Misi Mulia Pak Dirman: Melawan Kecanduan Gadget Lewat Sketsa Seribu Rupiah di Sidoarjo
ZonaKabar — Di tengah hiruk-pikuk gerbang SD Negeri Pagerwojo, Sidoarjo, tampak seorang pria paruh baya yang bersahaja duduk lesehan di antara deretan pedagang kaki lima. Namanya Sudirman, namun anak-anak akrab menyapanya dengan sebutan Pak Dirman. Di usianya yang telah menginjak 66 tahun, alih-alih menikmati masa pensiun dengan tenang, pria yang berstatus sebagai guru seni rupa non-ASN ini justru memilih mengabdi dengan cara yang unik: menjual sketsa gambar hasil karyanya sendiri kepada para siswa.
Sketsa Sederhana di Tengah Arus Digitalisasi
Pak Dirman bukan sekadar berdagang demi mencari keuntungan materi. Ada keresahan mendalam yang ia rasakan melihat fenomena anak-anak zaman sekarang yang seolah tak bisa lepas dari layar gawai. Dengan penuh ketelatenan, ia menggoreskan pena menciptakan berbagai karakter mulai dari Digimon, Hello Kitty, hingga Kura-kura Ninja di atas kertas. Gambar-gambar inilah yang kemudian ia tawarkan kepada anak-anak dengan harga yang sangat tidak lazim di era ekonomi saat ini.
“Tujuan utama saya adalah untuk meminimalisir ketergantungan siswa-siswi terhadap bermain handphone. Saya ingin mereka punya kesibukan lain, menyempatkan diri untuk mewarnai sketsa-sketsa ini daripada terus menatap layar,” ungkap Sudirman dengan nada suara yang tenang namun penuh keyakinan saat ditemui tim ZonaKabar di sela aktivitasnya.
Harga yang Merangkul Semua Kalangan
Salah satu hal yang paling menyentuh dari aksi Pak Dirman adalah kebijakan harganya. Ia menjual tiga lembar sketsa hanya seharga Rp 1.000. Angka ini ia tetapkan bukan tanpa alasan. Pak Dirman sadar betul bahwa tidak semua murid berasal dari keluarga mapan. Dengan uang saku siswa yang rata-rata berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 4.000, harga tersebut dirasa sangat terjangkau bagi siapa saja.
Ia menceritakan bahwa proses kreatifnya dimulai dari menggambar manual menggunakan keterampilan tangan yang ia asah selama puluhan tahun sebagai pengajar seni lukis. Setelah satu sketsa jadi, ia kemudian memperbanyaknya melalui jasa fotokopi. Meski margin keuntungan yang ia dapatkan sangat tipis, Pak Dirman merasa kepuasan batinnya jauh lebih berharga daripada pundi-pundi rupiah.
Membangun Kepercayaan Diri Lewat Mewarnai
Bagi Pak Dirman, aktivitas mewarnai bukan sekadar mengisi waktu luang atau coretan di atas kertas. Ia memandangnya sebagai media untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Seringkali, anak-anak dari latar belakang ekonomi kurang mampu merasa minder karena tidak memiliki alat gambar yang mewah atau fasilitas les seni yang mahal.
“Banyak anak yang sebenarnya memiliki bakat luar biasa, tapi mereka terhambat fasilitas. Dengan adanya sketsa murah ini, mereka bisa merasa setara dengan teman-temannya yang lebih mampu. Mereka punya media untuk belajar, mereka punya sesuatu untuk dibanggakan saat hasilnya nanti dipajang atau ditunjukkan ke orang tua,” imbuh pria yang masih aktif mengajar di salah satu sekolah dasar di Sidoarjo tersebut.
Dedikasi yang Tersembunyi di Balik Kendaraan Parkir
Perjuangan Pak Dirman tidaklah selalu mulus. Setiap harinya, ia menggelar lapak kecilnya dengan cara lesehan. Posisi duduknya yang rendah seringkali membuatnya luput dari pandangan karena tertutup oleh kendaraan yang parkir atau kerumunan pedagang lain yang lebih mencolok. Namun, hal itu tak sedikit pun menyurutkan semangatnya. Pada hari Sabtu, dedikasinya bahkan lebih kuat; ia sudah bersiap sejak pagi buta hingga siang hari demi melayani pesanan karakter tertentu dari anak-anak.
“Kadang memang tidak kelihatan karena tertutup motor atau pedagang lain, tapi anak-anak biasanya sudah tahu di mana saya duduk. Mereka sering datang menanyakan gambar karakter baru,” tuturnya sambil menyunggingkan senyum tulus yang memperlihatkan gurat-gurat usia di wajahnya.
Sosok yang Tak Tergerus Zaman Meski Gagap Teknologi
Ironisnya, pria yang berjuang melawan dampak negatif teknologi ini sendiri mengaku tidak fasih menggunakan telepon genggam modern. Di usianya yang senja, Pak Dirman lebih nyaman berinteraksi secara personal dan tradisional. Segala urusan komunikasi yang membutuhkan teknologi digital biasanya dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Baginya, kebahagiaan sejati ada pada interaksi nyata dan kreativitas anak yang tertuang secara fisik.
Pesan yang selalu ia bawa bagi para pegiat seni lainnya adalah tentang keteguhan hati. Menurutnya, seni tidak memiliki batasan usia maupun ekonomi. “Jangan pernah putus asa untuk terus berkarya. Keadaan mungkin sulit, tapi seni harus tetap hidup sebagai napas kehidupan kita,” pungkasnya dalam sebuah pesan penutup yang sangat mendalam.
Respon Positif dari Para Siswa
Kehadiran Pak Dirman beserta sketsa-sketsanya disambut antusias oleh para murid. Navia, salah satu siswi kelas V di SDN Pagerwojo, mengaku menjadi pelanggan setia sketsa buatan gurunya tersebut. Baginya, sketsa Pak Dirman sangat membantu hobi mewarnainya tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.
“Saya sering beli sketsa ini karena saya memang suka mewarnai. Gambarnya bagus dan rapi, jadi tinggal dikasih warna saja. Ini sangat membantu teman-teman yang ingin belajar melukis tapi tidak punya buku gambar yang mahal,” kata Navia dengan ceria.
Dukungan masyarakat Sidoarjo terhadap aksi Pak Dirman juga terus mengalir. Banyak orang tua murid yang merasa terbantu karena anak-anak mereka kini memiliki aktivitas positif di rumah. Di balik kesederhanaannya, Pak Dirman telah membuktikan bahwa seorang guru inspiratif tidak selalu harus berdiri di depan kelas dengan fasilitas modern, namun bisa juga hadir di trotoar jalan dengan selembar kertas dan ketulusan hati.