Mendiktisaintek Dorong Kampus se-Indonesia Adopsi Strategi Zero Waste Unesa: Inovasi Pengelolaan Sampah 100 Persen Mandiri

Budi Santoso | ZonaKabar
09 Mei 2026, 17:42 WIB
Mendiktisaintek Dorong Kampus se-Indonesia Adopsi Strategi Zero Waste Unesa: Inovasi Pengelolaan Sampah 100 Persen Mandi

ZonaKabar — Di tengah gencarnya isu perubahan iklim dan krisis ekologi global, sektor pendidikan tinggi di Indonesia mulai menunjukkan taringnya sebagai garda terdepan dalam menghadirkan solusi nyata. Salah satu gebrakan yang mencuri perhatian nasional datang dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kampus ini bukan sekadar memberikan teori di dalam kelas, melainkan telah bertransformasi menjadi laboratorium hidup melalui program Zero Waste yang komprehensif.

Langkah progresif ini pun mendapatkan apresiasi setinggi langit dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. Dalam kunjungannya ke kampus tersebut pada Sabtu (9/5/2026), sang Menteri menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan Unesa adalah sebuah standar baru bagi institusi pendidikan di tanah air. Dengan pengelolaan sampah yang mencapai angka 100 persen secara mandiri, Unesa dianggap telah melampaui ekspektasi dalam hal kelestarian lingkungan di lingkup akademis.

Manifesto Kampus Hijau: Keberhasilan Unesa Mengelola Sampah Mandiri

Brian Yuliarto menyampaikan bahwa keberhasilan Unesa bukan hanya sebuah pencapaian internal, melainkan sebuah prestasi kolektif yang membanggakan dunia pendidikan tinggi Indonesia. Sejak awal menjabat, Kemendiktisaintek memang telah merancang peta jalan agar perguruan tinggi tidak lagi menjadi penyumbang masalah, melainkan menjadi pusat solusi bagi persoalan domestik seperti sampah.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Sinar Mentari Dominan di Hari Minggu, Waspadai Udara Lembap yang Menyengat
Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Sinar Mentari Dominan di Hari Minggu, Waspadai Udara Lembap yang Menyengat

“Ini adalah satu prestasi yang sangat membanggakan kita semua. Sejak beberapa waktu lalu, Kemendiktisaintek memang menekankan program bagaimana kampus mampu memberikan solusi konkret, menjadi contoh, dan bertindak sebagai pilot project dalam pengelolaan atau penanganan sampah secara sistematis,” ujar Brian saat ditemui di sela-sela peninjauannya di Gedung Rektorat Unesa.

Bersama Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, Mendiktisaintek berkeliling meninjau berbagai fasilitas pengolahan sampah yang tersebar di area kampus. Ia melihat secara langsung bagaimana alur sampah dari hulu ke hilir diproses tanpa ada yang terbuang sia-sia ke tempat pembuangan akhir (TPA). Keberanian Unesa untuk mendeklarasikan diri sebagai kampus bebas sampah menjadi poin penting dalam narasi inovasi pendidikan berbasis lingkungan.

Integrasi Teknologi dan Penyempurnaan Fasilitas

Meskipun Unesa telah berhasil mengelola sampahnya secara total, Mendiktisaintek memberikan catatan bahwa proses inovasi tidak boleh berhenti. Menurutnya, pengembangan teknologi pengolahan sampah akan selalu berkembang seiring dengan kompleksitas jenis limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia di kampus. Ia melihat adanya ruang untuk penyempurnaan fasilitas agar proses pengolahan menjadi lebih efisien dan ramah energi.

Baca Juga Jadwal Sholat Jawa Timur Minggu 26 April 2026: Panduan Lengkap Ibadah Tepat Waktu untuk 38 Kota dan Kabupaten
Jadwal Sholat Jawa Timur Minggu 26 April 2026: Panduan Lengkap Ibadah Tepat Waktu untuk 38 Kota dan Kabupaten

“Secara operasional, memang 100 persen sudah ditangani. Namun, tentu saja masih ada beberapa aspek yang memerlukan penyelesaian dan penyempurnaan lebih lanjut. Semua itu masuk dalam kerangka besar program pengembangan tempat pengelolaan sampah terbaru yang lebih modern dan berbasis teknologi ramah lingkungan,” tambahnya dengan optimis.

Fasilitas yang ada saat ini sudah mencakup pengolahan sampah organik menjadi kompos berkualitas tinggi, serta pemilahan sampah anorganik yang ketat. Teknologi yang diterapkan memungkinkan sampah-sampah tersebut dikategorikan secara akurat, memudahkan proses daur ulang maupun pemanfaatan kembali secara maksimal.

Ekonomi Sirkular: Mengubah Limbah Menjadi Rupiah

Salah satu aspek yang paling menarik dari program Zero Waste di Unesa adalah implementasi konsep ekonomi sirkular. Brian mengungkapkan bahwa sampah yang dikelola dengan baik ternyata memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Di Unesa, hasil dari penjualan sampah yang telah dipilah dan diolah mampu memberikan pemasukan tambahan bagi kampus.

Hal ini secara otomatis mengurangi beban anggaran universitas untuk biaya operasional kebersihan. “Sejumlah jenis sampah yang memiliki nilai ekonomis kini sudah berhasil dijual kembali ke industri terkait. Bahkan, hasil dari pengelolaan tersebut mampu menghasilkan pendapatan (revenue) yang mandiri. Artinya, biaya operasional pengelolaan sampah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada anggaran rutin kampus, melainkan bisa membiayai dirinya sendiri,” jelas Brian.

Baca Juga Jadwal Sholat Surabaya 16 Mei 2026: Meraih Keberkahan Melalui Ibadah Tepat Waktu dan Niat yang Ikhlas
Jadwal Sholat Surabaya 16 Mei 2026: Meraih Keberkahan Melalui Ibadah Tepat Waktu dan Niat yang Ikhlas

Pola kemandirian finansial dalam pengelolaan lingkungan ini diharapkan dapat menginspirasi kampus-kampus lain bahwa menjaga lingkungan bukan berarti harus menguras kantong, melainkan bisa menjadi peluang investasi jika dikelola dengan manajemen yang tepat dan sentuhan sains.

Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor dengan Pemerintah Daerah

Lebih jauh, Mendiktisaintek mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah daerah (Pemda) dengan perguruan tinggi. Masalah sampah di perkotaan seringkali menjadi beban berat bagi pemerintah daerah karena keterbatasan lahan TPA dan teknologi pengolahan. Di sinilah peran kampus sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi diperlukan.

Brian menekankan bahwa sinergi ini akan menciptakan dampak yang jauh lebih luas dari sekadar lingkungan kampus. Perguruan tinggi bisa menjadi konsultan sekaligus pelaksana teknis bagi Pemda dalam menangani sampah di wilayah sekitarnya. Dengan dukungan teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti dan mahasiswa, efektivitas penanganan sampah akan meningkat drastis.

“Kami ingin agar sampah semakin hari mendapatkan dukungan penyelesaian dari dunia akademik. Teknologinya dikembangkan oleh perguruan tinggi, dan yang diselesaikan bukan hanya sampah di dalam kampus, tetapi juga lokasi sekitar kampus serta wilayah Pemda setempat. Inilah contoh nyata dari kegiatan Kementerian Dikti Saintek yang berdampak langsung bagi masyarakat luas,” pungkasnya menutup pernyataan.

Baca Juga Update Cuaca Surabaya Raya 1 Mei 2026: Antara Udara Kabur dan Kelembapan Tinggi di Hari Buruh
Update Cuaca Surabaya Raya 1 Mei 2026: Antara Udara Kabur dan Kelembapan Tinggi di Hari Buruh

Langkah Unesa Sebagai Pelopor Nasional

Sebagai kampus pertama yang secara resmi mendeklarasikan program Zero Waste dengan hasil nyata 100 persen, Unesa kini memegang tanggung jawab moral untuk menjadi mentor bagi institusi lain. Brian Yuliarto berharap langkah baik ini segera diikuti oleh kampus-kampus besar lainnya di seluruh Indonesia yang sebenarnya sudah mulai melakukan pengelolaan sampah namun belum tuntas secara menyeluruh.

Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah pusat, gerakan kampus mandiri sampah ini diharapkan menjadi sebuah tren positif yang tidak hanya memperbaiki ekosistem pendidikan tinggi, tetapi juga memberikan sumbangsih nyata bagi target nasional Indonesia menuju emisi nol bersih dan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang. Teknologi daur ulang dan kesadaran kolektif adalah kunci utama dalam memenangkan peperangan melawan sampah.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *