Geger Sound Horeg di Jepara: Getaran Dahsyat Takbir Keliling Bikin Rumah Warga Ambyar

Aris Munandar | ZonaKabar
27 Mei 2026, 11:41 WIB
Geger Sound Horeg di Jepara: Getaran Dahsyat Takbir Keliling Bikin Rumah Warga Ambyar

ZonaKabar — Suasana malam takbiran yang seharusnya penuh khidmat dan kegembiraan di Kabupaten Jepara mendadak berubah menjadi tontonan publik yang mengejutkan. Sebuah fenomena yang kini tengah menjadi tren, yakni penggunaan sistem suara berkekuatan ekstrem atau yang akrab disapa dengan istilah sound horeg, kembali memicu kontroversi setelah menyebabkan kerusakan fisik pada hunian warga di tengah kemeriahan festival takbir keliling.

Guncangan Hebat di Desa Bandungrejo

Kejadian yang kini tengah viral di jagat maya tersebut terjadi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Dalam sebuah rekaman video yang beredar luas, terlihat bagaimana dahsyatnya efek frekuensi rendah atau bass dari tumpukan speaker raksasa tersebut mampu menggoyang struktur bangunan. Tak main-main, getaran tersebut mengakibatkan plafon rumah runtuh dan kaca-kaca jendela pecah berantakan.

Peristiwa ini menjadi sorotan tajam setelah akun media sosial @infoseputarjepara mengunggah kondisi rumah pasca-kejadian. Dalam video tersebut, puing-puing kaca dan material plafon berserakan di lantai, menyisakan pemandangan pilu di tengah euforia perayaan Idul Adha. Warga net pun berbondong-bondong memberikan komentar terkait keamanan penggunaan sound horeg dalam acara-acara publik.

Baca Juga Batas Ketahanan Tubuh Anabul: Berapa Lama Kucing Bisa Bertahan Hidup Tanpa Makan dan Minum?
Batas Ketahanan Tubuh Anabul: Berapa Lama Kucing Bisa Bertahan Hidup Tanpa Makan dan Minum?

Kronologi Kejadian di Malam Takbir

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi, insiden ini berlangsung saat festival takbir keliling untuk menyambut hari raya Idul Adha pada Selasa malam. Sejumlah rombongan peserta festival membawa truk yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut puluhan pengeras suara dengan kapasitas watt yang sangat besar. Saat rombongan melintasi kawasan permukiman padat di Desa Bandungrejo, intensitas suara yang dikeluarkan mencapai titik di mana material bangunan tidak lagi mampu menahan resonansi getaran.

Jarak antara armada sound system dengan bangunan rumah yang terbilang dekat disinyalir menjadi faktor utama mengapa dampak kerusakan begitu fatal. Getaran mekanis dari gelombang suara tersebut merambat melalui udara dan tanah, yang kemudian menghantam kaca jendela hingga mencapai titik resonansi tertingginya dan pecah seketika.

Konfirmasi dari Pihak Kepolisian Jepara

Menanggapi kegaduhan yang terjadi di masyarakat, Kasi Humas Polres Jepara, AKP Dwi Prayitna, memberikan keterangan resmi. Ia membenarkan bahwa memang telah terjadi kerusakan pada satu unit rumah warga akibat paparan suara dari rangkaian acara takbir keliling tersebut. Pihak kepolisian segera bergerak cepat untuk memastikan situasi tetap kondusif dan tidak menimbulkan konflik horizontal antara warga dan penyelenggara.

Baca Juga 12 Puisi Hari Buruh 2026: Kidung Perlawanan dan Seruan Keadilan dari Jantung Perjuangan Rakyat
12 Puisi Hari Buruh 2026: Kidung Perlawanan dan Seruan Keadilan dari Jantung Perjuangan Rakyat

“Benar, ada kejadian satu unit rumah warga di Desa Bandungrejo yang mengalami kerusakan di bagian jendela dan plafon. Hal ini terjadi saat berlangsungnya festival takbir keliling yang menggunakan perangkat suara besar,” ungkap AKP Dwi Prayitna saat dikonfirmasi oleh awak media.

Kesepakatan dan Tanggung Jawab Panitia

Meskipun kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan, AKP Dwi Prayitna menekankan bahwa persoalan ini telah diselesaikan secara kekeluargaan. Ternyata, jauh sebelum acara dimulai, pihak panitia penyelenggara di desa setempat telah memiliki komitmen tertulis dan kesepakatan bersama dengan warga mengenai potensi risiko yang mungkin timbul selama festival berlangsung.

“Panitia sudah menyatakan bertanggung jawab penuh dan bersedia mengganti seluruh kerugian yang dialami pemilik rumah. Tidak ada sengketa lebih lanjut karena memang sudah ada perjanjian di awal bahwa jika ada kerusakan akibat operasional sound system, panitia yang akan menanggung biayanya,” tambah Dwi. Hal ini menunjukkan adanya bentuk mitigasi risiko, meskipun pada praktiknya dampak di lapangan tetap mengejutkan banyak pihak.

Baca Juga Misi Ambisius Persijap Jepara: Siap Menjadi Batu Sandungan Terakhir Persib Bandung Menuju Tahta Juara
Misi Ambisius Persijap Jepara: Siap Menjadi Batu Sandungan Terakhir Persib Bandung Menuju Tahta Juara

Mengenal Tren Sound Horeg di Jawa Tengah

Fenomena sound horeg belakangan memang menjadi primadona dalam setiap perayaan hari besar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kata ‘horeg’ sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘bergetar hebat’. Penggemar audio ini biasanya tidak hanya mementingkan kejernihan suara, melainkan kekuatan dentuman yang mampu menggetarkan dada hingga bangunan di sekitarnya.

Namun, di balik popularitasnya, tren ini menyimpan risiko keamanan yang tinggi. Selain potensi kerusakan properti seperti yang terjadi di Kabupaten Jepara, paparan suara di atas ambang batas normal juga berisiko mengganggu kesehatan pendengaran manusia, memicu kecemasan pada lansia dan balita, hingga mengganggu kenyamanan hewan ternak di lingkungan sekitar.

Pelajaran Berharga untuk Penyelenggara Event

Kasus di Kalinyamatan ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak, terutama bagi penyelenggara acara di masa mendatang. Penggunaan perangkat suara dengan intensitas tinggi di area permukiman semestinya dilakukan dengan perhitungan teknis yang matang. Tidak hanya soal ganti rugi materiil, namun aspek keselamatan struktural bangunan dan kesehatan masyarakat luas harus menjadi prioritas utama.

Baca Juga Brebes Cetak Sejarah Baru: Inovasi Jejaring Pariwara Antikorupsi Resmi Mengudara di Hari Kebangkitan Nasional
Brebes Cetak Sejarah Baru: Inovasi Jejaring Pariwara Antikorupsi Resmi Mengudara di Hari Kebangkitan Nasional

Banyak pengamat sosial menyarankan agar pemerintah daerah mulai menyusun regulasi yang lebih ketat mengenai batas maksimal desibel (dB) yang diizinkan dalam acara keramaian di jalan umum. Hal ini diperlukan agar tradisi perayaan seperti takbir keliling tetap bisa berjalan meriah tanpa harus mengorbankan ketenangan dan keamanan aset milik warga lainnya.

Reaksi Warga Net dan Dampak Sosial

Viralnya video rumah ambyar ini juga memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian pihak menganggap hal ini sebagai bentuk hiburan yang kebablasan, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai bagian dari dinamika budaya populer masa kini. Namun, mayoritas suara menuntut agar hobi atau kesenangan kelompok tertentu tidak merugikan orang lain secara fisik maupun psikis.

Di Desa Bandungrejo sendiri, situasi terpantau sudah kembali normal. Pemilik rumah yang terdampak tengah menunggu proses perbaikan yang dijanjikan oleh panitia. Meski masalah hukum dan finansial dianggap selesai melalui jalur mediasi, namun bayang-bayang getaran hebat dari viral sound horeg tersebut tentu meninggalkan kesan mendalam bagi penghuni rumah dan warga sekitar yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Baca Juga Tragedi di Jalan Slamet Riyadi: Pelajar SMP Tewas dalam Kecelakaan Maut di Kartasura Sukoharjo
Tragedi di Jalan Slamet Riyadi: Pelajar SMP Tewas dalam Kecelakaan Maut di Kartasura Sukoharjo

Kesimpulan

Insiden di Jepara ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya sebuah pesta rakyat, ada batasan-batasan fisik dan sosial yang harus dihormati. Kreativitas dan ekspresi dalam merayakan hari besar tentu sah-sah saja, asalkan tidak melampaui batas yang dapat membahayakan lingkungan sekitar. Semoga kejadian ini menjadi titik balik bagi para pecinta audio dan penyelenggara acara untuk lebih bijak dalam menentukan standar volume suara di ruang publik.

Tetap ikuti perkembangan berita terkini mengenai tren sosial dan kejadian unik lainnya hanya di platform informasi terpercaya kita bersama. Keamanan dan kenyamanan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua, melampaui sekadar keriuhan yang bersifat sementara.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *