Kontroversi Baru Meghan Markle: Strategi Bisnis Lilin Mewah Beraroma ‘Pangeran Archie’ dan ‘Putri Lilibet’ yang Mengusik Ketenangan Istana

Siti Maemunah | ZonaKabar
26 Apr 2026, 19:42 WIB
Kontroversi Baru Meghan Markle: Strategi Bisnis Lilin Mewah Beraroma 'Pangeran Archie' dan 'Putri Lilibet' yang Mengusik

ZonaKabar — Hubungan yang mendingin antara Meghan Markle dan keluarga besar Kerajaan Inggris tampaknya akan kembali memanas. Kabar terbaru menyebutkan bahwa sang Duchess of Sussex tengah menjadi pusat perhatian, bukan karena kegiatan amalnya, melainkan karena strategi bisnis terbarunya yang dianggap menyentuh ranah sensitif oleh pihak Istana Buckingham. Meghan baru saja merilis koleksi lilin aromaterapi melalui brand gaya hidupnya, As Ever, yang secara terang-terangan terinspirasi dari kedua buah hatinya, Pangeran Archie dan Putri Lilibet.

Sentuhan Personal yang Menjadi Pemicu Amarah

Bagi sebagian orang, meluncurkan produk yang terinspirasi oleh anak sendiri mungkin terdengar seperti langkah manis seorang ibu. Namun, di dunia protokoler kerajaan yang kaku, langkah Meghan ini dianggap sebagai langkah provokatif. Lilin mewah yang dibanderol dengan harga 64 dolar AS atau sekitar Rp1 juta per batang tersebut hadir dalam dua varian khusus yang menggunakan kode angka sebagai nama produknya.

Produk pertama diberi label Signature No. 506, sebuah angka yang merujuk pada tanggal lahir Pangeran Archie, yakni 6 Mei. Sementara itu, varian kedua dinamai Signature No. 604, yang merupakan representasi dari tanggal lahir Putri Lilibet pada 4 Juni. Meski nama sang pangeran dan putri tidak tertulis secara eksplisit di label produk, keterkaitan angka-angka tersebut sudah cukup untuk memicu diskusi hangat di kalangan pengamat Kerajaan Inggris.

Baca Juga Kisah Haru di Guangdong: Kehadiran Sang Adik Menjadi Jembatan Hidup bagi Kakak yang Berjuang Melawan Thalassemia
Kisah Haru di Guangdong: Kehadiran Sang Adik Menjadi Jembatan Hidup bagi Kakak yang Berjuang Melawan Thalassemia

Reaksi Keras dari Balik Tembok Istana

Laporan yang dihimpun oleh Page Six mengungkapkan bahwa langkah pemasaran ini memicu reaksi keras dari lingkungan internal istana. Seorang sumber yang dekat dengan keluarga kerajaan menyebut strategi Meghan sebagai tindakan yang ‘keterlaluan’. Inti dari keberatan ini bukan pada produk lilinnya, melainkan pada bagaimana identitas anak-anak yang menyandang gelar kerajaan digunakan untuk kepentingan komersial.

“Ini adalah bentuk penggunaan gelar dan status yang sangat tidak pantas,” ujar sumber tersebut dengan nada tegas. Ia juga mengingatkan kembali pada prinsip mendiang Ratu Elizabeth II yang semasa hidupnya sangat menjaga agar gelar HRH (His/Her Royal Highness) tidak pernah dicampuradukkan dengan kepentingan bisnis atau keuntungan finansial pribadi. Bagi istana, ada garis merah yang sangat tebal antara pengabdian publik dan komersialisasi identitas bangsawan.

Gelar HRH dan Dilema Komersialisasi

Sebagaimana diketahui, setelah memutuskan mundur dari tugas-tugas senior kerajaan pada tahun 2020, Meghan dan Pangeran Harry telah sepakat untuk tidak lagi menggunakan gelar HRH dalam urusan publik maupun komersial. Namun, situasinya menjadi rumit karena Archie (6) dan Lilibet (4) secara resmi mendapatkan gelar tersebut setelah kakek mereka, Raja Charles III, naik takhta pada tahun 2022.

Baca Juga Kontroversi Privilese Istana: Putri Beatrice dan Putri Eugenie Tuai Kritik Tajam Atas Fasilitas Hunian Gratis
Kontroversi Privilese Istana: Putri Beatrice dan Putri Eugenie Tuai Kritik Tajam Atas Fasilitas Hunian Gratis

Meskipun orang tua mereka telah menanggalkan peran aktif, nama kedua anak tersebut kini tercantum di situs resmi kerajaan dengan gelar Pangeran dan Putri. Inilah yang menjadi dasar kecemasan pihak istana; mereka khawatir langkah Meghan akan menciptakan preseden di mana status bangsawan digunakan sebagai alat pemasaran untuk membangun imperium gaya hidup di Amerika Serikat.

Narasi di Balik Aroma: Rambut Merah dan Kelembutan

Dari sisi produk, Meghan Markle tampaknya sangat detail dalam menyusun narasi untuk brand As Ever miliknya. Lilin No. 506 yang didedikasikan untuk Archie digambarkan memiliki aroma yang hangat, menenangkan, sekaligus kuat. Perpaduan antara jahe (ginger), neroli, dan cashmere diklaim sebagai representasi karakter sang putra. Menariknya, penggunaan aroma jahe disebut-sebut sebagai sentuhan halus yang merujuk pada warna rambut merah ikonik yang diwarisi Archie dari ayahnya, Pangeran Harry.

Di sisi lain, lilin No. 604 yang mewakili Lilibet menawarkan pengalaman sensorik yang berbeda. Dengan perpaduan floral ringan, amber, santal, dan water lily, produk ini dirancang untuk menghadirkan kesan cerah, segar, dan anggun ke dalam ruangan. Meghan mencoba membangun koneksi emosional antara konsumen dengan momen-momen intim di dalam rumah tangganya melalui wewangian ini.

Baca Juga Bukan Sekadar Masak, Ini 5 Alasan Mengapa ‘The Legend of Kitchen Soldier’ Menjadi Drakor Militer Paling Segar Tahun Ini
Bukan Sekadar Masak, Ini 5 Alasan Mengapa ‘The Legend of Kitchen Soldier’ Menjadi Drakor Militer Paling Segar Tahun Ini

Keamanan Digital vs Strategi Penjualan

Selain soal produk fisik, terungkap pula bahwa Meghan dan Harry telah mengambil langkah preventif dengan mendaftarkan nama Archie dan Lilibet sebagai alamat email, akun media sosial, hingga domain situs web. Bagi kalangan selebriti papan atas, langkah ini sering dianggap sebagai upaya perlindungan agar identitas anak-anak mereka tidak disalahgunakan oleh pihak ketiga atau pemburu domain.

Namun, para pakar industri branding memberikan pandangan yang sedikit skeptis. “Jika tujuannya murni untuk melindungi anak dari eksploitasi pihak luar, itu sangat masuk akal. Namun, ketika nama-nama tersebut mulai dikaitkan dengan peluncuran produk komersial, garis antara ‘melindungi’ dan ‘mempersiapkan pasar’ menjadi sangat kabur,” ungkap seorang konsultan branding ternama.

Pembelaan untuk Sang Duchess

Meski gelombang kritik berdatangan, pihak-pihak yang mendukung Meghan Markle memberikan pembelaan yang tak kalah kuat. Mereka menegaskan bahwa koleksi lilin ini adalah bagian dari lini Hari Ibu yang bersifat sangat personal. Sebagai seorang ibu, Meghan dianggap memiliki hak untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada anak-anak melalui karya kreatifnya.

Baca Juga Kreasi Skincare Mandiri: Ubah Me Time Jadi Lebih Produktif Lewat Workshop Body Milk Butter di Kemang
Kreasi Skincare Mandiri: Ubah Me Time Jadi Lebih Produktif Lewat Workshop Body Milk Butter di Kemang

“Brand ini berfokus pada konsep rumah, keluarga, dan momen kebersamaan yang hangat. Meghan adalah seorang ibu, dan sangat wajar jika anak-anaknya menjadi sumber inspirasi utama,” ungkap seorang sumber yang dekat dengan Meghan. Ia juga menambahkan bahwa Meghan tetap menjaga privasi anak-anaknya dengan sangat ketat, terbukti dengan tidak ditampilkannya wajah Archie maupun Lilibet dalam materi promosi produk tersebut.

Membangun Imperium Tanpa Restu Istana

Peluncuran lilin mewah ini hanyalah satu dari sekian banyak langkah strategis Meghan Markle dalam membangun profilnya sebagai seorang pengusaha gaya hidup. Sebelum lilin, ia juga sempat menghebohkan publik dengan peluncuran minuman wine yang langsung ludes terjual dalam waktu singkat. Ambisi Meghan untuk menciptakan brand yang setara dengan kesuksesan Goop milik Gwyneth Paltrow tampak semakin nyata.

Namun, tantangan terbesar Meghan bukanlah kompetisi pasar, melainkan beban sejarah dan label kerajaan yang masih melekat padanya. Setiap langkah yang ia ambil akan selalu dibandingkan dengan standar moralitas istana. Bagi para pendukungnya, Meghan adalah simbol kemandirian wanita modern. Namun bagi para kritikus, ia dianggap tengah memanfaatkan sisa-sisa kejayaan monarki untuk mengisi pundi-pundi pribadi di tanah Amerika.

Baca Juga Kisah Viral Pernikahan di Banyumas: Ketika Sapi Kurban ‘Ikut Kondangan’ dan Porak-porandakan Dekorasi Pelaminan
Kisah Viral Pernikahan di Banyumas: Ketika Sapi Kurban ‘Ikut Kondangan’ dan Porak-porandakan Dekorasi Pelaminan

Dengan harga Rp1 juta per batang, lilin As Ever ini mungkin akan terjual habis berkat rasa penasaran publik. Namun, ‘harga’ yang harus dibayar Meghan dalam bentuk rusaknya hubungan diplomatik dengan keluarga suaminya di Inggris mungkin jauh lebih mahal dari nilai komersial yang ia dapatkan. Apakah ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi, ataukah sekadar komodifikasi gelar? Publik akan terus mengawasi setiap aroma yang keluar dari dapur bisnis sang Duchess.

Pihak Istana Buckingham sendiri hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kontroversi ini, namun keheningan tersebut seringkali diartikan sebagai bentuk ketidaksukaan yang mendalam. Di tengah perseteruan yang tak kunjung usai, satu hal yang pasti: Meghan Markle tidak akan berhenti untuk terus berinovasi dan mendefinisikan ulang perannya di luar bayang-bayang mahkota Inggris.

Siti Maemunah

Siti Maemunah

Kreator konten gaya hidup yang berdedikasi mengulas tren fashion dan tips keseharian di kategori Zona Wolipop.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *