Menelusuri Jejak Kejayaan Jawa Timur: Tiga Daerah Ikonik yang Bersolek Menyambut Hari Jadi di Bulan Mei

Budi Santoso | ZonaKabar
03 Mei 2026, 19:52 WIB
Menelusuri Jejak Kejayaan Jawa Timur: Tiga Daerah Ikonik yang Bersolek Menyambut Hari Jadi di Bulan Mei

ZonaKabar — Bulan Mei di Jawa Timur bukan sekadar pergantian kalender biasa. Bagi masyarakat di ujung timur Pulau Jawa ini, Mei adalah bulan yang sarat akan refleksi sejarah dan selebrasi kebudayaan. Seiring dengan semilir angin yang menandai transisi musim, tiga wilayah krusial—Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Lamongan, dan Kota Surabaya—bersiap memoles diri untuk merayakan hari jadi mereka. Perayaan ini bukan hanya tentang angka yang bertambah tua, melainkan sebuah manifestasi dari penghormatan mendalam terhadap akar peradaban yang telah tumbuh selama berabad-abad di tanah ini.

Jawa Timur sendiri merupakan episentrum kekuasaan masa lalu yang luar biasa. Dari rahim tanah ini, lahir imperium-imperium besar seperti Kerajaan Medang, Kahuripan, Kediri, hingga Singasari. Puncaknya, tentu saja, adalah kemunculan Majapahit pada abad ke-14 yang berhasil menyatukan Nusantara di bawah panji-panji persatuan. Sejarah Majapahit inilah yang kemudian menjadi benang merah yang mengikat identitas banyak daerah di Jawa Timur, termasuk yang merayakan hari jadinya di bulan kelima ini. Penelusuran jati diri melalui arsip kuno dan prasasti menjadi dasar kuat mengapa bulan Mei dipilih sebagai momen sakral bagi ketiga daerah tersebut.

Baca Juga Kalender Jawa 23 Mei 2026: Menelusuri Karakter Weton Sabtu Kliwon dan Keistimewaan Bulan Besar
Kalender Jawa 23 Mei 2026: Menelusuri Karakter Weton Sabtu Kliwon dan Keistimewaan Bulan Besar

1. Kabupaten Mojokerto: Mengenang Kemenangan Diplomasi dan Militer Raden Wijaya

Membuka lembaran kalender di awal bulan, tepatnya pada tanggal 9 Mei, Kabupaten Mojokerto merayakan hari jadinya yang ke-731 (jika merujuk pada tahun 2024). Penetapan tanggal ini tidak dilakukan secara serampangan. Melalui kajian mendalam yang melibatkan para akademisi, sejarawan, dan tokoh masyarakat, Pemerintah Kabupaten Mojokerto akhirnya mengesahkan tanggal tersebut melalui Keputusan Bupati Nomor 230 Tahun 1993. Mengapa 9 Mei? Karena tanggal ini merujuk pada sebuah peristiwa monumental pada tahun 1293 Masehi.

Pada saat itu, Raden Wijaya, sang pendiri Wangsa Rajasa, berhasil memenangkan pertempuran diplomatik dan militer yang sangat cerdik melawan pasukan Tar-Tar dari Kekaisaran Mongol. Kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan mengusir penjajah asing, melainkan batu pijakan utama bagi berdirinya Kerajaan Majapahit yang berpusat di wilayah Trowulan. Jejak-jejak kejayaan tersebut masih sangat terasa hingga kini. Wisatawan yang berkunjung ke Mojokerto dapat merasakan aura masa lalu melalui berbagai wisata sejarah seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, hingga kolam Segaran yang legendaris.

Baca Juga Tragedi Fanatisme Buta: Kronologi Lengkap 8 Oknum Suporter di Gresik Keroyok Pemuda Akibat Tim Kesayangan Kalah
Tragedi Fanatisme Buta: Kronologi Lengkap 8 Oknum Suporter di Gresik Keroyok Pemuda Akibat Tim Kesayangan Kalah

Kini, Kabupaten Mojokerto telah bermetamorfosis menjadi daerah yang dinamis. Terdiri dari 18 kecamatan, wilayah ini tidak hanya mengandalkan warisan masa lalu sebagai daya tarik utama. Sektor industri manufaktur, pertanian yang subur di lereng Gunung Penanggungan, hingga pengembangan pariwisata berbasis lingkungan (eco-tourism) menjadi mesin penggerak ekonomi yang vital. Peringatan hari jadi di Mojokerto biasanya diisi dengan rangkaian acara budaya yang bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai luhur kepemimpinan Raden Wijaya kepada generasi muda agar tetap memiliki karakter yang tangguh di tengah arus modernisasi.

2. Kabupaten Lamongan: Spirit Kepemimpinan Bijak Mbah Lamong

Bergeser ke arah utara, Kabupaten Lamongan merayakan hari jadinya pada tanggal 26 Mei. Berbeda dengan Mojokerto yang kental dengan nuansa awal Majapahit, sejarah Lamongan lebih erat kaitannya dengan periode perkembangan Islam dan transisi kekuasaan di Jawa. Tanggal 26 Mei 1569 Masehi ditetapkan sebagai hari jadi karena bertepatan dengan momen wisuda atau penobatan Tumenggung Surajaya sebagai Adipati Lamongan yang pertama. Penobatan ini dilakukan oleh Sunan Giri IV di Puri Kasunanan Giri, Gresik, sebuah momen yang bertepatan dengan Idul Adha 10 Dzulhijjah 976 Hijriah.

Baca Juga Kemenaker Hadirkan Karirhub: Strategi ‘Fast Track’ Transformasi Karir dan Solusi Pintar Cari Kerja di Era Digital
Kemenaker Hadirkan Karirhub: Strategi ‘Fast Track’ Transformasi Karir dan Solusi Pintar Cari Kerja di Era Digital

Tumenggung Surajaya, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Rangga Hadi, adalah sosok yang sangat dicintai rakyatnya. Berkat sifatnya yang mengayomi, rendah hati, dan bijaksana, masyarakat memberikan julukan “Mbah Lamong” kepadanya—sebuah kata yang merujuk pada sifat penuh kasih dan kepemimpinan yang lembut namun tegas. Dari sebutan inilah nama “Lamongan” akhirnya abadi hingga sekarang. Peran Mbah Lamong dalam menyebarkan ajaran Islam sekaligus menata birokrasi pemerintahan menjadi landasan moral bagi pembangunan di wilayah ini.

Dalam setiap perayaan hari jadi, Pemerintah Kabupaten Lamongan kerap menggelar acara bertajuk “Lamongan Tempoe Doeloe”. Acara ini menjadi ajang nostalgia sekaligus edukasi bagi warga untuk melihat kembali bagaimana budaya lokal dan tradisi pesisiran membentuk karakter wong Lamongan. Selain itu, potensi kuliner seperti Soto Lamongan dan Pecel Lele yang sudah melegenda di seantero negeri juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kemeriahan hari jadi. Pembangunan infrastruktur dan fokus pada ketahanan pangan kini menjadikan Lamongan sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur, membuktikan bahwa warisan kerja keras dari masa kepemimpinan Mbah Lamong tetap terjaga dengan baik.

Baca Juga Langkah Strategis Pemkab Sidoarjo: Gandeng BNPB Tuntaskan Masalah Banjir Tahunan Lewat Anggaran Rp 209,5 Miliar
Langkah Strategis Pemkab Sidoarjo: Gandeng BNPB Tuntaskan Masalah Banjir Tahunan Lewat Anggaran Rp 209,5 Miliar

3. Kota Surabaya: Dinamika Kota Pahlawan dan Usirnya Pasukan Mongol

Menutup bulan Mei dengan penuh heroik, Kota Surabaya memperingati hari jadinya pada tanggal 31 Mei. Penetapan tanggal ini merupakan hasil dari sebuah perdebatan sejarah yang panjang dan menarik. Dahulu, pada masa kolonial Belanda, hari jadi Surabaya diperingati setiap 1 April, merujuk pada pembentukan pemerintahan kota (Stadsgemeente) tahun 1906. Namun, setelah kemerdekaan, para tokoh masyarakat dan sejarawan merasa bahwa tanggal tersebut terlalu berbau kolonial dan tidak mencerminkan jiwa asli Surabaya yang penuh perlawanan.

Setelah melakukan riset mendalam pada tahun 1970-an, dipilihlah tanggal 31 Mei 1293. Tanggal ini mengacu pada peristiwa luar biasa di mana pasukan Raden Wijaya berhasil memukul mundur armada Mongol yang mencoba menancapkan kekuasaan di tanah Jawa. Pertempuran sengit yang terjadi di kawasan muara sungai tersebut menjadi simbol awal keberanian arek-arek Suroboyo dalam menjaga kedaulatan tanah airnya. Meskipun beberapa sejarawan modern masih mendiskusikan ketepatan lokasi geografis pertempuran tersebut, nilai simbolis dari kemenangan 31 Mei telah terpatri kuat dalam sanubari warga sebagai identitas Kota Pahlawan.

Baca Juga Jadwal Salat Jawa Timur Senin 18 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Refleksi Spiritual di Bumi Timur
Jadwal Salat Jawa Timur Senin 18 Mei 2026: Panduan Ibadah dan Refleksi Spiritual di Bumi Timur

Perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) selalu menjadi salah satu festival kota termegah di Indonesia. Agenda rutin seperti Festival Rujak Uleg yang memecahkan rekor, Surabaya Vaganza dengan parade bunga yang memukau, hingga diskon besar-besaran di berbagai pusat perbelanjaan menjadikan Surabaya magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Di balik kemegahan metropolitannya, Surabaya tetap konsisten menjaga ruang terbuka hijau dan melestarikan bangunan-bangunan cagar budaya. Pariwisata Jawa Timur takkan lengkap tanpa mengunjungi Surabaya, di mana modernitas gedung pencakar langit bersanding harmonis dengan sejarah perjuangan bangsa di setiap sudut jalanannya.

Relevansi Hari Jadi di Era Kontemporer

Mengapa kita perlu terus merayakan dan mengingat hari jadi daerah-daerah ini? Jawabannya sederhana: agar kita tidak kehilangan arah di masa depan. Budaya lokal dan sejarah adalah jangkar yang menjaga masyarakat agar tetap memiliki identitas yang kuat. Di tengah gempuran globalisasi, narasi tentang keberanian Raden Wijaya di Mojokerto dan Surabaya, serta kebijaksanaan Mbah Lamong di Lamongan, memberikan pesan moral bahwa tantangan seberat apa pun bisa dihadapi dengan kecerdikan dan persatuan.

Bagi para pelancong dan penikmat kuliner khas, bulan Mei adalah waktu terbaik untuk berkeliling ke tiga daerah ini. Anda tidak hanya akan disuguhi dengan pemandangan alam dan hidangan lezat, tetapi juga suasana kota yang penuh semangat perayaan. Setiap spanduk, lampu hias, dan festival yang digelar adalah bentuk syukur atas perjalanan panjang yang telah ditempuh. Ketiga daerah ini membuktikan bahwa meskipun mereka terus berkembang menjadi kawasan industri dan pusat bisnis modern, akar sejarah mereka tetap tertanam kuat, menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya secara spiritual dan budaya.

Dengan mengenal sejarah berdirinya Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Lamongan, dan Kota Surabaya, kita diajak untuk lebih menghargai setiap jengkal tanah yang kita pijak. Mei bukan sekadar bulan ulang tahun, melainkan momentum bagi setiap warga Jawa Timur untuk memperbarui janji setianya dalam menjaga dan membangun daerahnya masing-masing demi masa depan yang lebih gemilang.

Budi Santoso

Budi Santoso

Pengamat dinamika perkotaan yang aktif meliput perkembangan ekonomi dan infrastruktur di area Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *