Stadion Manahan Memerah, Perayaan Flare Suporter Persis Solo Picu Kekhawatiran Sanksi Baru dari Komdis PSSI
ZonaKabar — Langit malam di atas Stadion Manahan, Solo, mendadak berubah menjadi merah membara sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Euforia kemenangan tipis 1-0 atas Dewa United dalam laga kandang terakhir musim ini seharusnya menjadi momen manis bagi seluruh elemen tim. Namun, kemeriahan itu mendadak dibayangi kecemasan menyusul aksi penyalaan flare secara masif oleh suporter di tribun penonton. Kini, pihak Panitia Pelaksana (Panpel) Persis Solo hanya bisa menarik napas dalam, berharap Komite Disiplin (Komdis) PSSI tidak kembali menjatuhkan palu godam sanksi kepada klub kebanggaan warga Solo tersebut.
Malam Perayaan yang Berisiko: Flare di Kandang Terakhir
Laga antara Persis Solo melawan Dewa United sebenarnya berlangsung kondusif sepanjang 90 menit. Skuad asuhan Milomir Seslija tampil gigih demi mengamankan poin penuh di hadapan pendukung sendiri sebelum melakoni partai pamungkas di luar kota. Namun, begitu pertandingan usai, titik-titik api merah mulai muncul dari berbagai sudut tribun, menciptakan kepulan asap tebal yang menyelimuti seisi stadion. Pemandangan ini memang tampak dramatis secara visual, namun secara regulasi, hal ini merupakan pelanggaran berat yang sangat dihindari oleh manajemen klub.
Ketua Panpel Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, mengungkapkan kegundahannya atas insiden tersebut. Menurutnya, aksi ini murni merupakan ekspresi emosional suporter yang ingin merayakan kebersamaan di laga kandang terakhir musim ini. Namun, niat baik untuk merayakan kemenangan tersebut bisa berujung pada konsekuensi finansial dan administratif yang berat bagi Laskar Sambernyawa. Pihak Panpel kini berada dalam posisi waspada tinggi menunggu laporan resmi dari pengawas pertandingan.
Kebocoran Keamanan di Tengah Penjagaan Ketat
Banyak pihak bertanya-tanya, bagaimana bisa puluhan benda terlarang tersebut lolos ke dalam area tribun padahal prosedur pemeriksaan sudah ditingkatkan. Ginda menjelaskan bahwa petugas keamanan sebenarnya telah bekerja sangat ekstra sebelum pintu masuk dibuka. Tim pengamanan dilaporkan berhasil mengamankan sekitar 80 buah barang berbahaya yang terdiri dari flare, petasan, hingga kembang api selama proses skrining di pintu masuk stadion.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan secara teliti, dan faktanya banyak yang berhasil kami sita. Namun, entah bagaimana, tetap saja ada yang lolos masuk ke tribun. Kami benar-benar menyayangkan hal ini terjadi di saat kami sedang berusaha menjaga citra positif klub,” ujar Ginda saat memberikan keterangan kepada awak media. Fenomena “kucing-kucingan” antara suporter dan petugas keamanan memang menjadi tantangan klasik dalam industri sepak bola Indonesia, namun dampaknya tetap harus dipikul oleh klub sebagai penyelenggara.
Dampak Kesehatan: Penonton Perempuan Mendapatkan Perawatan Medis
Selain ancaman sanksi, dampak nyata dari asap flare tersebut mulai dirasakan oleh penonton lainnya. Dilaporkan terdapat dua orang penonton perempuan yang harus mendapatkan perawatan medis darurat di lokasi. Meskipun bukan luka bakar, keduanya mengalami sesak napas akibat paparan asap yang pekat serta rasa kaget yang memicu gangguan kesehatan ringan. Beruntung, tim medis sigap menangani kondisi tersebut sehingga tidak ada korban jiwa atau luka serius dalam peristiwa ini.
Ginda menekankan bahwa faktor kenyamanan dan keamanan suporter lain adalah prioritas utama yang sering kali terabaikan saat aksi penyalaan flare dilakukan. “Ini yang selalu kami khawatirkan. Ada anak-anak, perempuan, dan orang tua yang mungkin memiliki riwayat asma atau sensitif terhadap asap. Jangan sampai keinginan untuk merayakan sesuatu justru merugikan orang lain yang memiliki niat sama untuk mendukung tim,” tambahnya dengan nada prihatin.
Tindakan Tegas: Puluhan Suporter Diamankan Polisi
Insiden ini tidak lewat begitu saja dari pengawasan aparat penegak hukum. Sebanyak 20 orang suporter dilaporkan diamankan oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Berdasarkan informasi terakhir, para oknum tersebut dibawa ke Mapolresta Surakarta untuk menjalani pemeriksaan terkait dugaan pelanggaran prosedur keamanan stadion. Tindakan tegas ini diharapkan dapat memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, terutama di liga-liga musim depan.
Panpel Persis Solo terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan identifikasi para pelaku berjalan sesuai aturan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya klub untuk menunjukkan komitmen kepada PSSI bahwa mereka tidak melakukan pembiaran terhadap pelanggaran aturan yang ada di dalam stadion.
Bayang-bayang Sanksi Masa Lalu: Jejak Hitam Jepara
Ketakutan Panpel akan sanksi berat bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Persis Solo sudah pernah merasakan pahitnya hukuman dari Komdis PSSI akibat kericuhan yang terjadi saat bertandang ke markas Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini. Kala itu, Laskar Sambernyawa dijatuhi empat surat keputusan sanksi sekaligus, termasuk denda sebesar Rp150 juta dan larangan menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebanyak lima laga.
Melalui proses banding yang panjang, Persis sempat mendapatkan sedikit keringanan berupa pengurangan jumlah laga tanpa penonton. Namun, insiden terbaru di Manahan ini dikhawatirkan akan membatalkan segala progres positif yang sudah dibangun klub di mata Komdis. Jika dianggap sebagai pelanggaran berulang (residivis), sanksi yang diterima Persis Solo bisa jauh lebih berat dan merugikan secara finansial maupun mentalitas pemain.
Rincian Sanksi Komdis yang Menghantui
Berdasarkan Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, tanggung jawab atas tingkah laku buruk penonton sepenuhnya berada di tangan klub tuan rumah. Merujuk pada keputusan sanksi sebelumnya, Persis Solo telah terbukti melanggar Pasal 70 ayat (1) jo ayat (3). Sanksi yang membayang-bayangi saat ini bisa berupa denda tambahan yang mencapai ratusan juta rupiah atau penutupan sebagian tribun stadion (Tribun Utara dan Selatan) untuk laga-laga awal di musim kompetisi berikutnya.
Kehilangan dukungan suporter di awal musim tentu akan menjadi pukulan telak bagi tim asuhan Milomir Seslija. Selain kerugian tiket masuk (gate revenue), atmosfer pertandingan pun akan terasa hambar jika tribun-tribun strategis harus dikosongkan. Hal inilah yang sangat dihindari oleh manajemen, mengingat Persis sedang berupaya membangun stabilitas klub yang profesional di kancah nasional.
Fokus Terakhir: Lawatan ke Kandang Persita Tangerang
Di tengah polemik flare dan ancaman sanksi, skuad Persis Solo harus segera mengalihkan fokus ke pertandingan terakhir mereka. Milomir Seslija atau yang akrab disapa Coach Milo, menegaskan bahwa anak asuhnya akan tetap berjuang hingga menit terakhir di laga penutup musim ini. Persis dijadwalkan akan melawat ke kandang Persita Tangerang untuk menentukan posisi akhir mereka di klasemen kompetisi.
“Kami akan terus berjuang. Musim ini penuh dengan dinamika, tapi tugas kami di lapangan adalah memberikan yang terbaik bagi para penggemar. Kami berharap masalah di luar lapangan dapat diselesaikan dengan bijak tanpa merugikan perjuangan pemain di lapangan,” tutur Milo. Kemenangan atas Dewa United menjadi modal moral yang penting bagi para pemain untuk menutup musim dengan kepala tegak, meskipun bayang-bayang denda tetap menghantui ruang ganti mereka.
Harapan untuk Masa Depan Suporter yang Lebih Dewasa
Kejadian di Stadion Manahan ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pecinta Persis Solo. Budaya merayakan kemenangan tidak harus dilakukan dengan cara-cara yang melanggar hukum dan membahayakan keselamatan orang lain. Denda PSSI yang nilainya fantastis tersebut alangkah baiknya jika dapat dialokasikan untuk pembinaan usia muda atau pengembangan fasilitas klub daripada harus melayang untuk membayar sanksi disiplin.
Kini, publik sepak bola Solo hanya bisa menunggu keputusan resmi dari sidang Komdis PSSI. Apakah aspirasi Panpel untuk tidak disanksi akan dikabulkan, ataukah Manahan harus kembali sunyi di awal musim depan sebagai konsekuensi dari asap merah yang mengepul malam itu? Satu yang pasti, kedewasaan suporter adalah kunci utama agar Persis Solo bisa terus terbang tinggi tanpa harus terbebani oleh sanksi-sanksi yang sebenarnya bisa dihindari.