Gema Kedamaian di Kota Bengawan: Sambutan Hangat Warga Solo untuk 57 Biksu Thudong dalam Puncak Kirab Waisak

Aris Munandar | ZonaKabar
23 Mei 2026, 21:41 WIB
Gema Kedamaian di Kota Bengawan: Sambutan Hangat Warga Solo untuk 57 Biksu Thudong dalam Puncak Kirab Waisak

ZonaKabar Suasana khidmat nan magis menyelimuti jantung Kota Surakarta saat ribuan warga tumpah ruah memadati kawasan Balai Kota Solo. Kehadiran massa yang begitu antusias ini bukan tanpa alasan; mereka menanti tibanya rombongan 57 Biksu Thudong yang tengah menjalani perjalanan spiritual panjang menuju puncak perayaan Hari Tri Suci Waisak 2570 BE / 2026. Momen ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan manifestasi nyata dari harmoni dan toleransi yang telah lama mendarah daging di tanah Jawa.

Perjalanan para biksu yang dikenal dengan tradisi berjalan kaki ribuan kilometer ini menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. Sejak sore hari, barisan manusia telah berjajar rapi di sepanjang rute yang akan dilalui kirab. Kota Solo, yang sering dijuluki sebagai jiwanya Jawa, kembali menunjukkan wajahnya yang inklusif, menyambut tamu-tamu agung dari berbagai penjuru dengan tangan terbuka dan senyuman yang tulus.

Arak-arakan Budaya: Perpaduan Tradisi dan Spiritualitas

Kirab dimulai tepat pukul 18.30 WIB dengan titik keberangkatan dari Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo yang ikonik. Namun, kirab ini bukanlah prosesi yang monoton. Seolah ingin menunjukkan kekayaan budaya Solo, rombongan para biksu dikawal oleh barisan seni tradisional yang memukau. Di barisan terdepan, dentuman kendang dan atraksi gagah Reog Ponorogo membelah jalanan, disusul oleh derap langkah tegap Paskibraka serta barisan Prajurit Mangkunegaran yang mengenakan seragam kebesaran mereka.

Baca Juga Peluang Emas Pengabdian: Panduan Lengkap Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat Kemensos 2026
Peluang Emas Pengabdian: Panduan Lengkap Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat Kemensos 2026

Di tengah riuhnya atraksi budaya tersebut, keberadaan 57 Biksu Thudong dengan jubah jingga khas mereka memberikan kontras yang menenangkan. Langkah-langkah kecil namun pasti dari para biksu ini seolah membawa pesan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota. Masyarakat yang menonton tidak hanya sekadar mengambil foto, namun banyak pula yang memberikan penghormatan dengan merangkapkan kedua tangan di dada (anjali) sebagai bentuk rasa hormat yang mendalam terhadap perjalanan spiritual biksu thudong.

Ritual Suci di Balai Kota: Melantunkan Doa untuk Semesta

Setibanya di Halaman Balai Kota Solo, atmosfer berubah menjadi lebih hening dan sakral. Para biksu kemudian mengambil tempat di panggung utama yang telah dipersiapkan dengan apik. Agenda dilanjutkan dengan pembacaan Paritta, bait-bait suci yang dilantunkan dengan nada yang ritmis dan menenangkan jiwa. Suara lantunan doa tersebut menggema di tengah kerumunan warga yang mendengarkan dengan penuh khidmat, meskipun sebagian besar dari mereka memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda.

Puncak dari seluruh rangkaian acara malam itu adalah ritual memandikan Rupang (patung) Siddhartha Gautama. Ritual ini memiliki makna simbolis yang sangat dalam, yakni sebagai bentuk penyucian diri dari segala kekotoran batin dan pikiran. Setiap tetesan air yang disiramkan ke patung sang Buddha menjadi pengingat bagi setiap individu untuk senantiasa menjaga kebersihan hati dan menebar cinta kasih kepada sesama makhluk hidup dalam semangat perayaan Waisak.

Baca Juga Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus
Tragedi Tanggul Jebol Mangkang Kulon: Perjuangan Tim SAR Temukan Lansia yang Hanyut Terseret Arus

Pesan Damai Bhante Tejapunno: Kebajikan sebagai Solusi Kehidupan

Dalam kesempatan tersebut, Bhante Tejapunno Mahathera, perwakilan biksu dari Indonesia, menyampaikan pesan yang sangat menyentuh hati. Beliau memberikan apresiasi yang luar biasa tinggi kepada seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga aparat keamanan TNI-Polri yang telah mengawal perjalanan fisik dan spiritual para biksu dengan penuh dedikasi. Namun, inti dari pesan beliau adalah tentang kekuatan kebajikan yang universal.

“Kebajikan adalah bekal sejati manusia. Dalam setiap kesulitan yang kita hadapi dalam hidup, kebajikanlah yang akan menjadi solusi terbaik,” tutur Bhante Teja dengan suara yang teduh. Beliau juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Menurutnya, perdamaian dunia tidak akan bisa terwujud tanpa adanya individu-individu yang damai di dalamnya. Doa-doa yang dipanjatkan malam itu tidak hanya ditujukan untuk umat Buddha semata, tetapi juga dialirkan untuk para leluhur, orang tua, serta saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah agar segera mendapatkan kesembuhan dan kebahagiaan melalui kerukunan umat beragama.

Baca Juga Gebrakan Sektor Kelautan: Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya 80 Ton Udang Vaname di Kebumen dengan Standar Global
Gebrakan Sektor Kelautan: Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya 80 Ton Udang Vaname di Kebumen dengan Standar Global

Wali Kota Solo: Bukti Solo adalah Rumah bagi Semua

Di sisi lain, Wali Kota Solo, Respati Ardi, tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya atas suksesnya acara ini. Baginya, kedatangan rombongan Thudong dan kesediaan mereka untuk singgah serta mengikuti kirab di Solo adalah sebuah kehormatan besar. Ia melihat fenomena ini sebagai validasi bahwa Solo tetap konsisten menjaga predikatnya sebagai kota yang toleran dan sangat terbuka bagi siapa pun.

“Kami sangat bersyukur. Kehadiran para biksu ini sudah lama kami harapkan. Ini adalah bukti nyata bahwa Kota Solo terbuka bagi siapa pun, bagi agama dan kepercayaan apa pun untuk melaksanakan upacara adat maupun keagamaan,” tegas Respati. Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Solo yang telah menunjukkan sikap dewasa dengan menyambut tamu-tamu tersebut tanpa ada gesekan sedikit pun. Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen untuk terus menyediakan ruang aman bagi setiap aktivitas spiritual yang mengusung misi kedamaian di kota solo.

Thudong: Lebih dari Sekadar Perjalanan Fisik

Bagi yang belum familiar, perjalanan Thudong bukanlah sekadar jalan kaki biasa. Ini adalah praktik asketik dalam ajaran Buddha di mana para biksu melatih kesabaran, ketahanan fisik, dan keteguhan batin dengan berjalan kaki jarak jauh tanpa bergantung pada kemewahan. Dengan membawa perlengkapan seminim mungkin, mereka belajar untuk melepaskan keterikatan duniawi.

Baca Juga Skandal Kekerasan Oknum DPRD Temanggung: Proses Pemecatan NR Menanti Keputusan Final Gubernur Jawa Tengah
Skandal Kekerasan Oknum DPRD Temanggung: Proses Pemecatan NR Menanti Keputusan Final Gubernur Jawa Tengah

Kehadiran mereka di Solo di tahun 2026 ini menjadi catatan sejarah penting dalam kalender wisata religi dan budaya di Jawa Tengah. Melalui kirab waisak ini, pesan-pesan universal tentang cinta kasih (Metta) dan kasih sayang (Karuna) tersampaikan dengan cara yang sangat elegan dan menyentuh. Setelah rangkaian acara selesai, para biksu melanjutkan istirahat mereka untuk mempersiapkan energi menuju tujuan akhir perjalanan mereka, membawa serta kenangan manis tentang hangatnya sapaan warga di Kota Bengawan.

Acara malam itu ditutup dengan suasana penuh keakraban antara warga, petugas, dan penyelenggara. Meski acara telah usai, gema doa dan semangat toleransi yang ditinggalkan oleh rombongan Thudong diharapkan tetap tinggal di hati masyarakat Solo, menjadi pengingat bahwa di bawah langit yang sama, kita semua adalah saudara yang merajut mimpi tentang kedamaian yang abadi.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *