Jejak Kemilau Sejarah: Penemuan Keping Emas dan Arca Dewa Surya di Balik Kemegahan Candi Losari Magelang

Aris Munandar | ZonaKabar
10 Jun 2026, 11:42 WIB
Jejak Kemilau Sejarah: Penemuan Keping Emas dan Arca Dewa Surya di Balik Kemegahan Candi Losari Magelang

ZonaKabar — Kabupaten Magelang kembali mengejutkan dunia arkeologi tanah air dengan temuan bersejarah yang memukau. Di balik tumpukan batu kuno yang telah berabad-abad terkubur dalam diam, sebuah kilatan kuning keemasan muncul ke permukaan, membawa serta teka-teki dari masa lampau. Penemuan ini terjadi di tengah proses pemugaran Candi Losari yang terletak di Kecamatan Salam, Magelang. Bukan sekadar batuan candi biasa, para pekerja dan ahli arkeologi menemukan kepingan emas murni serta arca kuno yang menyimpan nilai sejarah tak ternilai harganya.

Candi Losari memang dikenal sebagai salah satu situs yang unik di Jawa Tengah. Terbenam sekitar empat meter di bawah permukaan tanah akibat endapan material vulkanik Gunung Merapi, candi ini seolah-olah menjaga rahasianya dengan sangat rapat. Namun, proses ekskavasi dan rekonstruksi yang dilakukan belakangan ini justru membuka tabir kekayaan peradaban masa lalu yang pernah berjaya di tanah Magelang tersebut.

Kronologi Penemuan Harta Karun di Lapis Kesembilan

Penemuan yang menghebohkan ini bermula saat tim pemugaran sedang melakukan pembongkaran struktur batuan pada lapisan kesembilan. Restu Hidayat, seorang Juru Pugar Candi Losari yang telah lama bergelut dengan struktur batu kuno, menceritakan bagaimana suasana saat benda-benda berharga itu ditemukan. Menurutnya, temuan tersebut tidak hanya terdiri dari satu jenis benda, melainkan sebuah paket lengkap yang terdiri dari kepingan logam kuning, arca, hingga kotak peripih yang sangat sakral dalam tradisi pembangunan candi.

Baca Juga Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing
Tragedi Maut di Tambang Galian C Klaten: Operator Ekskavator Asal Rembang Mengembuskan Napas Terakhir Akibat Tertimbun Tebing

“Kami menemukannya saat pembongkaran di sekitar lapis sembilan. Di bawah lantai candi tersebut, tepatnya pada kedalaman tiga lapis dari permukaan lantai, kami mendapati dua blok arca yang diduga kuat merupakan representasi Dewa Surya. Tidak berhenti di situ, penggalian dilanjutkan hingga menyentuh tanah asli, dan di sanalah kami menemukan sebuah kotak peripih yang didalamnya terdapat selembar kepingan emas berbentuk persegi,” papar Restu dengan nada antusias saat menjelaskan detail temuan tersebut.

Detail Fisik: Seberapa Besar Keping Emas Tersebut?

Meskipun disebut sebagai harta karun emas, ukuran fisik dari kepingan ini sebenarnya cukup kecil namun memiliki signifikansi yang besar. Berdasarkan pengukuran awal di lapangan, kepingan emas tersebut memiliki dimensi sekitar 1 sentimeter hingga 1,5 sentimeter persegi. Bentuknya hampir menyerupai persegi sempurna dengan ketebalan yang sangat tipis, diperkirakan hanya sekitar 0,5 milimeter. Teksturnya yang tipis mengingatkan kita pada lempengan seng, namun warna kuningnya yang tetap cemerlang meski telah terkubur ribuan tahun menegaskan bahwa ini adalah logam mulia.

Keberadaan kepingan emas dalam sebuah candi biasanya bukan berfungsi sebagai perhiasan semata, melainkan memiliki fungsi ritual. Dalam sejarah kuno Nusantara, emas sering digunakan sebagai bagian dari peripih, yaitu benda-benda yang ditanam di dasar atau pusat candi untuk memberikan ‘jiwa’ pada bangunan suci tersebut. Kepingan ini biasanya bertuliskan mantra atau simbol-simbol keagamaan yang menjadi denyut nadi spiritualitas situs tersebut.

Baca Juga Membongkar Skandal Lelang Jabatan di Rembang: Drama Walkout hingga Temuan ‘Akun Siluman’
Membongkar Skandal Lelang Jabatan di Rembang: Drama Walkout hingga Temuan ‘Akun Siluman’

Konfirmasi dari Disdikbud: Validitas Logam Mulia

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang segera turun tangan untuk melakukan verifikasi atas temuan ini. Didik Muhamad Akbar, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Magelang, secara tegas memastikan bahwa logam yang ditemukan memang merupakan emas. Setelah melakukan peninjauan langsung ke lokasi Candi Losari, ia menyatakan bahwa temuan ini valid dan sesuai dengan pola penemuan arkeologis pada candi-candi era Mataram Kuno.

“Hasilnya benar dan valid. Logam tersebut memang emas yang biasanya berasal dari peripih candi. Hal ini sebenarnya cukup lumrah ditemukan pada candi yang terbenam cukup dalam, seperti Candi Losari yang tertimbun hingga empat meter. Kedalaman tersebut justru melindungi benda-benda berharga di bawahnya dari penjarahan selama berabad-abad, sehingga peripih dan arcanya masih utuh di tempat aslinya,” jelas Didik. Penemuan ini menambah daftar panjang kekayaan budaya Jawa yang berhasil diselamatkan.

Misteri Arca Dewa Surya di Kedalaman Candi

Selain emas, yang tak kalah menarik perhatian adalah ditemukannya dua arca Dewa Surya. Dalam kosmologi Hindu, Dewa Surya adalah dewa matahari yang melambangkan sumber kehidupan dan cahaya. Keberadaan arca ini di struktur bawah lantai candi memberikan petunjuk penting mengenai latar belakang keagamaan dan fungsi spesifik Candi Losari di masa lalu. Penanggung Jawab Kegiatan Rekonstruksi Candi Losari, Junawan, menyatakan bahwa arca-arca tersebut saat ini sedang dalam proses analisis lebih lanjut.

Baca Juga Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga
Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga

“Dua arca yang kami temukan adalah Dewa Surya. Kami menemukannya bersamaan dengan kotak peripih tersebut. Meskipun secara visual logam yang ditemukan berwarna kuning pekat seperti emas, kami tetap akan mendaftarkannya ke bagian konservasi untuk diuji secara laboratorium agar mendapatkan data komposisi logam yang lebih akurat,” kata Junawan. Penelitian mendalam ini diperlukan untuk mengetahui apakah emas tersebut merupakan emas murni atau campuran logam lainnya yang umum digunakan pada abad ke-9 atau ke-10.

Langkah Pengamanan Ekstra oleh BPK Jawa Tengah

Mengingat nilai sejarah dan materialnya yang sangat tinggi, Balai Pelestari Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah memutuskan untuk tidak menyimpan benda-benda tersebut di lokasi penemuan. Masalah keamanan menjadi pertimbangan utama, mengingat lokasi Candi Losari yang berada di ruang terbuka dan jauh dari pengawasan ketat selama 24 jam. Saat ini, kepingan emas dan arca Dewa Surya tersebut telah dievakuasi ke kantor BPK yang berpusat di Bugisan.

“Karena faktor keamanan di lokasi candi yang belum memadai untuk menyimpan benda-benda sekecil dan seberharga itu, kami memutuskan untuk membawanya ke kantor BPK Bugisan. Ini adalah langkah standar operasional prosedur untuk menjamin keselamatan benda cagar budaya,” tegas Restu Hidayat. Di sana, benda-benda tersebut akan menjalani proses konservasi agar tidak mengalami kerusakan akibat oksidasi setelah diangkat dari tanah yang lembap.

Baca Juga Terbakar Api Cemburu, Pria di Pekalongan Nekat Bakar Rumah Mantan: Drama Patah Hati yang Berujung Teror
Terbakar Api Cemburu, Pria di Pekalongan Nekat Bakar Rumah Mantan: Drama Patah Hati yang Berujung Teror

Harapan Baru Bagi Pariwisata dan Sejarah Magelang

Penemuan ini diharapkan dapat memicu semangat baru dalam upaya pelestarian situs-situs purbakala di wilayah Candi Losari dan sekitarnya. Kabupaten Magelang tidak hanya memiliki Borobudur, tetapi juga puluhan candi kecil lainnya yang masing-masing memiliki cerita unik. Candi Losari, dengan temuan emas dan arcanya, membuktikan bahwa narasi sejarah kita masih sangat luas untuk digali.

Ke depannya, setelah proses rekonstruksi selesai, diharapkan Candi Losari dapat menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik. Masyarakat dapat belajar bagaimana sebuah bangunan suci didirikan dengan penuh ketelitian, lengkap dengan ritual penanaman peripih emas yang melambangkan kemakmuran dan keberkahan bagi wilayah sekitarnya. Mari kita terus mendukung upaya penyelamatan penemuan arkeologi ini demi masa depan literasi sejarah generasi mendatang.

  • Lokasi penemuan: Candi Losari, Salam, Magelang.
  • Benda yang ditemukan: Keping emas persegi, dua arca Dewa Surya, dan satu kotak peripih.
  • Ukuran emas: Sekitar 1 cm hingga 1,5 cm dengan tebal 0,5 mm.
  • Status saat ini: Disimpan dan diteliti di BPK Jawa Tengah.

Penemuan ini menjadi pengingat bahwa di bawah kaki kita, mungkin masih tersimpan banyak kemilau sejarah yang menanti untuk ditemukan dan diceritakan kembali oleh dunia.

Baca Juga Gebrakan Sektor Kelautan: Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya 80 Ton Udang Vaname di Kebumen dengan Standar Global
Gebrakan Sektor Kelautan: Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya 80 Ton Udang Vaname di Kebumen dengan Standar Global
Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *