Dieng Memutih! Pesona Embun Es ‘Bun Upas’ Kembali Menyapa, Waspada Fenomena Bediding di Jawa Tengah

Aris Munandar | ZonaKabar
10 Jun 2026, 05:47 WIB
Dieng Memutih! Pesona Embun Es 'Bun Upas' Kembali Menyapa, Waspada Fenomena Bediding di Jawa Tengah

ZonaKabar — Dataran Tinggi Dieng kembali menunjukkan pesona magisnya yang memukau sekaligus menantang. Hamparan rumput hijau yang biasanya menghiasi kawasan wisata populer di Jawa Tengah ini perlahan mulai berubah warna menjadi putih bersih, menyerupai padang salju di belahan bumi utara. Fenomena alam yang dikenal masyarakat lokal sebagai ‘bun upas’ atau embun es ini terpantau kembali muncul seiring dengan penurunan suhu udara yang cukup drastis dalam beberapa hari terakhir.

Kehadiran embun kristal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemburu wisata Dieng yang ingin merasakan sensasi dingin ekstrem layaknya berada di Eropa. Namun, di balik keindahannya, kemunculan embun es ini juga menjadi penanda bahwa wilayah Jawa Tengah mulai memasuki masa puncak musim kemarau yang dibarengi dengan fenomena ‘bediding’.

Suhu Menembus Titik Beku di Kompleks Candi Arjuna

Laporan terbaru menyebutkan bahwa suhu udara di kawasan Dieng, khususnya di sekitar Banjarnegara, terus merosot tajam. Hingga Selasa pagi, termometer bahkan sempat menyentuh angka 0 derajat Celsius. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh pihak pengelola kawasan yang memantau pergerakan cuaca setiap harinya. Penurunan suhu ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan bertahap sejak akhir pekan lalu.

Baca Juga Tragedi di Jalur Pantura: Pemotor Asal Jakarta Tewas Terlindas di Jalan Yos Sudarso Semarang Usai Tergelincir
Tragedi di Jalur Pantura: Pemotor Asal Jakarta Tewas Terlindas di Jalan Yos Sudarso Semarang Usai Tergelincir

Kepala UPT Dieng Banjarnegara, Wibi Satria N, menjelaskan bahwa tanda-tanda kemunculan embun es sudah mulai terlihat sejak hari Minggu. Meskipun intensitasnya belum terlalu tebal, hamparan putih tipis sudah mulai menyelimuti area terbuka, terutama di sekitar lapangan dekat kompleks Candi Arjuna yang menjadi ikon utama destinasi ini.

“Kemarin per hari Minggu itu sudah mulai ada embun es yang muncul, tapi memang intensitasnya belum terlalu banyak. Titik lokasinya terkonsentrasi di sekitaran lapangan dekat kompleks Candi Arjuna,” ujar Wibi saat memberikan keterangan resmi. Ia merinci bahwa pada hari Minggu suhu berada di angka 2 derajat Celsius, kemudian turun menjadi 1 derajat pada Senin, dan mencapai puncaknya di angka 0 derajat pada Selasa pagi.

Faktor Alam di Balik Terbentuknya Bun Upas

Fenomena fenomena alam unik ini tidak terjadi setiap hari. Ada syarat-syarat meteorologis tertentu yang harus terpenuhi agar uap air di udara bisa membeku menjadi kristal es. Salah satu faktor penentu utamanya adalah kondisi angin pada malam hari. Wibi mengungkapkan bahwa ketenangan atmosfer sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembentukan bun upas.

Baca Juga Polemik Penurunan Mahasiswa PTS: Wakil Rektor Undip Sebut Jalur Mandiri PTN Bukan Biang Keladi Tunggal
Polemik Penurunan Mahasiswa PTS: Wakil Rektor Undip Sebut Jalur Mandiri PTN Bukan Biang Keladi Tunggal

“Kami selalu memantau kondisi cuaca di malam hari. Jika angin berembus kencang, biasanya embun es tidak akan terbentuk karena udara terus bergerak dan tidak memberi kesempatan bagi uap air untuk mengkristal di permukaan tanah. Sebaliknya, jika malam terasa sangat tenang dan sunyi tanpa angin, maka pagi harinya hampir dipastikan kita akan melihat Dieng memutih,” jelasnya lebih lanjut.

Selain faktor angin, intensitas hujan juga memegang peranan penting. Berdasarkan pengamatan lapangan, wilayah Dieng sudah tidak diguyur hujan selama kurang lebih dua minggu terakhir. Kondisi kering yang konsisten ini mendukung terciptanya suhu dingin yang lebih ekstrem. Jika cuaca tetap cerah tanpa awan dan hujan, maka fenomena embun es diprediksi akan bertahan lebih lama dan frekuensinya akan semakin sering terjadi.

Menuju Puncak Musim Dingin dan Dieng Culture Festival

Bagi Anda yang berencana mengunjungi negeri di atas awan untuk menyaksikan keajaiban ini, waktu terbaik diperkirakan akan jatuh pada bulan Juli hingga Agustus mendatang. Pada periode tersebut, suhu udara di Dieng bisa menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan saat ini. Sejarah mencatat, suhu terendah di kawasan ini pernah menembus angka minus 4 derajat Celsius.

Baca Juga Nestapa Warga Dinar Indah Semarang: Terjebak Banjir Berulang dan Menanti Kepastian Relokasi
Nestapa Warga Dinar Indah Semarang: Terjebak Banjir Berulang dan Menanti Kepastian Relokasi

Puncak kemunculan embun es ini biasanya bertepatan dengan perhelatan akbar Dieng Culture Festival (DCF). Acara budaya yang menarik ribuan wisatawan mancanegara dan domestik ini memang kerap digelar saat suhu udara sedang dingin-dinginnya. Kombinasi antara ritual budaya pemotongan rambut gimbal dan keajaiban alam bun upas menciptakan atmosfer yang tidak akan ditemukan di tempat lain di Indonesia.

Fenomena ‘Bediding’ yang Menyelimuti Jawa Tengah

Tidak hanya di dataran tinggi, hawa dingin yang menusuk tulang juga mulai dirasakan oleh warga di dataran rendah, termasuk warga Kota Semarang dan sekitarnya. Fenomena ini dalam istilah Jawa dikenal dengan sebutan bediding. Ini adalah kondisi di mana suhu udara terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari, namun bisa terasa sangat terik di siang hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena ini. Prakirawan BMKG, Harits Syahid, menyebutkan bahwa bediding adalah karakteristik khas saat memasuki musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh langit yang cerah tanpa tutupan awan di malam hari, sehingga panas bumi dilepaskan secara maksimal ke atmosfer tanpa ada penghalang.

Baca Juga Angin Segar bagi Guru Honorer: Taj Yasin Pastikan Tidak Ada Penonaktifan Massal di Jawa Tengah pada 2027
Angin Segar bagi Guru Honorer: Taj Yasin Pastikan Tidak Ada Penonaktifan Massal di Jawa Tengah pada 2027

“Saat ini kita sudah mulai merasakan dampak dari musim kemarau yang lebih kering. Kondisi ini menyebabkan proses pelepasan panas dari permukaan bumi terjadi lebih cepat dan masif pada malam hari menuju dini hari. Itulah mengapa suhu terasa sangat dingin saat subuh,” ungkap Harits. Ia juga memprediksi bahwa puncak suhu dingin atau bediding ini akan terjadi pada bulan Agustus dan kemungkinan baru akan berakhir pada bulan Oktober atau November mendatang.

Tips Menghadapi Suhu Dingin Ekstrem bagi Wisatawan

Mengingat suhu dingin yang bisa mencapai titik beku, para wisatawan yang hendak menuju Dieng diimbau untuk melakukan persiapan ekstra. Kesehatan fisik menjadi modal utama agar perjalanan tetap nyaman dan tidak terganggu oleh masalah kesehatan seperti hipotermia atau gangguan pernapasan akibat udara dingin.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan antara lain membawa pakaian hangat berlapis (thermal wear), jaket tebal yang tahan angin, sarung tangan, kaos kaki wol, serta penutup kepala atau kupluk. Selain itu, menjaga hidrasi tubuh dengan banyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi juga sangat disarankan. Mengingat cuaca yang sangat kering, penggunaan pelembap kulit dan pelindung bibir juga penting untuk mencegah kulit pecah-pecah.

Baca Juga Jejak Hitam Predator Seksual di Balik Jubah Pengasuh Ponpes Pati: Perlawanan Korban Hingga Pelarian Pelaku Berakhir di Wonogiri
Jejak Hitam Predator Seksual di Balik Jubah Pengasuh Ponpes Pati: Perlawanan Korban Hingga Pelarian Pelaku Berakhir di Wonogiri

Keindahan embun es Dieng adalah pengingat betapa kayanya ragam fenomena alam di Indonesia. Meski menghadirkan tantangan suhu ekstrem, pesonanya selalu berhasil menarik siapa saja untuk kembali berkunjung. Tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan pastikan Anda memantau informasi terkini sebelum memutuskan untuk berangkat bertualang ke dataran tinggi yang legendaris ini.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *