Teror Air Keras di Tasikmalaya: Seorang Kurir Ekspedisi Ngamuk, Sembilan Pegawai Konveksi Jadi Korban Brutalitas

Dewi Lestari | ZonaKabar
04 Mei 2026, 23:41 WIB
Teror Air Keras di Tasikmalaya: Seorang Kurir Ekspedisi Ngamuk, Sembilan Pegawai Konveksi Jadi Korban Brutalitas

ZonaKabar — Suasana tenang di sebuah rumah produksi konveksi yang terletak di Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, seketika berubah menjadi medan horor yang mencekam pada Senin (4/5/2026) malam. Sebuah aksi penganiayaan brutal terjadi ketika seorang pria secara membabi buta menyiramkan cairan kimia berbahaya atau air keras ke arah para pekerja yang sedang sibuk menyelesaikan pesanan. Insiden tragis ini mengakibatkan sembilan orang pegawai mengalami luka bakar serius, di mana jeritan kesakitan memecah keheningan malam di kampung tersebut.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.00 WIB ini mengejutkan warga sekitar dan rekan kerja korban. Kriminal Tasikmalaya kembali mencatatkan tinta hitam dengan aksi penyerangan yang tergolong sangat sadis dan terencana ini. Pelaku yang belakangan diketahui berprofesi sebagai seorang sopir ekspedisi, mendatangi lokasi dengan perlengkapan yang seolah sudah dipersiapkan untuk melakukan aksi jahatnya tanpa ingin dikenali dengan mudah.

Kronologi Penyerangan yang Mencekam

Menurut saksi mata di lokasi kejadian, pelaku datang menggunakan sepeda motor dengan mengenakan helm tertutup dan jas hujan, meskipun saat itu kondisi cuaca tidak sedang hujan lebat. Penampilan ini diduga kuat sebagai upaya untuk melindungi dirinya sendiri dari percikan zat kimia yang dibawanya. Sambil menenteng sebuah botol plastik berwarna putih, pelaku masuk ke area kerja konveksi dan mulai berteriak-teriak histeris, menciptakan suasana intimidatif bagi siapa saja yang mendengarnya.

Baca Juga Kreasi Dapur Akhir Pekan: 8 Resep Camilan Sederhana yang Bikin Kumpul Keluarga Makin Hangat
Kreasi Dapur Akhir Pekan: 8 Resep Camilan Sederhana yang Bikin Kumpul Keluarga Makin Hangat

Tanpa basa-basi dan tanpa peringatan apa pun, pria tersebut mulai menyiramkan isi botol yang berisi cairan korosif tersebut secara acak. Sasaran utamanya adalah siapa saja yang berada di jangkauannya. Aksi ini begitu cepat sehingga para pegawai yang sedang fokus bekerja tidak memiliki waktu yang cukup untuk menghindar atau menyelamatkan diri dari teror air keras tersebut.

Abdul Holik, salah satu korban yang kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya, menceritakan betapa mendadaknya serangan tersebut. Saat kejadian, ia sedang merapikan hasil produksi di sudut ruangan. “Si pelaku datang sudah langsung teriak-teriak. Dia pakai helm dan jas hujan, tangannya memegang botol putih. Tiba-tiba saja cairan itu disiramkan ke arah kami. Saya terkena di bagian punggung dan sebagian wajah,” tutur Holik dengan nada suara yang masih menyiratkan trauma mendalam.

Jeritan Kesakitan dan Kepulan Asap Kimia

Dampak dari siraman air keras tersebut sangat instan dan menghancurkan. Wina (21), seorang karyawati yang saat itu sedang duduk di depan komputer untuk mengerjakan tugas administrasi, menjadi salah satu korban yang paling malang. Karena posisinya yang membelakangi pintu masuk, ia tidak menyadari kedatangan pelaku. Saat cairan tersebut mengenai wajahnya, rasa panas yang luar biasa langsung menjalar.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Cirebon Minggu 24 Mei 2026: Langit Mendung dan Potensi Hujan Sedang Membayangi Kota Udang
Prakiraan Cuaca Cirebon Minggu 24 Mei 2026: Langit Mendung dan Potensi Hujan Sedang Membayangi Kota Udang

“Saya tidak sempat lari. Semuanya terjadi begitu cepat,” ungkap Wina singkat sambil menahan perih. Kejadian ini memicu kekacauan luar biasa di dalam pabrik konveksi yang mempekerjakan puluhan orang tersebut. Asap pekat berwarna putih mulai mengepul dari pakaian dan kulit para korban yang terkena reaksi kimia dari cairan berbahaya tersebut, menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan seperti di dalam film horor.

Angga, seorang pegawai lainnya yang kebetulan sedang berada di area dapur saat serangan dimulai, mengaku mendengar suara jeritan yang memilukan dari ruang produksi utama. Saat ia mencoba melihat apa yang terjadi, pandangannya terhalang oleh asap yang sangat menyengat di hidung dan mata. “Banyak sekali rekan saya yang menjerit kesakitan. Ruangan itu penuh asap pekat, baunya sangat menyengat, mungkin itu reaksi dari air keras yang mengenai kain dan kulit,” jelas Angga.

Upaya Penyelamatan Darurat di Selokan

Dalam kondisi panik dan rasa terbakar yang tak tertahankan, para korban berusaha mencari sumber air terdekat. Rebutan keran air di area dapur pun tak terelakkan. Melihat situasi yang semakin kacau dan banyaknya korban yang membutuhkan pertolongan cepat, Angga segera membuka pintu belakang bangunan menuju area terbuka yang memiliki aliran air.

Baca Juga Cirebon Raya Berduka: Dari Skandal Guru Honorer Cabuli Belasan Murid hingga Tragedi Maut di Tol Cipali
Cirebon Raya Berduka: Dari Skandal Guru Honorer Cabuli Belasan Murid hingga Tragedi Maut di Tol Cipali

Karena jumlah keran yang terbatas, beberapa korban terpaksa melakukan tindakan nekat demi meredam rasa panas yang menggerogoti kulit mereka. “Mereka sampai merendam luka-lukanya di selokan belakang. Apa saja yang penting ada air mengalir karena rasanya pasti sangat menyiksa jika dibiarkan,” tambah Angga. Evakuasi korban dilakukan secara swadaya oleh rekan-rekan mereka sebelum akhirnya bantuan medis datang ke lokasi.

Setelah cairan di dalam botol tersebut habis, pelaku yang sudah terdesak akhirnya berhasil diringkus oleh para pegawai pria lainnya. Emosi yang memuncak membuat pelaku sempat menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya petugas kepolisian dari Polsek Manonjaya tiba di lokasi untuk mengamankan situasi dan membawa pelaku ke kantor polisi untuk menghindari aksi main hakim sendiri yang lebih fatal.

Penyelidikan Polisi dan Kondisi Medis Korban

Kapolsek Manonjaya, AKP Soni Alamsyah, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menangani kasus ini dengan serius. Berdasarkan pendataan awal, terdapat sembilan orang yang menjadi korban dalam aksi penyiraman ini. Enam orang yang mengalami luka bakar kategori sedang hingga berat dirujuk ke RSUD dr Soekardjo, sementara tiga korban lainnya dengan luka ringan mendapatkan perawatan di Puskesmas Cibeureum.

Baca Juga Misteri Penghuni Gelap di Basement: Kisah Nyata Bak Film Parasite yang Menimpa Pasangan Lansia
Misteri Penghuni Gelap di Basement: Kisah Nyata Bak Film Parasite yang Menimpa Pasangan Lansia

“Benar, telah terjadi peristiwa penganiayaan berat dengan cara penyiraman air keras di Kampung Gunajaya, Desa Gunajaya. Kejadiannya selepas Isya. Pelaku saat ini sudah kami amankan dan kasusnya dilimpahkan ke Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota untuk pendalaman lebih lanjut,” ujar AKP Soni kepada tim jurnalis.

Mengenai motif di balik aksi brutal ini, pihak kepolisian masih melakukan interogasi mendalam terhadap pelaku. Namun, informasi sementara menyebutkan bahwa pelaku adalah seorang kurir atau sopir ekspedisi yang memang rutin mengambil dan mengantar barang dari konveksi tersebut. Belum diketahui secara pasti apakah ada dendam pribadi atau konflik pekerjaan yang memicu pelaku melakukan tindakan senekat itu. “Motifnya masih didalami, yang jelas pelaku ini orang yang sudah dikenal di lingkungan konveksi tersebut karena pekerjaannya sebagai kurir barang,” imbuh Soni.

Dampak Psikologis dan Keamanan Kerja

Tragedi ini menyisakan trauma mendalam tidak hanya bagi para korban fisik, tetapi juga bagi puluhan karyawan lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Ancaman kekerasan di lingkungan kerja kini menjadi sorotan utama bagi para pelaku usaha di Tasikmalaya. Keamanan di area rumah produksi yang bersifat terbuka perlu dievaluasi kembali untuk mencegah orang asing atau pihak yang memiliki niat jahat masuk dengan mudah.

Baca Juga Misi Rahasia di Rimba Sukabumi: Mengungkap Cara Kerja 80 Kamera Pengintai Macan Tutul Jawa
Misi Rahasia di Rimba Sukabumi: Mengungkap Cara Kerja 80 Kamera Pengintai Macan Tutul Jawa

Hingga berita ini diturunkan, kondisi enam korban di RSUD dr Soekardjo dilaporkan masih stabil namun membutuhkan observasi berkelanjutan, terutama bagi korban yang terkena siraman di area sensitif seperti wajah dan leher. Luka akibat air keras seringkali memerlukan proses pemulihan yang lama dan prosedur bedah plastik jika terjadi kerusakan jaringan yang parah.

Pihak keluarga korban berharap hukum ditegakkan seadil-adilnya. Mengingat dampak permanen yang bisa ditimbulkan oleh air keras, pelaku terancam dijerat dengan pasal penganiayaan berat yang membawa hukuman penjara bertahun-tahun. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwajib sambil terus mendoakan kesembuhan bagi para korban yang tengah berjuang melawan rasa sakit.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *