Strategi Majalengka Menuju Lumbung Pangan Nasional: Mengandalkan Padi, Jagung, dan Optimalisasi Lahan
ZonaKabar — Di tengah gencarnya upaya pemerintah pusat dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional, Kabupaten Majalengka tampil di barisan terdepan sebagai salah satu penyokong utama. Daerah yang masyhur dengan julukan ‘Kota Angin’ ini tidak hanya mengandalkan keberuntungan geografis, tetapi juga strategi pertanian yang terukur dan terintegrasi untuk menjaga kestabilan pasokan pangan, baik di tingkat regional maupun nasional.
Kabupaten Majalengka terus memperkuat otot-otot sektor agrarisnya. Berdasarkan data terbaru, komoditas padi tetap menjadi primadona utama, disusul oleh jagung dan tebu yang kini mulai menunjukkan grafik pertumbuhan yang signifikan. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan lokal, melainkan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah.
Padi Majalengka: Tulang Punggung Kedaulatan Pangan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Majalengka, Gatot Sulaeman, dalam keterangannya mengungkapkan bahwa sektor padi masih menjadi kontributor terbesar bagi ekonomi pertanian daerah. Pada sepanjang tahun 2025, angka produksi padi di Majalengka menyentuh angka yang fantastis, yakni mencapai 656.840 ton gabah.
Pencapaian luar biasa ini lahir dari pemanfaatan luas areal tanam yang mencapai 102.976 hektare. Gatot menekankan bahwa efisiensi lahan dan penggunaan teknologi pertanian tepat guna menjadi kunci di balik produktivitas tersebut. “Produksi pangan kita di Majalengka masih didominasi oleh padi dan palawija. Dengan luas areal lebih dari 100 ribu hektare, kami mampu menghasilkan ratusan ribu ton gabah,” jelas Gatot saat memberikan keterangan resmi.
Lebih lanjut, Gatot memaparkan bahwa melimpahnya hasil panen ini membawa Majalengka ke posisi surplus beras yang sangat aman. Jika dikonversi dari total produksi gabah sebesar 656.840 ton, maka dihasilkan sekitar 420.509 ton beras siap konsumsi. Mengingat jumlah penduduk Majalengka yang berkisar di angka 1,3 juta jiwa, angka produksi ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi domestik.
“Ini adalah kabar baik bagi ketahanan pangan kita. Surplus ini membuktikan bahwa Majalengka tidak hanya mampu memberi makan warganya sendiri, tetapi juga mengirimkan kelebihan pasokannya ke daerah lain melalui mekanisme serapan gabah oleh Bulog,” tambahnya. Bahkan, saking melimpahnya, gudang-gudang penyimpanan Bulog di wilayah Majalengka sempat mencapai kapasitas maksimal saat program Sergap (Serapan Gabah Petani) berlangsung.
Jagung dan Palawija: Pilar Pendukung yang Solid
Meskipun padi menjadi sorotan utama, Majalengka tidak ingin terjebak dalam monokultur. Sektor palawija, khususnya jagung, dikembangkan secara serius sebagai pilar kedua ketahanan pangan. Luas lahan jagung di Majalengka kini telah mencapai 15.666 hektare dengan total produksi yang tidak main-main, yakni mencapai 122.375 ton sepanjang tahun 2025.
Diversifikasi pangan ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas ekonomi petani di saat musim tanam padi tidak memungkinkan. Selain jagung, DKP3 juga mencatat keragaman komoditas palawija lainnya yang turut berkontribusi, di antaranya:
- Kedelai: 18 ton
- Kacang tanah: 389 ton
- Kacang hijau: 132 ton
- Ubi kayu (singkong): 1.377 ton
- Ubi jalar: 7.124 ton
Kehadiran berbagai komoditas ini memastikan bahwa ketersediaan pangan di Majalengka tetap beragam dan tidak hanya bergantung pada satu jenis karbohidrat saja. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan gizi masyarakat melalui konsumsi pangan lokal yang bervariasi.
Ambisi Swasembada Gula Melalui Perkebunan Tebu
Sektor perkebunan juga tak luput dari perhatian. Majalengka kini tengah berakselerasi untuk mendukung program swasembada gula nasional melalui komoditas tebu. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah program ‘bongkar ratoon’ atau pembongkaran tanaman lama untuk diganti dengan bibit tebu baru yang lebih produktif.
Gatot Sulaeman menyebutkan bahwa pada tahun 2025, target bongkar ratoon seluas 1.000 hektare telah berhasil dicapai sepenuhnya. Untuk tahun ini, ambisinya jauh lebih besar. Pemerintah menargetkan perluasan lahan dan program bongkar ratoon hingga mencapai 2.200 hektare guna mempercepat swasembada gula.
“Saat ini, total luas lahan untuk komoditas tebu di Majalengka sudah mencapai sekitar 5.029 hektare. Kami terus berupaya memperluas ini agar Majalengka bisa menjadi salah satu produsen gula utama di Jawa Barat,” ujar Gatot dengan optimisme tinggi.
Modernisasi Pertanian dan Sinergi Lintas Sektor
Keberhasilan Majalengka dalam menjaga produktivitas lahan tidak lepas dari campur tangan teknologi dan manajemen yang modern. Pemerintah Kabupaten Majalengka menerapkan strategi pendampingan intensif kepada para petani. Sinergi ini melibatkan para penyuluh pertanian, Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), hingga melibatkan unsur TNI dan Polri untuk memastikan distribusi dan serapan gabah berjalan lancar.
Salah satu bentuk dukungan konkret yang diberikan adalah penyediaan input pertanian yang berkualitas. Pupuk subsidi, bibit unggul padi dan jagung, serta obat-obatan pertanian seperti insektisida, herbisida, dan fungisida disalurkan untuk memastikan tanaman petani tumbuh maksimal dan terhindar dari serangan hama.
Tak berhenti di situ, infrastruktur pertanian juga menjadi prioritas. Pemkab Majalengka bersama pemerintah pusat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terus memperbaiki jaringan irigasi. Program irigasi perpompaan, perpipaan, hingga perbaikan jaringan irigasi tersier dilakukan agar air dapat mengalir sampai ke pelosok sawah, bahkan saat musim kemarau sekalipun.
Menghadapi Tantangan Cuaca dan El Nino
Perubahan iklim dan fenomena El Nino menjadi tantangan nyata bagi dunia pertanian Majalengka. Menghadapi ancaman kekeringan, DKP3 telah menyiapkan langkah-langkah preventif yang taktis. Salah satunya adalah percepatan masa tanam di lokasi-lokasi strategis.
“Strategi kami adalah setelah panen, lahan harus segera diolah kembali tanpa menunggu terlalu lama. Percepatan tebar benih dilakukan agar tanaman sudah cukup kuat sebelum puncak musim kemarau tiba,” ungkap Gatot. Selain itu, pemberian bantuan pompa air dan alat mesin pertanian (alsintan) menjadi langkah darurat yang terus disalurkan ke wilayah-wilayah yang rawan kekeringan.
Pemerintah juga sedang melakukan verifikasi dan validasi (verval) untuk perbaikan jaringan irigasi secara menyeluruh di seluruh titik di Majalengka. Langkah ini diambil agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalisir seminimal mungkin sehingga tidak mengganggu target produksi nasional.
Kesejahteraan Petani Sebagai Indikator Utama
Pada akhirnya, seluruh program swasembada pangan ini bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan petani. Gatot Sulaeman menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas produksi, tetapi juga pada stabilitas harga pasca panen. Saat ini, harga serapan gabah oleh Bulog berada di angka Rp6.500 per kilogram untuk padi dan Rp6.400 per kilogram untuk jagung.
“Dengan harga yang kompetitif, petani memiliki gairah untuk terus berproduksi. Kami ingin memastikan bahwa ketika produksi melimpah, harga tidak jatuh. Inilah yang menjadi kunci agar petani sejahtera dan ketahanan pangan kita tetap kokoh dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Upaya konsisten Kabupaten Majalengka ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Dengan perpaduan antara kebijakan yang tepat, dukungan infrastruktur, dan semangat kerja keras para petani, kedaulatan pangan bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang dibangun di bawah langit Kota Angin.