7 Amalan Sunah Sebelum Sholat Idul Adha: Menjemput Keberkahan dengan Meneladani Tradisi Rasulullah

Budi Santoso | ZonaKabar
24 Mei 2026, 03:40 WIB
7 Amalan Sunah Sebelum Sholat Idul Adha: Menjemput Keberkahan dengan Meneladani Tradisi Rasulullah

ZonaKabar — Gema takbir yang bersahutan di ufuk fajar menandakan tibanya hari yang penuh kemuliaan, Idul Adha. Bagi umat Muslim, momentum ini bukan sekadar tentang ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang dimulai bahkan sebelum kaki melangkah ke tempat sholat. Rasulullah SAW telah mewariskan serangkaian amalan sunah yang jika dijalankan, tidak hanya menyempurnakan pahala, tetapi juga memperindah batin dalam menyambut ‘Hari Raya Kurban’.

Pentingnya mempersiapkan diri sebelum melaksanakan ibadah ditegaskan dalam nafas spiritual Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 103, yang mengingatkan kita untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik berdiri, duduk, maupun berbaring. Kesiapan ini menjadi fondasi agar sholat yang kita dirikan benar-benar menjadi kewajiban yang bermakna, bukan sekadar rutinitas tanpa jiwa. Memahami dan mengamalkan sunah-sunah ini adalah cara kita memuliakan syiar agama sekaligus mempertebal ketakwaan.

1. Mandi Sunah: Mensucikan Diri di Pagi yang Fitri

Langkah pertama yang sangat dianjurkan adalah mandi sebelum berangkat menuju lapangan atau masjid. Mandi di hari raya bukan sekadar untuk membersihkan debu yang menempel di raga, melainkan sebuah simbol penyucian jiwa. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, dan di hari yang istimewa ini, kebersihan fisik menjadi manifestasi dari kesiapan batin menghadap Sang Pencipta.

Baca Juga Festival Rujak Uleg Masuk KEN: Mengintip Kemegahan Rujakphoria 2026 dan Pesona Kuliner Legendaris Surabaya
Festival Rujak Uleg Masuk KEN: Mengintip Kemegahan Rujakphoria 2026 dan Pesona Kuliner Legendaris Surabaya

Dalam sebuah riwayat yang shahih, Ali bin Abi Thalib RA pernah ditanya mengenai mandi-mandi yang dianjurkan. Beliau menyebutkan bahwa mandi pada hari Jumat, hari Arafah, hari Idul Fitri, dan hari Idul Adha adalah amalan yang sangat ditekankan. Dengan tubuh yang segar dan harum, seorang mukmin akan merasa lebih percaya diri dan khusyuk saat berkumpul bersama jamaah lainnya untuk melakukan tata cara shalat id yang benar.

2. Mengenakan Pakaian Terbaik dan Berhias Secukupnya

Setelah tubuh bersih, sunah berikutnya adalah mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki. Perlu digarisbawahi bahwa “terbaik” tidak selalu berarti baru atau mahal. Yang utama adalah kebersihan, kerapian, dan kesopanan pakaian tersebut. Rasulullah SAW sendiri sangat memperhatikan penampilan di hari raya dan saat menyambut tamu, sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar tersebut.

Kisah Abdullah bin Umar RA menceritakan bagaimana Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rasulullah untuk dipakai saat Id. Meski Rasulullah menolak kain sutra karena hukumnya bagi pria, intisari dari kisah tersebut tetap berlaku: Islam menganjurkan umatnya untuk tampil rapi dan indah di hari kemenangan. Menjaga penampilan juga merupakan bagian dari akhlak muslim dalam menjaga keharmonisan visual di tengah komunitas.

Baca Juga Badai Dolar Menghantam Beji: Potret Pilu Pengrajin Tempe Kota Batu Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai
Badai Dolar Menghantam Beji: Potret Pilu Pengrajin Tempe Kota Batu Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

3. Menahan Diri untuk Tidak Makan Sebelum Sholat

Salah satu perbedaan mencolok antara Idul Fitri dan Idul Adha terletak pada urusan makan pagi. Jika pada Idul Fitri kita disunahkan makan sebelum sholat untuk menandai berakhirnya masa puasa, maka pada Idul Adha, Rasulullah SAW mencontohkan untuk tidak menyentuh makanan hingga sholat selesai dilaksanakan.

Hikmah di balik sunah ini sangatlah indah. Rasulullah SAW ingin agar makanan pertama yang disantap di hari tersebut berasal dari hasil sembelihan kurban. Hal ini menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang kuat antara ibadah sholat dan ibadah kurban itu sendiri. Setelah pulang dari tempat sholat, barulah kita menikmati hidangan bersama keluarga, terutama jika ada bagian dari makna kurban yang bisa segera diolah dan dinikmati.

4. Mengumandangkan Takbir Sepanjang Perjalanan

Suasana Idul Adha tidak akan lengkap tanpa getaran frekuensi takbir. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak bacaan takbir sejak keluar dari rumah menuju tempat sholat. Takbir adalah proklamasi keagungan Allah, sebuah pengakuan tulus bahwa tidak ada yang lebih besar selain Dia.

Baca Juga Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Hubungan Daging Kambing dan Lonjakan Tekanan Darah Tinggi
Mitos atau Fakta? Mengupas Tuntas Hubungan Daging Kambing dan Lonjakan Tekanan Darah Tinggi

Gema takbir yang dikumandangkan secara berjamaah maupun lisan pribadi berfungsi sebagai syiar Islam yang menggetarkan hati. Ini adalah bentuk keutamaan takbir yang menyatukan hati umat dalam satu frekuensi ketauhidan. Biasanya, takbir ini terus dilantunkan hingga imam berdiri untuk memulai sholat, menandai puncak dari rasa syukur yang membuncah.

5. Menempuh Rute Perjalanan yang Berbeda

Sebuah kebiasaan unik yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah menggunakan jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari tempat sholat Id. Jika saat pergi kita melewati jalan A, maka saat pulang disarankan melewati jalan B. Mengapa demikian? Para ulama menjelaskan bahwa amalan ini memiliki dimensi sosial yang sangat luas.

Dengan melewati rute yang berbeda, kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan lebih banyak orang, menyapa tetangga yang jarang ditemui, dan menyebarkan keceriaan hari raya ke lebih banyak sudut pemukiman. Ini adalah strategi dakwah halus yang mempererat silaturahmi dan menunjukkan wajah Islam yang ramah dan penuh persaudaraan.

6. Saling Bertukar Doa dan Ucapan Selamat

Tradisi saling mengucapkan selamat di hari raya bukanlah sekadar basa-basi budaya. Para sahabat Nabi terbiasa mengucapkan doa “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang berarti “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian”. Ucapan ini mengandung doa yang tulus agar segala pengorbanan dan ibadah yang dilakukan selama bulan Dzulhijjah diterima di sisi Allah SWT.

Baca Juga Dampak Tragedi Bekasi: Perjalanan KA Jayabaya Malang-Jakarta Dibatalkan demi Keselamatan
Dampak Tragedi Bekasi: Perjalanan KA Jayabaya Malang-Jakarta Dibatalkan demi Keselamatan

Di era digital seperti sekarang, ucapan ini bisa dibagikan melalui berbagai media, namun mengucapkannya secara langsung sambil berjabat tangan tentu memiliki nilai keberkahan yang lebih tinggi. Ini adalah momen untuk saling memaafkan dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih, sejalan dengan semangat ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci.

7. Berjalan Kaki Menuju Tempat Sholat

Jika jarak antara rumah dan tempat sholat Id masih memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki, maka itulah yang lebih utama. Rasulullah SAW lebih menyukai berjalan kaki menuju tempat sholat karena setiap langkah kaki menuju ibadah dihitung sebagai pahala yang menghapuskan dosa dan mengangkat derajat seseorang.

Berjalan kaki juga memberikan kita waktu untuk lebih meresapi suasana pagi hari raya, menikmati udara segar, dan lebih mudah berinteraksi dengan sesama jamaah di jalanan. Gerakan fisik ini juga mempersiapkan tubuh agar lebih bugar saat mengikuti rangkaian sholat dan khutbah yang panjang. Namun, jika kondisi kesehatan atau jarak tidak memungkinkan, menggunakan kendaraan pun tetap diperbolehkan tanpa mengurangi nilai ibadah.

Baca Juga Menilik Akar Sejarah 1 Mei: Bagaimana Perjuangan Tetes Keringat Menjadi Hari Buruh Sedunia
Menilik Akar Sejarah 1 Mei: Bagaimana Perjuangan Tetes Keringat Menjadi Hari Buruh Sedunia

Menjalankan ketujuh amalan sunah di atas mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya terhadap kualitas ibadah Idul Adha kita sangatlah besar. Dengan meneladani setiap detail kebiasaan Rasulullah SAW, kita tidak hanya mendapatkan pahala sunah, tetapi juga merasakan kedalaman makna di balik setiap ritual. Idul Adha bukan sekadar pesta daging, melainkan momentum untuk kembali suci, peduli, dan berbagi dalam bingkai ketaatan kepada Ilahi.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *