Menyingkap Fakta di Balik Kaleng: Mengapa Susu Kental Manis Tetap Menjadi Primadona yang Sering Disalahpahami?

Dewi Lestari | ZonaKabar
24 Mei 2026, 21:44 WIB
Menyingkap Fakta di Balik Kaleng: Mengapa Susu Kental Manis Tetap Menjadi Primadona yang Sering Disalahpahami?

ZonaKabar — Siapa yang bisa menolak lumernya kucuran cairan kental nan manis di atas sepiring martabak cokelat yang masih mengepul, atau paduan sempurna dalam segelas kopi susu pagi hari? Susu kental manis, atau yang lebih akrab kita sebut dengan inisial SKM, telah lama bertahta sebagai salah satu bahan pelengkap kuliner Indonesia yang tak tergantikan. Kehadirannya melintasi generasi, dari meja makan rumah sederhana hingga kafe-kafe estetik di pusat kota.

Namun, di balik popularitasnya yang tak pernah pudar, SKM kerap diterpa badai polemik. Di jagat maya, perdebatan mengenai kandungan aslinya sering kali memanas. Banyak suara skeptis yang melontarkan tudingan bahwa produk ini hanyalah tumpukan gula yang diberi perisa susu, tanpa ada kandungan nutrisi hewani sedikit pun. Lantas, bagaimanakah fakta ilmiah dan regulasi hukum memotret fenomena ini? Mari kita bedah lebih dalam bersama ZonaKabar.

Proses Evaporasi: Rahasia di Balik Tekstur Creamy

Langkah pertama untuk memahami SKM adalah dengan menelisik cara pembuatannya. Tekstur kental yang sangat khas dari produk ini tidak didapatkan melalui penambahan zat pengental kimiawi yang berbahaya. Alih-alih demikian, proses utamanya adalah evaporasi atau penguapan air. Dalam industri pengolahan pangan, susu sapi segar dipanaskan secara perlahan dalam kondisi vakum untuk menurunkan titik didihnya, sehingga kandungan air di dalamnya menguap hingga mencapai konsistensi yang diinginkan.

Baca Juga Transformasi Digital dan Ancaman Nyata bagi Lulusan Kampus: Mengapa Literasi AI Menjadi Harga Mati di Dunia Kerja?
Transformasi Digital dan Ancaman Nyata bagi Lulusan Kampus: Mengapa Literasi AI Menjadi Harga Mati di Dunia Kerja?

Hasil dari proses ini adalah konsentrat susu yang jauh lebih padat. Karena kadar airnya telah menyusut drastis, kandungan padatan susu—seperti protein dan lemak—menjadi lebih terkonsentrasi. Inilah yang memberikan sensasi creamy yang sangat kuat saat menyentuh lidah kita. Jadi, secara fundamental, bahan dasar utamanya tetaplah susu yang telah mengalami pengurangan volume air.

Gula Bukan Sekadar Pemanis, Melainkan Penjaga Keamanan

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: mengapa kadar gulanya sangat tinggi? Penting untuk dipahami bahwa dalam sejarah industri makanan, gula memiliki peran ganda yang sangat krusial. Selain memberikan cita rasa legit yang kita gemari, gula berfungsi sebagai pengawet alami yang sangat efektif melalui prinsip tekanan osmotik.

Kandungan gula yang tinggi dalam SKM menciptakan lingkungan yang sangat tidak ramah bagi pertumbuhan mikroorganisme dan bakteri pembusuk. Hal inilah yang membuat susu kental manis memiliki daya simpan yang jauh lebih lama dibandingkan susu segar atau susu UHT, bahkan tanpa perlu disimpan di lemari es sebelum kemasannya dibuka. Gula menjaga produk tetap stabil dan aman dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, menjadikannya pilihan praktis untuk berbagai kebutuhan rumah tangga maupun usaha bisnis kuliner.

Baca Juga Sisi Gelap Keamanan Hotel Mewah Bandung: Satpam Muda Nyambi Jadi Bandar Sinte, Terancam Bui Seumur Hidup
Sisi Gelap Keamanan Hotel Mewah Bandung: Satpam Muda Nyambi Jadi Bandar Sinte, Terancam Bui Seumur Hidup

Menilik Standar Ketat BPOM dan Regulasi Internasional

Asumsi bahwa SKM tidak mengandung susu sebenarnya terbantahkan secara telak oleh regulasi yang berlaku di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki standar yang sangat ketat mengenai kategori produk ini. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2019 tentang Kategori Pangan, susu kental manis secara sah diklasifikasikan sebagai produk susu.

Syarat untuk mendapatkan label tersebut tidaklah main-main. Sebuah produk hanya boleh disebut susu kental manis jika memiliki kadar lemak susu minimal 8 persen dan kadar protein minimal 6,5 persen. Standar nasional ini tidak berdiri sendiri, melainkan menyadur referensi internasional dari Codex Alimentarius, sebuah badan standar pangan dunia yang diakui oleh WHO dan FAO. Dengan kata lain, jika sebuah produk tidak mengandung susu dalam persentase tertentu, ia dilarang menggunakan nama “Susu Kental Manis” di label kemasannya.

Bedah Komposisi: Apa Saja yang Ada di Dalamnya?

Jika kita jeli membaca label di balik kemasan, kita akan menemukan fakta menarik. Faktanya, di pasar Indonesia saat ini, terdapat produk SKM yang memiliki komposisi kandungan susu hingga mencapai 35 persen. Ini merupakan angka yang cukup signifikan untuk sebuah produk pelengkap rasa. Komposisi ini biasanya terdiri dari campuran bahan-bahan berkualitas seperti susu skim bubuk, susu sapi segar (sekitar 12 persen), lemak susu, laktosa, hingga buttermilk bubuk.

Baca Juga Siasat Licin Sarjan: Dari Sopir Angkot Jadi Direktur Bayangan di Lingkaran Korupsi Bekasi
Siasat Licin Sarjan: Dari Sopir Angkot Jadi Direktur Bayangan di Lingkaran Korupsi Bekasi

Kehadiran buttermilk dan lemak susu inilah yang menyumbangkan aroma harum dan rasa gurih yang autentik. Jadi, sangat keliru jika menganggap SKM hanyalah “air gula”. Di dalamnya terdapat kompleksitas nutrisi yang berasal langsung dari sumber hewani, meskipun profil gizinya memang berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan susu murni yang diperuntukkan bagi pertumbuhan balita.

Mengapa Persepsi “Hanya Gula” Begitu Melekat?

Fenomena persepsi negatif ini muncul karena karakter rasa manis yang sangat dominan. Lidah manusia cenderung lebih cepat merespons rasa manis yang kuat, sehingga sering kali menutupi rasa asli dari protein dan lemak susu yang ada di dalamnya. Selain itu, penggunaan yang kurang tepat—seperti menjadikannya satu-satunya sumber gizi utama bagi anak—turut memperkeruh citra produk ini.

Penting bagi konsumen untuk mengedukasi diri bahwa SKM adalah bahan pelengkap atau topping, bukan pengganti susu pertumbuhan atau susu formula. Nutrisi alami dari susu seperti kalsium, fosfor, dan vitamin memang tetap terjaga di dalamnya, namun karena kalori dari gulanya yang tinggi, porsi konsumsinya harus tetap dikontrol dengan bijak sesuai dengan kebutuhan energi harian.

Baca Juga Link Live Streaming Persib Bandung vs Persijap Jepara: Misi Maung Bandung Segel Gelar Juara dan Bintang Kelima
Link Live Streaming Persib Bandung vs Persijap Jepara: Misi Maung Bandung Segel Gelar Juara dan Bintang Kelima

Cara Bijak Menikmati Susu Kental Manis

Sebagai konsumen yang cerdas di era informasi ini, kita harus mampu memilah antara mitos dan realitas medis. Menikmati susu kental manis bukanlah sebuah kesalahan, asalkan dilakukan dengan proporsi yang benar. Bagi para pecinta resep minuman manis atau makanan penutup, SKM adalah bahan ajaib yang mampu meningkatkan level kelezatan hidangan secara instan.

Kuncinya terletak pada moderasi. Gunakanlah sebagai pemanis tambahan untuk memperkaya tekstur dan rasa. Hindari mengonsumsinya secara berlebihan secara langsung tanpa campuran bahan lain jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap asupan gula harian. Dengan memahami profil gizinya, kita bisa tetap menikmati kelezatannya tanpa harus merasa khawatir berlebihan terhadap isu-isu yang belum tentu benar secara saintifik.

Kesimpulan: Mitos yang Terpatahkan

Melalui penelusuran mendalam ini, ZonaKabar menyimpulkan bahwa anggapan susu kental manis sama sekali tidak mengandung susu adalah sebuah mitos yang tidak berdasar secara data. Produk ini tetaplah merupakan produk olahan susu yang sah secara hukum dan sains, namun dengan karakteristik khusus berupa penambahan gula yang tinggi untuk fungsi preservasi dan rasa.

Baca Juga Geger! Oknum Polisi Bersenjata Samurai Cari Anggota DPR RI di Garut, Akhiri Aksi dengan Amukan Massa
Geger! Oknum Polisi Bersenjata Samurai Cari Anggota DPR RI di Garut, Akhiri Aksi dengan Amukan Massa

Mari jadikan diri kita konsumen yang literat dengan selalu membaca label informasi nilai gizi pada setiap produk yang kita beli. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa menikmati kekayaan kuliner nusantara dengan cara yang jauh lebih sehat dan bertanggung jawab. Susu kental manis akan tetap menjadi bagian dari sejarah dapur kita, namun cara kita menyikapinyalah yang harus terus berkembang menjadi lebih baik.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *