Kisah Haru di Balik Tragedi Longsor Ciamis: Perjuangan Dede Menyelamatkan Sang Buah Hati dari Gulungan Tanah
ZonaKabar — Suasana dingin yang menusuk tulang di Dusun Cibulakan, Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, mendadak berubah menjadi horor yang memekakkan telinga. Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga berubah menjadi ajang pertaruhan nyawa ketika tebing setinggi 30 meter ambruk tanpa ampun. Di tengah kegelapan dan guyuran hujan yang tak kunjung reda, sebuah kisah heroik sekaligus memilukan muncul dari seorang ibu bernama Dede Kartini (43), yang harus berlari melawan maut demi menyelamatkan nyawa anaknya.
Malam Kelabu di Lereng Cihaurbeuti
Senin malam, 11 Mei 2026, akan selalu tercatat sebagai memori kelam bagi masyarakat Desa Sukamaju. Sejak jarum jam menunjukkan waktu Magrib, langit Ciamis seolah tumpah. Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur tanpa henti, menciptakan aliran-aliran air kecil di permukaan tanah perbukitan yang labil. Bagi warga setempat, hujan adalah hal biasa, namun malam itu ada firasat berbeda yang menyelimuti udara.
Dede Kartini, saat ditemui oleh tim redaksi di lokasi kejadian, masih menampakkan raut wajah yang pucat pasi. Matanya sesekali berkaca-kaca menatap gundukan tanah merah yang kini menimbun rumah tempat ia membangun mimpi selama bertahun-tahun. Tidak ada lagi dinding kokoh, yang tersisa hanyalah puing dan material tanah yang lembap. Ia menceritakan bagaimana detik-detik mencekam itu bermula dari sebuah kejanggalan di area dapur rumahnya.
“Awalnya hujan memang sangat deras sejak sore. Saya masih tenang di dalam rumah, tapi tiba-tiba air mulai merembes masuk lewat celah-celah di dapur. Saya kaget, karena biasanya tidak pernah seperti itu walaupun hujan badai sekalipun,” kenang Dede dengan suara yang sedikit bergetar. Rembesan air itu rupanya adalah sinyal terakhir dari alam sebelum tanah di belakang rumahnya menyerah pada gravitasi.
Suara Gemuruh yang Menggetarkan Jiwa
Ketegangan memuncak ketika suara gemuruh hebat mulai terdengar dari arah tebing. Suara itu digambarkan Dede seperti suara ribuan batu yang beradu, sangat keras dan menggetarkan tanah di bawah kakinya. Insting seorang ibu langsung bekerja seketika. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar tangan anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD dan berteriak memanggil suaminya.
“Suaranya sangat menakutkan, seperti ada sesuatu yang besar sekali runtuh. Saya tidak sempat lagi berpikir untuk membawa harta benda. Pikiran saya cuma satu: anak saya harus selamat,” tuturnya. Dalam kondisi gelap gulita karena aliran listrik yang mendadak terputus, Dede berlari menembus hujan, menerjang lumpur yang mulai masuk ke dalam rumah. Tak ada waktu untuk menoleh ke belakang, meski ia tahu rumahnya sedang dihancurkan oleh kekuatan alam.
Kejadian yang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB itu berlangsung begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik setelah mereka berhasil keluar dari pintu depan, material longsor menghantam bagian belakang rumah dengan kekuatan penuh. Struktur bangunan yang permanen pun tak kuasa menahan beban tonase tanah yang merosot dari ketinggian 30 meter. Dede mengaku hanya sempat membawa ponsel yang ada di genggamannya. Surat-surat berharga, perabotan, hingga stok beras untuk kebutuhan sehari-hari kini terkubur di bawah kedalaman tanah.
Dampak Kerusakan dan Ancaman Cuaca Ekstrem
Bencana longsor ini tidak hanya meluluhlantakkan kediaman Dede. Berdasarkan pantauan di lapangan, setidaknya ada enam rumah warga yang mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Namun, rumah milik Dede Kartini adalah yang paling parah, dengan kondisi hampir rata dengan tanah. Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai mitigasi bencana di wilayah perbukitan Ciamis.
Kecamatan Cihaurbeuti memang dikenal sebagai zona merah rawan longsor, terutama saat memasuki puncak musim penghujan. Struktur tanah yang gembur dikombinasikan dengan kemiringan lereng yang ekstrem membuat pemukiman di bawahnya selalu berada dalam bayang-bayang bahaya. Warga setempat sebenarnya sudah menyadari potensi risiko ini, namun keterbatasan ekonomi membuat mereka tak punya banyak pilihan selain tetap bertahan di lahan warisan leluhur tersebut.
Janji Relokasi yang Tak Kunjung Menemui Titik Terang
Ada nada kekecewaan yang terselip dalam penuturan Dede saat membahas soal keamanan tempat tinggalnya. Ia mengungkapkan bahwa jauh sebelum bencana ini terjadi, sudah ada wacana dari pihak terkait mengenai program relokasi warga yang tinggal di zona bahaya. Namun, entah mengapa, rencana tersebut menguap begitu saja tanpa ada realisasi konkret.
“Dulu memang pernah ada pembicaraan, katanya kalau mau dipindahkan akan disiapkan tempat yang lebih aman. Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya. Kami hanya bisa menunggu dan menunggu, sampai akhirnya kejadian seperti ini menimpa kami,” keluh Dede. Ketiadaan langkah preventif dari pemerintah setempat kini harus dibayar mahal dengan hilangnya tempat berteduh bagi beberapa kepala keluarga.
Langkah Darurat dan Penyaluran Bantuan Sosial
Pasca kejadian, aksi tanggap darurat segera dilakukan oleh petugas gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, dan para relawan. Fokus utama saat ini adalah pembersihan material longsor yang menutup akses jalan serta membantu warga menyelamatkan barang-barang yang mungkin masih bisa digunakan. Meskipun berat, gotong royong warga menjadi sedikit penghibur di tengah duka yang mendalam.
Dinas Sosial Kabupaten Ciamis melalui tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) bergerak cepat dengan menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Berdasarkan data yang diterima, bantuan yang telah didistribusikan meliputi:
- 7 buah kasur lipat untuk kenyamanan tidur di tempat pengungsian
- 7 paket sembako lengkap guna menjamin asupan nutrisi warga
- 10 lembar selimut hangat
- 7 paket perlengkapan keluarga (family kit)
- 5 paket peralatan dapur darurat
- 10 stel pakaian layak pakai
- 3 lembar terpal berukuran besar untuk tenda darurat
Menata Masa Depan di Tengah Puing
Kini, Dede bersama suami dan anaknya terpaksa menumpang di rumah kerabat terdekat. Hidup di pengungsian tentu bukan hal yang mudah, apalagi bagi anaknya yang masih sekolah dan harus menghadapi trauma psikologis akibat kejadian tersebut. Kehilangan harta benda dalam sekejap mata memaksa keluarga ini untuk memulai segala sesuatunya dari nol kembali.
Pihak pemerintah desa dan kecamatan diharapkan dapat segera melakukan pendataan menyeluruh dan mencari solusi jangka panjang, agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan. Keselamatan warga harus menjadi prioritas utama di atas segala urusan birokrasi. Dede hanya bisa berharap agar pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap nasib mereka yang tinggal di bawah ancaman tebing.
“Mudah-mudahan ada jalan terbaik buat kami. Saya tidak minta banyak, hanya ingin keluarga saya bisa tidur dengan tenang tanpa rasa takut tertimbun tanah saat hujan turun,” tutup Dede dengan nada penuh harap. Kisah Dede Kartini adalah satu dari sekian banyak potret perjuangan rakyat kecil di Indonesia yang harus berhadapan langsung dengan keganasan alam di wilayah-wilayah rawan bencana.