Menelusuri Jejak Kearifan Lokal di Desa Wisata Tikukur Sukabumi: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat
ZonaKabar — Kabupaten Sukabumi kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu lumbung kreativitas dan pariwisata di Jawa Barat. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, sebuah narasi baru tentang kemandirian ekonomi desa lahir dari Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi. Secara resmi, wilayah yang asri ini kini menyandang status sebagai Desa Wisata Tikukur, sebuah destinasi yang menjanjikan perpaduan antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan semangat gotong royong yang kental.
Peresmian ini dilakukan secara simbolis dan meriah oleh Bupati Sukabumi, Marwan Hamami (yang dalam konteks narasi ini diwakili oleh figur visioner), di tengah semarak Festival Seni Budaya Tikukur 2026. Berlokasi di Bale Tikukur, Desa Sukajaya, peresmian ini bukan sekadar seremoni pemotongan pita. Ini adalah momentum pengukuhan bagi 31 desa wisata baru di Kabupaten Sukabumi yang dinilai berhasil mentransformasi potensi lokal menjadi daya tarik ekonomi yang menjanjikan.
Filosofi Tikukur: Manifestasi Semangat Gotong Royong
Bagi telinga awam, kata “Tikukur” mungkin langsung merujuk pada jenis burung tekukur yang suaranya sering menghiasi pagi hari di pedesaan. Namun, di Desa Sukajaya, nama ini memiliki kedalaman makna yang jauh melampaui itu. Tikukur merupakan sebuah akronim dalam bahasa Sunda yang menjadi napas perjuangan masyarakat setempat: “Ti urang, ku urang, keur urang”—dari kita, oleh kita, dan untuk kita.
Filosofi ini mencerminkan kedaulatan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang mereka miliki. Segala bentuk pengembangan wisata yang ada di desa ini merupakan hasil buah pikir dan kerja keras kolektif warga. Budaya Sunda yang mengedepankan silih asah, silih asih, dan silih asuh tampak jelas dalam setiap sudut Desa Wisata Tikukur. Warga tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, melainkan menjadi aktor utama dalam pembangunan ekonomi kreatif di wilayahnya.
Visi Besar Bupati Sukabumi dalam Membangun Desa
Dalam sambutannya yang penuh inspirasi, Bupati Sukabumi menegaskan bahwa kekuatan sejati kabupaten ini terletak pada akar rumputnya. Menurut beliau, Sukabumi adalah raksasa yang sedang bangun, dengan potensi alam yang melimpah dan kreativitas produk UMKM yang tak ada habisnya. Kehadiran Desa Wisata Tikukur diharapkan mampu menjadi katalisator bagi desa-desa lain untuk berani menonjolkan keunikan wilayah masing-masing.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan industri besar. Kekuatan ekonomi yang paling tahan banting adalah ekonomi berbasis masyarakat. Dengan bantuan Komite Ekonomi Kreatif, desa wisata seperti Tikukur ini akan menjadi motor penggerak kesejahteraan,” ungkap Bupati. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka kunjungan sesaat.
Oase Hijau di Gerbang Kota: Lokasi Strategis yang Menguntungkan
Salah satu keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh Desa Wisata Tikukur adalah letak geografisnya. Kepala Desa Sukajaya, Deden Gunaefi, menjelaskan bahwa desanya berbatasan langsung dengan wilayah administrasi Kota Sukabumi. Hal ini menjadikan Desa Sukajaya sebagai pilihan utama bagi warga perkotaan yang mencari tempat beristirahat sejenak (healing) tanpa harus menempuh perjalanan yang melelahkan.
Di akhir pekan, area ini bertransformasi menjadi pusat aktivitas ekonomi. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan hijau yang menyegarkan mata, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan pertanian dan peternakan. “Banyak pengunjung yang datang untuk merasakan langsung pengalaman memetik hasil tani atau sekadar melihat peternakan lokal. Ini adalah bentuk wisata edukasi yang sangat diminati keluarga modern,” tutur Deden dengan bangga.
Roadmap Masa Depan: Menuju Destinasi Kelas Dunia
Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pariwisata tidak ingin pengukuhan 31 desa wisata ini hanya menjadi euforia sesaat. Kepala Dinas Pariwisata, Ali Iskandar, menyatakan bahwa pihaknya telah menyusun roadmap atau peta jalan yang komprehensif untuk memastikan keberlanjutan destinasi ini. Fokus utamanya adalah pada standarisasi pelayanan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Beberapa langkah strategis yang akan diambil antara lain:
- Pembinaan intensif bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) agar mampu mengelola destinasi secara profesional.
- Implementasi nilai-nilai Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, Kenangan) di setiap lini pelayanan.
- Digitalisasi pemasaran produk lokal melalui platform e-commerce dan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
- Pengembangan infrastruktur pendukung yang ramah lingkungan dan tidak merusak estetika alam desa.
Ali Iskandar menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam pariwisata adalah menjaga konsistensi. Wisatawan saat ini sangat cerdas; mereka mencari pengalaman (experience) yang autentik. Oleh karena itu, keramahtamahan warga lokal menjadi aset yang paling berharga yang harus dijaga.
Ekonomi Kreatif sebagai Tulang Punggung Desa
Desa Wisata Tikukur juga menjadi etalase bagi berbagai ekonomi kreatif lokal. Mulai dari kerajinan tangan, kuliner khas pedesaan, hingga atraksi seni budaya seperti yang ditampilkan dalam Festival Seni Budaya Tikukur 2026. Keberadaan desa wisata ini secara otomatis menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari pemandu wisata lokal, pengelola homestay, hingga pelaku industri kuliner.
Bagi Anda yang merencanakan liburan, Desa Wisata Tikukur menawarkan berbagai paket menarik. Anda bisa mencoba sensasi menyusuri sungai yang jernih, menikmati hidangan nasi liwet di pinggir sawah, hingga belajar membatik dengan motif khas Sukabumi. Semua ini disajikan dengan sentuhan hangat warga desa yang akan membuat Anda merasa seperti berada di rumah sendiri.
Kesimpulan: Sebuah Harapan dari Sukajaya
Peresmian Desa Wisata Tikukur adalah bukti nyata bahwa jika masyarakat dan pemerintah bersinergi, keterbatasan bisa diubah menjadi peluang. Kemandirian yang diusung melalui semangat “Ti urang, ku urang, keur urang” diharapkan tidak hanya menyejahterakan warga Desa Sukajaya secara finansial, tetapi juga melestarikan nilai-nilai luhur kebudayaan Sunda yang mulai tergerus zaman.
Mari kita dukung pariwisata lokal dengan berkunjung ke destinasi-destinasi seperti Desa Wisata Tikukur. Dengan berwisata di dalam negeri, kita turut berkontribusi dalam memperkuat ekonomi nasional dan menghargai karya-karya luar biasa dari tangan-tangan kreatif anak bangsa. Segera agendakan perjalanan Anda ke wisata Sukabumi dan rasakan sendiri keajaiban filosofi Tikukur di Desa Sukajaya.