Menilik Kontroversi IU di Drama Perfect Crown: Antara Bayaran Fantastis dan Luka Sejarah Korea
ZonaKabar — Dunia hiburan Korea Selatan kembali diguncang oleh badai kontroversi yang menyeret nama besar Lee Ji Eun, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung IU. Kali ini, sorotan tajam tidak hanya tertuju pada bakat musiknya yang fenomenal, melainkan pada keterlibatannya dalam serial drama terbaru bertajuk Perfect Crown. Drama yang seharusnya menjadi mahakarya sejarah ini justru terjebak dalam pusaran kritik pedas terkait distorsi sejarah dan angka bayaran sang aktris yang dianggap tidak masuk akal di tengah kualitas akting yang dipertanyakan publik.
Awal Mula Gelombang Kritik: Sentimen Pro-Tiongkok dalam Narasi Sejarah
Ketegangan bermula ketika para penonton jeli menemukan berbagai kejanggalan dalam estetika dan protokol yang ditampilkan dalam drama drama Korea Perfect Crown. Sebagai negara yang sangat menjunjung tinggi integritas sejarahnya, publik Korea Selatan merasa tersinggung dengan adanya unsur-unsur kebudayaan Tiongkok yang disisipkan dalam setting kerajaan Korea.
Salah satu adegan yang memicu kemarahan kolektif adalah saat karakter yang diperankan IU secara eksplisit menolak mengenakan Hanbok, pakaian tradisional kebanggaan masyarakat Korea. Karakter tersebut justru memilih busana modern yang dipadukan dengan hiasan rambut khas Tiongkok. Tak berhenti di situ, adegan upacara minum teh di dalam istana kerajaan Korea juga ditampilkan menggunakan metode ala Tiongkok, sebuah detail yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap orisinalitas budaya lokal.
Kritik juga menyasar lawan main IU, Byeon Woo Seok. Dalam sebuah adegan krusial yakni penobatan raja, Byeon Woo Seok terlihat mengenakan guryumyeonryugwan atau mahkota dengan sembilan untaian manik-manik. Secara historis, mahkota tersebut merupakan simbol subordinasi terhadap kekaisaran Tiongkok. Padahal, para raja dari negara merdeka seharusnya mengenakan shipimyeonryugwan atau mahkota dengan dua belas untaian manik-manik. Hal ini dianggap mempertegas kesan bahwa drama ini memiliki agenda terselubung atau setidaknya kurangnya riset mendalam terkait distorsi sejarah.
Bayaran Fantastis IU: Rp 5,8 Miliar per Episode yang Memantik Debat
Di tengah panasnya isu budaya tersebut, muncul sebuah informasi yang semakin menyulut emosi netizen. Beredar kabar bahwa IU menerima bayaran sebesar 500 juta won, atau sekitar Rp 5,8 miliar untuk setiap episode Perfect Crown. Mengingat drama ini terdiri dari 12 episode, secara total IU diperkirakan mengantongi pendapatan sebesar 6 miliar won atau setara dengan Rp 70,3 miliar. Angka ini secara otomatis menempatkan pelantun lagu ‘Lilac’ tersebut ke dalam jajaran artis Korea termahal, bersanding dengan nama-nama besar seperti Jun Ji Hyun dan Song Hye Kyo.
Namun, alih-alih mendapatkan apresiasi, besaran gaji ini justru menjadi bumerang. Banyak pihak merasa bahwa kualitas akting IU dalam drama tersebut tidak sebanding dengan nilai kontraknya yang selangit. Forum-forum komunitas daring di Korea dipenuhi oleh komentar-komentar pedas yang mempertanyakan masa depan industri penyiaran jika standar gaji terus melonjak tanpa diiringi kualitas performa yang mumpuni. Ada pula kecurigaan liar dari netizen yang menghubungkan kemampuan IU berbahasa Mandarin dengan terpilihnya ia sebagai pemeran utama dalam drama yang dianggap ‘berbau’ pengaruh Tiongkok tersebut.
Permintaan Maaf dan Bayang-Bayang Skandal Masa Lalu
Menyadari situasi yang semakin tidak kondusif, pada Senin (18/5/2026), IU akhirnya angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya. Dalam pernyataan resminya, ia menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam atas kekecewaan yang dirasakan oleh masyarakat. IU mengakui bahwa sebagai pemeran utama, ia telah gagal menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menelaah naskah secara mendalam.
“Aku merasa malu karena tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai isu-isu penting ini sebelumnya. Seharusnya aku belajar lebih banyak sebagai seorang aktris, terutama untuk karya yang mengangkat keindahan tradisional Korea. Hatiku terasa sangat berat hingga saat ini,” tulisnya dengan nada penuh penyesalan. Meskipun demikian, permintaan maaf ini tidak serta-merta meredam amarah publik.
Efek domino dari kontroversi ini bahkan merembet ke ranah pribadi IU. Netizen kembali mengungkit skandal-skandal lama yang pernah menimpa sang bintang. Mulai dari insiden foto mesra bersama Eunhyuk Super Junior yang terjadi bertahun-tahun silam, hingga tuduhan kontroversial terkait lirik lagu ‘Zeze’ yang sempat dikaitkan dengan isu pedofilia. Fenomena ‘cancel culture’ tampak bekerja dengan cepat, seolah ingin meruntuhkan citra ‘Nation’s Little Sister’ yang selama ini melekat erat pada dirinya.
Masa Depan Industri K-Drama di Tengah Pengaruh Asing
Kasus Perfect Crown menjadi pelajaran berharga bagi industri hiburan di Negeri Ginseng. Ketergantungan pada modal asing—terutama dari Tiongkok—seringkali berbenturan dengan sensitivitas nasionalisme Korea Selatan. Publik kini semakin waspada terhadap upaya-upaya halus dalam mengubah narasi sejarah melalui konten populer.
Pihak produksi MBC, tempat drama ini ditayangkan, juga mendapatkan tekanan besar untuk lebih selektif dan teliti dalam proses produksi di masa mendatang. Bagi para penggemar, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa popularitas besar datang dengan tanggung jawab sosial yang sama besarnya. Aktris sekaliber IU pun tidak kebal dari kritik jika dianggap melukai identitas budaya bangsanya sendiri.
Analisis Profesional: Mengapa Kontroversi Ini Begitu Masif?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus ini menjadi berita utama selama berminggu-minggu. Pertama, masalah kedaulatan budaya antara Korea dan Tiongkok memang sedang dalam titik didih. Klaim-klaim sepihak mengenai asal-usul Kimchi dan Hanbok telah membuat masyarakat Korea sangat sensitif. Ketika sebuah drama lokal justru terlihat mendukung narasi pihak luar, ledakan emosi menjadi tak terelakkan.
Kedua, kesenjangan ekonomi. Di tengah situasi ekonomi global yang menantang, mendengar seorang publik figur mendapatkan puluhan miliar rupiah untuk pekerjaan yang dianggap cacat secara moral dan teknis, menciptakan kecemburuan sosial yang nyata. IU, yang biasanya dicintai karena kedermawanannya, kini harus berjuang ekstra keras untuk memulihkan reputasinya yang terkoyak akibat kontroversi artis ini.
Bagaimana kelanjutan karier IU setelah badai ini mereda? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun satu hal yang pasti, Perfect Crown akan selalu dikenang bukan karena prestasi ratingnya yang sempat tinggi, melainkan sebagai monumen peringatan akan pentingnya akurasi sejarah dan etika dalam berkarya di industri hiburan global.
Tetap ikuti perkembangan berita hiburan mancanegara lainnya hanya di ZonaKabar, sumber informasi terpercaya Anda yang mengupas tuntas realita di balik layar gemerlap dunia selebriti.