Selebrasi Elegan Persib Juara: Warga Tasikmalaya Gotong Royong Revitalisasi SOR Kaliki yang Terbengkalai
ZonaKabar — Pemandangan berbeda tersaji di sudut Kabupaten Tasikmalaya pada Minggu pagi, 24 Mei 2026. Alih-alih dipenuhi raungan suara knalpot bising atau konvoi kendaraan yang memadati jalanan protokol, masyarakat justru memilih cara yang jauh lebih bermartabat dan bermanfaat untuk merayakan euforia kemenangan. Gelombang massa berbaju biru tampak memadati Stadion Olahraga Rakyat (SOR) Kaliki di Mangunreja, namun bukan untuk menonton pertandingan, melainkan untuk sebuah misi mulia: menghidupkan kembali fasilitas olahraga yang telah lama mati suri.
Transformasi Selebrasi: Dari Jalanan ke Aksi Nyata
Biasanya, keberhasilan sebuah tim besar merengkuh takhta tertinggi sepak bola nasional akan disambut dengan pesta pora di jalanan. Namun, bagi para pecinta sepak bola dan warga Kabupaten Tasikmalaya, momentum keberhasilan Persib Bandung meraih gelar juara Liga 1 untuk ketiga kalinya secara beruntun—sebuah pencapaian three-peat yang bersejarah—menjadi pemicu untuk melakukan perubahan nyata di lingkungan mereka sendiri.
Kegiatan bertajuk “Bersih-Bersih SOR Kaliki” ini menjadi bukti bahwa fanatisme terhadap sepak bola bisa disalurkan ke arah yang konstruktif. Ratusan relawan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat turun langsung ke lapangan. Mereka tidak membawa bendera besar untuk dikibarkan di jalan, melainkan membawa mesin pemotong rumput, sabit, cangkul, hingga kantong sampah plastik berukuran besar.
Menghapus Jejak Kusam di SOR Kaliki
Kondisi SOR Kaliki sebelum aksi ini memang memprihatinkan. Selama bertahun-tahun, fasilitas yang seharusnya menjadi kawah candradimuka atlet-atlet lokal ini tampak terbengkalai. Rumput liar dan ilalang setinggi pinggang orang dewasa telah menutupi hampir seluruh permukaan lapangan utama. Sudut-sudut tribun yang kotor dan tumpukan sampah menjadi pemandangan yang biasa, namun menyakitkan bagi mereka yang peduli pada kemajuan olahraga di Tasikmalaya.
Ketua KONI Kabupaten Tasikmalaya, Eri Purwantu, mengungkapkan bahwa gerakan ini lahir dari kegelisahan bersama. Baginya, merayakan gelar juara tanpa memberikan dampak positif pada ekosistem olahraga daerah terasa ada yang kurang. Oleh karena itu, KONI bersama Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menginisiasi langkah konkret untuk mengembalikan marwah stadion tersebut.
“Kami di KONI ingin menginisiasi sebuah gerakan kolektif. Tujuannya jelas, agar SOR Kaliki bisa kembali difungsikan sebagaimana mestinya. Di sisi lain, ini adalah bentuk tasyakur bin nikmat atas prestasi Persib yang juara tiga kali beruntun. Kami berharap aura juara itu menular ke tim sepak bola kita di Tasikmalaya,” ujar Eri saat berbincang dengan tim di tengah hiruk-pikuk kegiatan.
Misi Mematahkan Kutukan 33 Tahun
Bukan tanpa alasan SOR Kaliki menjadi fokus utama. Revitalisasi ini memiliki keterkaitan erat dengan kebangkitan sepak bola Kabupaten Tasikmalaya. Setelah penantian panjang selama 33 tahun, tim sepak bola Kabupaten Tasikmalaya akhirnya berhasil lolos kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat. Sebuah prestasi yang nyaris mustahil tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.
Sekretaris Umum KONI Kabupaten Tasikmalaya, Nana Sumarna, menegaskan bahwa ketiadaan tempat latihan yang layak sempat menjadi kendala besar bagi para atlet. Dengan lolosnya tim ke Porprov Jabar, kebutuhan akan lapangan representatif menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
“Ini adalah aset pemerintah dan kami di KONI memiliki kepentingan besar agar fasilitas ini bisa digunakan. Bayangkan, 33 tahun kami menunggu momen bisa kembali bersaing di Porprov. Sangat ironis jika semangat para atlet yang sedang membara justru padam hanya karena tidak ada lapangan untuk berlatih,” tegas Nana dengan nada optimis.
Sinergi Lintas Sektoral: Gotong Royong Ala Tasikmalaya
Keunikan dari aksi bersih-bersih ini adalah keterlibatan spektrum massa yang sangat luas. Tidak hanya pengurus KONI atau pejabat pemerintah, aksi ini juga melibatkan mahasiswa, anggota Polri dan TNI, personel Banser, komunitas pecinta alam, hingga pegiat lingkungan hidup. Bahkan, warga sekitar yang tidak terafiliasi dengan organisasi manapun ikut turun tangan karena merasa memiliki aset daerah tersebut.
Setiap kelompok membagi tugas dengan rapi. Ada yang fokus membabat ilalang menggunakan mesin, ada yang mengumpulkan sampah plastik, hingga tim yang bertugas mengangkut hasil pembersihan menggunakan kendaraan bak terbuka. Suasana kekeluargaan sangat kental terasa, jauh dari kesan anarkis yang seringkali membayangi selebrasi juara sepak bola.
“Kami memilih cara ini. Kalau yang lain mungkin berpesta dengan konvoi di jalan yang berisiko memacetkan arus lalu lintas, kami memilih berpeluh keringat di sini. Ini pesta juara versi kami, tasyakuran yang membawa manfaat jangka panjang,” tambah Nana sembari memantau progres pembersihan lapangan.
Harapan untuk Keberlanjutan dan Perawatan Rutin
Aksi satu hari ini tentu bukan akhir dari segalanya. Kekhawatiran akan kembalinya kondisi terbengkalai menjadi catatan penting bagi semua pihak. Warga sekitar, seperti Ujang (45), berharap pemerintah daerah tidak hanya bersemangat saat momen seremonial saja, tetapi juga memiliki anggaran dan komitmen untuk perawatan rutin.
“Senang melihat stadion bersih lagi. Dulu ini seperti hutan di tengah kota. Harapan saya, jangan sampai setelah dibersihkan hari ini, besok lusa dibiarkan tumbuh ilalang lagi. Harus ada penjaga atau pengelola yang benar-benar mengurus,” kata Ujang yang rumahnya tak jauh dari lokasi stadion.
Merespons aspirasi tersebut, Eri Purwantu menyatakan akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait di Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Tujuannya adalah menyusun skema pengelolaan yang berkelanjutan, sehingga SOR Kaliki tidak hanya menjadi tempat latihan dadakan, tetapi pusat aktivitas olahraga masyarakat yang nyaman dan membanggakan.
Menularkan Mental Juara ke Tingkat Lokal
Keberhasilan Persib Juara Liga 1 tiga kali berturut-turut dijadikan sebagai pemantik psikologis bagi para atlet Tasikmalaya. Melalui lingkungan latihan yang bersih dan layak, diharapkan tumbuh mentalitas pemenang dalam diri putra-putra daerah. Dengan SOR Kaliki yang mulai tertata, target prestasi di Porprov mendatang bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari itu ditutup dengan tradisi khas Nusantara, yakni doa bersama dan pemotongan tumpeng. Sebuah simbol rasa syukur yang mendalam atas segala pencapaian, sekaligus doa agar perjalanan olahraga di Kabupaten Tasikmalaya terus menanjak dan memberikan kebanggaan bagi masyarakatnya.
Dari Mangunreja, warga Tasikmalaya telah mengirimkan pesan kuat kepada seluruh pecinta bola di Indonesia: bahwa cara terbaik merayakan kemenangan adalah dengan membangun harapan baru, memperbaiki yang rusak, dan menyiapkan panggung bagi para calon juara masa depan.