Momen Magis Malam 1 Suro di Mangkunegaran: Tradisi Udik-udik Gusti Bhre dan Filosofi Kepulangan Jiwa

Aris Munandar | ZonaKabar
16 Jun 2026, 23:40 WIB
Momen Magis Malam 1 Suro di Mangkunegaran: Tradisi Udik-udik Gusti Bhre dan Filosofi Kepulangan Jiwa

ZonaKabar — Di bawah naungan langit malam yang tenang namun sarat akan aura spiritual, Kota Solo kembali menjadi saksi bisu dari sebuah tradisi agung yang telah melintasi lorong waktu selama berabad-abad. Perayaan malam 1 Suro di Puro Mangkunegaran bukan sekadar seremoni pergantian kalender Jawa, melainkan sebuah simfoni budaya yang memadukan kekhidmatan doa dengan kedekatan emosional antara pemimpin dan rakyatnya. Puncak dari kehangatan ini terpancar saat Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X melangkah keluar untuk membagikan udik-udik, sebuah simbol keberkahan yang dinanti-nantikan oleh ribuan pasang mata.

Suasana di kawasan Pamedanan Puro Mangkunegaran terasa begitu hidup. Meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 22.00 WIB, semangat masyarakat tidak surut sedikit pun. Setelah menjalani prosesi kirab yang penuh keheningan, kemunculan sosok yang akrab disapa Gusti Bhre ini seolah menjadi oase di tengah penantian panjang warga. Mengenakan busana adat yang bersahaja namun tetap memancarkan wibawa, KGPAA Mangkunegara X didampingi oleh sang ibunda tercinta, Gusti Kanjeng Putri Prisca Marina, menyapa masyarakat dengan senyum yang tulus sebelum memulai tradisi sebar udik-udik.

Baca Juga Rahasia di Balik Nama Unik Kampung Kamar Bola Klaten: Eksistensi Ruang Rekreasi Elit Belanda yang Terlupakan
Rahasia di Balik Nama Unik Kampung Kamar Bola Klaten: Eksistensi Ruang Rekreasi Elit Belanda yang Terlupakan

Geliat Tradisi Udik-udik: Antara Berebut Berkah dan Harapan

Udik-udik dalam tradisi Jawa bukan sekadar koin atau benda mati. Ia adalah simbolisasi dari kedermawanan seorang pemimpin dan doa agar rezeki melimpah bagi rakyatnya. Ketika tangan Gusti Bhre mulai mengayunkan butiran-butiran keberkahan itu ke arah kerumunan, seketika suasana berubah menjadi riuh. Masyarakat dari berbagai lapisan usia tampak antusias, saling merapat, dan berusaha menangkap apa pun yang jatuh dari tangan sang adipati. Budaya Jawa yang kental dengan simbolisme ini membuat setiap keping koin yang didapat terasa begitu berharga.

Andre (30), seorang warga asli Solo, menjadi salah satu yang beruntung malam itu. Dengan peluh yang membasahi dahi setelah berdesakan di tengah lautan manusia, ia menunjukkan hasil perjuangannya. Sebuah koin Rp 1.000 yang bercampur dengan bunga dan biji-bijian kini berada di genggamannya. Bagi Andre, ini bukan soal nilai nominal uangnya, melainkan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Ia berencana menyimpan benda tersebut sebagai jimat keberuntungan atau yang sering disebut sebagai barang yang ‘ngerejekeni’.

Baca Juga Tragedi Tlogowungu: Akhir Perjalanan Ponpes di Pati yang Ditutup Permanen Akibat Skandal Kekerasan Seksual
Tragedi Tlogowungu: Akhir Perjalanan Ponpes di Pati yang Ditutup Permanen Akibat Skandal Kekerasan Seksual

“Perjuangannya luar biasa, harus berdesakan dengan warga lain. Tapi akhirnya dapat juga. Isinya ada koin, kembang, dan biji-bijian. Rencananya mau saya simpan saja di rumah, semoga ini membawa berkah dan memperlancar rezeki di tahun baru ini,” ujar Andre dengan mata berbinar saat ditemui oleh tim ZonaKabar di lokasi.

Ketegangan di Tengah Kerumunan dan Kesiagaan Abdi Dalem

Namun, antusiasme yang meluap terkadang membawa konsekuensi fisik yang berat. Dalam pantauan di lapangan, aksi saling dorong dan berdesakan tidak dapat terhindarkan. Ribuan orang yang memiliki tujuan yang sama menciptakan kepadatan yang luar biasa di area Pamedanan. Akibatnya, seorang ibu-ibu sempat jatuh pingsan karena kekurangan oksigen dan kelelahan di tengah kerumunan yang menyemut tersebut.

Kejadian ini segera direspons dengan sigap oleh para abdi dalem dan tim medis yang telah bersiaga sejak sore hari. Dengan penuh kehati-hatian, ibu tersebut dievakuasi ke area yang lebih longgar untuk mendapatkan perawatan medis. Kejadian ini menjadi pengingat betapa besarnya daya tarik tradisi Malam 1 Suro bagi masyarakat, yang bahkan rela mempertaruhkan fisik demi bisa merasakan langsung atmosfer sakral di Puro Mangkunegaran.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Grobogan: KA Argo Bromo Anggrek Hantam Avanza, Empat Nyawa Melayang
Tragedi Berdarah di Grobogan: KA Argo Bromo Anggrek Hantam Avanza, Empat Nyawa Melayang

Menuliskan Harapan: Ritual Anagata di Tahun Baru Jawa

Selain tradisi udik-udik, salah satu inovasi menarik dalam peringatan tahun ini adalah pemberian ruang bagi masyarakat untuk menuliskan harapan mereka di atas secarik kertas. Kertas-kertas penuh doa tersebut kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah kotak khusus. Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian ritual yang disebut Anagata, atau menyambut masa depan dengan optimisme.

Friska, seorang mahasiswa asal Semarang yang sengaja datang ke Solo untuk menyaksikan kirab malam 1 suro, tampak serius menuliskan impiannya. Baginya, momen pergantian tahun Jawa adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri dan menanamkan niat-niat baik. “Harapannya tentu yang bagus-bagus saja. Semoga selalu diberi kesehatan, rezeki lancar, dan yang terpenting kuliah saya bisa selesai tepat waktu dengan hasil memuaskan,” tuturnya dengan nada penuh harap.

Memahami Filosofi Atita, Atiki, dan Anagata

Ketua Panitia Penyelenggara 1 Suro Be 1960 Mangkunegaran, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau yang akrab disapa Gusti Sura, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara ini telah dirancang dengan landasan filosofis yang sangat dalam. Ia membagi peringatan ini ke dalam tiga kategori utama yang mencerminkan perjalanan hidup manusia.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Jenar Sragen: Bocah Kelas 5 SD Tewas Mengenaskan di Rumah, Diduga Jadi Korban Pembunuhan dan Perampokan
Tragedi Berdarah di Jenar Sragen: Bocah Kelas 5 SD Tewas Mengenaskan di Rumah, Diduga Jadi Korban Pembunuhan dan Perampokan
  • Atita: Merupakan fase untuk melepaskan segala hal yang telah berlalu di masa lalu. Hal ini dimaknai dengan ritual doa, santap sore menu ‘mutih’ sebagai bentuk penyucian diri sebelum tirakat, hingga pelaksanaan Kirab Pusaka Dalem yang sunyi.
  • Atiki: Mewakili kesadaran penuh untuk hadir di saat ini. Pada tengah malam, rangkaian ini dilanjutkan dengan meditasi atau semedi, di mana seseorang diajak untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan Tuhan tanpa gangguan dari luar.
  • Anagata: Adalah fase menyambut masa depan. Ini diwujudkan melalui laku sembah catur, menulis kartu harapan, dan larasati, sebagai simbol kesiapan jiwa menghadapi apa yang akan datang dengan penuh ketenangan.

Menurut Gusti Sura, perayaan di Puro Mangkunegaran ini bukan sekadar tontonan visual bagi turis, melainkan undangan bagi setiap individu untuk kembali ke jati dirinya. “Satu Suro adalah upacara ritual adat yang sangat sakral, penuh makna, refleksi, dan rasa syukur. Kami ingin mengajak masyarakat untuk ‘pulang’,” tegasnya dalam sebuah konferensi pers beberapa waktu lalu.

Baca Juga Duduk Perkara Siswa SD Pemalang Mogok Sekolah: Buntut Kritik Ortu Soal Makan Gratis dan Pungutan LKS
Duduk Perkara Siswa SD Pemalang Mogok Sekolah: Buntut Kritik Ortu Soal Makan Gratis dan Pungutan LKS

Konsep ‘Mulih’: Esensi Kembali ke Jati Diri

Kata ‘Mulih’ atau pulang menjadi tema sentral yang diangkat oleh pihak Mangkunegaran tahun ini. Makna pulang di sini memiliki dimensi yang luas—bukan hanya sekadar pulang ke rumah fisik, melainkan pulang ke alam semesta dan pulang ke dalam diri sendiri. Dalam hiruk pikuk dunia modern yang seringkali menjauhkan manusia dari akar budayanya, Mangkunegaran ingin menjadi tempat bagi masyarakat untuk memulihkan diri atau ‘pulih’.

“Pulang ke rumah, pulang ke alam, pulang untuk kembali ke diri sendiri. Itulah spirit atau makna dari Suro di Mangkunegaran, yaitu pulang atau mulih. Tentu pulang ini terkait dengan memulihkan diri kita sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru,” tambah Gusti Sura. Semangat ini seolah teresonansi dalam setiap langkah kaki para peserta kirab yang berjalan tanpa alas kaki, menyentuh bumi secara langsung sebagai simbol penyatuan dengan alam.

Malam 1 Suro di Solo memang selalu memiliki daya magis tersendiri. Dengan kehadiran dua raja dari keraton yang berbeda serta ribuan masyarakat yang tumpah ruah, Solo kembali membuktikan diri sebagai pusat peradaban Jawa yang tetap relevan di masa kini. Solo bukan hanya sekadar kota, melainkan sebuah ruang luas di mana tradisi dipelihara dengan cinta, dan masa depan disambut dengan doa yang tulus.

Bagi siapa pun yang hadir malam itu, pengalaman di Mangkunegaran meninggalkan kesan mendalam. Bukan hanya tentang seberapa banyak udik-udik yang didapat, atau seberapa megah pusaka yang diarak, melainkan tentang perasaan damai saat bisa merenung sejenak di tengah keheningan malam, sembari berharap agar tahun yang baru membawa kebaikan bagi semua makhluk di bumi.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *