Skandal Pelecehan di Puncak Merbabu: Kisah Pilu Pendaki Wanita Terjebak Modus Pemandu Gadungan

Aris Munandar | ZonaKabar
09 Jun 2026, 11:42 WIB
Skandal Pelecehan di Puncak Merbabu: Kisah Pilu Pendaki Wanita Terjebak Modus Pemandu Gadungan

ZonaKabar — Jagat maya kembali dikejutkan dengan sebuah pengakuan memilukan yang datang dari dunia pendakian. Keindahan sabana Gunung Merbabu yang seharusnya menjadi tempat pelarian dari penatnya rutinitas, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang pendaki wanita berinisial F (26). Melalui utas yang viral di platform X (sebelumnya Twitter), korban membagikan pengalaman traumatisnya saat menjadi sasaran pelecehan seksual oleh seorang oknum pemandu pendakian yang ia sewa melalui media sosial.

Awal Mula Pertemuan: Terjebak di Balik Citra Profesional

Kisah ini bermula ketika F, perempuan asal Banjarnegara yang berdomisili di Purwokerto, berencana melakukan pendakian untuk melepas penat sebelum menjalani mutasi kerja. Karena teman-temannya tidak memiliki waktu yang sama, F memutuskan untuk mencari jasa private trip agar pendakiannya tetap aman dan terorganisir. Di sinilah ia bertemu dengan H (29), seorang pria asal Grobogan yang mencitrakan dirinya sebagai pemandu berpengalaman di media sosial.

H meyakinkan F dengan mengaku telah berpengalaman memandu perjalanan pribadi hingga ke Gunung Rinjani. Komunikasi intens terjalin melalui pesan singkat. F, yang memang memiliki hobi mendaki, merasa percaya karena konten-konten yang diunggah H di akun X miliknya selalu berkaitan dengan aktivitas wisata alam dan gunung. Rasa percaya itu menjadi pintu masuk bagi H untuk melancarkan aksinya.

Baca Juga Menjemput Keberkahan di Hari Raya Kurban: Panduan Lengkap Hukum, Tata Cara, dan Sunnah Sholat Idul Adha
Menjemput Keberkahan di Hari Raya Kurban: Panduan Lengkap Hukum, Tata Cara, dan Sunnah Sholat Idul Adha

Modus Operandi dan Kesepakatan yang Berubah

Awalnya, F menginginkan layanan private trip yang eksklusif. Namun, H dengan berbagai dalih mengubah kesepakatan tersebut menjadi model open trip, namun dengan catatan F menanggung seluruh biaya logistik, administrasi, dan operasional yang totalnya mencapai Rp 1 juta. Meskipun merasa ada yang janggal dengan perubahan tarif dan skema tersebut, F tetap mengiyakan demi keamanan dirinya selama di jalur pendakian.

“Sekarang saya sadar, itu hanyalah modus. Saat itu, saya berpikir dia profesional karena pengalamannya membawa orang ke Rinjani. Harapan saya sederhana, saya ingin mendaki dengan rasa aman karena ada pemandu yang menjaga,” tutur F dengan nada penuh penyesalan saat memberikan keterangan. Ketidakcurigaan ini membawa mereka menuju jalur pendakian via Selo, Boyolali, pada akhir Mei lalu.

Malam Kelam di Sabana 2 Gunung Merbabu

Pendakian dimulai pada Jumat (29/5). Keduanya mendaki hingga mencapai Sabana 2, salah satu titik perkemahan paling ikonik di Gunung Merbabu. Di sana, mereka mendirikan tenda berkapasitas empat orang. Posisi tenda berada di area yang cukup terisolasi, di depan jurang dan belakang semak-semak, sebuah detail yang belakangan disadari korban sebagai bagian dari rencana jahat pelaku.

Baca Juga Wisatawan Jakarta Nyaris Kehilangan Motor di Semarang, Aksi Begal Gagal Total Gara-Gara Teknologi Keyless
Wisatawan Jakarta Nyaris Kehilangan Motor di Semarang, Aksi Begal Gagal Total Gara-Gara Teknologi Keyless

Malam itu, suhu udara di Merbabu sangat menusuk tulang. Setelah makan malam, F beristirahat di dalam sleeping bag miliknya. Keadaan mulai berubah mencekam saat F terbangun dari tidurnya. Dalam kondisi setengah sadar karena kedinginan dan kantuk yang berat, ia merasakan adanya sentuhan tidak senonoh pada bagian sensitif tubuhnya. H, yang seharusnya menjadi pelindung, justru secara berulang kali mencoba melakukan tindakan pelecehan seksual.

“Saya ingin berteriak, saya ingin lari, tapi di depan tenda adalah jurang. Saya merasa membeku (freeze). Setiap kali saya menyingkirkan tangannya, dia mencoba lagi. Saya hanya bisa menyilangkan tangan di dada dan menutup seluruh tubuh dengan ketakutan yang luar biasa,” ungkap F menggambarkan situasi mencekam di tengah kegelapan malam pegunungan.

Trauma Mendalam dan Perjuangan Mencari Keadilan

Keesokan harinya, F memaksa untuk segera turun gunung meski dalam kondisi mental yang hancur. Bahkan, dalam perjalanan turun, mereka sempat tersesat sebelum akhirnya dibantu oleh pendaki lain. Dampak dari kejadian ini begitu hebat bagi psikis F. Sekembalinya ke rumah, ia mengalami trauma berat hingga harus mendapatkan perawatan medis dan infus karena tidak bisa tidur, gelisah, dan kehilangan nafsu makan.

Baca Juga Jadwal Siaran Langsung Indonesia vs Jepang Piala Asia U-17 2026: Laga Hidup Mati Menuju Perempat Final
Jadwal Siaran Langsung Indonesia vs Jepang Piala Asia U-17 2026: Laga Hidup Mati Menuju Perempat Final

Tidak tinggal diam, keluarga F mencoba mengonfrontasi H. Pertemuan mediasi pun dilakukan di sebuah tempat makan di Purwokerto pada Kamis (4/6). Namun, bukannya mengakui kesalahan, H justru sempat menyangkal seluruh perbuatannya dan berusaha melarikan diri dari lokasi pertemuan. Drama tersebut berakhir setelah rekan-rekan F berhasil mengejar pelaku dan membawanya ke kantor polisi terdekat.

Sanksi Sosial Sebagai Pilihan Terakhir

Di hadapan petugas kepolisian, H akhirnya mengakui perbuatannya. Ia diminta membuat surat pernyataan tertulis dan video klarifikasi yang kemudian diunggah di akun media sosialnya sendiri. Meskipun bukti-bukti sudah cukup kuat, F memilih untuk tidak menempuh jalur hukum formal lebih lanjut untuk saat ini. Ia merasa bahwa sanksi sosial adalah hukuman yang paling tepat agar tidak ada lagi korban lain di masa depan.

“Sanksi sosial bagi saya sudah cukup, karena bayang-bayang kesalahan ini akan terus menghantuinya di komunitas pendaki,” pungkas F. Kasus ini pun menjadi pengingat keras bagi para pendaki, khususnya wanita, untuk lebih berhati-hati dalam memilih pemandu gunung yang tidak terafiliasi dengan lembaga resmi atau basecamp setempat.

Baca Juga Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP
Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP

Pelajaran Penting Bagi Komunitas Pendaki

Kejadian yang menimpa F ini memicu diskusi hangat di kalangan pencinta alam mengenai standar keamanan dalam pendakian. Para ahli pendakian menyarankan beberapa poin penting bagi pendaki solo maupun wanita:

  • Selalu gunakan jasa pemandu resmi yang memiliki sertifikasi atau direkomendasikan langsung oleh basecamp pendakian setempat.
  • Hindari menyewa jasa individu hanya berdasarkan profil media sosial tanpa adanya testimoni yang valid dari pihak ketiga.
  • Usahakan tidak mendaki hanya berdua dengan lawan jenis yang bukan mahram, terutama jika mengandalkan tenda yang sama.
  • Laporkan setiap perilaku mencurigakan kepada petugas di pos pendakian terdekat segera setelah memungkinkan.

Kisah ini menjadi noda hitam di tengah populernya wisata pendakian di Indonesia. Gunung yang seharusnya menjadi tempat melatih fisik dan mental, jangan sampai dikotori oleh oknum-oknum predator yang memanfaatkan kerentanan orang lain. Keamanan dan kenyamanan dalam mendaki adalah hak setiap individu yang harus dijaga bersama oleh seluruh komunitas pendaki tanah air.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *