Pesona Liburan Murah Meriah di Bandung: Kisah Rita dan Wajah Ruang Terbuka Hijau Kota Kembang

Dewi Lestari | ZonaKabar
15 Mei 2026, 07:45 WIB
Pesona Liburan Murah Meriah di Bandung: Kisah Rita dan Wajah Ruang Terbuka Hijau Kota Kembang

ZonaKabar — Di tengah teriknya sinar matahari yang menyengat aspal Kota Bandung, semangat seorang wanita paruh baya bernama Rita (53) tak sedikit pun luntur. Kamis itu, ia memilih untuk menerjang kepadatan lalu lintas dari arah Kopo menuju jantung kota. Bukan tanpa alasan, dua orang cucunya yang masih duduk di bangku TK dan Sekolah Dasar sudah menagih janji sejak jauh hari: bermain bersama di momen libur panjang.

Semangat Tak Padam Meski Cuaca Menantang

Bagi warga Bandung, kawasan Kopo dikenal sebagai salah satu titik kemacetan yang cukup menguji kesabaran. Namun, demi kebahagiaan sang cucu, Rita rela memacu sepeda motornya menembus polusi dan kepadatan kendaraan. Tujuannya adalah Taman Monumen Perjuangan Jawa Barat (Monju) yang terletak persis di seberang Lapangan Gasibu. Di sana, hamparan rumput sintetis dan berbagai wahana permainan menanti untuk dijelajahi secara cuma-cuma.

Ketika tim redaksi kami menemui Rita, ia tampak sedang bersantai di salah satu sudut taman. Sembari bersandar pada dinding bangunan, matanya tak lepas mengawasi kedua cucu perempuannya yang sedang asyik berlarian ke sana kemari. Meski cuaca cukup menyengat, angin sepoi-sepoi di area terbuka tersebut memberikan kesejukan tersendiri bagi para pengunjung.

Baca Juga Sinopsis A Score to Settle: Misi Balas Dendam Penuh Emosi dan Penebusan Dosa Nicolas Cage
Sinopsis A Score to Settle: Misi Balas Dendam Penuh Emosi dan Penebusan Dosa Nicolas Cage

Memilih Kehangatan Keluarga di Atas Kemewahan

“Kalau libur biasanya cucu nagih, ayo main. Biar ekonomis jadi pilih yang dekat-dekat saja, ke taman,” ungkap Rita dengan senyum ramahnya. Bagi keluarga ini, liburan tidak harus selalu identik dengan reservasi hotel mewah atau tiket masuk wahana yang mahal. Wisata murah di tengah kota justru menjadi pilihan yang paling masuk akal di tengah dinamika ekonomi saat ini.

Rita bercerita bahwa jika ada rezeki lebih, ia sesekali membawa keluarganya berwisata ke kawasan Ciwidey yang dingin atau Cipanas yang menenangkan. Namun, untuk libur panjang kali ini, ia merasa fasilitas publik yang disediakan pemerintah kota sudah lebih dari cukup. Ia membandingkan kunjungannya kali ini dengan taman-taman lain yang ada di Bandung.

“Sebenarnya di Tegallega juga ada taman sih, lebih dekat dari rumah. Tapi di sini permainannya lebih lengkap, tempatnya juga terasa lebih bagus dan terawat. Jadi tadi kami naik motor bertiga ke sini. Untung datangnya pagi, jadi belum terlalu ramai,” paparnya sembari mengawasi cucunya yang kini tengah mencoba perosotan.

Baca Juga Horor di Meja Dapur: Buaya Nil Raksasa 3,9 Meter Terjang Hotel Mewah di Zimbabwe, Staf Lari Kocar-kacir

Monumen Perjuangan: Oase di Tengah Modernitas

Sudah sejak lama taman kota menjadi pilihan utama Rita untuk mengasuh cucu-cucunya, terutama saat orang tua mereka harus tetap bekerja. Di tengah gempuran tempat wisata kuliner viral dan kafe-kafe hits yang memadati Bandung, Rita tetap setia pada ruang terbuka hijau. Baginya, kenyamanan tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas suatu tempat di media sosial.

“Ah ibu mah rada gimana ya, enggak tertarik sih ke yang begitu (kuliner viral). Lebih nyaman di tempat seperti ini saja,” ujarnya jujur. Ia menambahkan bahwa di taman publik, ia merasakan kebebasan yang tidak didapatkan di dalam gedung atau kafe. Udara segar, pepohonan yang rindang, dan interaksi sosial antarwarga memberikan energi positif tersendiri.

Strategi Menghindari Kemacetan Kota Kembang

Sebagai warga yang sudah lama menetap di Bandung, Rita sangat memahami pola lalu lintas saat libur panjang. Ia sengaja bertolak dari Kopo sejak pagi buta untuk menghindari terjebak macet berjam-jam. Baginya, waktu adalah kunci untuk menikmati liburan tanpa stres di jalanan.

Baca Juga Jadwal Sholat Kota Cirebon Sabtu 16 Mei 2026: Menggapai Keberkahan di Kota Wali Melalui Ibadah Tepat Waktu
Jadwal Sholat Kota Cirebon Sabtu 16 Mei 2026: Menggapai Keberkahan di Kota Wali Melalui Ibadah Tepat Waktu

“Kalau pagi mah belum macet, jadi mendingan dari pagi sudah berangkat. Kalau sudah siang ke sore, apalagi kalau lewat jalur Pasar Baru, Viaduct, atau sekitaran Balai Kota, aduh itu pasti ramai sekali oleh kendaraan dari luar kota,” ungkapnya. Strategi ini terbukti ampuh, karena ia dan cucunya bisa menikmati wahana permainan dengan lebih leluasa sebelum lautan manusia mulai memadati area Monju.

Budaya Botram dan Ekonomi Kerakyatan di Ruang Publik

Fenomena yang dialami Rita sebenarnya adalah potret umum kehidupan warga Bandung saat ini. Alih-alih merogoh kocek dalam-dalam, masyarakat lokal lebih memilih solusi hiburan yang inklusif. Di Taman Monumen Perjuangan, tampak kerumunan keluarga yang melakukan tradisi “botram” atau makan bersama beralaskan tikar atau rumput sintetis.

Para pedagang kaki lima pun turut kecipratan berkah. Penjaja mainan seperti pesawat kertas, balon sabun, hingga jajanan tradisional laris manis diburu pembeli. Suasana ini menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang saling menguntungkan. Di sisi lain, beberapa kelompok anak muda juga tampak memanfaatkan area taman yang teduh untuk berlatih seni drama dan tari, menunjukkan bahwa fungsi ruang publik sangatlah multifungsi.

Baca Juga Ancaman Penyusutan Otak di Balik Kurang Tidur: Mengapa Tidur Nyenyak Adalah Investasi Masa Depan
Ancaman Penyusutan Otak di Balik Kurang Tidur: Mengapa Tidur Nyenyak Adalah Investasi Masa Depan

Menilik Taman Lansia: Pilihan Alternatif yang Teduh

Tak jauh dari Monju, hanya sepelemparan batu menuju Jalan Diponegoro, suasana serupa terlihat di Taman Lansia. Meski tidak memiliki banyak wahana permainan anak seperti di Monju, taman ini menawarkan ketenangan yang berbeda. Banyak keluarga yang duduk santai menikmati semangkuk cuankie hangat di bawah rindangnya pepohonan tua.

Taman Lansia menjadi favorit bagi mereka yang ingin sekadar jalan kaki ringan atau menghirup oksigen murni di tengah kota. Fasilitas meja dan kursi permanen yang tersedia seringkali digunakan warga untuk membuka bekal yang dibawa dari rumah. Inilah definisi liburan hemat yang sebenarnya: menikmati fasilitas negara dengan cara yang sederhana namun bermakna.

Harapan Akan Pemerataan Ruang Publik di Pinggiran

Di akhir perbincangan, Rita menyuarakan sebuah harapan yang mungkin juga dirasakan oleh banyak warga lainnya. Ia berharap pemerintah tidak hanya memusatkan pembangunan taman indah di tengah kota saja, tetapi juga mulai merambah ke wilayah pinggiran atau yang sering disebut sebagai “Bandung Pasisian”.

Baca Juga Potret Ironi di Balik Kemegahan Istana Presiden Palabuhanratu: Mengurai Benang Kusut ‘Lorong Sampah’ Pantai Citepus
Potret Ironi di Balik Kemegahan Istana Presiden Palabuhanratu: Mengurai Benang Kusut ‘Lorong Sampah’ Pantai Citepus

“Pengen lebih banyak ada tempat hiburan gratis. Banyakin lagi lah taman-taman seperti ini di daerah pinggiran Bandung. Jadi kalau mau main dengan cucu seperti sekarang, bisa pilih yang dekat rumah saja. Tidak perlu jauh-jauh ke tengah kota kalau di dekat rumah sudah ada fasilitas yang bagus,” harap Rita menutup pembicaraan.

Melalui kisah Rita, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan. Ruang publik yang nyaman bukan sekadar pelengkap estetika kota, melainkan ruang bernapas bagi warga untuk melepaskan penat dan merajut kembali kedekatan dengan keluarga tanpa terbebani biaya tinggi. Semoga aspirasi warga seperti Rita dapat didengar, sehingga Bandung benar-benar menjadi kota yang ramah bagi seluruh lapisan masyarakatnya.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *