Mencekam! King Cobra 3 Meter Teror Pemukiman di Kuningan, Tim Damkar Berjibaku di Ruang Sempit
ZonaKabar — Suasana senja yang biasanya tenang di Desa Cinembey, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, mendadak berubah menjadi penuh ketegangan. Seekor raja reptil yang paling ditakuti, King Cobra (Ophiophagus bungarus) dengan ukuran raksasa mencapai tiga meter, muncul dan menebar teror di tengah pemukiman warga. Kehadiran predator mematikan ini tak pelak membuat warga sekitar dilanda kecemasan luar biasa, mengingat reputasi sang ular yang memiliki bisa neurotoksin sangat kuat.
Peristiwa yang menguji adrenalin ini terjadi pada Jumat sore (22/5/2026), tepat saat warga sedang bersiap menyambut waktu Maghrib. Beruntung, kewaspadaan warga dan respons cepat dari tim penyelamat berhasil mencegah terjadinya korban jiwa dalam insiden yang sangat berisiko ini. Evakuasi ular kali ini tercatat sebagai salah satu misi paling menantang bagi petugas karena ukuran objek dan lokasi persembunyian yang sangat sulit dijangkau.
Kronologi Penemuan: Kejutan di Balik Pohon Pisang
Teror ini bermula ketika seorang ibu rumah tangga bernama Tetin (50) sedang beraktivitas di area belakang rumahnya. Sekitar pukul 18.10 WIB, Tetin bermaksud memeriksa area perkebunan kecil miliknya yang terletak di sisi selatan rumah, tepatnya di dekat barisan pohon pisang. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat matanya menangkap siluet panjang yang bergerak di antara dedaunan kering.
Awalnya, ia mengira itu hanyalah dahan pohon yang jatuh, namun ketika siluet tersebut menegakkan kepalanya dan mengeluarkan suara mendesis yang nyaring, Tetin menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan bahaya nyata. Seekor King Cobra berukuran besar sedang melata dengan tenang namun penuh kewaspadaan. Panik dengan apa yang dilihatnya, Tetin segera menjauh, sementara ular tersebut justru melesat ke arah halaman rumah dan menyelinap ke dalam tumpukan material asbes yang tidak terpakai.
“Menjelang magrib ular tersebut pertama kali diketahui oleh Ibu Tetin di kebun sebelah selatan rumahnya di dekat pohon pisang. Ular tersebut kemudian lari ke depan halaman rumah dan masuk ke sela-sela tumpukan asbes yang menumpuk. Ibu Tetin sangat kaget saat melihat jelas bahwa itu adalah King Cobra yang sangat besar,” ungkap Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, saat memberikan keterangan resmi kepada ZonaKabar.
Aksi Cepat Tanggap Perangkat Desa dan Damkar
Sadar bahwa keberadaan ular tersebut merupakan ancaman serius bagi keselamatan keluarganya dan tetangga sekitar, Tetin tidak mencoba bertindak sendirian. Ia langsung menghubungi Bapak Ori, salah satu perangkat desa setempat, untuk meminta pertolongan. Laporan tersebut kemudian diteruskan secara darurat ke kantor UPT Pemadam Kebakaran Kabupaten Kuningan.
Mendapat laporan adanya King Cobra masuk pemukiman, tim Damkar Kuningan tidak membuang waktu. Sebanyak empat personel yang memiliki spesialisasi dalam penanganan hewan liar segera diterjunkan ke lokasi kejadian. Mengingat jenis ular yang dilaporkan adalah King Cobra—ular berbisa terpanjang di dunia—petugas datang dengan perlengkapan lengkap, mulai dari hook, grab stick, hingga alat pelindung diri yang memadai.
Setibanya di lokasi di Desa Cinembey, tim langsung melakukan sterilisasi area agar warga tidak mendekat. Hal ini penting dilakukan karena sifat King Cobra yang sangat teritorial dan bisa menjadi sangat agresif jika merasa terpojok oleh kerumunan orang.
Drama Evakuasi: 15 Menit Taruhan Nyawa
Proses evakuasi ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Musuh utama petugas bukanlah sekadar ukuran ular yang mencapai tiga meter, melainkan posisi ular yang terjepit di celah-celah sempit tumpukan asbes. Material asbes yang rapuh dan tajam menambah tingkat kesulitan karena petugas harus bergerak ekstra hati-hati agar tidak terluka sekaligus tidak menyakiti hewan tersebut secara fatal.
“Hambatan utamanya adalah posisi ular yang bersembunyi di balik tumpukan asbes yang sangat rapat. King Cobra ini memiliki karakter yang agresif, dan ruang gerak kami sangat terbatas. Anggota harus benar-benar fokus dan hati-hati dalam setiap gerakan agar tidak terkena serangan mendadak,” jelas Andri Arga Kusuma lebih lanjut.
Ketegangan memuncak ketika petugas mencoba memancing ular keluar. King Cobra tersebut beberapa kali mencoba menyerang petugas dengan mengembangkan lehernya (hood) yang khas. Namun, berkat keahlian dan ketenangan para personel Damkar, setelah berjibaku selama kurang lebih 15 menit, bagian kepala ular berhasil dikunci menggunakan tongkat penjepit khusus. Tepat pada pukul 19.10 WIB, sang “Raja” berhasil diamankan sepenuhnya ke dalam box pengaman.
Mengenal Bahaya King Cobra dan Alasan Masuk ke Pemukiman
Secara ilmiah, King Cobra atau Ophiophagus bungarus bukanlah ular kobra biasa. Mereka adalah pemangsa ular lainnya (ophiophagus berarti pemakan ular). Dengan ukuran 3 meter seperti yang ditemukan di Kuningan, ular ini mampu menyuntikkan bisa dalam jumlah besar dalam sekali gigitan. Bisa tersebut mengandung racun saraf yang dapat menghentikan sistem pernapasan manusia dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani dengan antivenom yang tepat.
Fenomena masuknya ular ke area pemukiman di Kuningan belakangan ini sering dikaitkan dengan beberapa faktor lingkungan. Perubahan cuaca, rusaknya habitat alami, hingga menipisnya stok makanan di hutan memaksa hewan-hewan ini mencari tempat baru yang menyediakan sumber makanan seperti tikus atau ular kecil lainnya. Tumpukan barang bekas seperti asbes, kayu, atau genteng di sekitar rumah menjadi tempat favorit mereka untuk bersembunyi karena suhunya yang lembap dan terlindungi dari sinar matahari langsung.
Himbauan Keamanan untuk Masyarakat
Pasca insiden yang menegangkan tersebut, UPT Damkar Kuningan mengeluarkan himbauan keras bagi seluruh masyarakat di wilayah Lebakwangi dan sekitarnya. Andri Arga Kusuma mengingatkan bahwa menangani ular, apalagi jenis berbisa tinggi, bukanlah perkara yang bisa dilakukan oleh sembarang orang tanpa pelatihan khusus.
“Kami meminta warga untuk selalu waspada, terutama saat membersihkan area kebun atau gudang di malam hari. Jika menemukan ular, jangan pernah mencoba menangkapnya sendiri. Jangan dipukul atau diprovokasi, cukup pantau posisinya dari jarak aman dan segera hubungi kami di kantor Pemadam Kebakaran. Kami siap melayani 24 jam tanpa dipungut biaya,” tegasnya.
Selain itu, warga disarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan cara:
- Rutin membersihkan tumpukan barang bekas, kayu, atau material konstruksi di halaman rumah.
- Memastikan rumput di sekitar rumah tetap pendek agar pergerakan hewan liar mudah terlihat.
- Menggunakan wewangian yang tajam seperti pembersih lantai atau kapur barus di sudut-sudut rumah, karena ular cenderung menghindari bau yang menyengat.
- Menutup celah-celah kecil di bawah pintu atau saluran air yang bisa menjadi akses masuk reptil.
Kini, King Cobra sepanjang 3 meter tersebut telah diamankan di markas UPT Damkar Kuningan sebelum nantinya akan diserahkan ke pihak terkait atau dilepasliarkan kembali ke habitat yang jauh dari pemukiman manusia. Kejadian di Desa Cinembey ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa harmoni antara manusia dan alam terkadang melahirkan pertemuan yang tak terduga, yang menuntut kewaspadaan dan tindakan yang tepat.