Nestapa Pendidikan di Sukabumi: Atap SDN Ciganas Ambruk Menjelang Ujian, Puluhan Tahun Tanpa Perbaikan

Dewi Lestari | ZonaKabar
03 Mei 2026, 15:10 WIB
Nestapa Pendidikan di Sukabumi: Atap SDN Ciganas Ambruk Menjelang Ujian, Puluhan Tahun Tanpa Perbaikan

ZonaKabar — Suasana tenang di Minggu pagi yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga Desa Munjul, Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi keprihatinan mendalam. Tanpa ada angin kencang maupun hujan deras, atap ruang kelas di SDN Ciganas tiba-tiba ambruk, menyisakan puing-puing kayu lapuk yang berserakan di atas meja-meja siswa. Peristiwa yang terjadi pada Minggu (3/5/2026) sekitar pukul 07.30 WIB ini menjadi tamparan keras bagi kondisi infrastruktur sekolah di pelosok daerah.

Kejadian ini terasa begitu ironis mengingat ruangan tersebut baru saja dibersihkan dan ditata rapi oleh para guru sehari sebelumnya. Sedianya, ruang kelas tersebut akan digunakan untuk pelaksanaan Ujian Satuan Pendidikan (USP) bagi siswa kelas VI yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (4/5) esok. Namun, harapan untuk memberikan kenyamanan bagi para siswa saat menempuh ujian kelulusan seketika sirna tertimbun reruntuhan material bangunan yang sudah berumur puluhan tahun.

Kronologi Ambruknya Atap di Tengah Ketenangan Pagi

Pantauan langsung tim redaksi di lokasi memperlihatkan pemandangan yang sangat memprihatinkan. Kayu-kayu penyangga atap yang telah berwarna cokelat tua—tanda telah mengalami pelapukan parah—patah menjadi beberapa bagian. Material tersebut menimpa lantai kelas yang sebelumnya sudah disiapkan dengan penuh dedikasi oleh para tenaga pendidik. Pecahan genteng tanah liat dan sobekan plafon putih memenuhi ruangan, menutupi susunan meja dan kursi yang seharusnya menjadi saksi bisu perjuangan siswa mengejar cita-cita.

Baca Juga Jadwal Sholat Cirebon Minggu 17 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Rahasia Keberkahan di Kota Udang
Jadwal Sholat Cirebon Minggu 17 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Rahasia Keberkahan di Kota Udang

Kepala SDN Ciganas, Tati, mengungkapkan rasa syukur di balik musibah ini karena tidak ada korban jiwa. Mengingat kejadian berlangsung pada hari libur, aktivitas belajar mengajar sedang ditiadakan. “Ruangan ini kebetulan mau dipergunakan untuk hari Senin itu USP, Ujian Satuan Pendidikan untuk kelas 6. Dan memang sudah rapi dari kemarin itu guru sudah mempersiapkan semuanya,” tutur Tati dengan nada bicara yang bergetar menahan sedih saat memberikan keterangan kepada awak media.

Menurut Tati, para guru telah bekerja ekstra keras pada hari Sabtu untuk memastikan seluruh sarana ujian siap digunakan. Namun, alam dan usia bangunan berkata lain. “Beruntung hari ini tadi karena kebetulan tidak ada guru juga di sekolah karena persiapan sudah beres,” tambahnya, menegaskan bahwa keselamatan nyawa masih terlindungi meskipun fasilitas fisik hancur lebur.

Pendidikan Tak Boleh Terhenti: Skenario Darurat Menjelang USP

Meski dihantam musibah besar tepat sehari sebelum ujian penting, pihak sekolah bersikap tegas bahwa agenda pendidikan harus terus berjalan. Tati memastikan bahwa pelaksanaan Ujian Satuan Pendidikan bagi kelas VI tidak akan dibatalkan atau ditunda. Sebagai solusi jangka pendek, pihak sekolah terpaksa melakukan skenario darurat dengan memanfaatkan sisa ruang yang dianggap masih layak huni.

Baca Juga Strategi Iwan Suryawan Pulihkan Kepercayaan Publik: Dari Teras Rumah Hingga Gedung Parlemen Jawa Barat
Strategi Iwan Suryawan Pulihkan Kepercayaan Publik: Dari Teras Rumah Hingga Gedung Parlemen Jawa Barat

“Karena masih ada ruang kelas yang masih bisa dipergunakan untuk ujian dan juga untuk anak belajar, masih ada tiga ruang kelas yang masih bisa digunakan,” jelas Tati. Keterbatasan ruang ini memaksa adanya pergeseran fungsi ruangan secara mendadak. Hal ini tentu berdampak pada siswa kelas bawah yang harus merelakan ruangannya digunakan oleh kakak kelas mereka yang sedang menempuh ujian kelulusan.

Untuk menyiasati kekurangan ruangan bagi siswa kelas 1 dan 2, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan komite dan tokoh masyarakat setempat. Hasilnya, proses belajar mengajar untuk siswa kelas bawah akan dialihkan ke fasilitas umum yang ada di sekitar lingkungan sekolah. “Kalau kelas 1, 2 itu memang kita menggunakan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah seperti ada musala masyarakat. Kami kemarin sudah ngobrol dengan komite dan boleh dipergunakan untuk kegiatan anak-anak,” ungkapnya.

Fakta Miris: Bangunan Uzur Sejak Relokasi Tahun 1990

Di lokasi yang sama, Kepala Desa Munjul, Ujang Aos, memberikan pernyataan tegas bahwa ambruknya atap SDN Ciganas murni disebabkan oleh faktor teknis bangunan yang sudah tidak layak, bukan karena cuaca ekstrem. Menurutnya, saat kejadian berlangsung, cuaca di Kecamatan Ciambar tergolong normal tanpa adanya gangguan alam yang berarti.

Baca Juga Jadwal Sholat Kota Cirebon Hari Ini, Senin 27 April 2026: Menggapai Berkah di Kota Wali
Jadwal Sholat Kota Cirebon Hari Ini, Senin 27 April 2026: Menggapai Berkah di Kota Wali

“Berdasarkan informasi tadi pada jam 07.30 WIB telah terjadi ambruknya dua ruang kelas SD Negeri Ciganas sementara yang satu ruangan mungkin itu terancam. Ini dikarenakan ketika sudah saya cek, ternyata ada lapuk di bagian kayu atas,” tegas Ujang Aos. Ia juga menambahkan bahwa dari tiga ruangan yang ada dalam satu deret bangunan tersebut, dua sudah ambruk total dan satu sisanya kini dalam kondisi kritis dan sangat berisiko untuk ditinggali.

Ujang kemudian membeberkan fakta sejarah yang mencengangkan mengenai sekolah tersebut. SDN Ciganas ternyata merupakan bangunan hasil relokasi puluhan tahun silam. “SD Ciganas itu berdiri di tahun 1981. Ini adalah pindahan dari hasil relokasi yang kena gusuran PT Wonokoyo itu ya, dialihkan ke sini pada tahun 1990. Hingga saat ini belum ada perbaikan signifikan,” ungkapnya. Artinya, selama 36 tahun berdiri di lokasi tersebut, bangunan sekolah seolah terlupakan dari sentuhan renovasi pemerintah.

Jeritan Hati Guru: Proposal yang Selalu Berakhir di Atas Meja

Keresahan tidak hanya datang dari perangkat desa, tetapi juga dari para pengajar yang setiap hari bertaruh nyawa di bawah atap yang rapuh. Budi Mulyawan, salah satu pengajar di SDN Ciganas, mengungkapkan bahwa pihak sekolah tidak tinggal diam melihat kondisi bangunan yang kian mengkhawatirkan. Mereka telah berulang kali melakukan upaya pelaporan formal ke instansi terkait.

Baca Juga Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini: Langit Mendung Menghangat di Kota Udang, Cek Detailnya!
Prakiraan Cuaca Cirebon Hari Ini: Langit Mendung Menghangat di Kota Udang, Cek Detailnya!

“Sebelumnya sering pak, sering difoto-foto gitu bahkan beberapa kali proposal pengajuan ke pihak dinas tapi belum ada tindak lanjut. Kami masih menunggu dan harapan kami akan segera gitu ya dibangun kembali sekolah,” ujar Budi dengan nada penuh harap. Pernyataan ini mencerminkan betapa panjangnya birokrasi yang harus dilalui hanya untuk mendapatkan hak dasar berupa bangunan sekolah yang aman dan nyaman.

Budi menambahkan bahwa keberadaan fasilitas yang memadai sangat krusial bagi psikologis siswa dan kualitas pengajaran. Dengan total 124 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar (rombel), SDN Ciganas memang sudah lama mengalami kekurangan ruang kelas. Ambruknya dua ruangan ini semakin memperparah krisis ruang belajar yang ada. “Harapan kami adalah supaya terciptanya pendidikan yang sesuai aja Pak; kondusif, tertib, nyaman intinya gitu,” pungkasnya.

Urgensi Perhatian Pemerintah terhadap Sarana Pendidikan

Musibah di SDN Ciganas ini menjadi potret kecil dari gunung es permasalahan pendidikan di Kabupaten Sukabumi. Ketika anggaran pendidikan dialokasikan setiap tahunnya, masih ada sekolah yang harus menunggu selama 36 tahun tanpa renovasi hingga akhirnya bangunan tersebut menyerah pada usia. Keamanan siswa seharusnya menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar dengan alasan birokrasi atau keterbatasan dana.

Baca Juga Krisis Lahan TPPAS Sarimukti: Mengapa Pemprov Jabar Tegas Tolak Penambahan Kuota Sampah?
Krisis Lahan TPPAS Sarimukti: Mengapa Pemprov Jabar Tegas Tolak Penambahan Kuota Sampah?

Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi maupun pemerintah daerah setempat. Jangan sampai harus ada korban jiwa terlebih dahulu baru tindakan nyata diambil. Perbaikan SDN Ciganas bukan lagi sekadar keinginan, melainkan kebutuhan mendesak demi masa depan 124 anak bangsa yang menggantungkan mimpinya di sekolah tersebut. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kasus ini, pembaca dapat terus memantau pembaruan berita di pencarian berita terbaru Sukabumi.

Hingga berita ini diturunkan, puing-puing di SDN Ciganas masih dibiarkan sebagai bukti bisu rapuhnya fondasi pendidikan kita di akar rumput. Sementara itu, besok pagi, para siswa kelas VI akan tetap datang ke sekolah, melintasi reruntuhan tersebut, demi menempuh ujian kelulusan di dalam musala warga—sebuah potret perjuangan yang luar biasa sekaligus menyayat hati.

Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *