Menyucikan Jiwa di Kota Tua: Mengintip Ritual Ruwatan Sakral Jelang 1 Suro di Lasem Rembang
ZonaKabar — Di bawah temaram lampu yang berpijar lembut dan aroma kemenyan yang mulai menyeruak di udara malam, suasana di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, terasa begitu magis. Malam itu bukan sekadar malam biasa; ia adalah ambang pintu menuju pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Sebanyak 35 orang dari berbagai penjuru, mulai dari Rembang sendiri, Kudus, Tuban, hingga mereka yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta, berkumpul untuk satu tujuan: melakoni ritual tradisi Jawa yang telah diwariskan turun-temurun.
Ruwatan: Sebuah Perjalanan Menuju Kebeningan Hati
Ritual yang diinisiasi oleh Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan ini bukan sekadar seremoni formalitas. Ini adalah momen introspeksi massal yang dibalut dalam balutan budaya yang kental. Ritual diawali dengan prosesi pembersihan diri yang dikenal dengan istilah ruwatan. Bagi masyarakat yang memegang teguh filosofi kejawen, ruwatan adalah cara manusia untuk ‘membuang sial’ atau membersihkan diri dari energi negatif yang mungkin melekat selama setahun terakhir.
Pantauan tim di lokasi menunjukkan betapa seriusnya persiapan yang dilakukan. Di area belakang kediaman Ernantoro, sosok sesepuh sekaligus pemimpin Kumpulan Jowo Lasem Sanggar Pamujan, kursi-kursi telah tertata rapi. Para peserta, yang terdiri dari pria dan wanita dewasa, tampak duduk dengan khidmat. Di hadapan mereka, berbagai perlengkapan ritual seperti wadah berisi air kembang, bunga setaman yang segar, hingga dupa yang tak henti mengepulkan asap, menciptakan atmosfer yang sangat spiritual di Kabupaten Rembang.
Mata Air Keramat dan Simbolisme Kesucian
Salah satu elemen paling krusial dalam ruwatan kali ini adalah air yang digunakan. Ernantoro menjelaskan bahwa air tersebut bukanlah air sembarangan. Ia adalah perpaduan dari beberapa sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi bagi masyarakat Lasem dan sekitarnya. “Air ini kami ambil dari beberapa titik sakral, termasuk Sumur Sunan Bonang, sumber Kajar, dan sumber Gowak,” ungkapnya dengan nada tenang.
Menariknya, sumber Gowak memiliki tempat tersendiri dalam mitologi lokal. Tempat tersebut diyakini sebagai pemandian Dewi Indu, sosok ratu yang dalam cerita rakyat dipercaya memimpin Lasem pada masa lampau. Penggunaan air dari berbagai sumber ini simbolis sebagai upaya menyatukan energi positif dari sejarah dan alam untuk membasuh kekotoran batin manusia. Dalam konteks sejarah Lasem, elemen air selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual pembersihan jiwa.
Prosesi Jamasan dan Warangan: Merawat Pusaka, Menjaga Marwah
Tak hanya manusianya yang dibersihkan, benda-benda pusaka pun tak luput dari perhatian. Setelah ruwatan selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi jamasan dan warangan. Ini adalah tradisi mencuci dan merawat benda pusaka, terutama keris, agar tetap terjaga secara fisik maupun energinya. Bagi masyarakat Jawa, pusaka bukan sekadar senjata tajam, melainkan simbol kehormatan dan pengingat akan jati diri.
Suasana semakin syahdu saat alunan gamelan dan gending-gending Jawa mulai mengalun, memecah kesunyian malam di pesisir utara. Satu per satu peserta dipanggil untuk menjalani inti dari ruwatan. Mereka duduk berselimut kain putih, lambang kesucian dan kepasrahan. Ernantoro kemudian menyentuh dahi para peserta sebelum mengguyurkan air bunga dari atas kepala mereka. Sebagai penutup yang simbolis, sehelai rambut peserta dipotong dan dilarung atau dimasukkan ke dalam air kembang, menandakan lepasnya segala beban masa lalu.
Filosofi Pembenahan Batin: Lebih dari Sekadar Fisik
Ernantoro menekankan bahwa ritual ini tidak boleh dipandang sebagai praktik syirik atau sekadar mandi bunga biasa. Ada kedalaman filosofi di baliknya. “Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Pikiran dan hati kita seringkali dikotori oleh prasangka, amarah, dan sifat negatif lainnya. Momentum malam malam 1 Suro ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembersihan batin,” jelasnya.
Bahkan, sebelum mengikuti ritual ini, para peserta disarankan untuk mempersiapkan diri secara mental dan spiritual, salah satunya dengan melakukan puasa Senin dan Kamis. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapan batin adalah kunci utama agar energi dari ritual ruwatan ini benar-benar bisa meresap dan memberikan dampak positif bagi kehidupan peserta di masa depan.
Kesaksian Peserta: Antara Doa dan Harapan
Bagi Sugiono, seorang warga Sumbergirang, Lasem, ritual ini sudah menjadi agenda tahunan. Tahun ini menandai kali keempat ia mengikuti ruwatan. Baginya, ada ketenangan luar biasa yang dirasakan setiap kali selesai mengikuti prosesi ini. “Niat saya tulus, ingin membersihkan hati dan pikiran. Istilahnya buang sial atau tolak bala, supaya setahun ke depan langkah saya lebih ringan dan dijauhkan dari hal-hal buruk,” tuturnya kepada tim ZonaKabar.
Senada dengan Sugiono, Abdul Wahab dari Desa Ketangi juga melihat momentum 1 Suro sebagai waktu yang sangat spesial. Menurutnya, dalam budaya Jawa, pergantian tahun adalah saat yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sambil memperbaiki kualitas diri. “Harapannya tentu keselamatan. Dengan hati yang bersih, kita berharap keluarga juga terlindungi dari musibah. Ini adalah cara kami menghormati leluhur sekaligus berdoa demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Wahab.
Tradisi yang Melintasi Zaman
Ritual ruwatan di Sanggar Pamujan ini bukanlah fenomena baru yang muncul secara instan. Tradisi ini telah konsisten dijalankan sejak tahun 1995. Bertahan selama hampir tiga dekade menunjukkan bahwa di tengah gempuran modernitas, masyarakat masih haus akan nilai-nilai spiritualitas lokal yang memberikan rasa tenang dan keterhubungan dengan akar budaya mereka.
Lasem, dengan segala keragaman dan sejarahnya sebagai ‘Tiongkok Kecil’, kembali membuktikan diri sebagai kawah candradimuka bagi pelestarian tradisi. Melalui ritual ruwatan ini, pesan yang disampaikan sangat jelas: bahwa untuk melangkah maju menuju masa depan, seseorang harus berani menoleh ke belakang, membasuh luka lama, dan membersihkan jiwa agar siap menerima berkah di tahun yang baru. Dengan berakhirnya ritual malam itu, 35 jiwa kini membawa harapan baru, berbekal doa dan basuhan air suci dari tanah Lasem yang melegenda.