Drama di Manahan: Persis Solo Menang Tipis, Pesta Flare, dan Pesan Menohok untuk Manajemen di Ujung Musim

Aris Munandar | ZonaKabar
16 Mei 2026, 21:53 WIB
Drama di Manahan: Persis Solo Menang Tipis, Pesta Flare, dan Pesan Menohok untuk Manajemen di Ujung Musim

ZonaKabar — Atmosfer Stadion Manahan, Solo, mendadak berubah menjadi panggung emosi yang campur aduk pada Sabtu malam, 16 Mei 2026. Di satu sisi, ada euforia kemenangan tipis yang diraih Persis Solo dalam laga kandang terakhir mereka musim ini. Namun di sisi lain, kepulan asap flare dan petasan yang membumbung tinggi seolah menjadi simbol protes serta kegelisahan yang mendalam dari para pendukung setia Laskar Sambernyawa terhadap nasib klub kesayangan mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Kemenangan Krusial Lewat Kaki Luca Dumancic

Laga pekan ke-33 Super League 2025/2026 ini mempertemukan Persis Solo dengan tim kuat Dewa United. Sejak peluit pertama dibunyikan, intensitas pertandingan sudah terasa sangat tinggi. Persis Solo yang bermain di hadapan ribuan pendukungnya sendiri tampil menekan sejak awal demi mengamankan tiga poin harga mati. Meski demikian, pertahanan Dewa United yang disiplin sempat membuat barisan depan tuan rumah frustrasi selama hampir 75 menit jalannya pertandingan.

Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-76. Berawal dari skema serangan yang tertata rapi, bek jangkung Luca Dumancic berhasil menyarangkan bola ke jala lawan. Gol semata wayang tersebut langsung disambut ledakan kegembiraan dari seisi stadion. Skor 1-0 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang, menandai kemenangan kandang terakhir Persis Solo musim ini dengan catatan manis di papan skor, namun tetap pahit di klasemen.

Baca Juga Pelarian Berakhir di Lereng Wonogiri: Jejak Pelarian Predator Seksual Pendiri Ponpes Pati dan Siasat Ritual Palsu
Pelarian Berakhir di Lereng Wonogiri: Jejak Pelarian Predator Seksual Pendiri Ponpes Pati dan Siasat Ritual Palsu

Pesta Flare dan Kehadiran Jokowi di Tribun Kehormatan

Begitu pertandingan dinyatakan berakhir, pemandangan di tribun penonton berubah drastis. Ribuan suporter serentak menyalakan flare, petasan, hingga kembang api. Dalam sekejap, Stadion Manahan yang megah diselimuti asap tebal berwarna merah dan putih. Bunyi ledakan petasan yang bersahut-sahutan menciptakan suasana yang mencekam sekaligus emosional.

Di tengah kepulan asap yang menyesakkan tersebut, nampak sosok Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), yang duduk tenang di tribun VIP. Meski stadion dipenuhi asap, Jokowi tidak tampak terburu-buru meninggalkan kursinya. Ia tetap menyaksikan aksi para suporter tersebut hingga pesta flare mereda, sebelum akhirnya meninggalkan stadion dengan pengawalan ketat. Ketenangan Jokowi di tengah hiruk-pikuk tersebut seolah menunjukkan kedekatannya dengan kultur sepak bola Solo yang memang dikenal fanatik.

Menariknya, para pemain dan ofisial dari kedua tim juga tidak menunjukkan reaksi panik. Mereka tetap berada di lapangan, seakan sudah memaklumi bahwa ini adalah bentuk ekspresi terakhir suporter di kandang sendiri untuk musim yang penuh gejolak ini. Acara ditutup dengan tradisi menyanyikan lagu “Satu Jiwa” yang menggema di tengah lapangan, menyatukan pemain dan suporter dalam satu frekuensi kesedihan sekaligus harapan.

Baca Juga Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran
Jejak Damai di Kota Bengawan: 57 Biksu Thudong Disambut Hangat di Pura Mangkunegaran

Munculnya Majalah Protes: “Kalian Semua Gagal”

Namun, di balik kemenangan dan pesta flare tersebut, tersimpan bara api kemarahan suporter yang terwujud dalam bentuk fisik. Sebelum laga dimulai, ribuan eksemplar majalah protes ditemukan tersebar di berbagai sudut kursi tribun. Majalah setebal 10 halaman tersebut bukan berisi sanjungan, melainkan kritik tajam yang merangkum perjalanan buruk Persis Solo sepanjang musim ini.

Isi majalah tersebut memuat dokumentasi perjalanan tim, foto-foto suporter, hingga profil mantan pemain dan pelatih yang dianggap lebih berdedikasi. Namun, bagian yang paling mencuri perhatian adalah halaman terakhir. Dengan font besar dan tegas, tertulis kalimat: “Kalian Semua Gagal”.

Di bawah tulisan tersebut, terpampang jelas foto-foto para petinggi klub yang selama ini memegang kendali manajemen, mulai dari Kaesang Pangarep, Kevin Nugroho, Aga Thohir, hingga jajaran manajemen lainnya seperti Ginda Ferachtriawan, Yahya Alkatiri, Rimbo Adityo Samudro, Bryan Barcelona, dan Dion Lalu Pratama. Majalah ini menjadi bukti otentik bahwa kemenangan atas Dewa United sama sekali tidak menghapus kekecewaan suporter atas bobroknya manajemen musim ini.

Baca Juga Terbakar Api Cemburu, Pria di Pekalongan Nekat Bakar Rumah Mantan: Drama Patah Hati yang Berujung Teror
Terbakar Api Cemburu, Pria di Pekalongan Nekat Bakar Rumah Mantan: Drama Patah Hati yang Berujung Teror

Terjebak di Zona Merah: Menghitung Peluang Bertahan

Meski meraih poin penuh di laga kandang terakhir, posisi Persis Solo di klasemen sementara Super League masih sangat mengkhawatirkan. Laskar Sambernyawa masih tertahan di zona degradasi, tepatnya peringkat ke-16 dengan raihan 31 poin. Kemenangan ini memang memangkas jarak menjadi hanya satu poin dengan Madura United yang berada tepat di atas mereka.

Namun, nasib Persis Solo kini tidak lagi berada di tangan mereka sendiri. Madura United masih memiliki keuntungan dengan sisa dua pertandingan, termasuk laga melawan PSIM Jogja dan PSM Makassar. Jika Madura United mampu meraih satu saja kemenangan dari dua laga tersebut, maka perjuangan Persis Solo untuk bertahan di Liga 1 akan semakin berat, atau bahkan mustahil.

Persis Solo sendiri hanya menyisakan satu laga terakhir di musim ini, yakni laga tandang melawan Persita Tangerang. Skenario terbaik bagi Persis adalah memenangkan laga tandang tersebut sambil berdoa agar Madura United tergelincir dan gagal meraih poin di dua pertandingan sisa mereka. Jika skenario ini tidak terwujud, maka kemenangan emosional di Manahan semalam bisa jadi merupakan laga kandang terakhir Persis Solo di kasta tertinggi sebelum terjun kembali ke kasta kedua.

Baca Juga Tragedi Mencekam di Kledung: Satu Keluarga Tewas Saat Berkemah, Tim Forensik Polda Jateng Turun Tangan
Tragedi Mencekam di Kledung: Satu Keluarga Tewas Saat Berkemah, Tim Forensik Polda Jateng Turun Tangan

Antara Loyalitas dan Tuntutan Perubahan

Situasi yang dialami Persis Solo saat ini mencerminkan dinamika hubungan antara klub dan suporter di sepak bola modern Indonesia. Suporter tidak lagi hanya puas dengan kemenangan di satu pertandingan, melainkan menuntut pengelolaan klub yang profesional dan prestasi yang konsisten. Kehadiran tokoh-tokoh besar di balik kemudi manajemen ternyata tidak menjadi jaminan keamanan dari ancaman degradasi.

Kini, publik Solo hanya bisa menunggu dengan napas tertahan. Akankah Laskar Sambernyawa mampu melakukan keajaiban di pekan terakhir, ataukah kritikan keras dalam majalah suporter tersebut akan menjadi nisan bagi perjalanan mereka di Liga 1 musim depan? Satu yang pasti, semangat “Satu Jiwa” akan terus berhembus di Manahan, baik di kasta tertinggi maupun terendah sekalipun.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *