Wajah Kusam Cagar Budaya: GKR Rumbay Berang Tembok Benteng Keraton Solo Jadi Sasaran Vandalisme

Aris Munandar | ZonaKabar
09 Jun 2026, 15:41 WIB
Wajah Kusam Cagar Budaya: GKR Rumbay Berang Tembok Benteng Keraton Solo Jadi Sasaran Vandalisme

ZonaKabar — Kota Solo, yang selama ini diagungkan sebagai pusat budaya Jawa dan penjaga tradisi, kini tengah menghadapi tantangan serius terkait pelestarian aset sejarahnya. Salah satu simbol kemegahan masa lalu, Tembok Benteng Keraton Kasunanan Surakarta yang terletak di kawasan Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, baru-baru ini menjadi korban aksi vandalisme yang sangat memprihatinkan. Coretan-coretan liar menggunakan cat semprot kini mengotori dinding bersejarah tersebut, memicu reaksi keras dari keluarga besar keraton.

Kekecewaan Mendalam dari GKR Panembahan Timoer Rumbay

Putri dari mendiang Paku Buwono XII, GKR Panembahan Timoer Rumbay, secara terbuka menyatakan kegeramannya atas aksi tidak terpuji tersebut. Saat ditemui tim redaksi di Kori Talangpaten, Keraton Solo, ia tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya melihat bangunan yang seharusnya dihormati justru diperlakukan tanpa estetika. Menurutnya, insiden ini bukan sekadar masalah coretan dinding, melainkan refleksi dari krisis pendidikan karakter di tengah masyarakat modern.

“Ya, sangat disayangkan. Ini adalah sebagai bentuk kurangnya edukasi maupun pendidikan untuk para generasi ataupun masyarakat terhadap benda-benda ataupun bangunan cagar budaya yang harusnya kita rawat atau kita lindungi,” ungkap GKR Rumbay dengan nada serius. Baginya, setiap jengkal tembok benteng tersebut menyimpan narasi sejarah panjang yang tidak ternilai harganya bagi identitas Kota Solo.

Baca Juga Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus
Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus

Tamparan Keras bagi Pihak Internal dan Pemerintah

Lebih lanjut, GKR Rumbay menekankan bahwa peristiwa ini harus dipandang sebagai sebuah peringatan atau tamparan keras. Bukan hanya bagi masyarakat luas, tetapi juga sebagai bahan evaluasi mendalam bagi internal Keraton Surakarta sendiri serta jajaran pemerintah daerah. Ia menilai bahwa upaya pelestarian cagar budaya tidak boleh hanya bersifat fisik, melainkan harus menyentuh aspek kesadaran kolektif.

“Mungkin ini adalah sebagai koreksi kita sebagai pemerintah ataupun Keraton Surakarta untuk lebih lagi mengedukasi masyarakat maupun generasi-generasi selanjutnya, supaya lebih mengerti dan melestarikan cagar budaya maupun budaya yang kita miliki,” tambahnya. Ia berharap ada langkah masif dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda agar mereka merasa memiliki (sense of belonging) terhadap warisan leluhur mereka.

Menelusuri Jejak Vandalisme di Jalan Reksoniten

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kerusakan visual yang diakibatkan oleh tangan-tangan jahil ini cukup masif. Coretan-coretan liar tersebut menghiasi sepanjang tembok benteng di sisi barat, tepatnya di sepanjang Jalan Reksoniten. Tidak tanggung-tanggung, aksi vandalisme ini membentang hingga lebih dari 500 meter, memberikan kesan kumuh dan tidak terawat pada salah satu objek wisata sejarah andalan tersebut.

Baca Juga Prediksi Line-Up Persib Bandung vs Persijap Jepara: Laga Hidup Mati Menuju Takhta Juara Super League
Prediksi Line-Up Persib Bandung vs Persijap Jepara: Laga Hidup Mati Menuju Takhta Juara Super League

Coretan-coretan tersebut didominasi oleh inisial dan kata-kata yang tidak memiliki makna jelas, seperti HYGO, FNDC, NDIK, ITO, RKA, YL, dan simbol-simbol lainnya. Penggunaan cat semprot dengan warna-warna kontras membuat kerusakan ini sangat mencolok mata, merusak tekstur dan warna asli dari tembok benteng yang sudah berusia ratusan tahun.

Respon Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, mengakui bahwa fenomena vandalisme di titik tersebut seolah menjadi masalah klasik yang sulit diberantas tuntas. Ia menyebutkan bahwa coretan-coretan tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama dan kerap muncul kembali meskipun sudah dibersihkan.

“Itu vandalisme sudah lama, sudah sering terjadi di situ,” ujar Maretha saat dikonfirmasi. Hal ini mengindikasikan bahwa pengawasan di area Bangunan Cagar Budaya (BCB) tersebut masih perlu ditingkatkan secara signifikan. Kurangnya pencahayaan di beberapa titik pada malam hari serta minimnya patroli keamanan disinyalir menjadi celah yang dimanfaatkan oleh para pelaku vandalisme untuk beraksi.

Baca Juga Jawa Tengah Diguncang Gempa Beruntun: Kendal, Kebumen, dan Banyumas Bergetar dalam Sehari
Jawa Tengah Diguncang Gempa Beruntun: Kendal, Kebumen, dan Banyumas Bergetar dalam Sehari

Langkah Strategis: Pengecatan Ulang dan Sinergi Antar-Lembaga

Sebagai langkah pemulihan jangka pendek, GKR Rumbay memastikan bahwa pihak keraton akan segera melakukan langkah-langkah konservasi. Salah satu tindakan nyata yang akan segera diambil adalah melakukan pengecatan ulang pada area-area yang terdampak coretan liar. Namun, proses ini tentu tidak semudah mengecat tembok rumah biasa, karena harus mempertimbangkan kaidah-kaidah pemeliharaan bangunan cagar budaya agar tidak merusak struktur aslinya.

Di sisi lain, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo tidak tinggal diam. Maretha menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kota Solo untuk meningkatkan pengawasan di area rawan vandalisme. Selain itu, kolaborasi dengan Dinas Pendidikan juga terus digalakkan untuk menyisipkan nilai-nilai cinta budaya dalam kurikulum sekolah, guna memutus rantai perilaku buruk ini dari akarnya.

Urgensi Perlindungan Hukum dan Kesadaran Masyarakat

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setiap orang yang dengan sengaja merusak Cagar Budaya dapat dikenakan sanksi pidana dan denda yang cukup berat. Namun, penegakan hukum semata tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat. Keraton Solo bukan sekadar properti milik keluarga bangsawan, melainkan pusaka bangsa yang menjadi daya tarik bagi pariwisata Indonesia di kancah internasional.

Baca Juga Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga
Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga

Kini, masyarakat Solo dan sekitarnya diajak untuk lebih peduli dan berani menegur jika melihat adanya aksi yang merusak fasilitas umum, apalagi benda cagar budaya. Kerjasama antara warga, pemerintah, dan pihak keraton menjadi kunci utama agar tembok benteng yang kokoh tersebut tidak lagi menjadi kanvas bagi ekspresi yang salah sasaran.

Harapan Masa Depan: Benteng sebagai Kebanggaan

Ke depannya, diharapkan ada penataan yang lebih terpadu di kawasan Benteng Keraton Solo. Penambahan lampu dekoratif yang terang, pemasangan CCTV di titik-titik strategis, serta pembuatan ruang ekspresi legal bagi para seniman grafiti di tempat lain bisa menjadi solusi alternatif. Solo harus membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan jejak-jejak sejarah yang telah membentuk jati diri kota ini.

GKR Rumbay berharap, melalui insiden pahit ini, muncul semangat baru bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kehormatan Keraton Surakarta. “Mari kita jaga bersama, karena ini adalah warisan kita semua, bukan hanya milik orang per orang atau golongan tertentu,” tutupnya penuh harap.

Baca Juga Kumpulan 28 Banner 1 Muharam 1448 H: Inspirasi Visual dan Ucapan Menyentuh untuk Menyambut Tahun Baru Islam
Kumpulan 28 Banner 1 Muharam 1448 H: Inspirasi Visual dan Ucapan Menyentuh untuk Menyambut Tahun Baru Islam
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *