Kisah Perjuangan Biksu Thudong Menaklukkan Tanjakan Gombel: Sebuah Perjalanan Spiritual Menuju Candi Sewu
ZonaKabar — Di balik jubah saffron yang berkibar tertiup angin jalanan, tersimpan sebuah keteguhan hati yang luar biasa. Sebanyak 17 orang biksu thudong yang tengah melakoni perjalanan spiritual panjang dari Candi Sima, Jepara, menuju Candi Sewu, Klaten, kini telah menginjakkan kaki di Bumi Tersenyum, Boyolali. Namun, perjalanan ini bukanlah sekadar jalan kaki biasa; ini adalah sebuah ujian fisik dan mental yang menguras seluruh energi, terutama saat mereka harus berhadapan dengan medan ekstrem di Jawa Tengah.
Menaklukkan ‘Monster’ Tanjakan Gombel di Semarang
Bagi siapa pun yang sering melintasi jalur utama Semarang menuju arah selatan, nama Tanjakan Gombel tentu bukan hal yang asing. Medan ini dikenal sebagai salah satu titik paling menantang bagi kendaraan, apalagi bagi manusia yang menempuhnya dengan berjalan kaki di bawah terik matahari. Inilah yang dirasakan secara mendalam oleh para bhikkhu dalam perjalanan suci mereka kali ini.
Bhikkhu Aggacitto, salah satu peserta thudong, mengungkapkan bahwa dari sekian banyak rute yang telah mereka lalui sejak memulai perjalanan dari Jepara, Tanjakan Gombel di Semarang adalah ujian fisik yang paling berat. “Kalau untuk rute yang berat sebenarnya di daerah Semarang ya. Nah, mungkin tahu ya Gombel ya. Nah Gombel itu tanjakan tinggi kali itu. Nah, itu bukan pendek tapi tinggi, jauh lagi. Ya menurut kami itu yang untuk tanjakan yang betul-betul menguras tenaga,” kenang Bhikkhu Aggacitto saat ditemui tim ZonaKabar di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Ampel, Boyolali.
Bayangkan saja, setelah berjalan puluhan kilometer dari pesisir utara, otot-otot kaki mereka dipaksa bekerja ekstra keras untuk mendaki kemiringan yang curam. Namun, bagi para biksu ini, setiap langkah di tanjakan tersebut adalah bentuk meditasi bergerak, sebuah upaya untuk mengikis ego dan melatih kesabaran di tengah rasa lelah yang menghimpit.
Sengatan Matahari Demak: Ujian Keteguhan di Bawah Langit Terik
Jika Semarang memberikan tantangan berupa medan yang menanjak, wilayah Demak memberikan tantangan yang berbeda namun tak kalah hebat: cuaca ekstrem. Bhikkhu Aggacitto menceritakan bagaimana panasnya udara di wilayah Demak seolah-olah menguji batas kemampuan tubuh mereka. Aspal yang membara dan kelembapan tinggi menjadi teman setia selama mereka melintasi wilayah pesisir tersebut.
“Tapi kalau untuk cuaca panas, ya memang sangat luar biasa panasnya itu di daerah Demak,” ungkap Bhikkhu asal Jepara yang sehari-harinya bertugas di Medan, Sumatera Utara tersebut. Meskipun peluh bercucuran dan rasa haus tak tertahankan, semangat mereka tak luntur. Bagi mereka, panas matahari adalah simbol dari pembersihan diri, di mana segala beban batin dilepaskan bersama tetesan keringat.
Perjalanan ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap nilai-nilai spiritual mampu melampaui keterbatasan fisik. Dengan langkah yang tenang namun pasti, mereka terus melaju melewati Bangsri, Mlonggo, Welahan, hingga akhirnya tiba di perbatasan Boyolali pada Rabu sore.
Hangatnya Toleransi di Sepanjang Rute ‘Work for Peace’
Salah satu aspek yang paling menyentuh hati dari perjalanan thudong kali ini adalah sambutan masyarakat yang luar biasa. Mengusung tema “Work for Peace” dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak, kehadiran para biksu ini menjadi magnet persatuan di setiap daerah yang mereka lalui. Dari Jepara hingga Boyolali, warga lintas agama tampak antusias menyambut dan bahkan memberikan bantuan berupa minuman dan makanan ringan.
Bhikkhu Aggacitto merasa sangat terkesan dengan keunikan ekspresi setiap daerah dalam menyambut mereka. “Jadi dari Candi Sima, kemudian di Bangsri, di Mlonggo, di Jepara, Welahan, di Demak itu punya keistimewaan yang beda-beda. Karena mereka mempresentasikan dalam penyambutan itu tidak sama. Tapi secara umum mereka semuanya luar biasa,” imbuhnya dengan nada penuh syukur.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya akar toleransi di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Masyarakat tidak melihat perbedaan keyakinan, melainkan melihat kemanusiaan dan perjuangan tulus para biksu tersebut. Hal ini sejalan dengan misi damai yang dibawa dalam perjalanan thudong ini, di mana perdamaian bukan hanya kata-kata, melainkan tindakan nyata di lapangan.
Persinggahan di Vihara Veluvana dan Persiapan Menuju Klaten
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, para biksu kini beristirahat di Vihara Veluvana, yang berada di dalam komplek kampus STIAB Smaratungga, Ampel. Tempat ini menjadi oase bagi mereka untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan ke jantung Kota Boyolali pada keesokan harinya.
Menurut keterangan dari Ketua Panitia Kegiatan Thudong Jawa Tengah, Sundoko, jumlah biksu yang ikut serta mengalami dinamika selama perjalanan. Awalnya dimulai oleh 16 biksu dari Candi Sima Jepara, kemudian bertambah menjadi 17 orang saat tiba di Semarang. Namun, menjelang masuk ke wilayah Klaten, diprediksi akan ada tiga orang bhikkhu yang harus memisahkan diri karena tugas pelayanan yang sudah menanti di Medan.
Target akhir dari perjalanan ini adalah Candi Sewu yang terletak di perbatasan Klaten dan Sleman. Diperkirakan, rombongan suci ini akan tiba pada Sabtu (30/5). Di sana, mereka akan bergabung dengan umat Buddha lainnya untuk melaksanakan rangkaian ibadah menyambut Waisak, membawa pesan kedamaian yang telah mereka kumpulkan dari setiap jengkal jalanan yang mereka lalui.
Mengenal Tradisi Thudong: Lebih dari Sekadar Berjalan Kaki
Bagi pembaca ZonaKabar yang mungkin belum familiar, thudong adalah praktik spiritual dalam tradisi Buddhisme Theravada di mana para biksu berkelana dengan berjalan kaki untuk melatih kedisiplinan dan pelepasan keduniawian. Mereka hanya membawa perlengkapan minimal dan mengandalkan kemurahan hati umat untuk kebutuhan dasar mereka.
Praktik ini mengajarkan tentang ketidakkekalan hidup dan pentingnya menjaga fokus batin di tengah gangguan dunia luar. Dengan menempuh perjalanan ratusan kilometer, para biksu belajar untuk tidak terikat pada kenyamanan, menghadapi rasa sakit fisik dengan ketenangan, dan tetap memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk yang mereka temui di sepanjang jalan.
Perjalanan thudong tahun ini dari Jepara ke Klaten menjadi saksi bisu betapa spiritualitas masih memiliki tempat yang sangat dalam di tengah masyarakat modern. Meskipun zaman telah berubah, langkah-langkah kaki telanjang atau beralas sandal tipis di atas aspal panas tetap menjadi simbol yang kuat akan pencarian makna hidup yang sesungguhnya.
Penutup: Menanti Puncak Perayaan di Candi Sewu
Kini, masyarakat Boyolali dan sekitarnya masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan langsung momen bersejarah ini sebelum para biksu melanjutkan langkah mereka ke Candi Sewu. Kehadiran mereka bukan hanya sekadar tontonan, melainkan pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kerja keras, kesabaran, dan tentu saja, perdamaian antar sesama manusia.
Mari kita doakan agar perjalanan sisa para bhikkhu ini diberikan kelancaran dan kekuatan hingga mencapai tujuan akhir mereka. Semoga pesan “Work for Peace” yang mereka bawa dapat meresap ke dalam hati setiap insan, menciptakan harmoni yang abadi di bumi nusantara.