Nestapa di Balik Jalan Rusak Sukabumi: Cerita Sadi, Lansia yang Harus Ditandu Sarung Menuju Kesembuhan
ZonaKabar — Pemandangan memilukan kembali mengoyak nurani publik, menggambarkan betapa timpangnya pembangunan infrastruktur di pelosok negeri. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, sebuah potret perjuangan antara hidup dan mati pecah di pelosok Kabupaten Sukabumi. Seorang lansia yang tengah didera sakit parah harus bertaruh nyawa di atas tandu darurat yang hanya terbuat dari sebilah bambu dan kain sarung, menerjang medan jalan yang lebih mirip aliran sungai kering daripada akses transportasi publik.
Tragedi Kemanusiaan di Jampang Tengah
Peristiwa ini dialami oleh Sadi (60), seorang warga dari Kampung Cidahu, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampang Tengah. Di usianya yang sudah senja, Sadi seharusnya mendapatkan perawatan medis yang cepat dan layak. Namun, kondisi fisik yang melemah akibat komplikasi penyakit asam urat dan lambung membuatnya tak berdaya. Ironisnya, ketidakberdayaan Sadi kian diperparah oleh kondisi jalan rusak yang memutus akses kendaraan roda empat menuju kediamannya.
Dalam sebuah rekaman video yang mendadak viral di jagat maya, terlihat suasana emosional saat sejumlah pria dewasa bahu-membahu memikul beban bambu panjang. Di bawah bambu tersebut, tubuh renta Sadi terbungkus beberapa lapis kain sarung dan selimut, terayun-ayun seiring langkah kaki warga yang harus ekstra hati-hati menapaki bebatuan tajam yang tak beraturan. Tidak ada aspal halus di sana; yang ada hanyalah hamparan batu hancur yang dikelilingi oleh rimbunnya semak belukar dan pepohonan hutan yang sunyi.
Ambulans yang Tak Berkutik Menembus Medan Ekstrem
Galih, seorang warga setempat yang juga menjadi saksi mata sekaligus orang yang mengabadikan momen dramatis tersebut, menceritakan betapa sulitnya proses evakuasi yang terjadi pada pagi hari itu, sekitar pukul 08.00 WIB. Menurutnya, pihak desa sebenarnya sudah berupaya maksimal dengan mengerahkan Mobil Ambulans Siaga Desa. Namun, teknologi otomotif secanggih apa pun seolah kehilangan fungsinya ketika berhadapan dengan infrastruktur yang hancur lebur.
“Kondisinya sangat mendesak. Pak Sadi sudah dalam keadaan sangat lemas. Kami ingin segera membawanya ke fasilitas kesehatan, tapi ambulans tidak bisa masuk sama sekali ke lokasi rumah karena jalannya hancur total,” ungkap Galih saat memberikan keterangan kepada tim ZonaKabar. Karena keterbatasan akses tersebut, warga akhirnya berinisiatif menggunakan alat seadanya demi menyelamatkan nyawa Sadi.
Perjuangan Satu Kilometer di Atas Tandu Darurat
Warga harus menandu Sadi sejauh kurang lebih satu kilometer untuk bisa mencapai titik penjemputan ambulans terdekat. Jarak satu kilometer mungkin terdengar pendek bagi mereka yang melintas di jalan protokol, namun bagi warga Cidahu yang memikul beban di medan terjal, setiap meternya adalah ujian fisik dan mental. Dalam video tersebut, terlihat ambulans berwarna putih dengan aksen merah sudah menunggu di ujung jalan yang sedikit lebih lebar, batas maksimal yang sanggup ditempuh oleh kendaraan tersebut.
Sesampainya di titik penjemputan, warga dengan penuh kelembutan memindahkan Sadi dari kain sarung ke atas ranjang dorong medis. Raut wajah kelelahan terpancar dari para warga yang membantu, namun ada kelegaan sesaat setelah pasien akhirnya bisa masuk ke dalam kendaraan medis. Meski demikian, luka komunal akibat buruknya akses kesehatan yang terhambat infrastruktur tetap membekas dalam ingatan mereka.
Ironi Jalan Kabupaten yang Terabaikan Puluhan Tahun
Lebih jauh, Galih membeberkan fakta pahit mengenai status jalan tersebut. Ruas jalan yang menghubungkan Desa Tanjungsari dengan Desa Bojongtipar ini diperkirakan mengalami kerusakan parah sepanjang 10 kilometer. Walaupun statusnya adalah jalan kabupaten, perhatian dari pemerintah daerah dirasa sangat minim bahkan nyaris tidak ada. Fenomena ini seolah menjustifikasi bahwa warga di pelosok seringkali dianaktirikan dalam hal pembangunan.
“Seingat saya, pernah ada pengaspalan, tapi itu pun hanya sekitar 200 meter. Baru berjalan tiga bulan, aspalnya sudah hancur lagi karena kualitas yang buruk dan beban medan yang berat. Sedangkan jalan yang menuju arah Kedusunan Cidahu sendiri malah sama sekali belum pernah tersentuh pengaspalan sejak dulu,” tutur Galih dengan nada kecewa. Kondisi ini membuat wilayah mereka seolah terisolasi dari peradaban modern.
Dampak Masif: Lumpuhnya Ekonomi dan Rasa Aman
Masalah infrastruktur di Kecamatan Jampang Tengah ini bukan sekadar urusan memindahkan orang sakit. Rusaknya jalan utama ini telah lama melumpuhkan urat nadi perekonomian masyarakat setempat. Petani kesulitan mengangkut hasil bumi, anak-anak sekolah harus berjuang ekstra untuk sampai ke kelas, dan biaya transportasi logistik menjadi melonjak berkali-kali lipat dibandingkan wilayah yang memiliki jalan laik pakai.
“Kami sudah bingung harus mengadu ke mana lagi. Kejadian seperti Pak Sadi ini bukan yang pertama kalinya. Setiap kali ada warga yang sakit atau ibu yang hendak melahirkan, kami selalu dihantui rasa takut. Pilihannya selalu sama: ditandu menggunakan sarung atau nyawa taruhannya,” tambah Galih. Ketidakpastian ini menciptakan trauma kolektif bagi masyarakat yang tinggal di zona-zona terpencil Sukabumi.
Harapan untuk Pemerintah Daerah
Masyarakat Desa Tanjungsari kini hanya bisa berharap agar suara mereka menembus dinding-dinding kokoh kantor pemerintahan. Mereka menginginkan aksi nyata, bukan sekadar janji manis saat musim kampanye tiba. Pembangunan jalan yang memadai adalah hak dasar warga negara yang telah dijamin oleh undang-undang, terutama untuk menjamin akses terhadap layanan publik primer.
Potret Sadi yang ditandu dengan sarung adalah sebuah tamparan bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan audit dan perbaikan menyeluruh terhadap ruas-ruas jalan kabupaten yang terbengkalai. Jangan sampai ada lagi ‘Sadi-Sadi’ lain yang harus bertaruh nyawa di tengah jalan yang hancur, sementara anggaran pembangunan terus mengalir ke proyek-proyek yang mungkin kurang berdampak langsung pada keselamatan rakyat kecil.
Kesimpulan: Kemanusiaan di Atas Segalanya
Apa yang terjadi di Sukabumi adalah pengingat keras bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa hanya diukur dari megahnya gedung-gedung di pusat kota, melainkan dari seberapa mudah seorang kakek di pelosok desa menjangkau rumah sakit saat ia membutuhkan pertolongan. Kemanusiaan harus selalu diletakkan di atas segala kepentingan politik dan birokrasi. Warga Cidahu tidak meminta kemewahan, mereka hanya meminta jalan yang layak agar napas mereka tidak terhenti hanya karena ambulans tak bisa lewat.
Tim ZonaKabar akan terus memantau perkembangan terkait perbaikan jalan di wilayah ini, memastikan bahwa suara-suara dari pinggiran tidak lagi hanya menjadi angin lalu di telinga para pemangku kebijakan.