Legenda Hidup Tahu Gejrot: Kisah Darmin Melintasi Tiga Generasi di Bumi Wiralodra

Dewi Lestari | ZonaKabar
18 Mei 2026, 09:49 WIB
Legenda Hidup Tahu Gejrot: Kisah Darmin Melintasi Tiga Generasi di Bumi Wiralodra

ZonaKabar — Di bawah rindangnya pepohonan yang memayungi pinggiran Jalan Pasar Baru Indramayu, seorang pria paruh baya tampak begitu khusyuk dengan aktivitasnya. Tangannya yang mulai keriput namun tetap kokoh, terlihat sangat cekatan mengulek cabai rawit hijau, bawang putih, dan bawang merah di atas sebuah cobek tanah liat berukuran sedang. Itulah keseharian Darmin, pria berusia 65 tahun asal Ciledug, Kabupaten Cirebon, yang telah mendedikasikan separuh hidupnya untuk melestarikan kuliner tradisional tahu gejrot.

Darmin bukanlah sekadar pedagang kaki lima biasa. Ia adalah saksi hidup perkembangan dinamika sosial di Indramayu, atau yang akrab disapa dengan julukan “Bumi Wiralodra”. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini pada tahun 1995, Darmin telah konsisten membawa cita rasa khas tanah kelahirannya ke lidah masyarakat Indramayu. Dengan setia, ia menjaga resep autentik kuah asam-manis pedas yang menjadi ruh dari sajian tahu gejrot miliknya.

Jejak Langkah Tiga Dekade di Tanah Perantauan

Perjalanan Darmin di Indramayu dimulai dengan langkah-langkah kecil menyusuri gang-gang sempit. Dahulu, fisiknya masih sangat bugar untuk memikul dagangan berkeliling dari satu kelurahan ke kelurahan lainnya. Ia mengenang masa-masa di mana dirinya menyusuri rute dari Kelurahan Karangmalang hingga ke Kelurahan Paoman, menembus jantung kota hingga larut malam. Kuliner tradisional yang ia bawa selalu dinanti oleh warga yang merindukan kudapan segar di sore hari.

Baca Juga Cirebon Raya Berduka: Dari Skandal Guru Honorer Cabuli Belasan Murid hingga Tragedi Maut di Tol Cipali
Cirebon Raya Berduka: Dari Skandal Guru Honorer Cabuli Belasan Murid hingga Tragedi Maut di Tol Cipali

“Dulu saya berkeliling sampai malam, tenaga masih kuat. Tapi sekarang, faktor usia tidak bisa bohong. Saya memilih untuk menetap di sini, di dekat Pasar Baru, sejak pukul 11 siang hingga magrib berkumandang,” ujar Darmin dengan nada suara yang tenang namun sarat akan pengalaman. Keputusan untuk menetap di satu titik juga didorong oleh perubahan kondisi fisiknya yang kini tak lagi seprima tiga puluh tahun silam.

Meski kini hanya mangkal di satu tempat, pelanggan setianya tetap datang silih berganti. Aroma bawang yang tergerus kasar dan siraman kuah hitam pekat di atas potongan tahu pong yang empuk menjadi daya tarik yang sulit ditolak. Darmin memahami betul bahwa tahu gejrot bukan sekadar makanan, melainkan kenangan yang dihidangkan dalam piring kecil dari tanah liat.

Estafet Warisan: Tiga Generasi Satu Profesi

Menariknya, dedikasi Darmin terhadap tahu gejrot tidak berhenti pada dirinya saja. Pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” benar-benar mewujud nyata dalam keluarga kecilnya. Darmin berhasil menurunkan semangat wirausaha dan kecintaan terhadap kuliner khas Cirebon ini kepada anak dan cucunya. Kini, di sudut-sudut lain kota Indramayu, keturunan Darmin turut mengadu nasib dengan cara yang sama.

Baca Juga 4 Cara Ampuh Mengusir Kelabang dan Strategi Jitu Menjaga Rumah Tetap Steril dari Hama Lipan
4 Cara Ampuh Mengusir Kelabang dan Strategi Jitu Menjaga Rumah Tetap Steril dari Hama Lipan

Anak laki-laki pertamanya menetap di Indramayu setelah mempersunting wanita setempat. Sang anak kini rutin berjualan di depan kantor PLN ULP Indramayu, Jalan Letjen S Parman. Tidak berhenti di situ, cucu laki-lakinya yang merupakan generasi ketiga juga mengikuti jejak sang kakek dengan berjualan secara berkeliling, persis seperti yang dilakukan Darmin pada masa mudanya dulu.

“Saya merasa bangga. Meskipun penghasilan dari berjualan tahu gejrot ini tidak menentu, anak dan cucu saya bisa mandiri secara finansial. Ketiga anak saya, termasuk yang perempuan di Cirebon, semuanya sudah berkeluarga dan mandiri. Fase ini adalah fase yang paling saya syukuri, karena saya berhasil membesarkan mereka semua hanya dari ulekan tahu gejrot ini,” ungkapnya dengan binar mata yang memancarkan kepuasan batin.

Perjuangan Melawan Sakit dan Filosofi Kesehatan

Namun, di balik semangatnya yang membara, Darmin menyimpan perjuangan melawan kondisi kesehatan yang terus menurun. Ia mengaku telah lama menderita penyakit paru-paru basah. Penyakit ini sering kali memaksanya untuk beristirahat dan menjalani perawatan intensif di berbagai rumah sakit, mulai dari RS MM hingga RS Mitra Plumbon di Cirebon. Inspirasi hidup yang ia tunjukkan adalah bagaimana ia tetap optimis di tengah rasa sakit.

Baca Juga Jejak Pelarian Berakhir di Wonogiri: Kronologi Lengkap Penangkapan Predator Seksual Santriwati di Pati
Jejak Pelarian Berakhir di Wonogiri: Kronologi Lengkap Penangkapan Predator Seksual Santriwati di Pati

Selama sembilan bulan terakhir, Darmin rutin menjalani kontrol medis setiap bulan. Meski demikian, ia enggan untuk berdiam diri di rumah kontrakannya di Kelurahan Karangmalang. Baginya, berjualan adalah terapi terbaik untuk menjaga semangat hidupnya tetap menyala. Ia percaya bahwa dengan terus beraktivitas dan berinteraksi dengan pelanggan, tubuhnya akan merasa lebih segar dibandingkan hanya berbaring tanpa melakukan apa pun.

“Kalau saya tidak jualan, rasanya badan malah tambah sakit semua. Kuncinya hanya satu, yaitu mensyukuri berapapun penghasilan yang didapat hari ini dan terus bergerak setiap hari. Alhamdulillah, banyak teman di kampung yang bilang saya masih terlihat segar dan sehat meskipun usia sudah senja,” tambahnya sembari melayani pelanggan yang mengantre.

Nilai Ekonomi dan Harapan di Balik Piring Tanah Liat

Secara ekonomi, usaha yang dijalani Darmin terbilang sederhana namun stabil. Dalam sehari, ia mampu menjual hingga 35 porsi tahu gejrot dengan harga Rp10.000 per porsinya. Jika dagangannya ludes terjual, ia bisa membawa pulang uang sebesar Rp350.000. Namun, nominal tersebut tentu bukan penghasilan bersih, karena ia harus menyisihkan modal untuk bahan baku tahu, bumbu-bumbu, dan biaya sewa kontrakan.

Baca Juga Ironi Pasir Putih Pangandaran: Potret Surga Wisata yang Perlahan Memudar di Balik Tumpukan Sampah dan Limbah
Ironi Pasir Putih Pangandaran: Potret Surga Wisata yang Perlahan Memudar di Balik Tumpukan Sampah dan Limbah

Hidup sendirian di perantauan sementara sang istri berada di kampung halaman tentu bukan hal yang mudah. Namun, bagi Darmin, Indramayu sudah menjadi rumah kedua baginya. Berita Indramayu tentang kemajuan kota tak lantas membuatnya tergiur untuk beralih profesi. Ia tetap setia dengan gerobak sederhana dan ulekan kayunya.

Melalui kisah Darmin, kita diajarkan tentang arti konsistensi dan keikhlasan. Tahu gejrot yang ia sajikan bukan hanya tentang perpaduan rasa pedas dan asam, melainkan sebuah simbol ketangguhan seorang kepala keluarga dalam menjaga warisan budaya sekaligus menghidupi keluarga lintas generasi. Di tangannya, sepotong tahu menjadi penyambung nyawa dan perekat kasih sayang keluarga yang tak lekang oleh waktu.

Kini, setiap kali Anda melintasi Jalan Pasar Baru Indramayu dan mencium aroma bawang putih yang segar tergerus, ingatlah bahwa di sana ada seorang legenda bernama Darmin yang sedang merajut asa di balik piring tanah liatnya. Ia adalah penjaga tradisi yang sesungguhnya, yang membuktikan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur dan kerja keras yang tiada henti.

Baca Juga Lautan Biru di Jantung Sukabumi: Gemuruh Bobotoh Rayakan Kemenangan Krusial Persib Bandung
Lautan Biru di Jantung Sukabumi: Gemuruh Bobotoh Rayakan Kemenangan Krusial Persib Bandung
Dewi Lestari

Dewi Lestari

Penulis berita yang cekatan dalam mengolah informasi terkini (breaking news) agar tersaji secara akurat dan mudah dipahami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *