Misi Besar Gus Yusuf Chudlori: Dari Pesantren Tegalrejo Menuju Transformasi Total PBNU
ZonaKabar — Di tengah hiruk-pikuk dinamika organisasi keagamaan terbesar di dunia, sebuah angin perubahan mulai berembus kencang dari lereng Gunung Merapi. KH Muhammad Yusuf Chudlori, yang akrab disapa Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk ikut serta dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Langkah ini bukan sekadar ambisi personal, melainkan sebuah respons atas kegelisahan para kiai sepuh dan akar rumput yang merasa marwah organisasi perlu dirajut kembali.
Diplomasi Silaturahmi: Menembus Batas 10 Provinsi
Langkah Gus Yusuf tidak main-main. Selama enam bulan terakhir, ia telah melakukan safari panjang yang melelahkan namun penuh makna. Tidak kurang dari 10 provinsi telah ia sambangi, mulai dari daratan Jawa hingga menyeberang ke berbagai wilayah di luar Jawa. Dalam perjalanannya, Gus Yusuf mengaku telah bertatap muka dan berdialog langsung dengan pengurus dari 12 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan sekitar 200 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia.
“Saya menjalankan tugas dari para masyayikh, para kiai-kiai, untuk ikut bersama-sama kembali menata PBNU. Ini adalah perjalanan silaturahim untuk mendengar, bukan sekadar untuk memerintah,” ujar Gus Yusuf saat ditemui di kediamannya di kompleks pesantren API Tegalrejo. Perjalanan tersebut membawanya ke Bengkulu, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, hingga Jambi. Fokusnya adalah merangkul kembali semangat kebersamaan yang dirasa mulai luntur di tingkat struktural.
Mengurai Benang Kusut Tata Kelola Organisasi
Salah satu poin krusial yang menjadi catatan Gus Yusuf adalah kondisi kesehatan organisasi di tingkat bawah. Ia menemukan fakta pahit bahwa banyak program di tingkat PCNU maupun PWNU yang mengalami kemacetan. Masalah administratif, seperti Surat Keputusan (SK) kepengurusan yang tidak kunjung turun atau terhambat, menjadi kendala serius yang melumpuhkan gerak langkah Nahdlatul Ulama di daerah-daerah.
“Dampaknya luar biasa, tidak hanya secara struktural tapi juga kultural. Ketika mesin organisasi macet, pesantren-pesantren pun ikut merasakan imbasnya. Kita harus jujur mengakui bahwa hari ini ada semacam stagnasi yang harus segera kita pecahkan bersama,” tegasnya dengan nada prihatin. Baginya, PBNU ke depan harus lebih transparan, kredibel, dan memiliki tata kelola yang lebih rapi agar setiap kebijakan dari pusat benar-benar tersampaikan dan terlaksana hingga ke tingkat ranting.
Kegelisahan Pesantren dan Menurunnya Animo Masyarakat
Sebagai seorang pengasuh pesantren besar, Gus Yusuf menyoroti fenomena menurunnya animo masyarakat terhadap institusi pesantren. Hal ini menjadi keprihatinan mendalam bagi para kiai dan masyayikh. Di era transformasi digital yang begitu cepat, pesantren seolah dibiarkan berjalan sendirian tanpa pendampingan yang memadai dari organisasi induknya.
Gus Yusuf berpendapat bahwa PBNU harus hadir sebagai pendamping setia bagi pesantren-pesantren di seluruh pelosok negeri. Amanah yang ia emban adalah untuk membangkitkan kembali semangat kolektif guna mengangkat marwah NU. Ia memandang bahwa penguatan institusi pendidikan adalah kunci agar NU tetap relevan di tengah perubahan zaman yang destruktif. Tanpa perhatian serius pada sektor ini, NU dikhawatirkan akan kehilangan akar intelektual dan spiritualnya di masa depan.
Tiga Pilar Transformasi: Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi
Dalam visinya memimpin PBNU, Gus Yusuf menawarkan tiga pilar utama yang menjadi kebutuhan mendesak warga Nahdliyin. Pertama adalah sektor pendidikan. Ia menekankan bahwa di era transformasi ini, pesantren tidak boleh dibiarkan gagap teknologi. PBNU harus memberikan fasilitas dan pendampingan agar pesantren mampu mencetak generasi yang tidak hanya kuat secara agama, tetapi juga unggul secara sains dan teknologi.
Pilar kedua adalah kesehatan. Gus Yusuf memimpikan setiap provinsi di Indonesia memiliki Rumah Sakit NU yang representatif. Bahkan, ia berharap di tingkat kabupaten minimal tersedia klinik-klinik NU yang mampu melayani masyarakat luas. “Warga NU sangat membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai dan berafiliasi langsung dengan nilai-nilai keumatan,” tambahnya. Kebutuhan akan akses kesehatan yang terjangkau dan berkualitas menjadi salah satu keluhan paling banyak yang ia dengar selama bersafari.
Pilar ketiga yang tidak kalah penting adalah ekonomi umat. Di tengah tekanan ekonomi global yang kian berat, Gus Yusuf mendorong PBNU untuk aktif dalam pendampingan gerakan ekonomi kerakyatan, pemberdayaan UMKM, dan pembentukan inkubator ekonomi. Baginya, kemandirian organisasi hanya bisa dicapai jika warganya secara ekonomi juga mandiri dan berdaya.
Mengembalikan Peran NU Sebagai Kekuatan Sipil
Selain fokus pada urusan internal dan kesejahteraan, Gus Yusuf juga mengkritisi absennya suara NU dalam isu-isu strategis nasional seperti demokrasi dan lingkungan hidup. Ia mengenang masa-masa di mana NU kaya akan wacana pemikiran dan menjadi lokomotif gerakan civil society di Indonesia.
“Dulu NU sangat vokal bicara tentang demokrasi, tentang lingkungan, tentang hak asasi manusia. Hari ini, kita terasa absen dari isu-isu itu. Banyak teman-teman muda Nahdliyin yang mengharapkan NU kembali menjadi kekuatan penyeimbang yang mampu membersamai masyarakat dalam dinamika sosial politik,” jelasnya. Ia ingin NU tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor aktif yang memperjuangkan keadilan sosial dan kelestarian alam bagi generasi mendatang.
Kerendahan Hati dan Permohonan Doa Restu
Meski telah mengantongi banyak aspirasi dan kunjungan ke ratusan cabang, Gus Yusuf enggan untuk melakukan klaim sepihak mengenai besarnya dukungan yang ia miliki. Baginya, kontestasi di tubuh NU bukanlah soal menang atau kalah dalam perebutan kekuasaan, melainkan soal pengabdian dan menjalankan amanah kiai.
“Saya belum berani mengklaim soal dukungan suara. Yang paling penting bagi saya adalah menawarkan gagasan dan mendengarkan keluhan teman-teman di daerah. Ini adalah tugas yang berat, sebuah amanah yang sangat besar. Maka dari itu, saya memohon doa restu dari seluruh warga NU agar niat baik ini diberikan jalan oleh Allah SWT,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Dengan rekam jejaknya sebagai tokoh muda yang dekat dengan kaum milenial santri dan komitmennya terhadap perbaikan struktur organisasi, Gus Yusuf kini menjadi harapan baru bagi banyak pihak yang merindukan kembalinya kejayaan PBNU sebagai rumah besar yang nyaman bagi seluruh warga Nahdliyin.