Tragedi Berdarah di Mojokerto: Di Balik Topeng Badut, Satuan Tega Habisi Mertua dan Lukai Istri
ZonaKabar — Pagi yang tenang di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, mendadak berubah menjadi panggung horor yang memilukan. Sebuah peristiwa pembunuhan sadis mengguncang warga setempat ketika seorang pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai badut penjual balon tega menghabisi nyawa ibu mertuanya dan menganiaya istrinya hingga kritis.
Pelaku yang diketahui bernama Satuan (43) kini menjadi sorotan tajam setelah aksi brutalnya pada Rabu (6/5/2026) pagi menyisakan trauma mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Pria yang biasanya membawa keceriaan bagi anak-anak dengan kostum badutnya itu, justru menunjukkan sisi gelap yang tak terbayangkan, mengubah rumah kontrakannya menjadi saksi bisu sebuah tragedi berdarah.
1. Amarah Meledak di Balik Pintu Kamar
Prahara ini bermula sekitar pukul 07.30 WIB. Di dalam kamar rumah kontrakan mereka, atmosfer mendadak panas. Satuan terlibat cekcok hebat dengan istrinya, Sri Wahyuni alias Yuni (35). Belum diketahui pasti apa yang memicu api cemburu atau amarah yang begitu besar, namun emosi Satuan memuncak hingga kehilangan akal sehat.
Tanpa belas kasihan, pelaku melakukan penganiayaan berat terhadap Yuni. Satuan dilaporkan membentur-benturkan wajah istrinya ke lantai berkali-kali. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mengambil sebilah pisau dapur dan menyayat leher wanita yang seharusnya ia lindungi tersebut. Jeritan tertahan dan keributan di dalam kamar itu rupanya menjadi awal dari bencana yang lebih besar.
Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Aldhino Prima Wirdhan, mengonfirmasi bahwa aksi kekerasan di dalam kamar tersebut menjadi pemicu utama. “Pelaku sedang menganiaya istrinya saat ibu mertuanya datang,” jelas Aldhino saat memberikan keterangan kepada awak media di Mapolres Mojokerto.
2. Paket COD yang Berujung Petaka
Di saat situasi di dalam rumah sedang mencekam, Siti Arofah (53), ibu mertua pelaku, datang berkunjung. Maksud kedatangannya sebenarnya sangat sederhana dan lumrah: ia hendak mengambil paket yang datang secara sistem Cash on Delivery (COD) untuk keluarga tersebut.
Siti yang tidak menaruh curiga awalnya mencoba masuk melalui pintu depan, namun terkunci rapat. Ia kemudian memutuskan untuk masuk melalui pintu belakang yang kebetulan tidak terkunci. Begitu melangkah masuk, Siti justru menyaksikan pemandangan mengerikan di mana menantunya sedang menyiksa sang anak dengan brutal. Kehadiran Siti yang memergoki aksi tersebut justru membuat Satuan semakin kalap.
Alih-alih menghentikan aksinya, Satuan justru mengalihkan amarahnya kepada sang mertua. Menggunakan pisau dapur yang sama, ia menyerang Siti Arofah secara membabi buta. Luka tusukan yang bertubi-tubi membuat wanita paruh baya itu tersungkur dan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat pendarahan hebat.
3. Teka-teki Jumlah Tusukan dan Proses Autopsi
Pihak kepolisian masih terus mendalami detail dari serangan mematikan tersebut. Meskipun dalam pemeriksaan awal pelaku sempat memberikan pengakuan mengenai jumlah tusukan yang ia daratkan ke tubuh mertuanya, polisi tidak mau gegabah dan tetap bersandar pada bukti ilmiah.
Jenazah Siti Arofah segera dievakuasi ke RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong untuk menjalani proses autopsi mendalam. Tim forensik dikerahkan untuk memastikan luka mana yang paling fatal dan menyebabkan kematian seketika. “Kami masih menunggu hasil autopsi resmi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban, meski pengakuan awal sudah kami kantongi,” tambah AKP Aldhino.
Penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP) juga mengungkap betapa kacaunya kondisi rumah saat itu, yang menunjukkan adanya perlawanan dari korban sebelum akhirnya tumbang di tangan sang menantu.
4. Pelarian Dingin dengan Tangan Berlumuran Darah
Usai melampiaskan amarahnya yang membara, Satuan menunjukkan sikap yang cukup dingin. Ia meninggalkan rumah kontrakannya begitu saja. Beberapa saksi mata di sekitar lokasi sempat melihat pria tersebut berjalan kaki keluar dari gang dengan kondisi tangan yang masih berlumuran darah segar, sebuah pemandangan yang membuat warga terperangah ketakutan.
Dalam upaya melarikan diri, Satuan sempat menemui sepupu perempuannya. Dengan alasan ingin mengambil barang dagangan balon, ia meminta diantar menggunakan sepeda motor menuju Simpang 3 Pasinan. Dari sana, ia melanjutkan pelarian menggunakan transportasi publik, yakni Bus Trans Jatim, menuju arah Surabaya.
Langkah-langkah pelarian yang terkesan terencana ini menandakan bahwa pelaku berusaha menjauh dari jangkauan hukum secepat mungkin setelah melakukan aksi pembunuhan mertua tersebut.
5. Perburuan Kilat: Ditangkap dalam 6 Jam
Namun, pelarian sang badut penjual balon ini tidak berlangsung lama. Respons cepat dari jajaran Satreskrim Polres Mojokerto membuahkan hasil manis. Berkoordinasi dengan Polsek Asemrowo, tim gabungan Resmob dan Unit Tipidum mulai melacak keberadaan pelaku melalui berbagai petunjuk di lapangan.
Kurang dari enam jam setelah kejadian, tepatnya sekitar pukul 14.00 WIB, Satuan berhasil diringkus di kawasan Asemrowo, Surabaya. Ia ditangkap sesaat setelah turun dari angkutan umum tanpa perlawanan berarti. Keberhasilan penangkapan yang sangat cepat ini diapresiasi banyak pihak sebagai bentuk ketegasan polisi dalam menangani kasus kriminalitas yang meresahkan masyarakat.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras tim di lapangan, pelaku sudah kami amankan. Saat ini Satuan sedang menjalani pemeriksaan intensif untuk menggali lebih dalam mengenai motif di balik tindakan kejinya,” tegas AKP Aldhino.
6. Nasib Istri yang Masih Berada di Ujung Tanduk
Sementara itu, duka masih menyelimuti keluarga korban. Yuni, istri pelaku yang menjadi korban pertama dalam aksi brutal ini, masih berjuang antara hidup dan mati. Ia kini mendapatkan perawatan intensif di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. Luka sayatan di leher dan cedera kepala akibat benturan keras membuatnya berada dalam kondisi kritis.
Pihak rumah sakit terus memantau perkembangan kesehatannya, sementara polisi juga telah mengamankan barang bukti kunci berupa sebilah pisau dapur dan pakaian milik korban yang bersimbah darah. Kasus ini pun kini ditangani dengan sangat serius, mengingat adanya unsur kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berakhir pada penghilangan nyawa orang lain.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat mengenai pentingnya manajemen emosi dan perlunya perhatian lebih terhadap potensi kekerasan di lingkungan keluarga. Satuan, sang badut penjual balon yang kini harus menanggalkan kostumnya, kini terancam hukuman penjara yang sangat lama, atau bahkan maksimal, atas perbuatan biadab yang ia lakukan.