Menjemput Keberkahan di Hari Raya Kurban: Panduan Lengkap Hukum, Tata Cara, dan Sunnah Sholat Idul Adha

Aris Munandar | ZonaKabar
22 Mei 2026, 09:41 WIB
Menjemput Keberkahan di Hari Raya Kurban: Panduan Lengkap Hukum, Tata Cara, dan Sunnah Sholat Idul Adha

ZonaKabar — Fajar menyingsing di ufuk timur pada tanggal 10 Dzulhijjah menandai tibanya momen yang paling dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, yakni Hari Raya Idul Adha. Hari yang juga dikenal dengan sebutan Lebaran Haji atau Hari Raya Kurban ini tidak hanya sekadar perayaan kemenangan iman melalui kisah Nabi Ibrahim AS, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk bersimpuh dalam ibadah berjamaah. Di tengah hiruk-pikuk persiapan penyembelihan hewan kurban, terdapat satu ibadah sholat yang menjadi pembuka pintu berkah di pagi hari, yaitu sholat Idul Adha.

Namun, di balik kemeriahan gema takbir yang bersahutan, seringkali muncul pertanyaan mendasar di benak sebagian jamaah: apa sebenarnya hukum melaksanakan sholat Idul Adha? Apakah ia merupakan kewajiban mutlak yang jika ditinggalkan berdosa, ataukah sebuah anjuran mulia yang mempertebal pahala? Memahami kedudukan hukum ibadah ini sangatlah krusial agar setiap langkah kita menuju tanah lapang didasari oleh keyakinan dan ilmu yang mantap, bukan sekadar mengikuti tradisi semata.

Menelusuri Perbedaan Pandangan Ulama Mengenai Hukum Sholat Id

Dunia Islam kaya akan khazanah pemikiran dari berbagai mazhab, dan dalam perkara hukum sholat Idul Adha, para ulama besar memiliki perspektif yang sedikit berbeda namun tetap bersumber pada dalil yang kuat. Secara umum, terdapat tiga arus besar pendapat yang berkembang dalam fikih Islam mengenai status hukum sholat tahunan ini.

Baca Juga Tragedi Subuh di Jalur Blora-Cepu: Pemuda Sambong Menjadi Korban Pengeroyokan Brutal 10 Orang Tak Dikenal
Tragedi Subuh di Jalur Blora-Cepu: Pemuda Sambong Menjadi Korban Pengeroyokan Brutal 10 Orang Tak Dikenal

Pertama, pandangan dari Mazhab Hanafi yang menempatkan sholat Idul Adha pada posisi yang sangat tinggi, yakni Wajib bagi setiap individu Muslim yang memenuhi syarat (ain). Pendapat ini bukan tanpa alasan; para ulama Hanafi merujuk pada ketekunan Rasulullah SAW yang tidak pernah sekalipun melewatkan sholat Id sepanjang hidup beliau setelah perintahnya turun. Konsistensi Nabi ini dianggap sebagai indikasi kuat bahwa ibadah ini merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap hamba yang mampu.

Kedua, mayoritas ulama (jumhur) dari Mazhab Syafi’i dan Maliki memandang sholat Idul Adha sebagai Sunnah Muakkad. Artinya, ini adalah ibadah sunnah yang sangat ditekankan dan sangat dianjurkan untuk tidak ditinggalkan. Dasar yang digunakan adalah hadits riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah menjelaskan bahwa kewajiban utama hanyalah sholat lima waktu dalam sehari semalam. Di luar itu, segala bentuk ibadah sholat lainnya bersifat sukarela atau tambahan yang menyempurnakan kualitas iman seseorang.

Ketiga, Mazhab Hanbali mengambil jalan tengah dengan menetapkan hukumnya sebagai Fardhu Kifayah. Dalam konsep ini, jika sudah ada sebagian kelompok umat Muslim yang melaksanakan sholat Id di suatu wilayah, maka kewajiban bagi warga lainnya gugur. Namun, jika dalam suatu perkampungan tidak ada satupun yang melaksanakannya, maka seluruh penduduk desa tersebut menanggung dosa. Meski terdapat perbedaan, mayoritas pakar hukum Islam sepakat bahwa meninggalkan sholat Idul Adha tanpa alasan yang mendesak adalah kerugian besar bagi spiritualitas seorang Muslim.

Baca Juga Rahasia Kalender Jawa Selasa Wage 12 Mei 2026: Filosofi Wuku Gumbrêg dan Momentum Terbaik Membeli Ternak
Rahasia Kalender Jawa Selasa Wage 12 Mei 2026: Filosofi Wuku Gumbrêg dan Momentum Terbaik Membeli Ternak

Waktu dan Tempat: Kapan dan di Mana Sholat Id Seharusnya Digelar?

Berbeda dengan sholat Idul Fitri yang dianjurkan untuk sedikit diundur guna memberi kesempatan pembagian zakat fitrah, pelaksanaan sholat Idul Adha justru disunnahkan untuk dilaksanakan lebih awal. Hal ini memiliki dimensi sosial dan praktis yang sangat dalam. Dengan memulai sholat lebih pagi, yakni saat matahari telah setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbit), umat Islam akan memiliki waktu yang lebih panjang untuk segera melaksanakan prosesi penyembelihan hewan kurban. Hal ini selaras dengan semangat berbagi daging kurban agar bisa segera diolah dan dinikmati oleh para mustahik atau penerima manfaat.

Mengenai lokasi pelaksanaan, terdapat narasi historis yang kuat bahwa Rasulullah SAW lebih sering memilih tanah lapang dibandingkan di dalam masjid. Dalam catatan sejarah, Nabi SAW hanya melaksanakan sholat Id di dalam masjid apabila terkendala cuaca buruk seperti hujan deras. Memilih area terbuka atau mushalla (dalam konteks tempat terbuka) memiliki filosofi syiar Islam yang kuat, di mana ribuan umat berkumpul menunjukkan persatuan, kesetaraan, dan kekuatan jamaah di bawah langit yang sama.

Baca Juga Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga
Drama Menjelang Akad: Kisah Pelarian Pengantin Wanita di Pati yang Hebohkan Warga

Namun, di era modern dengan keterbatasan lahan atau kondisi perkotaan yang padat, melaksanakan sholat di masjid tetap diperbolehkan dan tidak mengurangi keabsahan ibadah tersebut. Yang terpenting adalah esensi dari pertemuan massal tersebut untuk mengagungkan asma Allah SWT secara kolektif.

Panduan Tata Cara Sholat Idul Adha yang Khidmat

Bagi Anda yang akan melaksanakan sholat Id, penting untuk mengingat bahwa tata caranya sedikit berbeda dengan sholat wajib lima waktu atau sholat sunnah biasa. Sholat Idul Adha terdiri dari dua rakaat tanpa didahului dengan kumandang azan maupun iqamah. Kesunyian sebelum takbiratul ihram ini seringkali menambah suasana syahdu di tengah jamaah.

  • Rakaat Pertama: Dimulai dengan Takbiratul Ihram, kemudian membaca doa Iftitah. Setelah itu, jamaah disunnahkan melakukan 7 kali takbir tambahan (takbir zawaid). Di sela-sela setiap takbir, sangat dianjurkan untuk melafalkan kalimat tasbih: “Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar”. Setelah rangkaian takbir selesai, dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah dan surat pendek.
  • Rakaat Kedua: Setelah bangkit dari sujud dan berdiri tegak, jamaah melakukan 5 kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah. Gerakan selanjutnya sama seperti sholat pada umumnya hingga diakhiri dengan salam.

Perlu diingat bahwa setelah salam, rangkaian ibadah belum berakhir. Jamaah sangat dianjurkan untuk tetap duduk dengan tenang guna mendengarkan khutbah Idul Adha. Khutbah ini merupakan bagian integral dari syiar hari raya yang berisi pesan-pesan ketakwaan, kisah pengorbanan, serta edukasi mengenai tata cara berkurban yang benar menurut syariat Islam.

Baca Juga Update Lengkap Jadwal KRL Solo-Jogja Pekan Ini 4-10 Mei 2026: Strategi Perjalanan Efisien untuk Komuter
Update Lengkap Jadwal KRL Solo-Jogja Pekan Ini 4-10 Mei 2026: Strategi Perjalanan Efisien untuk Komuter

Surat-Surat Sunnah yang Menggetarkan Jiwa

Dalam sejarah pelaksanaannya, Rasulullah SAW memberikan teladan mengenai pilihan surat yang dibaca setelah Al-Fatihah agar suasana sholat semakin mendalam. Pilihan surat ini bukan tanpa makna, melainkan mengandung pesan tentang penciptaan, hari akhir, dan kemuliaan Tuhan. Berikut adalah beberapa kombinasi surat yang sering dibaca oleh Nabi SAW:

  1. Surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah: Kombinasi ini sangat populer. Pada rakaat pertama membaca Surat Al-A’la (Yang Maha Tinggi) dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ghasyiyah (Hari Pembalasan). Keduanya mengingatkan manusia akan eksistensi akhirat di tengah kegembiraan duniawi.
  2. Surat Qaf dan Al-Qamar: Pilihan lain yang pernah dipraktikkan Nabi adalah Surat Qaf pada rakaat awal dan Surat Al-Qamar pada rakaat berikutnya. Kedua surat ini memiliki rima yang kuat dan pesan yang sangat menggetarkan hati bagi mereka yang memahami maknanya.

Tentu saja, bagi imam sholat, pemilihan surat tetap harus mempertimbangkan kondisi jamaah. Namun, mengikuti sunnah Nabi dalam pemilihan surat ini tentu akan menambah nilai estetika spiritual dalam ibadah kita.

Baca Juga Momen Haru Kepulangan Kloter 1 Debarkasi Solo: Transformasi Layanan dan Penantian Panjang yang Berujung Syukur
Momen Haru Kepulangan Kloter 1 Debarkasi Solo: Transformasi Layanan dan Penantian Panjang yang Berujung Syukur

Penutup: Lebih dari Sekadar Ritual Tahunan

Pada akhirnya, sholat Idul Adha adalah gerbang menuju pengabdian yang lebih besar, yakni ibadah kurban. Tata cara sholat yang tertib dan pemahaman hukum yang benar hanyalah sarana untuk mencapai satu tujuan: kedekatan (taqarrub) kepada Sang Pencipta. Saat kita berdiri di shaf yang rapat, tidak ada lagi perbedaan status sosial; semua sama-sama mengharap ampunan dan keberkahan.

Semoga dengan memahami panduan lengkap ini, pelaksanaan sholat Idul Adha kita tahun ini tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban atau mengikuti rutinitas, tetapi benar-benar menjadi transformasi batin yang menjadikan kita pribadi yang lebih rela berkorban demi kemanusiaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Selamat menyambut Hari Raya Kurban, semoga setiap takbir yang kita ucapkan menggetarkan arsy dan mendatangkan kedamaian bagi seluruh alam.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *