Gemerlap Dunia ke Keheningan Biara: Kisah Scott-Vincent Borba, Bos e.l.f. Cosmetics yang Melepas Triliunan Rupiah demi Panggilan Tuhan
ZonaKabar — Dunia bisnis global seringkali dipenuhi dengan narasi tentang perjuangan membangun kekayaan dari titik nol menuju puncak kejayaan. Namun, sangat jarang kita mendengar kisah tentang seorang pria yang sudah berada di puncak piramida kesuksesan, dikelilingi oleh harta triliunan rupiah dan selebriti papan atas, justru memilih untuk melepaskan semuanya. Inilah perjalanan transformatif Scott-Vincent Borba, sang jenius di balik raksasa kosmetik e.l.f. Beauty, yang memutuskan untuk menanggalkan jas mewahnya dan mengenakan jubah kesederhanaan sebagai seorang calon pastor.
Membangun Kekaisaran e.l.f. Cosmetics dari Nol
Sebelum dikenal karena perjalanan spiritualnya, Scott-Vincent Borba adalah nama yang sangat disegani dalam industri kecantikan. Pada tahun 2004, bersama Alan dan Joseph Shamah, ia mendirikan e.l.f. Cosmetics—sebuah akronim dari Eyes, Lips, Face. Visi mereka sederhana namun revolusioner pada masanya: menyediakan produk kosmetik berkualitas tinggi dengan harga yang sangat terjangkau, seringkali hanya dibanderol mulai dari US$1.
Keberanian Borba dalam mendobrak pasar membuat brand ini melesat bak meteor. Dalam satu dekade, e.l.f. bertransformasi menjadi salah satu pemain utama di pasar kosmetik global. Pada tahun 2014, Forbes mencatat penjualan perusahaan ini mencapai angka fantastis US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun. Saat ini, nilai pasar perusahaan tersebut diperkirakan telah menembus angka US$3 miliar, sebuah angka yang setara dengan Rp49 triliun. Borba bukan sekadar pengusaha; ia adalah arsitek dari sebuah fenomena budaya yang mengubah cara wanita di seluruh dunia mengonsumsi produk kecantikan.
Gaya Hidup Mewah dan Lingkaran Elit Hollywood
Kesuksesan finansial membawa Borba ke dalam pusaran gaya hidup yang diimpikan banyak orang. Ia menjadi sosok “poster boy” untuk kehidupan mewah di California. Sebagai ahli kecantikan ternama, ia menjadi langganan para bintang Hollywood. Salah satu momen yang paling sering dibicarakan adalah saat ia memberikan perawatan wajah menggunakan bubuk berlian senilai US$7.000 (sekitar Rp122 juta) kepada aktris Mila Kunis menjelang acara karpet merah.
Namanya kerap menghiasi kolom-kolom gosip dan berita gaya hidup. Borba sering terlihat berpesta dengan figur publik ternama seperti Paris Hilton dan Kim Kardashian. Kehidupannya dipenuhi dengan kemewahan yang tak terbatas: koleksi mobil sport mewah seperti Aston Martin, rumah megah di pinggir pantai California yang eksklusif, serta akses tanpa batas ke acara-acara paling bergengsi di dunia. Namun, di balik semua kemilau tersebut, sebuah badai emosional mulai berkecamuk di dalam batinnya.
Titik Balik: Kekosongan di Tengah Keramaian
Meskipun memiliki segalanya, Borba mulai merasakan kehampaan yang mendalam. Dalam sebuah wawancara jujur dengan ABC7, ia mengungkapkan bahwa ada saat-saat di mana ia merasa sangat tidak bahagia justru saat berada di tengah pesta yang paling meriah. Ia mendeskripsikan kondisinya saat itu seperti “membakar lilin dari kedua ujungnya”—bekerja terlalu keras dan berpesta terlalu liar, namun kehilangan makna hidup yang sebenarnya.
“Saya berada di sebuah pesta dan merasa sangat, sangat tidak bahagia. Saya merasa kosong, benar-benar kosong. Saya lelah,” kenang Borba. Rasa lelah ini bukanlah sekadar kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial. Ia mulai mempertanyakan apakah hidup hanya sebatas siklus bekerja, mencari uang, bersenang-senang, lalu mati. Pertanyaan-pertanyaan fundamental inilah yang akhirnya membawanya kembali ke akar spiritualitasnya.
Melepaskan Harta Triliunan demi Panggilan Spiritual
Keputusan Borba untuk meninggalkan dunia bisnis tidak terjadi dalam semalam. Melalui proses doa dan refleksi yang panjang, ia merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengabdikan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. Awalnya, ia berpikir mungkin cukup dengan menyumbangkan sebagian kecil hartanya atau menjual salah satu mobil mewahnya. Namun, ia merasa bahwa panggilan yang diterimanya jauh lebih radikal dari itu.
Ia akhirnya mengambil keputusan yang mengguncang banyak pihak: melepaskan seluruh asetnya. Scott-Vincent Borba menjual rumah pantainya, menyumbangkan uang tunainya ke badan amal, dan menyerahkan kunci-kunci mobil mewahnya. Baginya, ini adalah bentuk ketaatan total. Ia memilih untuk menempuh jalan kemiskinan sukarela, sebuah konsep yang sangat kontras dengan dunia entrepreneur yang selama ini ia geluti.
Kehidupan Baru di St. Patrick’s Seminary
Kini, pria berusia 52 tahun tersebut telah menanggalkan semua atribut kemewahannya. Ia tinggal di sebuah kamar kecil yang sederhana di St. Patrick’s Seminary, California. Tidak ada lagi lantai marmer atau pemandangan laut yang luas. Di kamarnya yang sekarang, hanya ada sebuah tempat tidur sederhana, meja belajar, dan sebuah salib kayu yang tergantung di dinding sebagai pengingat akan komitmen barunya.
Sebagai seorang diakon dan seminaris, keseharian Borba kini diisi dengan doa, studi teologi, dan pelayanan kepada masyarakat. Ia mengaku bahwa dalam kesederhanaan inilah ia justru menemukan kebahagiaan yang selama ini ia cari di tumpukan harta. “Hidup saya sekarang benar-benar sederhana. Tapi saya belum pernah sebahagia ini sepanjang hidup saya,” ungkapnya dengan penuh ketenangan. Ini adalah sebuah paradoks yang sulit dipahami oleh logika materialisme modern.
Benih yang Sudah Tertanam Sejak Kecil
Menariknya, keinginan untuk menjadi pelayan Tuhan ternyata bukan hal baru bagi Borba. Ia mengenang kembali masa kecilnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Suatu hari, ibunya pernah bertanya apakah ia memiliki keinginan untuk menjadi seorang pastor. Borba kecil melihat jubah yang dikenakan pastor di altar gereja dan merasa terpesona.
“Saya melihat jubah pastor itu berkilau seperti glitter,” kenangnya sambil tersenyum. Sepertinya, Tuhan telah menaruh benih panggilan tersebut jauh sebelum ia masuk ke dunia kosmetik. Meskipun ia sempat “tersesat” dalam gemerlap duniawi selama beberapa dekade, jalan hidupnya seolah ditarik kembali menuju takdir yang sudah digariskan sejak awal. Bakatnya dalam mengenali keindahan kini tidak lagi digunakan untuk memoles wajah, melainkan untuk mempercantik jiwa melalui perjalanan spiritual.
Inspirasi di Balik Transformasi Radikal
Kisah Scott-Vincent Borba menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesuksesan finansial dan pengakuan sosial bukanlah jaminan kebahagiaan sejati. Di tengah dunia yang seringkali mendewakan kekayaan, keberanian Borba untuk melepaskan semuanya adalah sebuah pesan yang sangat kuat tentang prioritas hidup.
Keputusannya untuk menjadi pastor menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali, tidak peduli seberapa jauh mereka telah melangkah ke arah yang berbeda. Transformasi dari seorang raja kosmetik menjadi calon pastor adalah bukti nyata bahwa kedamaian batin seringkali ditemukan saat seseorang berani melepaskan keterikatannya pada hal-hal duniawi. Kisah ini akan terus menjadi catatan penting dalam sejarah modern tentang bagaimana iman mampu mengalahkan daya tarik triliunan rupiah.