Di Balik Nama Nyeleneh Dusun Pentil: Riwayat Perjuangan dan Filosofi Hidup Warga Rembang

Aris Munandar | ZonaKabar
14 Jun 2026, 07:41 WIB
Di Balik Nama Nyeleneh Dusun Pentil: Riwayat Perjuangan dan Filosofi Hidup Warga Rembang

ZonaKabar — Sebuah nama sering kali menjadi identitas yang melekat erat pada sebuah wilayah, membawa narasi sejarah, atau bahkan doa dari para leluhur. Namun, bagi masyarakat di Kabupaten Rembang, tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, terdapat sebuah nama dusun yang kerap memancing tawa sekaligus rasa penasaran bagi siapa pun yang baru pertama kali mendengarnya: Dusun Pentil. Nama yang bagi sebagian orang terdengar tabu atau berkonotasi erotis ini ternyata menyimpan filosofi mendalam tentang siklus ekonomi dan perjuangan hidup masyarakat agraris di masa lampau.

Identitas Unik di Tengah Keberagaman Dukuh

Dusun Pentil bukanlah satu-satunya wilayah dengan nama unik di Desa Gunungsari. Wilayah ini sebenarnya terdiri dari enam dukuhan yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Selain Pentil, terdapat pula Dukuh Gobog, Nganguk, Mulo, Pendem, dan Ngumpleng. Koleksi nama-nama ini menunjukkan betapa kayanya khazanah sejarah lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan.

Meski sering dijadikan bahan guyonan karena diasosiasikan dengan bagian anatomi tubuh manusia, warga setempat justru menanggapi hal tersebut dengan kepala dingin. Bagi mereka, nama tersebut adalah warisan sakral yang tidak bisa sembarangan diubah hanya karena persepsi modern yang bergeser. Nama Pentil tetap abadi, menjadi saksi bisu perjalanan generasi demi generasi di tanah Kabupaten Rembang.

Baca Juga Misi Kebangkitan Laskar Sambernyawa: Strategi Persis Solo Rombak Skuad dan Manajemen Demi Kembali ke Kasta Tertinggi
Misi Kebangkitan Laskar Sambernyawa: Strategi Persis Solo Rombak Skuad dan Manajemen Demi Kembali ke Kasta Tertinggi

Filosofi ‘Pentil’: Simbol Perjuangan Usaha yang Tak Kunjung Membesar

Sumijan, salah seorang perangkat Desa Gunungsari, mencoba meluruskan miskonsepsi yang berkembang di masyarakat luas. Menurut penuturan para sesepuh desa yang ia terima, etimologi kata “Pentil” sama sekali tidak merujuk pada hal-hal porno. Nama tersebut lahir dari sebuah metafora agraris yang menggambarkan kondisi ekonomi kerakyatan warga di zaman dahulu.

“Dulu diceritakan kalau orang sini berdagang atau merintis usaha itu sangat sulit untuk berkembang pesat. Begitu usaha mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan, selalu saja ada kendala yang menghalangi, sehingga kondisinya kembali mengecil,” ungkap Sumijan saat ditemui tim ZonaKabar. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Jawa, istilah “pentil” digunakan untuk menyebut buah yang baru saja muncul atau buah yang masih sangat kecil.

Analogi ini menggambarkan sebuah siklus tanaman yang hendak berbuah namun gagal mencapai kematangan sempurna. Sudah tumbuh menjadi pentil, namun bukannya membesar dan matang, buah tersebut justru rontok atau stagnan. Begitu seterusnya hingga para leluhur memutuskan untuk menamai pemukiman tersebut sebagai Dusun Pentil sebagai pengingat akan sulitnya perjuangan hidup kala itu. Ini adalah sebuah bentuk kejujuran sejarah yang dibalut dalam terminologi alamiah.

Baca Juga Era Baru Birokrasi Semarang: Handi Priyanto Resmi Dilantik sebagai Sekda Definitif
Era Baru Birokrasi Semarang: Handi Priyanto Resmi Dilantik sebagai Sekda Definitif

Menghadapi Guyonan dengan Senyuman

Bagi orang luar, nama ini mungkin terdengar menggelitik. Sumijan mengenang masa sekolahnya di mana ejekan-ejekan kreatif sering muncul dari teman-teman antar-desa. Salah satu yang paling legendaris adalah ungkapan “Nganguk-Pentil Sewu”. Ungkapan ini sebenarnya adalah permainan kata yang menggabungkan nama dua dukuh di Desa Gunungsari, yakni Nganguk dan Pentil.

Jika diterjemahkan secara harfiah dalam konteks bercanda, ungkapan tersebut bisa bermakna “mengintip pentil seharga seribu”. Namun, alih-alih merasa tersinggung, warga setempat justru menganggapnya sebagai bagian dari dinamika pergaulan sosial. Budaya masyarakat Jawa yang egaliter dan suka bercanda membuat nama Dusun Pentil menjadi media perekat keakraban, bukan sumber konflik.

“Kami sudah terbiasa sejak kecil. Itu hanya candaan anak-anak sekolah dan warga luar. Kami tidak pernah merasa malu atau berniat mengganti nama tersebut. Ini adalah peninggalan nenek moyang yang harus kami jaga kelestariannya,” tegas Sumijan dengan raut wajah bangga.

Pasar Pentil dan Ritual Nazar yang Melegenda

Ketertarikan publik terhadap Dusun Pentil tidak berhenti pada namanya saja. Di dusun ini, terdapat sebuah pasar tradisional yang dikenal dengan nama Pasar Pentil. Pasar ini bukan sekadar pusat transaksi jual-beli kebutuhan pokok, melainkan juga pusat kegiatan spiritual dan pemenuhan janji atau nazar bagi warga di sekitar Kecamatan Kaliori.

Baca Juga Nekat Merokok di Pintu KRL, Dua Penumpang Diturunkan Paksa di Stasiun Delanggu: Ketegasan dalam Menjaga Kenyamanan Publik
Nekat Merokok di Pintu KRL, Dua Penumpang Diturunkan Paksa di Stasiun Delanggu: Ketegasan dalam Menjaga Kenyamanan Publik

Ada kepercayaan kuat yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat bahwa Pasar Pentil memiliki “tuah” tersendiri untuk urusan hajat atau keinginan. Seseorang yang memiliki permohonan khusus, misalnya kesembuhan dari penyakit atau kelancaran jodoh, sering kali bernazar akan mengadakan kenduri atau syukuran jika hajatnya terkabul. Salah satu syarat unik dalam ritual ini adalah penggunaan jajanan pasar yang dibeli langsung dari Pasar Pentil.

Tradisi ini menciptakan ekosistem budaya tradisional yang unik. Kenduri bisa dilakukan di area pasar maupun di rumah masing-masing, namun syarat utamanya tetap sama: berkat atau ambeng (nasi tumpeng) tersebut harus menyertakan kudapan khas dari pasar tersebut. Hal ini secara tidak langsung membantu perekonomian pedagang lokal dan melestarikan kuliner tradisional yang kian tergerus zaman.

Kesaksian Warga Mengenai Tradisi Leluhur

Masudi, seorang warga dari Desa Babadan yang letaknya bertetangga dengan Gunungsari, membenarkan eksistensi tradisi tersebut. Ia bercerita bahwa keluarganya sendiri pernah menjalankan nazar yang berkaitan erat dengan Pasar Pentil. Pengalaman spiritual kolektif seperti inilah yang membuat Dusun Pentil tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat luas, melampaui sekadar nama yang dianggap lucu.

Baca Juga 8 Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah: Raih Keutamaan Berlipat Ganda dan Pahami Larangannya
8 Amalan Sunnah di Bulan Dzulhijjah: Raih Keutamaan Berlipat Ganda dan Pahami Larangannya

“Ibu saya dulu pernah berucap nazar, kalau sampai punya menantu, beliau akan menggelar kenduri dengan membeli semua jajanan pasarnya di Pasar Pentil. Dan itu benar-benar dilakukan. Bukan hanya keluarga kami, banyak orang dari desa-desa sebelah yang juga melakukan hal serupa,” tutur Masudi. Kepercayaan ini seolah menjadi bukti bahwa ada nilai-nilai metafisika yang melekat pada identitas sebuah tempat.

Geografi dan Batas Wilayah Desa Gunungsari

Untuk memahami posisi Dusun Pentil lebih luas, kita perlu melihat letak geografis Desa Gunungsari secara keseluruhan. Desa ini berada di wilayah strategis Kecamatan Kaliori, Rembang. Di sisi selatan, desa ini berbatasan langsung dengan Desa Sukorejo dan Tlogotunggal di Kecamatan Sumber. Di bagian barat, Gunungsari bersinggungan dengan Desa Kuangsan, Pengkol, dan Babadan.

Sementara itu, di sebelah utara, wilayahnya berbatasan dengan Desa Waru dan Sendangagung (Kecamatan Rembang). Di sisi timur, desa ini dikelilingi oleh Desa Sendangagung (Kecamatan Rembang) serta Desa Karangsari yang masuk dalam wilayah Kecamatan Sulang. Keragaman batas wilayah ini menjadikan Desa Gunungsari, dengan Dusun Pentil-nya, sebagai titik temu berbagai interaksi sosial antar-kecamatan di Rembang.

Baca Juga Tragedi di Pati: Gelap Mata Tak Diberi Uang Cincin Tunangan, Pria di Sukolilo Bakar Rumah Orang Tua
Tragedi di Pati: Gelap Mata Tak Diberi Uang Cincin Tunangan, Pria di Sukolilo Bakar Rumah Orang Tua

Melestarikan Warisan Toponimi Nusantara

Kisah tentang Dusun Pentil mengajarkan kita bahwa sebuah nama wilayah (toponimi) tidak pernah muncul tanpa alasan. Ada memori kolektif tentang masa-masa sulit, ada harapan yang terselip dalam simbol buah yang masih muda, dan ada keteguhan hati warga dalam menjaga identitas asli mereka di tengah gempuran modernitas.

Mungkin bagi dunia luar, Dusun Pentil tetap akan menjadi bahan guyonan yang menyegarkan suasana. Namun bagi mereka yang paham akan esensi sejarah, nama tersebut adalah monumen hidup tentang bagaimana manusia berdamai dengan kegagalan usaha dan menjadikannya sebuah identitas yang tak lekang oleh waktu. Menjaga nama Dusun Pentil berarti menjaga cerita para leluhur agar tetap hidup dalam ingatan setiap generasi yang lahir di tanah Rembang yang subur ini.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *