang sangat kuat. Ia menggambarkan situasi malam itu sangat mencekam, di mana alam seolah memberi peringatan sebelum akhirnya merobohkan struktur bangunannya.

Baca Juga SPMB Jateng 2026: Jadwal Lengkap, Jalur Seleksi, dan Panduan Pendaftaran Menuju Sekolah Impian
SPMB Jateng 2026: Jadwal Lengkap, Jalur Seleksi, dan Panduan Pendaftaran Menuju Sekolah Impian

“Malam itu hujan sangat lebat. Kejadiannya tidak langsung sekaligus, tapi dua kali ambles. Bagian belakang dulu yang kena, baru kemudian merembet ke bagian tengah,” ujar Haris saat ditemui oleh tim jurnalis di lokasi kejadian pada Minggu pagi (10/5). Beruntung, saat kejadian pertama berlangsung, istri dan anak-anaknya berhasil menyelamatkan diri ke area yang lebih stabil.

Hanya dalam kurun waktu sekitar 20 menit setelah getaran pertama, separuh dari bangunan rumahnya benar-benar ambruk ke bawah. Area dapur dan kamar tidur yang biasanya menjadi tempat paling hangat bagi keluarga ini, kini hilang tertelan bumi. Kerugian materiil ditaksir mencapai angka Rp 20 juta, sebuah jumlah yang tentu tidak sedikit bagi keluarga kecil tersebut di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Solidaritas Warga dan Penanganan Darurat

Pagi harinya, suasana di sekitar lokasi kejadian tampak sibuk. Semarang yang biasanya tenang di hari Minggu, berubah menjadi ajang gotong royong bagi warga setempat. Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah aparat dari Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta puluhan warga bahu-membahu membersihkan material bangunan yang menumpuk. Tanah merah yang licin dan puing-puing bangunan yang tajam tidak menyurutkan semangat mereka untuk membantu Haris mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan.

Baca Juga Pengkhianatan Tetangga di Kudus: Nenek 73 Tahun Dianiaya dan Dirampok, Kerugian Mencapai Puluhan Juta Rupiah
Pengkhianatan Tetangga di Kudus: Nenek 73 Tahun Dianiaya dan Dirampok, Kerugian Mencapai Puluhan Juta Rupiah

Rumah Haris sendiri berdiri di atas sebuah jalan setapak yang memang memiliki kontur tanah yang cukup curam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembersihan material. Bata-bata ringan yang hancur berkeping-keping diangkut secara manual untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup material longsor.

Alasan di Balik Penolakan untuk Mengungsi

Salah satu hal yang menarik perhatian adalah keteguhan hati keluarga Haris untuk tetap tinggal di sisa bangunan yang masih berdiri. Meski Lurah Manyaran, Kanti, telah secara pribadi menawarkan tempat pengungsian sementara yang lebih aman di kantor kelurahan maupun rumah warga lainnya, Haris tetap bersikukuh bertahan.

“Sudah ditawarkan oleh Ibu Lurah untuk pindah sementara demi keamanan, tapi istri saya merasa kurang nyaman jika harus tidur di rumah orang lain atau tempat umum. Beliau mengaku tidak bisa tidur kalau bukan di rumah sendiri,” jelas Haris dengan nada pasrah namun tegas. Untuk saat ini, mereka memanfaatkan satu ruangan yang tersisa yang dianggap masih cukup stabil untuk berteduh dari cuaca ekstrem yang masih mengintai wilayah Jawa Tengah.

Baca Juga Tragedi Malam Takbir di Kledung: Satu Keluarga Asal Ambarawa Ditemukan Tewas Saat Kamping di Temanggung
Tragedi Malam Takbir di Kledung: Satu Keluarga Asal Ambarawa Ditemukan Tewas Saat Kamping di Temanggung

Haris berharap adanya uluran tangan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk membantunya melakukan renovasi. Ia menyebutkan bahwa pihak Basarnas dan BPBD sudah meninjau lokasi sejak malam kejadian, namun bantuan berupa material bangunan sangat ia harapkan untuk membangun kembali fondasi hidupnya.

Langkah Pemerintah Kelurahan Manyaran

Menanggapi musibah ini, Lurah Manyaran, Kanti, memastikan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia menjelaskan bahwa musibah yang menimpa Haris di RT 10/RW 03 bukanlah satu-satunya kejadian di wilayahnya. Dua hari sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di RT 09/RW 03, namun sudah berhasil ditangani berkat koordinasi cepat dengan pemilik rumah yang menyediakan alat berat.

“Untuk kasus Pak Haris, kami akan segera bersurat secara resmi kepada dinas-dinas teknis, seperti Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Kami juga sedang mengupayakan bantuan melalui PMI dan Baznas Kota Semarang agar beban keluarga bisa teringankan,” tutur Kanti saat memberikan keterangan resmi.

Lebih lanjut, Kanti menekankan pentingnya kewaspadaan bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor, mengingat topografi wilayah Manyaran yang berbukit-bukit. Pihak kelurahan terus memantau titik-titik rawan dan mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda retakan pada tanah atau tembok bangunan mereka.

Baca Juga Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus
Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus

Peringatan bagi Warga Semarang di Musim Hujan

Bencana yang menimpa keluarga Haris menjadi pengingat keras bagi seluruh warga Kota Semarang akan ancaman bencana alam yang selalu mengintai di musim penghujan. Karakteristik tanah di beberapa wilayah Semarang Barat yang cenderung labil memerlukan perhatian khusus, terutama bagi bangunan yang berada di lereng atau tepian tebing.

Para ahli geologi seringkali menyarankan agar masyarakat melakukan audit mandiri terhadap drainase di sekitar rumah mereka. Saluran air yang tersumbat seringkali menjadi pemicu utama masuknya air ke dalam lapisan tanah yang kemudian menyebabkan beban tanah meningkat dan memicu longsor. Bagi keluarga seperti Haris, dukungan moral dan bantuan nyata dari masyarakat serta pemerintah adalah kunci untuk bangkit dari keterpurukan ini.

Kini, Haris hanya bisa menatap nanar sisa-sisa rumahnya yang telah berdiri selama 8 tahun tersebut. Di tengah ketidakpastian cuaca, ia hanya bisa berharap bantuan segera datang, sambil terus berjaga-jaga di sudut ruangan yang masih tersisa, menjaga keluarganya di bawah atap yang kini tak lagi utuh.

Baca Juga Operasi Senyap Bea Cukai Bongkar Jaringan Pita Cukai Palsu di Jateng, Potensi Kerugian Rp 570 Miliar Diselamatkan
Operasi Senyap Bea Cukai Bongkar Jaringan Pita Cukai Palsu di Jateng, Potensi Kerugian Rp 570 Miliar Diselamatkan
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *