Jejak Gelap Pelarian ‘Ustaz Tronton’: Menyingkap Tabir Predator Anak di Balik Jubah Dakwah Sukabumi
ZonaKabar — Sukabumi kini tengah dirundung mendung kelabu yang tak kunjung usai. Di balik keindahan alamnya, tersimpan sebuah luka mendalam yang dialami oleh enam santriwati di sebuah pondok pesantren di kawasan Cicantayan. Tokoh sentral dalam prahara ini adalah MSL, atau yang lebih dikenal publik dengan sebutan ‘Ustaz Tronton’. Pria yang dulu kerap menghiasi layar kaca di berbagai stasiun televisi nasional itu kini bukan lagi membawa pesan kedamaian, melainkan menjadi buronan yang paling dicari dalam kasus pencabulan anak di bawah umur.
Hilang Bak Ditelan Bumi: Misteri Keberadaan Sang Dai
Hingga detik ini, keberadaan MSL masih menjadi misteri besar. Seolah memiliki kemampuan untuk menghilang tanpa jejak, sang ustaz yang biasanya vokal dalam berdakwah kini bungkam seribu bahasa dalam pelariannya. Keluarga korban yang terpukul hebat hanya bisa meratapi nasib sembari menunggu kabar yang tak kunjung tiba. Rasa waswas menyelimuti hari-hari mereka, khawatir jika sang predator masih berkeliaran bebas dan berpotensi mencari mangsa baru di tempat lain.
Rangga Suria Danuningrat, Kuasa Hukum para korban dari LBH Pro Ummat, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Mereka terus mengawal ketat setiap langkah yang diambil oleh aparat kepolisian. “Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan Polres Sukabumi. Kami menekan pihak kepolisian agar lebih giat dan agresif dalam melakukan pengejaran. Pelaku harus segera diringkus untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas Rangga saat dihubungi oleh tim redaksi kami.
Kekhawatiran keluarga korban bukanlah tanpa alasan. Status MSL yang masih bebas menciptakan trauma psikologis yang berlapis. Mereka merasa tidak aman selama sosok yang telah menghancurkan masa depan anak-anak mereka belum mendekam di balik jeruji besi. Pelarian panjang ini menjadi tamparan keras bagi keadilan yang sedang diperjuangkan di Sukabumi.
Estafet Perburuan: Perubahan Komando di Polres Sukabumi
Pengejaran terhadap MSL kini memasuki babak baru seiring dengan adanya rotasi jabatan di lingkungan Polres Sukabumi. Tongkat estafet kepemimpinan Kasat Reskrim yang sebelumnya dipegang oleh AKP Hartono, kini resmi beralih ke tangan Iptu Dudi Suharyana per Mei 2026. Perubahan ini diharapkan membawa energi baru dan strategi yang lebih efektif dalam melacak jejak ‘Ustaz Tronton’.
Sebelumnya, AKP Hartono telah menetapkan MSL sebagai tersangka dan menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan nomor resmi Nomor: 11/III/RES.1/2026/SAT RESKRIM. Pengejaran maraton telah dilakukan, namun pelaku tampaknya cukup licin dalam menghindari sergapan petugas. Iptu Dudi Suharyana, sebagai pejabat baru, menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini. “Semuanya sedang berproses secepat mungkin. Mengingat statusnya yang sudah DPO, ini menjadi prioritas kami,” ujarnya singkat namun sarat akan ketegasan.
Modus ‘Ijazah Ilmu’ dan Manipulasi Relasi Kuasa
Kejahatan yang dilakukan MSL tergolong sangat rapi dan manipulatif. Sebagai seorang pimpinan pondok pesantren, ia memiliki relasi kuasa yang sangat kuat terhadap para santrinya. Dengan kedok agama dan janji-janji spiritual, ia menjerat kepolosan anak-anak yang rata-rata masih berusia 14 hingga 15 tahun. Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah iming-iming pemberian ‘ijazah ilmu’ agar para santri bisa mendapatkan berkah atau kemampuan spiritual tertentu.
“Awalnya berupa bujuk rayu yang halus. Ada juga yang menggunakan modus pengobatan alternatif, lalu meningkat menjadi janji pemberian ijazah ilmu. Dalam kondisi tersebut, anak-anak merasa patuh karena menganggap pelaku sebagai guru dan kiai yang harus ditaati,” ungkap Rangga membeberkan siasat keji sang oknum ustaz. Mirisnya, tindakan asusila ini tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren, tetapi juga merambah hingga ke hotel di kawasan Kadudampit dengan dalih ‘menemani Abi’ untuk urusan penting.
Berdasarkan keterangan saksi dan pendamping korban, tindakan pelecehan tersebut telah berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama, yakni sejak tahun 2021 hingga awal 2026. Para korban kerap kali tidak berdaya untuk melawan karena adanya ancaman halus maupun doktrin ketaatan buta kepada sang guru. Predator anak berkedok agama ini benar-benar memanfaatkan posisinya untuk memuaskan nafsu bejatnya.
Kesunyian di Ponpes Najmul Huda dan Amarah Warga
Kampung Cikondang, tempat berdirinya Pondok Pesantren Najmul Huda, kini tak lagi riuh dengan suara lantunan ayat suci. Bangunan yang dulunya menjadi pusat pendidikan agama itu kini berdiri sunyi, tak ubahnya seperti bangunan tua yang angker. Seluruh keluarga MSL beserta para santrinya telah pergi meninggalkan lokasi tersebut, menyisakan kekosongan yang menyesakkan dada warga sekitar.
Kemarahan warga memuncak ketika mereka menyadari bahwa nama baik kampung mereka telah dikotori oleh tindakan asusila sang ustaz. Sebagai bentuk protes dan pembersihan nama baik secara simbolis, warga secara gotong royong membongkar plang dan gapura pesantren menggunakan gerinda. Ketua RT setempat, Iwan Setiawan, mengungkapkan rasa kecewanya yang sangat mendalam.
“Kami tidak hanya merasa malu, tetapi merasa sangat dikotori. Dia adalah tokoh yang kami hormati, seorang dai kondang yang sering masuk TV, tapi perilakunya justru menjijikkan. Pembongkaran ini juga kami lakukan untuk membuka akses jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) agar lebih bermanfaat bagi orang banyak,” kata Iwan dengan nada penuh emosi. Warga berharap agar pelaku segera tertangkap agar keresahan di lingkungan mereka bisa segera berakhir.
Jejak Terakhir di Tangerang dan Intimidasi di Balik Layar
Upaya kepolisian dalam melacak MSL sebenarnya sempat membuahkan titik terang. Informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa pelaku sempat terdeteksi berada di wilayah Tangerang, Banten, sesaat setelah kepulangannya dari ibadah Umrah di awal tahun 2026. Namun, sebelum petugas berhasil melakukan penyergapan, MSL kembali berhasil meloloskan diri dan menghilang dari radar pemantauan.
Selain licin dalam pelarian, pihak keluarga korban juga sempat mendapatkan tekanan luar biasa sebelum kasus ini mencuat ke publik. SC, salah satu keluarga korban, mengungkapkan adanya upaya intimidasi dan penawaran sejumlah uang dari pihak-pihak tertentu yang berafiliasi dengan pelaku. “Ada ancaman, ada juga tawaran uang supaya kasus ini diselesaikan secara musyawarah saja dan tidak dibawa ke jalur hukum atau media. Kami sempat terdiam karena takut, namun nurani kami berkata bahwa keadilan bagi anak-anak kami jauh lebih berharga daripada uang tutup mulut tersebut,” pungkasnya.
Kini, publik menunggu langkah nyata dari kepolisian di bawah komando baru untuk segera mengakhiri pelarian ‘Ustaz Tronton’. Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kewaspadaan terhadap kekerasan seksual yang bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang dianggap paling suci sekalipun. Keadilan harus tegak, dan MSL harus segera dihadapkan pada hukum untuk menebus setiap tetes air mata para korbannya.