Gema Idul Adha 2026 di Semarang: Jeritan Pedagang Hewan Kurban di Tengah Pasar yang Lesu dan Bayang-Bayang PMK

Aris Munandar | ZonaKabar
21 Mei 2026, 19:41 WIB
Gema Idul Adha 2026 di Semarang: Jeritan Pedagang Hewan Kurban di Tengah Pasar yang Lesu dan Bayang-Bayang PMK

ZonaKabar — Menjelang perayaan Idul Adha 2026, denyut nadi perdagangan hewan kurban di Kota Semarang mulai terasa. Namun, di balik barisan sapi dan kambing yang memenuhi lapak-lapak pinggir jalan, terselip keresahan dari para pedagang. Meski hari raya kurban tinggal menghitung hari, geliat transaksi tahun ini dirasakan jauh lebih sunyi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fenomena pasar yang lesu menjadi pemandangan umum yang menghiasi sudut-sudut kota, mulai dari kawasan relijius hingga pelosok perkampungan.

Berdasarkan pantauan langsung tim ZonaKabar di lapangan, konsentrasi pedagang musiman tampak memadati area sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Deretan tenda darurat dan pagar bambu menjadi hunian sementara bagi ratusan hewan ternak. Pemandangan serupa juga terlihat jelas saat memasuki Jalan Pandansari, Kecamatan Gayamsari, tepat di belakang Pasar Johar yang legendaris. Di sana, aktivitas jual beli berlangsung hingga sore hari, meski intensitas tawar-menawar tak sepadat ekspektasi para pemilik ternak.

Potret Lesunya Penjualan Sapi di Tangan Sang Veteran

Salah satu sosok yang merasakan pahitnya penurunan ekonomi adalah Maskan (70), seorang pedagang senior yang telah mendedikasikan 22 tahun hidupnya untuk usaha penggemukan sapi. Ditemui di kandangnya yang terletak di kawasan Gayamsari, Maskan tampak terduduk lesu sembari mengamati puluhan ekor sapinya. Ia mengungkapkan bahwa meskipun calon pembeli sudah mulai bertanya-tanya sejak sebulan lalu, namun realisasi transaksi masih jauh dari target.

Baca Juga Menakar Nakhoda Baru Universitas Tidar: Pendaftaran Seleksi Rektor Periode 2026-2030 Resmi Dibuka
Menakar Nakhoda Baru Universitas Tidar: Pendaftaran Seleksi Rektor Periode 2026-2030 Resmi Dibuka

“Biasanya kalau sudah sedekat ini dengan Idul Adha, setidaknya 70 ekor sapi saya sudah laku terjual. Tapi sekarang, baru sekitar 50 ekor yang dipesan. Rasanya tahun ini benar-benar berat, pasar terasa sangat lesu,” ungkap Maskan dengan nada prihatin. Penurunan angka penjualan sebesar hampir 30 persen ini menjadi pukulan telak bagi operasional kandangnya yang menampung berbagai jenis sapi berkualitas.

Maskan menjelaskan bahwa harga sapi kurban yang ia tawarkan cukup kompetitif, berkisar antara Rp 18 juta hingga Rp 32 juta per ekor. Menurutnya, segmen pasar yang paling diminati berada pada rentang harga Rp 22 juta hingga Rp 24 juta dengan bobot hidup sekitar 3 hingga 6 kuintal. Namun, daya beli masyarakat yang tampaknya sedang tidak dalam kondisi prima membuat banyak calon pembeli harus berpikir dua kali sebelum melakukan pembayaran uang muka.

Dilema Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang Tak Kunjung Usai

Selain faktor ekonomi, bayang-bayang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak di Jawa Tengah. Maskan bercerita betapa ganasnya virus ini jika sudah menyerang satu koloni ternak. “PMK itu luar biasa menular. Kalau satu saja kena, bisa merembet ke seluruh kandang. Risikonya bukan cuma sakit, tapi kematian massal. Jika ada dua atau tiga ekor yang mati, seluruh keuntungan kerja keras saya selama sebulan bisa habis begitu saja,” keluhnya.

Baca Juga Berburu Masa Depan di Career Corner JFF 2026: Peluang Emas Loker Tanpa Pengalaman di Yogyakarta
Berburu Masa Depan di Career Corner JFF 2026: Peluang Emas Loker Tanpa Pengalaman di Yogyakarta

Menariknya, di tengah keterbatasan pengawasan rutin dari dinas peternakan setempat, Maskan mengambil inisiatif mandiri untuk menjaga kualitas dagangannya. Ia secara khusus menyewa jasa dokter hewan pribadi untuk melakukan kontrol setiap hari. Pemeriksaan suhu tubuh, pemberian vitamin, hingga penyuntikan dilakukan secara rutin guna memastikan seluruh sapi dalam kondisi fit. Kesehatan hewan kini menjadi investasi tambahan yang harus ditanggung pedagang agar kepercayaan konsumen tetap terjaga.

Strategi dan Tantangan Pedagang Muda di Era Kompetisi Ketat

Tak jauh dari lokasi Maskan, Ahmad Gumilar (28), mewakili generasi pedagang muda yang juga mencoba peruntungan di bisnis ternak kurban. Berbeda dengan Maskan yang fokus pada volume besar, Gumilar mengandalkan loyalitas pelanggan lama. Ia mengakui bahwa strategi ‘early bird’ atau pemesanan awal banyak dimanfaatkan pelanggan tetapnya untuk mendapatkan harga yang lebih miring sebelum lonjakan musiman terjadi.

“Stok kambing saya ada sekitar 30 ekor, dan alhamdulillah hampir semuanya sudah habis, tinggal tersisa tiga ekor saja. Nanti saya akan tambah stok lagi kalau permintaan masih ada,” tutur Gumilar. Untuk sapi, ia membanderol harga mulai dari Rp 18 juta hingga Rp 45 juta untuk bobot premium mencapai 750 kilogram. Jenis sapi yang ia tawarkan pun beragam, mulai dari sapi Jawa, Pegon, hingga jenis eksotis seperti Limosin dan Simental.

Baca Juga Kisah Pilu Bocah 8 Tahun di Klaten: Di Balik Aksi Bejat Ayah Tiri Berkedok Iming-iming Jajan
Kisah Pilu Bocah 8 Tahun di Klaten: Di Balik Aksi Bejat Ayah Tiri Berkedok Iming-iming Jajan

Gumilar mencatat sebuah tren menarik di mana sapi dengan harga ekonomis di kisaran Rp 18 juta banyak diburu oleh kelompok-kelompok kecil, seperti iuran anak-anak Playgroup atau TK, sebagai sarana edukasi kurban. Meski demikian, secara keseluruhan Gumilar sepakat bahwa kondisi pasar saat ini sedang tidak sehat. “Sekarang yang jualan kambing dan sapi itu semakin banyak, hampir di setiap sudut ada lapak baru. Tapi pembelinya tidak bertambah. Ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja, sehingga minat orang untuk berkurban sedikit menurun,” pungkasnya.

Sistem Garansi: Cara Pedagang Membangun Kepercayaan

Untuk menyiasati ketakutan pembeli akan penyakit ternak, Gumilar menerapkan sistem garansi kesehatan yang cukup berani. Ia menjamin bahwa setiap hewan yang dibeli akan dipantau hingga hari penyembelihan. Jika ditemukan gejala PMK atau penyakit lainnya sebelum hari H, pembeli diberikan opsi untuk menukar hewan dengan kualitas setara atau pengembalian uang secara utuh.

Langkah preventif ini diambil karena para pedagang menyadari bahwa di masa sulit seperti sekarang, kepuasan pelanggan adalah kunci keberlangsungan bisnis. Mereka berharap pemerintah lebih proaktif dalam melakukan sosialisasi dan pengawasan di lapangan, sehingga stigma negatif terhadap penyakit ternak tidak semakin menekan angka penjualan yang sudah terpuruk akibat inflasi.

Baca Juga Menguak Tabir Kelam di Wonogiri: Kisah Pilu Remaja Putri yang Menjadi Korban Predator Seksual di Dua Waktu Berbeda
Menguak Tabir Kelam di Wonogiri: Kisah Pilu Remaja Putri yang Menjadi Korban Predator Seksual di Dua Waktu Berbeda

Menjelang Idul Adha yang tinggal menghitung hari, para pedagang di Semarang hanya bisa berharap adanya keajaiban pasar. Mereka menanti momen ‘last minute’ di mana biasanya warga mulai berbondong-bondong datang untuk mencari hewan kurban terbaik. Bagi Maskan, Gumilar, dan ratusan pedagang lainnya, Idul Adha bukan sekadar ritual ibadah, melainkan nafas bagi ekonomi keluarga yang tengah berjuang di tengah ketidakpastian global.

Aris Munandar

Aris Munandar

Jurnalis senior dengan spesialisasi berita regional dan kebijakan publik. Fokus pada isu sosial di wilayah Jawa Tengah.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *