Dualisme Sakral di Jantung Solo: Menelusuri Jejak Kirab Malam 1 Suro yang ‘Saling Memunggungi’ di Keraton Surakarta

Aris Munandar | ZonaKabar
16 Jun 2026, 21:41 WIB
Dualisme Sakral di Jantung Solo: Menelusuri Jejak Kirab Malam 1 Suro yang 'Saling Memunggungi' di Keraton Surakarta

ZonaKabar — Malam yang biasanya diselimuti oleh kesunyian sakral di jantung Kota Solo, kali ini membawa atmosfer yang berbeda namun tetap sarat akan nuansa magis. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat baru saja melangsungkan ritual tahunan Kirab Pusaka Malam 1 Suro BE 1960/2026. Namun, ada pemandangan yang tak biasa dalam prosesi kali ini. Di balik kepulan asap kemenyan dan langkah hening para abdi dalem, terlihat jelas dualisme yang masih menyelimuti istana Mataram Islam tersebut.

Pemandangan Unik di Sasana Sewaka: Dua Kubu, Satu Ruang

Pemandangan yang mencolok mata terjadi di Sasana Sewaka, bangunan megah yang menjadi pusat spiritual di dalam kompleks Keraton Surakarta. Berdasarkan pantauan mendalam tim di lapangan, dua figur utama yang merepresentasikan kepemimpinan keraton, yakni Paku Buwono XIV Mangkubumi dan Paku Buwono XIV Purbaya, hadir dalam waktu yang bersamaan. Namun, alih-alih bersanding, keduanya duduk dengan posisi yang saling membelakangi atau ‘memunggungi’.

Paku Buwono XIV Mangkubumi terlihat mengambil posisi duduk menghadap ke arah timur. Di sisi lain, Paku Buwono XIV Purbaya memilih untuk menghadap ke arah barat, tepatnya ke arah Sasana Parasedya. Fenomena ini seolah menjadi simbol visual dari dinamika internal yang tengah berlangsung, di mana meskipun berada dalam satu atap tradisi, jalan yang ditempuh masih belum sepenuhnya selaras. Meski demikian, suasana tetap berlangsung dengan khidmat tanpa adanya gesekan fisik yang berarti.

Baca Juga Prediksi Sengit PSS Sleman vs PSIS Semarang: Pertaruhan Gengsi dan Ambisi Promosi di Maguwoharjo
Prediksi Sengit PSS Sleman vs PSIS Semarang: Pertaruhan Gengsi dan Ambisi Promosi di Maguwoharjo

Identitas dan Jalur yang Berbeda

Perbedaan tidak hanya terlihat dari posisi duduk sang pemimpin, tetapi juga merambat hingga ke detil teknis para pengikutnya. Para peserta kirab dari pihak PB XIV Purbaya mengenakan kartu identitas khusus yang menampilkan foto sang raja. Hal ini menjadi pembeda yang kontras dengan peserta lainnya, menunjukkan betapa organisir dan terfragmentasinya manajemen tradisi budaya tahun ini.

Bahkan, titik kumpul para abdi dalem dan peserta kirab pun dipisahkan. Kelompok yang berafiliasi dengan PB XIV Purbaya terlihat memadati area Kori Talangpaten sebelum akhirnya memasuki pelataran utama. Sementara itu, massa pendukung PB XIV Mangkubumi lebih banyak berkonsentrasi di area Kori Kamandungan. Pembagian wilayah ini dilakukan untuk memastikan alur prosesi tetap tertata meski dijalankan oleh dua rangkaian yang berbeda.

Narasi dari Lembaga Dewan Adat (LDA)

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, yang berada di pihak PB XIV Mangkubumi, memberikan penjelasan mengenai struktur rangkaian acara versi mereka. Eddy mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan mendasar dalam urutan ritual tahun ini. Salah satu poin utamanya adalah pelaksanaan Haul PB X yang sudah dilangsungkan beberapa hari sebelumnya, sehingga pada malam puncak 1 Suro, fokus mereka tidak lagi pada peringatan tersebut.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Jalur Wuryantoro-Eromoko: Adu Banteng Dua Motor Tewaskan Tiga Orang, Termasuk Anak di Bawah Umur
Tragedi Berdarah di Jalur Wuryantoro-Eromoko: Adu Banteng Dua Motor Tewaskan Tiga Orang, Termasuk Anak di Bawah Umur

“Tentu ada banyak perbedaan teknis. Malam satu Suro ini sejatinya bertepatan dengan Haul PB X, namun kami sudah melaksanakannya kemarin. Tujuannya agar agenda hari ini tidak terlalu padat, karena setelah ini masih ada prosesi dukutan dan doa bersama,” ungkap Eddy saat ditemui di sela-sela kesibukannya di area Keraton Solo pada Selasa (16/6/2026).

Eddy juga menambahkan bahwa rangkaian acara mereka mencakup aspek spiritual yang mendalam, mulai dari doa bersama, perjalanan kirab, hingga bermunajat dan salat tahajud sembari menunggu pusaka kembali ke kediamannya. Ia menekankan pentingnya menjaga citra budaya Jawa yang luhur di mata dunia internasional, mengingat acara ini selalu menjadi sorotan wisatawan mancanegara.

Pesan Damai dan Penahanan Diri

Di tengah situasi yang sensitif, KPH Eddy Wirabhumi melayangkan pesan yang menyejukkan. Ia mengimbau seluruh elemen di dalam keraton untuk bisa saling menahan diri. Menurutnya, martabat keraton dan nama baik Indonesia jauh lebih penting daripada perselisihan internal yang tidak produktif.

“Kami berkomitmen penuh untuk menjaga harkat dan martabat keraton. Jangan sampai nilai kesantunan orang Jawa yang dikenal dunia internasional tercederai oleh masalah-masalah yang tidak mendasar. Kami berusaha semaksimal mungkin agar prosesi ini tetap berjalan dalam koridor keluhuran budaya,” tegasnya dengan nada yang tenang namun penuh wibawa.

Baca Juga Kesetiaan Tanpa Batas: Jawaban ‘Nyeleneh’ Jokowi Saat Ditanya Jagoan di Piala Dunia 2026
Kesetiaan Tanpa Batas: Jawaban ‘Nyeleneh’ Jokowi Saat Ditanya Jagoan di Piala Dunia 2026

Komitmen dari Pihak PB XIV Purbaya

Senada dengan semangat perdamaian, pihak PB XIV Purbaya melalui Juru Bicaranya, KPA Singonagoro, menyatakan bahwa segala persiapan telah dilakukan dengan sangat matang. Pihaknya menjamin bahwa komitmen menjaga kelancaran Malam 1 Suro adalah prioritas utama. Singonagoro menegaskan bahwa tradisi ini adalah warisan estafet kepemimpinan dari era PB XII dan PB XIII yang harus diteruskan dengan penuh tanggung jawab.

“Dari sisi Sinuhun (PB XIV Purbaya), semuanya sudah siap dan ditata sedemikian rupa. Insyaallah, kami berkomitmen menjaga agar Suro tahun ini berlangsung lancar, damai, dan terhindar dari gangguan oknum-oknum yang mungkin ingin memperkeruh suasana,” ujar Singonagoro saat ditemui di Kori Talangpaten.

Misteri Jumlah Pusaka dan Kebo Bule

Salah satu elemen yang paling dinanti oleh masyarakat dalam kirab ini adalah kemunculan Kebo Bule Kyai Slamet dan pusaka-pusaka keraton. Menariknya, tahun ini jumlah kerbau bule yang ikut serta terbatas. Diketahui hanya ada 3 ekor yang turun ke jalan, sementara 2 ekor lainnya harus absen karena sedang dalam masa birahi, sebuah detail biologis yang menunjukkan betapa keraton tetap memperhatikan aspek alami hewan-hewan sakral tersebut.

Baca Juga Skandal Restitusi Pajak Meledak: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Copot Dua Pejabat Tinggi Hari Ini
Skandal Restitusi Pajak Meledak: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Copot Dua Pejabat Tinggi Hari Ini

Mengenai jumlah pusaka yang dikirab, KPA Singonagoro belum bisa memberikan angka pasti. Ia menyatakan bahwa segala keputusan bergantung sepenuhnya pada titah atau ‘dawuh’ dari Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Purbaya. “Kami tidak berani ‘ndisiki kerso’ atau mendahului kehendak Sinuhun. Kita tunggu saja instruksinya saat ritual dimulai nanti,” tambahnya.

Harapan di Balik Ritual Suro

Meskipun dijalankan dalam dua rangkaian yang seolah berjalan sendiri-sendiri, substansi dari ritual Malam 1 Suro tetaplah sama: sebuah permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan refleksi diri atas apa yang telah dilalui setahun ke belakang. Masyarakat Solo yang memadati rute kirab seolah tidak terlalu memusingkan dinamika internal tersebut. Bagi mereka, melihat pusaka melintas dan mencium aroma dupa adalah bagian dari merawat ingatan kolektif akan jati diri mereka sebagai orang Jawa.

Prosesi yang berlangsung hingga dini hari ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya tembok keraton, terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga nyala api tradisi agar tidak padam. Terlepas dari perbedaan posisi duduk di Sasana Sewaka, doa-doa yang dipanjatkan oleh kedua belah pihak diyakini memiliki tujuan yang sama, yaitu kemakmuran bagi rakyat dan kejayaan bagi budaya nusantara.

Baca Juga Di Balik Nama Nyeleneh Dusun Pentil: Riwayat Perjuangan dan Filosofi Hidup Warga Rembang
Di Balik Nama Nyeleneh Dusun Pentil: Riwayat Perjuangan dan Filosofi Hidup Warga Rembang

Malam 1 Suro BE 1960 ini akhirnya mencatatkan sejarah baru. Sebuah catatan tentang bagaimana sebuah tradisi besar mampu tetap berdiri kokoh, meskipun di dalamnya terdapat riak-riak perbedaan yang menuntut kedewasaan dan kearifan dalam menyikapinya. Solo tetaplah Solo, kota yang tak pernah kehilangan jiwanya di tengah arus zaman yang terus berganti.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *