Analisis Mendalam: Mengapa PB XIV Purbaya Batalkan Kirab Pusaka Malam 1 Suro secara Mendadak?

Aris Munandar | ZonaKabar
17 Jun 2026, 03:41 WIB
Analisis Mendalam: Mengapa PB XIV Purbaya Batalkan Kirab Pusaka Malam 1 Suro secara Mendadak?

ZonaKabar — Suasana khidmat nan magis yang biasanya menyelimuti Kota Surakarta saat pergantian tahun baru Hijriah atau Malam 1 Suro, kali ini menyisakan sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat dan pemerhati budaya Jawa. Secara mengejutkan, Raja Keraton Solo dari kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya mengambil keputusan besar di detik-detik terakhir untuk tidak menggelar prosesi kirab pusaka yang sangat dinantikan.

Keputusan ini tentu mengundang perhatian luas, mengingat kirab pusaka bukan sekadar seremonial, melainkan simbol spiritualitas dan identitas bagi Keraton Surakarta. Sementara itu, di sisi lain, kubu Paku Buwono XIV Mangkubumi tetap melangsungkan tradisi tersebut dengan meriah. Perbedaan langkah ini memicu diskusi mengenai arah kebijakan internal keraton dan bagaimana perlindungan terhadap benda-benda pusaka dijalankan di tengah dinamika yang ada.

Keputusan di Detik Terakhir: Keselamatan Pusaka Menjadi Prioritas Utama

Pengageng Paran Parakarsa PB XIV Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat, atau yang lebih akrab disapa Kanjeng Dany, memberikan penjelasan resmi terkait pembatalan ini. Berbicara di hadapan awak media di kompleks Keraton Solo pada Rabu dini hari, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut datang langsung dari dawuh (perintah) Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV Purbaya.

Baca Juga Sungai Gunung Sukorini Meluap, Banjir Bandang Terjang Citrosono Magelang: Motor Hanyut dan Belasan Rumah Terendam Lumpur
Sungai Gunung Sukorini Meluap, Banjir Bandang Terjang Citrosono Magelang: Motor Hanyut dan Belasan Rumah Terendam Lumpur

“Dengan mempertimbangkan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan pertimbangan teknis lainnya, maka Sinuhun memutuskan untuk tidak miyoskan (mengeluarkan) pusaka pada malam hari ini,” ujar Kanjeng Dany. Istilah ‘miyoskan’ dalam tradisi keraton merujuk pada prosesi mengeluarkan benda-benda keramat yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi dari tempat penyimpanannya untuk diarak keliling kota.

Kanjeng Dany menekankan bahwa keselamatan fisik dan spiritual dari pusaka-pusaka tersebut adalah tanggung jawab penuh sang raja. Dalam pandangan keraton, pusaka bukan hanya benda mati, melainkan warisan leluhur yang harus dijaga kehormatannya. Keputusan ‘last minute’ ini menunjukkan adanya pertimbangan mendalam mengenai situasi keamanan dan kondusivitas lingkungan sebelum pusaka-pusaka tersebut diekspos ke publik.

Lebih dari Sekadar Kirab: Esensi Spiritual Malam 1 Suro

Masyarakat seringkali menyamakan peringatan Malam 1 Suro hanya dengan ritual kirab pusaka. Namun, Kanjeng Dany meluruskan persepsi tersebut. Menurutnya, rangkaian upacara adat dalam menyambut tahun baru Jawa sangatlah luas dan mendalam, tidak melulu soal arak-arakan di jalanan protokol.

“Upacara peringatan Malam 1 Suro itu bukan cuma kirab saja. Ada rangkaian panjang yang tetap kami jalankan dengan khidmat,” jelasnya. Beberapa agenda penting yang tetap dilaksanakan antara lain adalah Haul Dalem Pakubuwono X, seorang raja besar yang dikenal membawa masa keemasan bagi Keraton Surakarta. Selain itu, dilaksanakan pula wilujengan, doa bersama, serta iktikaf dan salat hajat di Masjid Pujosono.

Baca Juga Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan Siap Menggetarkan Stadion Azteca
Jadwal Pembukaan Piala Dunia 2026: Meksiko vs Afrika Selatan Siap Menggetarkan Stadion Azteca

Ritual spiritual ini berlanjut dengan doa di Bandengan dan berbagai lokasi sakral lainnya di dalam kompleks keraton. Bagi kubu PB XIV Purbaya, fokus tahun ini adalah pada penguatan batin dan doa syukur (manunggaling kawula gusti) daripada perayaan fisik yang melibatkan massa besar. Hal ini dianggap lebih relevan dalam menjaga kesucian malam yang dianggap penuh berkah tersebut.

Dinamika Internal dan Penegasan Otoritas Raja

Banyak pihak berspekulasi bahwa pembatalan ini berkaitan dengan fakta bahwa kubu PB XIV Mangkubumi telah lebih dulu memulai kirab mereka. Namun, tudingan tersebut dibantah keras oleh pihak Purbaya. Kanjeng Dany menyatakan bahwa keputusan ini murni berdasarkan kajian internal dan otoritas penuh sang raja yang bertakhta.

“Ini bukan soal keduluan atau adanya pihak lain. Intinya, otoritas atas pusaka keraton berada sepenuhnya di tangan Sinuhun yang bertakhta, SISKS Pakubuwono ke-14. Malam ini, beliau menunjukkan otoritasnya dengan tetap menjaga Ndalem Ageng dalam posisi terkunci. Itu adalah bukti bahwa pusaka aman dan terjaga di tempatnya,” tegas Kanjeng Dany kepada tim ZonaKabar.

Baca Juga Aksi Nekat Mobil Terobos Perlintasan Layur Semarang: Detik-Detik Nyaris Dihantam KA Anggrek yang Viral
Aksi Nekat Mobil Terobos Perlintasan Layur Semarang: Detik-Detik Nyaris Dihantam KA Anggrek yang Viral

Visualisasi dari keputusan ini terlihat jelas dengan ditariknya kembali peralatan penerangan seperti oncor (obor) yang sebelumnya sudah disiapkan di area keberangkatan. Meskipun persiapan teknis sudah mencapai tahap akhir, kepatuhan terhadap dawuh raja tetap menjadi hukum tertinggi bagi seluruh abdi dalem.

Ruang Bagi Abdi Dalem untuk ‘Laku Lampah’ Mandiri

Meski kirab resmi ditiadakan, pihak keraton tidak menutup pintu bagi para abdi dalem dan sentana dalem yang ingin menjalankan ritual pribadi. Pihak manajemen keraton mempersilakan mereka yang ingin melakukan laku lampah atau berkeliling secara mandiri untuk bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Bagi para abdi dalem atau sentana dalem yang memang ingin berkeliling, berdoa, dan melakukan tirakat malam hari ini, kami persilakan. Itu adalah hak spiritual masing-masing individu untuk mencari keberkahan di malam 1 Suro,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun struktur organisasi tidak bergerak secara kolektif dalam kirab, semangat tradisi Solo tetap hidup dalam sanubari masing-masing individu.

Banyaknya peserta yang sudah hadir sejak sore hari memang sempat merasakan kekecewaan, namun setelah mendapatkan penjelasan mengenai prioritas keselamatan pusaka, mereka perlahan memahami. Bagi sebagian warga, kehadiran mereka di sekitar keraton saja sudah dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Baca Juga Skandal Kekerasan Seksual di Undip Semarang: Modus ‘Mahasiswa Agamis’ Berujung Pengakuan Viral di Media Sosial
Skandal Kekerasan Seksual di Undip Semarang: Modus ‘Mahasiswa Agamis’ Berujung Pengakuan Viral di Media Sosial

Menjaga Warisan di Tengah Tantangan Zaman

Fenomena batalnya kirab ini memberikan gambaran betapa kompleksnya pengelolaan warisan budaya Indonesia di era modern. Keraton Surakarta, sebagai salah satu pilar kebudayaan Jawa, seringkali harus berhadapan dengan pilihan sulit antara mengikuti animo masyarakat atau tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip konservasi pusaka yang ketat.

Pusaka-pusaka keraton seperti tombak, keris, hingga kereta kencana, memiliki usia ratusan tahun. Kerusakan sekecil apa pun saat prosesi kirab akan menjadi kerugian tak ternilai bagi sejarah bangsa. Oleh karena itu, langkah PB XIV Purbaya yang memilih untuk mengutamakan keamanan pusaka dapat dilihat sebagai bentuk kehati-hatian profesional dalam manajemen aset budaya.

Ke depannya, publik berharap agar dinamika internal di dalam tubuh keraton dapat segera menemui titik temu demi kelestarian tradisi yang lebih harmonis. Namun untuk saat ini, sunyinya jalanan dari derap langkah kaki peserta kirab PB XIV Purbaya menjadi pengingat bahwa dalam tradisi Jawa, terkadang diam dan mengunci pintu (iktikaf) memiliki makna spiritual yang lebih dalam daripada hiruk-pikuk perayaan di luar sana.

Baca Juga Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP
Skandal Upeti Karaoke di Demak: Menelusuri Jejak Oknum LSM yang Mencatut Nama Satpol PP

Kesimpulan: Esensi 1 Suro yang Tak Tergantikan

Malam 1 Suro di Keraton Surakarta kali ini memberikan pelajaran berharga bahwa esensi dari sebuah tradisi terletak pada niat dan kesucian pelaksanaannya, bukan hanya pada kemegahan acaranya. Meskipun kirab pusaka oleh PB XIV Purbaya ditiadakan, rangkaian doa dan ritual di dalam tembok keraton tetap berdenyut kencang.

Keputusan yang diambil oleh Sinuhun Pakubuwono XIV Purbaya adalah cerminan dari tanggung jawab seorang pemimpin dalam melindungi apa yang dianggap paling berharga oleh institusinya. Bagi masyarakat Solo dan pecinta budaya, peristiwa ini menambah catatan sejarah baru dalam perjalanan panjang Keraton Surakarta di abad ke-21. Mari kita tetap menjaga dan menghormati setiap keputusan adat yang diambil, demi tegaknya marwah kebudayaan nusantara.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *